Thursday, April 29, 2021

SARABA

Setiap ada pertemuan, pasti akan ada sebuah perpisahan. Begitu juga dengan aku dan Nayla hari ini. Kami bertemu tiga setengah tahun yang lalu. 

Beberapa bulan sebelumnya, teman-temannya sudah heboh mencari kontak seseorang di Gifu untuknya. Dan aku menawarkan diri untuk dihubungi dan bersedia untuk menjemputnya. Namun Nayla bandel, hingga salah jalur Shinkanzen. 

Pada akhirnya kami bertemu di Gifu University. Nayla sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Dia memang satu umur dengan adik perempuanku yang besar itu, si Mega. Kami jarang bertemu, tetapi bagiku, Nayla adalah adikku, dan akan selalu menjadi adikku yang unik. Meskipun mungkin aku saja yang merasa begitu hehe.

Ini adalah beberapa foto kenangan yang masih tersimpan dalam file komputerku.


Foto di atas diambil ketika kami berjalan bersama ke Fushimi Inari, Kyoto. Tahun 2017.


Foto ini juga masih di sekitar Kyoto.

Centilnya memang anak satu ini ya hihi.


Perjalanan kami di Kyoto dan Nara bersama dengan Arifin, sahabat kami yang lain.

Ah...aku sedang menangis saat ini. Cepat sekali rasanya Nayla pulang ke Indonesia. Rasanya kita belum banyak main bersama. Rasanya masih banyak tempat yang aku ingin ajak berkunjung.

Nayla, berbahagialah dengan hidupmu yang baru di Indonesia. Mengabdilah pada negara yang telah membesarkanmu. Perpisahan kali ini adalah sebuah awal baru untuk kita bertemu kembali. Suatu saat nanti, kita akan bertemu lagi dalam keadaan yang jauh lebih baik. 

Aku sudah merindukanmu, Nay. Jaga dirimu baik-baik.

Sunday, April 4, 2021

2021: New Life

 Halo readers!!

Sudah lama sekali ya Ai tidak mengurus blog ini. Semua karena negara api merah yang menyerang hehe. Tapi, Ai harus mengakui bahwa tulisan Ai memang lebih banyak dibaca di Quora daripada di blog si 😅

Anyways, mengawali postingan tahun 2021 ini, Ai ingin bercerita banyak hal. Mungkin kedepannya akan kembali banyak menulis ya. 

Untuk sedikit recap dari bulan Januari ke Maret, hidup Ai menjadi sangat roller coaster. Deadline bertumbukan dengan deadline lain. Urusan surat-surat menikah yang ribet. Visa yang belum pasti. Dan sebagainya. Segala macam emosi sudah bertumbukan menjadi satu. Air mata sudah mengering. Bahkan sekarang, Ai nonton Good Doctor ala Yamazaki Kento saja sudah tidak bisa menangis.

Tetapi, semua itu menjadi lega ketika semuanya selesai. 

Bulan ini, Ai mengawali hidup baru. Sebagai seorang pengangguran, peneliti pemula yang bukan mahasiswa, dan juga sebagai seorang istri. Hidup Ai ternyata tidak selamanya buruk. Banyak orang yang masih peduli dan mencintai Ai. Keluarga, teman, dan kolega yang baik adalah rejeki yang patut untuk disyukuri. Meskipun memang uang adalah rejeki di atas rejeki, ya. Tapi ternyata rejeki memang tidak hanya berupa uang. 

Mengakhiri tahun fiskal 2020 dengan status baru

Mari kita songsong masa baru dengan lebih berbahagia. Ai berharap, semoga readers semua menjadi lebih bahagia di tahun yang baru ini. 


Thursday, October 8, 2020

Alasan Mengapa Saya Sering Menolak Tawaran Makan

 Untuk readers yang sering berinteraksi dengan saya, pasti sering bertanya dalam hati, mengapa saya sering sekali menolak jika ditawari makan di rumah orang. Itu ada ceritanya loh.

Dulu, waktu saya masih sekolah, saya memang sering sekali pergi ke rumah teman dan sering ditawari makan oleh orang tuanya. Awalnya sih biasa saja, ikut makan, dan berterima kasih, seperti anak lainnya. Karena saya kalau main dan ditawari juga tidak sendirian. 

Suatu ketika, saya main ke rumah teman dekat. Saat itu, karena sebelum main saya makan banyak kue yang diterima keluarga dari tetangga yang sedang mempunyai hajatan. Seperti biasa, ibunya teman saya itu menawarkan makan lotek. Saya menolak dengan sopan.

Si ibu itu berkata pada saya, "Kenapa nolak?"

