Monday, January 21, 2019

Pengalaman Tervonis Influenza A

Selama bertahun-tahun tinggal di Jepang, saya selalu lolos dari vonis influenza A. Meskipun di tahun 2015 pernah mengalami demam tinggi, namun rupanya hanya common cold, atau flu biasa alias masuk angin disertai turunnya sistem imun dan infeksi tenggorokan yang menyebabkan demam.

Selama ini pula saya selalu menghindari vaksinasi. Bukan karena anti vaksin, tetapi karena vaksin itu mahal, saya masih misqueen, dan takut dengan jarum, suntik. Tetapi saya lolos juga dari vonis si A.

Akhir tahun 2018, saya diharuskan untuk imunisasi. Karena saya kerja di sekolah-sekolah yang memang berpotensi terhadap penyebaran influenza. Minggu kedua bulan November, saya divaksin.

Ternyata tidak sesakit yang saya kira saat disuntik, tetapi setelah disuntik saya justru mengalami demam sedikit dan bekas suntikan pegal seolah-olah saya baru dipukul Steve Roger. Selama 4 hari saya mengeluh rasa sakit. Kata teman, itu reaksi normal orang baru divaksin.

Saya sempat lega karena biasanya di bulan Desember adalah waktu untuk terbaring lemah karena common cold. Tetapi saya sehat wal afiat sepanjang Desember.

Hari terakhir di rumah, saya tidur bersama nenek saya, yang kebetulan sedang sakit. Dan saya mulai terasa tertular. Beruntung saya pulang ke Jepang mendapatkan kelas bisnis, jadi saya bisa tidur dan istirahat dengan nyaman.

Sempat demam dua hari, namun kemudian sehat lagi. Tetapi, kabar mengenai influenza outbreak sudah merajalela. Apalagi, Gifu merupakan kota dengan outbreak tertinggi di Jepang. Dan salah satu sekolah tempat saya bekerja mengalami outbreak yang parah.

Sabtu pagi, saya bertemu dengan sensei saya untuk membahas rencana saya kedepan, karena saya memutuskan untuk memperpanjang kontrak kerja dan masih akan berstatus working visa hingga tahun 2020. Sensei saya mengatakan bahwa beliau mungkin kena influenza. Waduh, pikir saya, saat itu, memang merasa tidak enak badan. Tidak demam, melainkan hidung meler dan batuk.

Pulang dari kampus, saya ke Malera. Kali ini bukan untuk shopping, melainkan untuk mengurus kartu kredit. Pulang dari Malera, di tengah perjalanan, saya merasa terengah-engah. Padahal baru makan banyak. Sampai di rumah, mendadak badan saya demam tinggi. Saya ukur dengan termometer suhu badan, mencapai 37 derajat malam hari itu. Namun, masih saya dipaksakan untuk mengikuti rapat I4.

Akibatnya, keesokan harinya, suhu badan saya naik hingga 40 derajat di pagi hari. Saya hanya tidur saja sepagian. Siangnya, suhu saya fluktuatif antara 37 - 39 derajat. Kemudian saya putuskan untuk ke rumah sakit besoknya.

Setelah mendapat ijin dari boss, pergilah saya ke rumah sakit. Dokter menanyakan saya mulai dari kapan terasa demam, apa saja yang di rasakan. Lalu dokter meminta saya untuk cek influenza.

Cek Influenza


Influenza test kit


Pertama, hidung kita dimasukkan alat yang nampak seperti cotton bud panjang. Rasanya seperti apa? Luar biasa sakit. Karena alat itu akan masuk jauh ke dalam hidung dan diputar-putar selama hampir 30 detik. Mata kanan saya sampai kedutan dan hingga saat ini belum berhenti, loh.

Uji Influenza


Kemudian, suster menyiapkan reagent dan memasukkan cotton bud yang sudah terdapat contoh ingus kita ke dalam reagent. Setelah mendapat ekstrak contoh ingus, suster memasukkan alat yang nampah seperti kertas pH ke dalam ekstrak ingus bercampur reagent. Ditunggu 10 menit, lalu keluar hasilnya.

Dan taraaaaaa......dokter dengan enteng mengatakan bahwa saya terkena influenza A. Saya kaget. Tapi kan sudah vaksin influenza, dok. Protes saya. Namun rupanya, vaksin saja tidak cukup untuk mencegah influenza tidak menyerang. Namun, vaksin membantu sistem imun kita untuk sedikit kebal terhadap virus influenza A. Sehingga, demamnya bisa lebih turun.

Akhirnya saya pulang dengan 3 macam obat di tangan. Obat anti-virus bernama Zofuru-ze, obat penurun panas bernama Karona-ru yang diminum hanya ketika demamnya diatas 38 derajat celcius, dan obat radang tenggorokan bernama Transemint.


bungkus obat anti-virus



Hari ini sudah hari kedua sejak saya divonis influenza A, dan sudah hari ke 4 sejak pertama kali demam. Kata teman saya yang pernah mengalami influenza, hari ke 4 dan ke 5 adalah hari rawan penularan virus. Oleh karena itu, pasien influenza biasanya dilarang bertemu dengan orang selama minimal 5 hari.

