Friday, December 14, 2018

Adab makan ala anak-anak Jepang

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah membahas mengenai Kyuushoku Touban , yaitu sekelompok anak yang ditugaskan untuk serving makan siang di sekolah. Kali ini, kita akan membahas mengenai adab makannya.

Karena hanya di tingkat TK, kami para guru diwajibkan untuk ikut makan bersama murid, maka yang akan saya tulis ini adalah adab anak-anak dalam makan. Namun, hal ini sesungguhnya berlaku untuk semua umur.

Tata cara makan di Jepang


Adab sebelum makan


1. Cuci tangan dan sterilkan dengan alkohol


Sedari kecil, anak-anak jepang telah dididik untuk selalu menjaga kebersihan tangan. Di sekolah tempat saya mengajar, guru meminta para Kyuushoku touban untuk tidak membagikan makanan kepada mereka yang belum cuci tangan.

2. Menyiapkan perlengkapan makanan



Di Jepang, sedari umur 3 tahun, anak diajarkan untuk bertanggungjawab terhadap barang yang mereka miliki. Salah satunya perlengkapan makan yang terdiri dari: sendok, garpu, sumpit, gelas, sikat gigi dan alas makan serta napkin.

3. Menunggu Kyuusoku touban untuk membagikan makanannya


Guru akan menghidangkan makanan ke dalam piring-piring, lalu Kyuushoku touban akan berkeliling membagikannya. Mereka akan bertanya kepada anak per anak apakah mau sukunai (sedikit, merujuk ke porsi yang lebih sedikit) atau ippai (banyak, merujuk ke porsi biasa), begitu cara yang dilakukan di sekolah saya.

Untuk yang mempunyai alergi, biasanya disediakan makanan khusus.

4. Dilarang memakan sebelum semua makanan dibagikan ke semua anak


Anak-anak tidak diijinkan makan sebelum semua makanan terbagikan dan membaca doa bersama.

5. Berdoa sebelum makan


Siapa bilang orang Jepang tidak berdoa?
Kebetulan di sekolah tempat saya mengajar adalah sekolah yang mengintegrasikan ajaran agama Budha. Sehingga, mereka mengenalkan tata cara berdoa pada Tuhan kepada anak-anaknya.

Adab ketika makan




1. Dilarang berbicara dengan mulut penuh makanan

Di Jepang tidak melarang untuk berbicara dan ngobrol saat makan. Bahkan, terkadang meeting pun dilakukan bersamaan dengan makan. Hanya saja, ada etika untuk tidak berbicara di saat mengunyah makanan atau saat mulut penuh dengan makanan.

2. Habiskan makanan sebelum meminta tambah

Okawari atau menambah makanan, hanya boleh dilakukan ketika anak-anak telah memakan dessert. Jika masih ada sisa makanan di tempat, dia tidak diijinkan menambah makanan.

3. Dessert dimakan terakhir

Pencuci mulut tidak boleh dimakan jika nasi, sayur dan lauknya belum habis.

4. Sikap makan yang baik


Guru dituntut untuk mendisiplinkan laku murid ketika makan. Seperti kaki yang tidak boleh keluar dari kursi, duduk tegak ketika makan, tidak berkeliling ruangan selama makan, tidak boleh bermain dengan makanan.

Pun juga ketika ada makanan yang tidak sengaja jatuh. Anak-anak harus meminta maaf karena telah membuang makanan.

Karena kebiasaan dari kecil inilah, orang Jepang selalu menghabiskan makanan.

5. Makanlah walau kamu tidak suka


Kebanyakan anak kecil, seperti di film Crayon Shinchan, mereka tidak suka sayuran. Tetapi, di sekolah, mereka tetap diharuskan untuk memakan makanan yang tidak mereka sukai. Tetapi, guru akan memberikan porsi yang lebih sedikit dibanding anak lainnya.

Jika mereka berhasil memakannya habis, maka guru akan memuji mereka. Semakin sering dipuji, jumlah sayur yang akan mereka makan selanjutnya akan bertambah. Maka lama kelamaan, mereka akan dapat memakan sayuran yang mereka tidak sukai.

Salah satu murid kesayangan saya, K-kun, dia tidak suka makan jeruk segar meski dia menyukai jus jeruk. Guru kelasnya sudah kehabisan akal untuk membuat K memakan jeruk segar.

Suatu ketika, saya duduk di sebelah K ketika makan, kebetulan dessert-nya adalah jeruk. Ketika yang lain mendapatkan 1 buah jeruk utuh, Kouyou hanya diberi 3 bagian. Gurunya sudah mewanti-wanti agar K menghabiskannya. Kouyou menggerutu.

Saya tanya kenapa, dia bilang jeruk segar itu pahit. Lalu, saya teringat jaman saya kecil yang tidak suka makan jeruk segar juga. Lalu alm. pakdhe saya mengajarkan cara memakan jeruk tanpa memakan lapisan kulit tipisnya.

Yaitu jeruknya dibuka, hingga keluar bagian dagung buahnya. Lalu memakan daging buahnya tanpa memakan kulit tipisnya. Dan saya mengajarkannya kepada K.

Dia menikmatinya. Lalu, diluar dugaan, K meminta tambah jeruk. Gurunya terkejut, lalu diberikannya 1 buah jeruk. Dan habis.

Beberapa waktu kemudian, gurunya berterimakasih kepada saya, karena K sekarang mau makan jeruk. K bilang saya yang mengajarinya. Rasanya senang sekali, ada hal kecil yang bisa saya lakukan.

Adab setelah makan



1. Berdoa setelah makan


Setelah selesai makan, mereka melakukan gochisousama (ucapan terima kasih setelah makan), lalu diakhiri dengan berdoa setelah makan.

2. Berberes alat makan dan meja


Setelah selesai berdoa, anak-anak diharuskan untuk mengembalikan piring dan mangkok yang digunakan untuk makan, kedalam keranjang. Kyuushoku touban akan membawanya ke kantin sekolah.

Alat makan pribadi dimasukkan kedalam tempatnya, lalu dimasukkan kedalam tas masing-masing untuk dibawa pulang.

Meja dilap dengan tissue. guru biasanya akan menyemprotkan alkohol, lalu akan mengelapnya dengan lap kain. Di SD, anak-anak yang melakukannya sendiri.

3. Mencuci tangan dan menyikat gigi


Setelah selesai berberes, Kyuushoku touban akan mengangkut semua perlengkapan dan mengembalikannya ke kantin sekolah.

Kemudian, anak-anak segera menuju ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan menyikat gigi. Mereka tidak anakn mendapatkan istirahat main jika mereka belum menyikat gigi.

Setelah selesai, barulah mereka boleh main di luar selama 1 jam istirahat.

Begitulah adab makan siang di sekolah saya.

Ada pengalaman lain di sekolah teman-teman semua? Boleh donk diceritakan di kolom komentar :)


EmoticonEmoticon