Saya jawab, "Sudah kenyang, bu."

Di luar dugaan, si ibu itu membalas, "Mergo anakku nek dolan mrono ra tau dipakani karo mbokmu?"

Itu diterjemahkan sebagai "Karena anakku kalau main ke rumahmu nggak pernah dikasih makan sama ibumu?"

Dan cara dia mengatakan itu, juga bahasanya itu kasar sekali. Saya kaget dengan perkataannya. Sakit hati sekali rasanya. Tapi, saya cuma anak-anak yang tidak punya kuasa untuk membalas. Jadinya saya cuma diam dan buru-buru pamit pulang.

Semenjak saat itu, saya tidak pernah mau diajak bermain ke rumah teman saya itu. Dan saya benci sekali dengan ibunya hehe. Dan semenjak saat itu pula, saya sering menolak ajakan makan di rumah orang. Sampai sekarang. Kecuali kalau memang ada acara party, saya akan menolaknya. 




Tuesday, September 15, 2020

Coretan Pagi Ini: Pasangan Beda Budaya

Beberapa hari yang lalu, saya dan sahabat sempat berbincang mengenai pasangan masing-masing. Saya kebetulan mempunyai pasangan beda negara, dan sahabat berbeda suku dengan pasangannya. Dari perbincangan kami, saya dapat mengambil beberapa tantangan yang terjadi ketika kita menjalin hubungan dengan pasangan yang berbeda budaya.

Beda tata krama


Meskipun satu negara, tetapi beda suku juga mempunyai perbedaan dalam budaya. Yang pertama adalah tata krama. Misalkan saja pengalaman saya makan dengan teman-teman dari salah satu suku di Indonesia.

sumber gambar

Saya yang orang Jawa ini akan ditampar ibu saya apabila ketika setelah makan saya bersendawa sangat keras dengan tidak menutup mulut atau menyingkir dari meja makan. Ketika saya berhadapan dengan teman dari suku lain yang justru kalau tidak bersendawa keras berarti tidak menghormati yang menyajikan makanan, saya sempat berpikiran buruk terhadapnya.

Saya menganggap dia tidak sopan. Begitu juga sebaliknya, dia menganggap saya tidak sopan.

Beda jenis makanan


Perbedaan budaya juga akan nampak dari makanannya. Orang Jawa seperti saya lebih cenderung menyukai masakan manis dan sayur-sayuran. Ketika saya bertandang ke rumah teman dari suku lain, saya pernah kaget mendapati pengakuannya bahwa orang di sukunya rata-rata tidak menyukai sayuran dan makan dengan daging-dagingan saja.

sumber gambar

Soal rasa juga ternyata berbeda antara suku satu dengan yang lain. Saya yang menyukai makanan manis-gurih, teman saya menyukai pedas-segar, yang satunya pedas-bersantan dan yang satunya asin-gurih ada pula yang menyukai rasa asam dalam masakan. Padahal kita satu negara.

Beda pemikiran


Beda budaya juga akan mempengaruhi jalan pikiran masing-masing individu, loh. Misalkan, orang Minangkabau berpendapat bahwa orang itu harus merantau. Tetapi orang Jawa punya prinsip "mangan ra mangan ngumpul" atau makan tidak makan yang penting bsia berkumpul dengan keluarga.

Perbedaan pemikiran itu yang pada akhirnya secara tidak sadar akan memicu perselisihan antar pasangan beda budaya. Dan hal ini yang nantinya akan membawa kepada masalah yang lebih luas lagi, yaitu ke ranah keluarga besar. 

Lalu bagaimana solusinya?


Komunikasi.


Komunikasi adalah kunci dari masalah perbedaan budaya yang ada. Adalah tentang keterbukaan dari masing-masing pasangan untuk mengenalkan budayanya, lalu berdiskusi mengambil jalan tengah. Adalah juga keberanian dari masing-masing pasangan beda budaya untuk mengkomunikasikan itu pada keluarganya masing-masing. 

Beruntung apabila kedua keluarga besar saling menerima perbedaan budaya dan mengambil jalan tengah. Apabila ada satu yang bersikukuh, maka salah satu harus mengalah. 

Lantas bagaimana jika keduanya tidak ada yang mau mengalah?

Hmmm...sepertinya kamu akan butuh biaya tambahan untuk memenuhi keduanya hehe.

Tapi, intinya adalah, tentang bagaimana kamu mengkomunikasikan itu dengan keluargamu, dengan pasanganmu, dan dengan keluarga pasanganmu.