Karena harus diisolasi, saya terpaksa ambil cuti kerja seminggu. Bukannya senang, namun saya bingung mau ngapain dirumah seminggu tanpa kegiatan? 3 hari ini di rumah hanya makan-tidur-buang air-mandi-makan begitu seterusnya. Punggung dan pantat saya sampai pegal.

Akhir kata, hari ini demam saya sudah sedikit turun, diangka 37 derajat. Semoga semakin membaik dan dimatikan semua virus dalam tubuh saya. Amin.

Untuk readers, jaga kesehatan ya. Jangan lupa untuk selalu makan makanan yang bergizi, cuci tangan dan berkumur setelah pulang dari luar, dan jangan menyentuh bagian wajah secara langsung dengan tangan ketika di luar rumah.

Semoga readers terhindar dari jahanamnya virus influenza A.

penampakan virus A

Saturday, January 5, 2019

Menutup 2018 dengan Drama maskapai All Nippon Airways

Akhir bulan Desember lalu, saya berkesempatan untuk kembali pulang. Setelah melalui drama kartu kredit ditolak berkali-kali, akhirnya kami memutuskan untuk membeli tiket pesawat sekali jalan.

Ketika berangkat, meskipun memesan pada situs Garuda Indonesia, namun rupanya kami mendapatkan jasa layanan Sky Team karena pesawat Garuda tidak beroperasi pad ahari Sabtu. Lantas kami mendapatkan pelayanan dari All Nippon Airways (ANA).

Saya pikir ANA adalah maskapai yang menyenangkan, setelah membaca banyak review dari pelanggan. Tapi rupanya tidak begitu.

Harga yang didapat adalah 76.040 yen, setara dengan sekitar 9 juta rupiah untuk sekali jalan dari Haneda ke Yogyakarta. Sedangkan dua bulan sebelumnya, saya mendapatkan harga 50.240 yen untuk perjalanan pulang pergi Haneda - Yogyakarta dan Yogyakarta - Haneda dari Garuda Indonesia.

ANA mahal, pikir saya. Namun, saya berharap pelayanan ANA sangat memuaskan seperti yang orang bilang. Ternyata, nasib saya tidak seberuntung orang lain.

Sebetulnya, pada saat pemesanan, kami tidak dapat memilih kursi seperti biasanya. Saya pikir, nanti bilang ke staff-nya saja. Karena pada penerbangan sebelumnya, saya ditempatkan disebelah Mas Fikri, meskipun kami tidak memesan tiket secara bersamaan.

Namun sangkaan saya salah. Dengan dalih kursi telah penuh, kami terpisah tempat duduk. Ditambah lagi, ternyata kami harus mengambil bagasi di Jakarta terlebih dahulu dan check in lagi untuk penerbangan selanjutnya.

Saya meradang seketika. Karena ketakutan untuk penerbangan domestik yang mempunyai limit bagasi hanya 20 kg per orang. Sedangkan bagasi saya satu koper 30 kg dan bagasi Hase 25 kg. Namun Hase menenangkan saya untuk tidak marah-marah dengan staff ANA.

Masih kesal, kami menuju ke pesawat. Malang bagi saya, saya mendapatkan tempat tepat di tengah dua pria. Sebelah kiri saya bule amerika oversize, dan sebelah kanan saya mas-mas mahasiswa Indonesia yang kuliah di Amerika. Badannya bisa dibilang tinggi, besar, namun berotot bagus. Saya kurang nyaman karena bule itu sudah menempati setengah kursi saya.

Tibalah kita take off. Si bule sudah tidur. Mas mahasiswa masih menonton Deadpool dengan tertawa. Saya kesulitan untuk duduk karena pantat saya bersenggolan dengan pantat bule. Bahkan kursi saya tidak bisa disandarkan kebelakang karena rupanya orang di belakang mempunyai kaki yang panjang.

Saya kemudian ke toilet, sambil melihat-lihat kursi. Rupanya masih ada cukup banyak kursi kosong. Bahkan yang dua kursi bersebelahan pun masih banyak. Saya kembali meradang, merasa dipermainkan oleh staff ANA.

Pramugari ANA juga rupanya tidak seramah pramugari maskapai lain yang pernah saya naiki. Tidak ada rasa simpati kepada saya yang benar-benar nampak kesulitan untuk sekedar duduk. Sampai akhirnya saya dengan nada sedikit judes, meminta untuk pindah kursi.

Beruntung, pramugari mengijinkan saya untuk pindah ke kursi yang kosong di seberang. Akhirnya urusan duduk dan tidur teratasi.

Satu pelajaran bagi saya, jika badan kita oversize, atau kaki kita panjang, lebih baik kita sadar diri dengan memilih kursi yang lebih besar atau ruang kaki yang lebih panjang. Bisa kan, memilih kursi di depan yang ruang kakinya lega. Atau kelas bisnis yang kursinya lebih besar dan nyaman.

