Sunday, August 11, 2019

Tata Cara dalam Menulis Surat Elektronik (Email)

Hai readers,

Berawal dari kegelisahan saya membaca banyak sekali surat elektronik atau email yang masuk di salah satu organisasi yang saya ikuti, maka saya meniatkan diri untuk menulis tentang hal tersebut. Karena, ternyata, bahkan di tingkat pengajar universitas pun, masih banyak yang tidak tahu tentang bagaimana cara menulis email yang baik dan bernar.

Ya masak setingkat dosen mengirim email dengan format seperti chat di Whatsapp? 

Sumber

Bagaimana sih format email kebanyakan yang dilakukan secara tidak sadar?


1. Salam pembuka hanya menggunakan kata Assalamualaikum, kadang disingkat dengan aww. Ya kali adminnya Muslim, kalau non muslim?

2. Tidak menggunakan huruf kapital dan tanda baca yang tepat.

3. Badan email banyak sekali ditemukan kata yang disingkat.

4. Tidak ditutup dengan menggunakan salam penutup.


Percayalah, readers, membaca email dengan format seperti di atas itu membuat hati geregetan. Dan terkadang, email kita akan dicuekin, loh.

Oleh karena itu, yuk kita belajar bagaimana cara menulis email yang baik.

Tata Cara Penulisan Email yang Baik dan Benar


Kali ini, mari kita mulai dari tubuh email itu sendiri. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan. Berikut ulasannya.

1. Salam Pembuka


Meskipun "Assalamualaikum" adalah kalimat salam yang baik, namun bukan berarti tepat jika digunakan dalam menulis email, loh. Karena pada dasarnya, surat menyurat melalui email lebih cenderung digunakan untuk sebab profesionalisme dan resmi, bukan percakapan casual seperti Whatsapp.

Berikut adalah contoh salam pembuka yang direkomendasikan.

Bahasa Indonesia:

Kepada Yth.
Bapak/Ibu xxx (atau Dr. xxx / Mr/Ms. xxx)
di tempat

Dengan hormat,

(isi email)

Jika merujuk pada sebuah jabatan, maka sebaiknya ditulis,

Kepada Yth.
Bapak/Ibu Pimpinan (atau Ketua dll)
PT. xxx
di tempat

Dengan hormat,

(isi email)

Jika merujuk pada admin sebuah institusi, dapat menggunakan format seperti berikut.

Kepada Yth.
Staff Divisi xxx
PT. xxx (atau nama organisasi)
di tempat

Dengan hormat,

(isi email)

Bahasa Inggris

Sejauh yang saya tahu, dan lakukan, penulisan salam pembuka pada email dalam bahasa Inggris lebih sederhana. Cukup dengan menggunakan yang tertulis pada contoh di bawah ini.

Dear Prof. xxx (atau Mr./Ms. xxx),

(isi email)

Jika merujuk pada admin sebuah institusi, dapat menggunakan format tersebut dibawah.

Dear Administrator (Staff)
University of xxx (atau nama perusahaan)

(isi email)

2. Isi Email

Dalam menulis isi email harus menggunakan bahasa baku dan diusahakan mengikuti Ejaan Yang Disempurnakan. Namun, jika kita tidak banyak tahu akan bahasa mana yang sesuai dengan EYD, kita dapat menuliskan kata-kata sopan, koq. Namun, ada beberapa hal juga yang perlu diperhatikan. Berikut ulasannya.

a. Perkenalan Diri


Pertama, tentu saja jika kita baru pertama kali mengirim email kepada yang ditujukan, maka perkenalan diri secara singkat, tidak perlu bertele-tele. Contoh berikut dapat diadaptasi, loh.

Saya (nama lengkap), salah satu mahasiswa di fakultas X Universitas Y mendapatkan kontak Bapak/Ibu dari xxx. Maksud dan tujuan saya mengirim surat elektronik ini guna xxxx.

Atau dalam bahasa Inggris, bisa juga ditulis dengan contoh sebagai berikut. (Mohon maaf jika bahasa Inggris saya berantakan).