Saturday, September 5, 2020

Tips Berkomunikasi dengan Orang Jepang dalam Bahasa Inggris

Untuk teman-teman yang sudah tinggal di Jepang, sudah menjadi rahasia umum bahwa komunikasi menjadi salah satu kendala yang sulit untuk dihindari. Terlebih lagi, apabila kita berkomunikasinya menggunakan bahasa Inggris. 

Ada gap komunikasi yang pasti akan terjadi jika kita berhubungan dengan orang dari negara lain dengan menggunakan bahasa asing. 

sumber


Berikut beberapa tips yang dapat saya bagikan ketika berkomunikasi dengan orang Jepang dengan menggunakan bahasa Inggris.

1. Gunakan bahasa yang sederhana


Ketika kita sama-sama tidak fasih dalam menggunakan bahasa Inggris, atau lawan bicaramu kurang mampu berbahasa Inggris darimu, maka gunakan bahasa Inggris yang sederhana. 

Bahasa yang sederhana bukan berarti harus singkat, lho. Bisa jadi malah lebih panjang. Karena istilah-istilah atau idiom yang kita ketahui belum tentu diketahui oleh lawan bicara. 

Menyederhanakan kalimat dengan bahasa yang mudah dicerna adalah kunci dari setiap komunikasi.

2. Atur tempo bicara dengan agak melambat


Sebagai sesama bukan penutur bahasa Inggris, sebaiknya kita memulai untuk bicara dengan tempo yang sedikit lebih lambat. Apalagi, jika lawan bicara kita tidak benar-benar paham tentang bahasa Inggris. Dengan berbicara dengan tempo yang melambat, kita akan membantu mereka untuk memahami apa yang sedang kita bicarakan, dan juga membantu kita untuk memahami apa yang mereka ingin katakan. Karena biasanya, lawan bicara akan mengikuti tempo yang kita gunakan.

3. Pemilihan Kata


Pemilihan kata yang kurang tepat terkadang membuat lawan bicara tidak mengerti atau bahkan marah karenanya. Terlebih lagi, bagi orang Jepang yang kurang percaya diri dengan kemampuan berbahasa Inggris, sering menyebabkan buruknya pemilihan kata yang digunakan. 

Sebagai contoh, ketika mereka ingin mengatakan "I don't mind", mereka justru mengatakan "I don't care". Dua frase ini serupa tapi tak sama. Yang satu menyiratkan mengijinkan sesuatu, yang satunya mengesankan keacuhan. 

Bagi kita yang menjadi lawan bicara orang dengan pemilihan kalimat yang buruk, yang harus kita lakukan adalah dengan tidak mengambil hati kalimat yang diucapkan. Sehingga, yang kita ambil adalah inti dari apa yang hendak dia katakan. Sehingga kita bisa saling memahami satu sama lain. Mungkin saja, kita justru bisa memberi tahu dia tentang penggunaan kalimat yang tepat, loh.

4. Ekspresif


Orang Jepang menyukai percakapan yang ekspresif. Hal itu juga tercermin dari setiap gaya mereka bercakap. Berbeda dengan orang dari kebanyakan orang di Eropa dan Amerika yang cenderung datar ketika berbicara, perasaan hati yang sedang dirasakan oleh orang Jepang tergambar jelas dari ekspresi kalimat yang diucapkannya.

Oleh karena itu, kita juga dapat menyesuaikan diri dengan menambahkan ekspresi pada setiap kalimat yang kita lontarkan agar mereka juga dapat mengerti ekspresi hati kita ketika berbicara dengan orang Jepang.


Itulah tips sederhana dari saya yang dapat readers lakukan ketika harus berhadapan dengan orang Jepang dalam forum diskusi dan lain sebagainya. Semoga membantu :) 



Saturday, June 13, 2020

Benarkah Pria Jepang itu Dingin?

Dulu banyak larangan berkencan dengan pria Jepang karena konon katanya mereka adalah makhluk dingin dan tidak berperasaan. Mitos itu disinyalir justru beredar dari para istri pria-pria Jepang yang kecewa ternyata suaminya dingin dan tidak romantis. Lalu berkembang menjadi sebuah klise bahwa pria Jepang itu dingin.

Pada kenyataannya, hampir satu dekade keberadaan saya di Jepang justru menemui kebalikannya. Saya sering sekali menemui pria-pria Jepang yang sangat romantis. Pun juga dalam kehidupan pertemanan saya.

Ketika saya berkuliah dulu, teman pria Jepang saya rela mengirimkan sebuah bucket bunga yang besar berisikan 98 bunga mawar di hari ulang tahun kekasihnya di Amerika Serikat. 98 bunga itu sebagai tanda kebetulan juga pada hari itu adalah hari ke 98 mereka jadian.