Dengan begitu, kita tidak akan mengganggu kenyamanan penumpang lain, yang mungkin saja telah membayar lebih dari harga penumpang lain.

Namun drama saya belum berakhir. Saya dibangunkan oleh pramugari pada pukul setengah 3 pagi untuk sarapan. Lagi-lagi saya kurang beruntung. Makanannya ternyata tidak seenak sarapan di Garuda. Tapi masih bisa saya terima karena untuk satu jam, saya bisa memejamkan mata.

Pada saat landing, saya hampir kejang-kejang akibat pergerakannya sangat kasar. Hampir semua penumpang tergoyang. Bahkan, bagian atas pesawat ikut bergoyang ke kiri dan kanan, membuat saya tidak berhenti mengucap syahadat. Ini adalah pendaratan paling kasar yang pernah saya alami.

Setelah mengambil bagasi, kami melakukan cek in kembali. Was-was dengan jumlah bagasi. Koper saya hampir saja kena charge. Namun, saya yang sudah tidak enak hati sejak sebelumnya, dengan sedikit judes, kami menjelaskan kepada staff di Jakarta.

Beruntung mereka memberikan kami kelonggaran setelah debat panjang berakhir. Meski mbaknya terlihat benar setengah hati.

Akhirnya kami sampai juga di Yogya. Dan menutup 2018 dengan janji untuk tidak akan pernah lagi menggunakan maskapai ANA, kalau tidak benar-benar kepepet.


Friday, December 21, 2018

Aku Benci Kamu!

Kamis lalu adalah hari terakhir di salah satu sekolah TK tempat saya mengajar. Ada hal yang membuat saya tersenyum pada hari itu.

Sebut saja namanya A, 3 tahun. Setiap minggu saat saya jemput untuk dibawa ke kelas saya, dia selalu mengatakan "Aku benci Diana sensei!!".

Aku selalu menjawab dengan, " Terima kasih, A".

Lalu dibalasnya, "Ini bukan pujian!!".

A adalah anak yang pintar untuk usianya. Dia bisa mengingat alfabet dari A ke Z ataupun Z ke A. Artinya, dia sudah mengenal huruf alfabet. Tentu saja dia sudah bisa membaca huruf hiragana.

A tidak bisa diam. Saat di kelas, dia suka berkeliling. Tapi hebatnya, dia mendengarkan apa yang saya sampaikan, dan mengingatnya.

A menyukai Shinkalion. Setiap minggu pasti dia akan bercerita kepada saya tentang Shinkalion.

Minggu ini adalah minggu terakhir di tahun 2018 untuk kelas saya. Dan karena berdekatan dengan hari Natal, maka sekolah kami memberikan hadiah natal berupa candy canes.

Kamis itu, waktu saya menjemput anak-anak, saya bertemu A di depan gerbang. Dan beginilah percakapan kami.

"Diana sensei, terima kasih permennya (candy cane). Aku sudah makan semalam. Enak sekali."

Lalu saya elus pipi A seperti biasanya. A nampak senang sekali sampai memegang tangan saya, tanda dia enggan melepaskan tangan saya dari pipinya.

Tiba-tiba dia memeluk saya. Lalu saya peluk dia erat.

"Besok libur musim dingin ya? Sensei ga ketemu lagi donk sama A. Selamat liburan yaa"

"Tapi tahun depan kan kita ketemu lagi. Diana sensei jangan sedih"

Saya tersenyum geli mendengar penuturan A. Biasanya, dia selalu bilang kalau dia membenci saya.

Kemudian datanglah B. Teman satu kelas A, tapi di kelas saya berbeda jam kelas. B ini salah satu anak favorit saya, namun juga jadi salah satu anak yang paling susah untuk saya kendalikan.

B datang dan meminta tos tangan. Kami melakukan tos. Lalu A bilang ke B.

"Kamu dapat permen dari Diana sensei?"

"Iya dapat, tapi aku belum makan."

"Aku udah habis. Enak lho, buruan dimakan."

Kemudian B berkata pada saya,

"Sampai ketemu lagi tahun depan"

"B kun, B kun, tadi aku dapat gyuut (pelukan) dari Diana sensei lho", kata A dengan raut wajah yang bahagia.

Kemudian B pun langsung memeluk saya.

Lucu rasanya melihat tingkah anak-anak seperti A.

Meski dimulut mereka bilang benci, aslinya mereka suka.

Saya belajar banyak dari anak-anak.

Friday, December 14, 2018

Adab makan ala anak-anak Jepang

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah membahas mengenai Kyuushoku Touban , yaitu sekelompok anak yang ditugaskan untuk serving makan siang di sekolah. Kali ini, kita akan membahas mengenai adab makannya.

Karena hanya di tingkat TK, kami para guru diwajibkan untuk ikut makan bersama murid, maka yang akan saya tulis ini adalah adab anak-anak dalam makan. Namun, hal ini sesungguhnya berlaku untuk semua umur.