First of all, I would like to introduce myself. I am xxx from the University of xxx. I am hereby would like to xxx about xxx.

b. Huruf kapital, tanda baca, spasi


Penting sekali bagi kita untuk kembali mengecek ulang email yang kita tulis. Perhatikan huruf kapital. Berikut adalah dua contoh perbandingan penulisan tubuh email yang tidak baik dan yang baik.

Contoh tidak baik

saya mau tanya tentang pembayaran program.dimana saya harus membayar.berapa uangnya.makasih.

Sungguh, saya tidak berbohong, yang seperti ini saya sering temui.

Contoh baik

Maksud dan tujuan saya menulis surat elektronik ini adalah untuk menanyakan hal yang berhubungan dengan program yang sedang dijalankan. Dimana saya harus membayar dan berapa jumlah nilai yang harus saya bayarkan?
Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.

Memang terkesan membosankan menulis format email baku seperti di atas, namun terkadang, keberhasilan atau kegagalan akan sesuatu hal justru berawal dari hal remeh seperti ini, loh.

c. Lampiran


Deskripsi pada isi email sebaiknya jangan terlalu banyak. Apabila berisikan surat ijin atau permintaan akan sesuatu, akan lebih baik jika kita membuat format surat dan dilampirkan secara terpisah. Sehingga kita dapat mengikuti format sebagai berikut.

Kami dari Radio PPI Jepang ingin mengajukan permohonan ijin untuk meliput acara yang akan berlangsung di KBRI Tokyo. Bersama surat ini, kami lampirkan surat ijin dari kesekretariatan Radio PPI Jepang.


3. Salam penutup


Salam penutup biasanya akan diakhiri juga dengan tanda tangan dari pengirim. Namun, terkadang ada juga yang hanya mengakhiri dengan "Sent from my iPhone". Sungguh, ini kurang baik.

Berikut contoh yang direkomendasikan.

Bahasa Indonesia

Atas perhatiannya, saya (kami) ucapkan terima kasih.

Hormat saya (kami),

Anggara Seto Dimas
Staff HRD
PT. Maxima Security
(boleh saja diisi dengan alamat atau kontak resmi institusi lebih lanjut dibawahnya)

Bahasa Inggris

Thank you very much.

Yours sincerely,

Anggara Seto Dimas
Student of the Department of Data Mining, 
Faculty of Engineering
University of Oxford

Ada beberapa salam penutup dalam bahasa Inggris yang bisa kita pergunakan, antara lain sebagai berikut:

- Yours sincerely
- Sincerely yours
- Best Regards
- Regards
- With Best
- Best

Mohon untuk tidak menggunakan kalimat semacam "Cute Regards", ini sungguh tidak baik.


4. Subyek Email


Untuk menulis subyek email, sungguh dilarang keras menggunakan kalimat semacam ini:

- Tugas Fix
- Bismillah dapat uang
- Bismillah tembus

Ada baiknya jika kita menuliskan dengan kalimat baku yang jelas dan rinci yang menggambarkan tentang sesuatu hal yang menjadi tujuan pokok kita. Contohnya sebagai berikut.

- Reward program
- Homestay Program
- Beasiswa ke Universitas XX
- Lampiran Tugas XX

5. Nama Lampiran

Mohon kembali untuk diperhatikan dalam penamaan lampiran yang akan dikirimkan. Jangan sampai menuliskan nama lampiran seperti "Bismillah dapat uang".

Alih-alih seperti itu, ada baiknya dokumen diberi nama seperti dibawah ini:

- Tugas XXX (Anggara SD)
- Design Ruang Tamu
- Surat Permohonan Ijin
- Lampiran 1
dan sebagainya

6. Nama Email


Di jaman digital seperti ini, rupanya masih banyak yang mengirimkan email resmi dengan alamat email yang dirasa kurang profesional seperti contoh dibawah ini.

- kwesdotenigameni@gmail.com
- ezz_sobz@gmail.com
- muh_chayank_kamu@gmail.com

Ada baiknya jika kita membuat email khusus untuk keperluan resmi dengan menggunakan nama lengkap dan kombinasi yang memungkinan. Seperti contoh dibawah ini.