Di tahun depannya, si pacar kembali ke Jepang dan bekerja menjadi guru bahasa Inggris dan menemani si pria ini sampai lulus S3. Tahun lalu, mereka pindah ke Amerika Serikat. Saya dengar bahwa mereka akan melangsungkan pernikahan tahun ini, namun karena corona, terpaksa ditunda tahun depan.

Bukankah itu romantis?


Benarkah Pria Jepang itu Dingin?

Buket bunganya kira-kira seperti ini.
sumber
Teman pria saya yang lain tak segan-segan mengajak dinner romantis setiap bulan di tanggal jadiannya bersama dengan kekasihnya. Entah itu di restoran, ataupun mereka memasak sendiri. Terkadang, dia juga memasakkan sesuatu untuk si wanita. Bukankah ini juga romantis?

Ilustrasi makan malam romantis teman saya
sumber

Kekasih saya menyatakan perasaan cintanya di tempat yang paling romantis yang pernah saya kunjungi, Nabana no Sato. Di bawah bunga sakura, di atas cahaya lampu kerlap-kerlip warna biru yang mengelilingi taman, saat kita berdiri tepat di tengah.

Saya ditembak di sini.
Dokumen pribadi

Katanya, setelah menikah, mereka akan berubah sifatnya menjadi dingin. Saya pikir tidak semuanya begitu. Saya sering sekali melihat orang tua murid yang kepergok jalan di mall tanpa anak-anak dan saling bergandengan tangan mesra. Usia mereka sudah di atas 35 tahun.

Papah-papah muda juga terlihat sangat romantis bukan hanya dengan istrinya, tetapi juga dengan anaknya. Mereka tak pernah berkeberatan membawa tas bayi!!! Coba kalau papah muda orang Indonesia, bersediakah membawakan tas bayi?

Keromantisan pria Jepang juga terjadi pada mereka yang lanjut usia. Tak jarang kita akan menemukan pasangan kakek dan nenek yang berjalan-jalan di taman, bercengkerama dengan penuh kemesraan.

Romantisme pasangan tua
sumber

Menurut saya, dingin atau tidaknya seseorang ditentukan oleh banyak faktor. Salah satunya adalah sifat bawaan dari si pria tersebut memanglah dingin. Selain itu, bisa jadi berubahnya sikap dingin pria Jepang pada pasangannya dipicu oleh masalah diantara keduanya. Komunikasi memang penting dalam sebuah hubungan. Sehingga ada baiknya apabila kita tidak lantas serta merta melabeli pria Jepang sebagai pria yang dingin.

Kita juga tidak bisa menilai bahwa semua pria Jepang itu dingin. Pria saya tidak koq. Dia sangat hangat sekali dan ramah.

Untuk urusan romantisme, saya rasa orang Indonesia masih jauh sekali dari kata romantis. Saya yakin tak banyak pria Indonesia yang mau untuk membelikan kado romantis, atau makan malam romantis tiap bulan dengan pasangannya. Dan saya juga yakin, pria Indonesia akan gengsi untuk menunjukkan kemesraan dengan istri ketika berbelanja di mall. Untuk urusan itu, mohon maaf sekali, pria Jepang masih lebih unggul dari pria Indonesia.

Pada akhirnya, sifat orang per orang lah yang akan membedakan. Bukan bangsa. Sebagaimana pria Indonesia, pria Jepang pun ada yang dingin, yang hangat, yang aneh, yang main tangan, yang flamboyan. Semua tipe itu ada pada berbagai macam pria di seluruh dunia, tidak terbatas negara.

Oleh karena itu, pilihlah priamu dengan baik dan seksama. Agar kamu tidak kecewa di kemudian hari.




Sunday, April 26, 2020

Kecemasan Berlebih Tanpa Sebab

Akhir-akhir ini saya mendapati kecemasan berlebih yang mulai menyerang kembali. Padahal, sudah hampir 1 tahun saya tidak merasakannya. Namun kali ini rupanya sedikit berbeda.

Bila biasanya, kecemasan saya dipacu karena ada sebab, maka kali ini tidak. Saya tidak sedang akan menghadapi sesuatu. Mungkin saja, ini dikarenakan kecemasan saya menghadapi Covid-19 yang sedang menyerang.

Seperti malam tadi, saya bermimpi lupa berangkat kerja. Ketika bangun tidur, mendadak saya cemas. Padahal kemarin adalah hari minggu. Wajar saja jika saya tidak masuk kerja.

Adakah readers yang pernah merasakannya? Jika iya, maukah sekedar berbagi dengan saya?