Tata cara makan di Jepang


Adab sebelum makan


1. Cuci tangan dan sterilkan dengan alkohol


Sedari kecil, anak-anak jepang telah dididik untuk selalu menjaga kebersihan tangan. Di sekolah tempat saya mengajar, guru meminta para Kyuushoku touban untuk tidak membagikan makanan kepada mereka yang belum cuci tangan.

2. Menyiapkan perlengkapan makanan



Di Jepang, sedari umur 3 tahun, anak diajarkan untuk bertanggungjawab terhadap barang yang mereka miliki. Salah satunya perlengkapan makan yang terdiri dari: sendok, garpu, sumpit, gelas, sikat gigi dan alas makan serta napkin.

3. Menunggu Kyuusoku touban untuk membagikan makanannya


Guru akan menghidangkan makanan ke dalam piring-piring, lalu Kyuushoku touban akan berkeliling membagikannya. Mereka akan bertanya kepada anak per anak apakah mau sukunai (sedikit, merujuk ke porsi yang lebih sedikit) atau ippai (banyak, merujuk ke porsi biasa), begitu cara yang dilakukan di sekolah saya.

Untuk yang mempunyai alergi, biasanya disediakan makanan khusus.

4. Dilarang memakan sebelum semua makanan dibagikan ke semua anak


Anak-anak tidak diijinkan makan sebelum semua makanan terbagikan dan membaca doa bersama.

5. Berdoa sebelum makan


Siapa bilang orang Jepang tidak berdoa?
Kebetulan di sekolah tempat saya mengajar adalah sekolah yang mengintegrasikan ajaran agama Budha. Sehingga, mereka mengenalkan tata cara berdoa pada Tuhan kepada anak-anaknya.

Adab ketika makan




1. Dilarang berbicara dengan mulut penuh makanan

Di Jepang tidak melarang untuk berbicara dan ngobrol saat makan. Bahkan, terkadang meeting pun dilakukan bersamaan dengan makan. Hanya saja, ada etika untuk tidak berbicara di saat mengunyah makanan atau saat mulut penuh dengan makanan.

2. Habiskan makanan sebelum meminta tambah

Okawari atau menambah makanan, hanya boleh dilakukan ketika anak-anak telah memakan dessert. Jika masih ada sisa makanan di tempat, dia tidak diijinkan menambah makanan.

3. Dessert dimakan terakhir

Pencuci mulut tidak boleh dimakan jika nasi, sayur dan lauknya belum habis.

4. Sikap makan yang baik


Guru dituntut untuk mendisiplinkan laku murid ketika makan. Seperti kaki yang tidak boleh keluar dari kursi, duduk tegak ketika makan, tidak berkeliling ruangan selama makan, tidak boleh bermain dengan makanan.

Pun juga ketika ada makanan yang tidak sengaja jatuh. Anak-anak harus meminta maaf karena telah membuang makanan.

Karena kebiasaan dari kecil inilah, orang Jepang selalu menghabiskan makanan.

5. Makanlah walau kamu tidak suka


Kebanyakan anak kecil, seperti di film Crayon Shinchan, mereka tidak suka sayuran. Tetapi, di sekolah, mereka tetap diharuskan untuk memakan makanan yang tidak mereka sukai. Tetapi, guru akan memberikan porsi yang lebih sedikit dibanding anak lainnya.

Jika mereka berhasil memakannya habis, maka guru akan memuji mereka. Semakin sering dipuji, jumlah sayur yang akan mereka makan selanjutnya akan bertambah. Maka lama kelamaan, mereka akan dapat memakan sayuran yang mereka tidak sukai.

Salah satu murid kesayangan saya, K-kun, dia tidak suka makan jeruk segar meski dia menyukai jus jeruk. Guru kelasnya sudah kehabisan akal untuk membuat K memakan jeruk segar.

Suatu ketika, saya duduk di sebelah K ketika makan, kebetulan dessert-nya adalah jeruk. Ketika yang lain mendapatkan 1 buah jeruk utuh, Kouyou hanya diberi 3 bagian. Gurunya sudah mewanti-wanti agar K menghabiskannya. Kouyou menggerutu.

Saya tanya kenapa, dia bilang jeruk segar itu pahit. Lalu, saya teringat jaman saya kecil yang tidak suka makan jeruk segar juga. Lalu alm. pakdhe saya mengajarkan cara memakan jeruk tanpa memakan lapisan kulit tipisnya.

Yaitu jeruknya dibuka, hingga keluar bagian dagung buahnya. Lalu memakan daging buahnya tanpa memakan kulit tipisnya. Dan saya mengajarkannya kepada K.

Dia menikmatinya. Lalu, diluar dugaan, K meminta tambah jeruk. Gurunya terkejut, lalu diberikannya 1 buah jeruk. Dan habis.

Beberapa waktu kemudian, gurunya berterimakasih kepada saya, karena K sekarang mau makan jeruk. K bilang saya yang mengajarinya. Rasanya senang sekali, ada hal kecil yang bisa saya lakukan.

Adab setelah makan



1. Berdoa setelah makan


Setelah selesai makan, mereka melakukan gochisousama (ucapan terima kasih setelah makan), lalu diakhiri dengan berdoa setelah makan.

2. Berberes alat makan dan meja


Setelah selesai berdoa, anak-anak diharuskan untuk mengembalikan piring dan mangkok yang digunakan untuk makan, kedalam keranjang. Kyuushoku touban akan membawanya ke kantin sekolah.

Alat makan pribadi dimasukkan kedalam tempatnya, lalu dimasukkan kedalam tas masing-masing untuk dibawa pulang.

Meja dilap dengan tissue. guru biasanya akan menyemprotkan alkohol, lalu akan mengelapnya dengan lap kain. Di SD, anak-anak yang melakukannya sendiri.

3. Mencuci tangan dan menyikat gigi


Setelah selesai berberes, Kyuushoku touban akan mengangkut semua perlengkapan dan mengembalikannya ke kantin sekolah.

Kemudian, anak-anak segera menuju ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan menyikat gigi. Mereka tidak anakn mendapatkan istirahat main jika mereka belum menyikat gigi.

Setelah selesai, barulah mereka boleh main di luar selama 1 jam istirahat.

Begitulah adab makan siang di sekolah saya.

Ada pengalaman lain di sekolah teman-teman semua? Boleh donk diceritakan di kolom komentar :)

Tuesday, November 27, 2018

Tips: Hemat Makan Mahasiswa Rantau Luar Negeri

Karena biaya hidup di jepang sangat mahal, dan pendapatan mahasiswa malas seperti saya ini hanya mengandalkan beasiswa kecil dan kerja sambilan yang tidak seberapa ini, maka saya harus pandai-pandai berhemat.

Tentu saja, jaman saya mahasiswa, saya hanya menikmati shinkanzen jika ada tawaran guide, tidak seperti sekarang yang setiap minggu bulan naik shinkanzen.

Jika kemarin sudah membahas tentang meminimalisir uang apartemen dan juga menghemat uang belanja pakaian, kali ini saya akan membagi tips tentang bagaimana saya bertahan hidup dengan beasiswa yang pas-pasan dan waktu mengurus diri yang pas-pasan juga.

Tips Menghemat Uang
Cara hemat makan di luar negeri


Menghemat Nasi


Tinggal di Jepang atau pun negara 4 musim lainnya, pasti akan merasakan bagaimana panas dan dingin suhu yang membuat perubahan dalam masakan.

Misalkan, ketika musim panas, makanan cepat basi, dan musim dingin, makanan cepat beku.

Begitu juga dengan nasi.

Namun, saya punya tips jitu untuk menghemat nasi.

Siapkan plastik warp. Kemudian bungkus nasi secentong demi secentong dengan plastik warp. Lalu, simpan di dalam lemari es. Ketika ingin memakannya, hangatkan dulu dalam microwave.

Dengan begini, kita akan menghemat uang listrik yang dikeluarkan dari alat penghangat nasi. Kualitas nasi juga terjaga, dan juga kita tak perlu membuang nasi yang bau, atau keras karena terlalu lama disimpan dalam penghangat.

Menghemat sayur segar


Khususnya di musim panas, sayuran lebih cepat membusuk dibandingkan dengan musim lainnya.

Oleh karena itu, sebaiknya kita simpan sayuran dalam lemari es.

Siapkan plastik ziplock atau wadah ziplock (tupperware)

Potong sayur, kemudian simpan dalam lemari es. Untuk penyimpanan lebih lama, bisa dalam freezer. Gunakan seperlunya.

Dengan begini, sayuran lebih dapat disimpan lama dan menghemat uang daripada harus membuang sayuran karena membusuk.

Maklum, harga sayur di jepang itu mahal.

Menghemat uang belanja


Guna menghemat biaya, usahakan berbelanja makanan pada malam akhir menjelang toko tutup.

Di kebanyakan supermarket di Jepang, mulai jam 7 malam, pasti akan ditempel stiker diskon hingga 50% untuk produk segar baik itu sayuran, ikan maupun daging.

Dengan diskon dan penerapan penyimpanan makanan dengan cara diatas, niscaya kita akan menghemat uang belanja bulanan.

Berbelanja di petani lokal


Tidak ada salahnya untuk mencoba berbelanja di petani lokal.

Selain harganya lebih murah, sayurannya pun lebih segar.

Disamping itu, kita bisa lebih mengenal masyarakat setempat. Biasanya, jika kita berlangganan, maka mereka akan memberi kita bonus belanjaan lebih.

sumber


Nah itu tadi adala beberapa tips dari saya dalam menghemat uang pada persoalan makanan. Semoga bermanfaat untuk readers semua 💝









Wednesday, November 21, 2018

Tips: Hemat dalam Berpakaian

Halo readers, setelah tahun lalu saya menulis tentang tips bertahan dari serangan dingin di Jepang, kal ini saya akan membagikan tips berhemat ketika tinggal di luar negeri.

Untuk ukuran mahasiswa miskin seperti saya dulu, tidak ada cara lain dibandingkan berhemat untuk selalu bisa bergaya bertahan. Mau gimana lagi, Indomie mahal.

Berikut saya bagikan pengalaman saya berhemat di Jepang. Kali ini tentang hal-hal yang berhubungan dengan fashion.

Tips Berhemat Dalam Urusan Fashion



Pertama: Belilah Pakaian Bekas


Selain pakaian dalam, ada baiknya kita membeli pakaian di toko bekas. Terutama saat membeli coat atau jaket tebal musim dingin.

Kebetulan di Jepang, kualitas pakaian di toko bekas masih bagus dan harganya jauh lebih murah. Jika kita beruntung, kita pun dapat menemukan barang baru yang sebenarnya merupakan stok lama barang dari toko yang tidak terjual.

Kuncinya, jangan malas untuk mencari dari toko satu ke toko lain. Sesekali hunting sambil menikmati kota kan menyenangkan.

Kita juga bisa membeli aksesori seperti topi, sabuk atau syal di toko bekas.


Kedua: Beli Pakaian Dalam di Toko Murah


Tidak diragukan lagi bahwa pakaian dalam di Jepang itu mahal. Harga satu set pakaian dalam wanita setara dengan harga satu coat musim dingin. Keduanya barang baru.

Ada satu toko rekomendasi saya untuk membeli pakaian dalam. Namanya Onsendo. Toko ini banyak tersebar di daerah Chubu dan Kansai.

Di toko ini pula, kita dapat membeli pakaian dengan harga jauh lebih murah. Karena barang dari toko ini disinyalir merupakan barang cacat dari pabrik. Meski kadang catatnya hanya satu benang.

Logo khas Onsendo
sumber

Ketiga: Beli Pakaian saat SALE


SALE adalah masa yang ditunggu oleh mahasiswa. Dimana kita bisa mendapatkan barang baru tetapi dengan harga murah. 

Saya biasanya menunggu sampai FINAL SALE untuk mendapatkan barang dengan harga paling miring. Namun, disisi lain, terkadang saya tidak kebagian size yang diinginkan hehe.

Di Jepang, SALE itu sendiri sering diadakan menjelang pergantian musim, atau di akhir tahun. Bahkan, menjelang tahun baru, orang Jepang banyak yang mengantri untuk mendapatkan fukubukuro

Fukubukuro diartikan sebagai kantong keberuntungan dari sebuah toko yang berisi banyak macam barang namun dijual dengan harga murah. Harganya bermacam-macam. Jika satu kantong seharga 10 ribu yen, didalamnya ada berbagai macam barang yang jika ditotal dapat mencapai harga 50 ribu yen.

Saya bukan penggemar fukubukuro. Saya pernah mencoba sekali, tetapi kemudian menyesal karena tidak mendapatkan barang yang berguna. Mungkin karena saya memang jarang beruntung.

Salah satu penawaran fukubukuro
sumber

Keempat: Hunting Barang dari Kakak Tingkat


Jangan sungkan untuk menerima hibahan pakaian dari kakak tingkat yang akan kembali ke Indonesia. Saya bahkan tidak ragu untuk meminta jauh-jauh hari sebelum beliaunya pulang, hehe.

Karena dengan begitu, kita dapat menghemat pengeluaran. Hal ini juga berlaku untuk barang rumah tangga lainnya.


Kelima: Lebih Baik Menjahit daripada Membuang Baju


Karena di Jepang itu ongkos menjahit mahal, maka kita mau tidak mau harus berlatih untuk menjahit. Daripada membuang baju sobek, ada baiknya kita menjahitnya. 

Tips untuk menjahit dapat dipelajari melalui video-video dari youtube.

Dengan menjahit, kita bisa membendung keinginan untuk membeli baju baru, karena baju yang sobek masih dapat dipakai.


Nah tadi adalah beberapa tips dari saya soal masalah pakaian. Jika ada yang mau menambahkan, jangan lupa ditulis di komentar ya...

Semoga bermanfaat.

💝



Friday, November 16, 2018

Tips: Mencari Apartment di Jepang

Hi readers, lama juga nih saya tidak nulis tentang kehidupan di Jepang. Kali ini, saya ingin membagikan pengalaman saya mencari apartemen di Jepang sendiri. Karena kadang, kita mahasiswa biasanya akan diberikan "jatah" untuk tinggal di asrama kampus setidaknya selama 1 tahun. Nah setelah itu, kita diharuskan untuk tinggal sendiri di tempat lain. Kali ini, saya bagikan beberapa langkah yang pernah saya tempuh. Kalau misal teman-teman ada yang punya pengalaman berbeda, boleh banget lho ditambahkan.

Tips mencari apartment di Jepang


1. Gali informasi melalui Website


Bagi kita yang masih susah berkomunikasi dalam bahasa Jepang, terkadang ada rasa tidak enak atau sungkan untuk bertanya banyak mengenai mana saja apartemen yang tersedia (ada kamar kosong). Dan tidak semua teman jepang kita tahu informasi apartemen secara lengkap. Oleh karena itu, mencari sendiri melalui website broker apartemen adalah cara yang dapat kita tempuh.

Tapi kan website-nya dalam bahasa Jepang?
Kan ada opsi terjemahkan dalam bahasa Inggris, bahkan bahasa Indonesia.
Pertama, ketik kata kunci di Google Translate tentang kampusmu dengan menggunakan bahasa Jepang. Contoh dalam gambar ini, saya menggunakan kampus saya, Gifu University, atau dalam bahasa Jepangnya saya tulis Gifu Daigaku.

Kedua, copy-paste kata kunci tersebut ke dalam tab baru, seperti gambar dibawah ini. Disini akan muncul beberapa website yang merujuk ke website dari broker apartemen. Ada beberapa broker yang terpercaya, kota per kota ada broker lokal dan juga ada broker yang sama sejepang. Diantaranya adalah HomesDaimaruHeyasapoMini-Mini, dan Nissho.



Ketiga, klik websitenya dan masukkan informasi yang kamu inginkan, seperti gambar di bawah ini.


Pada gambar yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris ini, kita bisa memilih apa saja yang sesuai dengan keinginan kita. Pada pilihan Rent, kita bisa mengisi rentangan harga terendah dan tertinggi apartemen yang kita inginkan. Pada pilihan Floor Plan, kita bisa pilih bentuk ruangan apa yang kita inginkan. Contohnya seperti 1R atau one room, artinya bahwa dapur dan kamar tidak ada sekat, sedangkan 1LDK artinya one living dining kitchen, artinya kamar tidur dan dapur terpisah dengan 1 kamar, sedangkan 2LDK dengan 2 kamar, dan seterusnya.

Kita juga bisa memilih fasilitas yang diinginkan, seperti kamar mandi yang terpisah dengan toilet, AC di banyak ruangan, dan sebagainya. Setelah kita memasukkan pilihan, kita klik tombol untuk pencarian. Hasil pencarian akan berupa gambar beberapa profil apartemen yang available untuk dipesan. Selain itu, akan ada pula pilihan lokasi yang bisa kita pilih langsung untuk pencarian yang lebih spesifik, seperti yang tertampil dalam gambar berikut ini.



Keempat, kemudian kita bisa melihat-lihat apartemen yang kita inginkan. Di website, akan tertampil semua informasi mengenai denah ruangannya, sewa perbulan, dan biaya lain-lain yang dibayarkan. Selain itu, informasi mengenai perusahaan gas, listrik dan air yang dipakai juga tersedia. Informasinya sangat lengkap, hingga posisi AC dimana pun ditampilkan.



Setelah mendapatkan beberapa calon apartemen yang kita inginkan, kita bisa print atau catat nama apartemen tersebut.

2. Datang ke perusahaan broker apartement


Setelah kita mendapatkan calon-calon apartemen, kita datang ke perusahaan. Seperti yang disebutkan diatas, pilih perusahaan terdekat dari tempat tinggal untuk menghindari merepotkan diri sendiri atau orang lain. Namun, jika kita mau berusaha sedikit lebih keras, kita bisa membandingkan harga antara broker satu dengan yang lain. Perbedaannya biasanya ada di deposit money, key money dan bayar jasa ke perusahaan tersebut.

Deposit money adalah uang yang kita bayarkan pada saat tanda tangan kontrak apartemen. Uang ini biasanya akan digunakan jika ruangan kita ada kerusakan selama kita tinggal disana. Uang ini bisa kembali sejumlah sisa total uang yang digunakan untuk perbaikan. Namun, biasanya untuk kita yang sudah terlalu lama tinggal di apartemen tersebut, kita jarang mendapatkan uang deposit kembali.

Key money adalah uang yang kita bayarkan kepada perusahaan broker. Kita tidak akan mendapatkan uang ini kembali. Yang saya dengar dari beberapa penjelasan, key money ini adalah uang yang nantinya akan dibagi antara pemilik apartemen dan perusahaan.

Uang jasa, adalah uang yang kita bayarkan ke perusahaan sebagai jasa mereka menguruskan kontrak apartemen.

Kebanyakan, deposit money dan key money besarannya sama dan sejumlah harga sewa apartemen 1 bulan. Sedangkan uang jasa biasanya diambil setengah harga sewa satu bulan. Jadi, misalkan kamar saya sewanya 25.000 yen, maka di kontrak pertama, saya akan membayar sejumlah:

Uang sewa bulan pertama : 25.000 yen
Deposit money                  : 25.000 yen
Key money                        : 25.000 yen
Uang jasa                           : 12.500 yen

Total uang yang kita bayarkan dalam kontrak pertama adalah 87.500 yen

Namun, terkadang, ada broker yang menggabungkan key money dengan uang jasa, sehingga kita hanya membayar total 75.000 yen.

Ada juga apartemen yang meminta deposit money sejumlah yang sudah ditentukan, misalkan 100.000 yen di awal.

Tentu saja, semua informasi terkait ini sudah tertera di websitenya. Oleh karena itu, jika kita ingin mendapatkan yang termurah, kita harus sabar dalam membandingkan antara broker satu dengan broker lainnya.

Kita juga akan diantar untuk melihat apartemen yang kita pilih satu per satu. Di situ, kita bisa mencocokkan keinginan kita dengan realita yang ada. Apakah sesuai dengan yang kita inginkan, dan lainnya.

Survival Tips

a. Karena kita akan tinggal bercampur dengan orang jepang, jika kita sering mengadakan pesta kecil di rumah, atau kita sering nyanyi, atau kita sensitif terhadap suara di malam hari akan mengganggu kita tidur, sebaiknya kita memilih apartemen yang temboknya dari beton, bukan tembok triplek. Karena orang jepang tidak akan segan-segan memanggil polisi jika kita ribut. Sedangkan kita pasti akan sungkan jika kita ingin menegur tetangga yang ribut.
 
b. Pilih apartemen yang menggunakan layanan jasa dari perusahaan gas yang tidak membutuhkan abodemen bulanan. Sehingga kita bisa sedikit berhemat biaya pemakaian gas dengan hanya membayar sesuai penggunaan saja, dan tidak dibebani biaya abodemen bulanan yang sangat mahal. Apartemen saya menggunakan layanan jasa gas dengan biaya abodemen bulanannya sebesar 2200 yen. Artinya, saya pakai ga pakai gas tetep sebulan bayar 2200 yen. Mahal sekali.

c. Pilih apartemen yang mempunyai layanan dari perusahaan air minum yang siap minum, bukan air tanah. Sehingga kita dapat menghemat pembelian air mineral.

3. Mendapatkan surat dari guarantor / penjamin


Setelah kita menentukan apartemen mana yang akan kita tinggali, maka nanti kita akan mendapatkan banyak penjelasan dari abroker tersebut mengenai surat kontrak, penjelasan apartemen dan peraturan apartemennya. Maka kita akan diminta untuk menandatangani kontrak perjanjian sewa apartemen.

Kemudian, kita akan diminta membawa dokumen tersebut ke kampus (atau ke kantor tempat bekerja) untuk mendapatkan penjamin. Jika kita adalah mahasiswa, maka penjamin kita adalah kampus. Jika kita pekerja, agak susah dan sedikit tricky. Jika perusahaan mau menjadi penjamin, maka hal ini akan mudah. Namun perusahaan tidak bersedia untuk menjadi penjamin, maka ada beberapa opsi yang bisa kita ambil:

1. Meminta orang jepang terdekat untuk menjadi penjamin
2. Mendaftar untuk program rental guarantor

Untuk kasus saya, kebetulan bos perusahaan saya bersedia menjadi guarantor.

Guarantor ini adalah orang yang bertanggungjawab apabila suatu saat ada masalah dengan kita. Entah itu nanti apartemen kita kebakaran, atau kita kabur.

4. Membayar Asuransi Apartemen


Setelah kita mendapatkan surat guarantor, maka kita akan diminta baik dari pihak kampus maupun kantor, untuk membayar asuransi. Besarannya berbeda untuk mahasiswa dan pekerja.

Ketika saya menjadi mahasiswa, saya cukup membayar sekitar 4600 yen (jumlah tepatnya saya lupa) untuk masa tenggang 2 tahun. Sedangkan ketika saya sudah bekerja (menggunakan working visa), saya diminta membayar sejumlah sekitar 9000 yen untuk 1 tahun atau 17.000 yen untuk 2 tahun. Setelah kita membayar itu, kita akan mendapatkan semacam sertifikat yang harus kita sertakan dalam dokumen untuk dikembalikan ke broker.

5. Mengambil Certificate of Residence (住民票 / Jyuumin hyou)


Tidak semua broker meminta untuk menyertakan jyuuminhyou. Namun jika ada yang meminta untuk menyertakan, maka kita dapat mengambil jyuuminhyou melalui city hall (市役所/shiyakushou) atau di kantor-kantor kelurahan (区役所/ kuyakushou). Kita tinggal datang, bilang minta jyuuminhyou, membayar sekitar 300 yen, kemudian kita akan dapatkan jyuuminhyou tersebut.

Selain itu, tentu saja kita akan diminta untuk menyertakan fotokopi residence card.


6. Membayar uang kontrak sesuai kesepakatan


Setelah semua dokumen terkumpulkan, maka kita akan kembali lagi ke broker dengan membawa semua dokumen dan uang. Kemudian, kita akan menandatangani kontrak sewa apartemen. Kemudian, biasanya kita sudah akan dapat kunci, atau akan ada pemberitahuan kapan dan bagaimana cara mengambil kunci apartemennya.

Setelah kita menandatangani kontrak perjanjian tersebut, maka kita sudah sah menjadi penyewa kamar pada apartemen yang dituju. Dengan begini, kita sudah dapat memulai proses pindahan.



Nah, beginilah pengalaman saya beberapa kali pindahan apartemen di jepang. Semoga bisa membantu readers semua dalam proses mencari apartemen.