- anggara.seto@gmail.com
- anggara.seto715@gmail.com
- a.seto.dimas@gmail.com
- a.seto.dimas.2214@gmail.com

Penggunaan varian angka tidak akan mengurangi nilai profesionalisme, koq. Asal jangan kemudian menyebut 4ko3_5ay4nk@gmail.com saja, sih.


Nah, rasanya seperti itulah, readers, tata cara mengirim surat email resmi yang baik. Jika readers ada tambahan, mohon ditulis di komentar ya.

Friday, August 2, 2019

Pencuri Identitas

Halo readers,

Sudah lama sekali saya tidak menuangkan isi pikiran di sini, ya. Saya akui, semenjak bekerja, saya jarang sekali mendapatkan ide untuk ditulis. Tentu saja, saya tidak bisa menuliskan tentang pekerjaan saya atau hal-hal seputar pekerjaan saya mengingat saya tidak mau kena kasus pelanggaran hak pribadi seperti yang dialami teman saya sebelumnya.

Kebetulan sekali, kali ini ada topik yang menarik untuk dibahas. Yaitu tentang pencuri identitas. Berawal dari topik bahasan di Quora mengenai salah satu penggunanya yang terbukti mencuri identitas, saya jadi teringat lagi peristiwa beberapa tahun yang lalu. Tepatnya di sekitar tahun 2012 hingga 2014 (kalau tidak salah), saat saya masih belagu karena baru saja pindah di Jepang.

Mari kita bicarakan mengenai kasus yang terjadi di Quora terlebih dahulu.



Ceritanya, si mbak yang profilnya saya tampilkan ini mengaku adalah seorang blasteran Jawa-Jerman, lalu tingal di Jerman. Si Mbak ini sudah mempunyai pengikut lebih dari 1200.

Berawal dari sahabat kesayangan saya, Mas Hairi yang meminta saya untuk melaporkan akun si Mbak tersebut akibat mencatut foto anak dari teman Mas Hairi yang diaku sebagai foto kecil dari si Mbak itu. Lalu, rupanya, banyak sekali penghuni Quora yang menemukan kejanggalan dari berbagai jawaban dari si Mbak tersebut.

Saya sengaja tidak menyebutnya sebagai Mbak Galuh, karena setelah ditelusuri, kredensial Mbak ini sebagian mencatut dari profil Mbak Galuh Candra Kirana dan dimodifikasi. Hanya berbeda wajah yang ditampilkan saja.

Mari kita bahas sejenak.

Galuh Kirana ini benar adanya. Dengan profil yang ditampilkan, itu benar ada orangnya. Bahkan gaya foto yang di pakai si Mbak ini mirip dengan Mbak Galuh Kirana Anindhita tetapi sayangnya, Mbak Galuh Anindhita mempunyai profil yang berbeda.

Tetapi, saya yakin, dan banyak orang yang meyakini, bahwa yang menggunakan profil Galuh Kirana di Quora pasti bukanlah kedua Galuh yang asli tersebut.

Kita putar mundur ke tahun dimana saya masih menjadi seorang mahasiswa yang belagu.

Saya sempat mengikuti permainan dari dua orang gadis Bali yang mengaku kepada salah satu teman kuliah saya sebagai anak blasteran Jepang-Bali. Awalnya saya percaya, karena memang saya sendiri mempunyai beberapa teman blasteran Jepang-Bali.

Lalu kemudian, saya menjadi curiga. Saya melakukan identifikasi. Bahkan tadi pagi buta, saya sempat harus membuka akun Facebook saya yang lama yang sudah tidak mau saya buka karena banyak kenangan dengan mantan di sana. Hanya untuk menemukan akun milik dua orang itu. Sayangnya, akunnya sudah tidak ada. Dan ternyata, saya menemukannya di twitter.

Berikut adalah profil salah satunya. Dia mengaku bernama Miyoko Tanoshita dan bekerja sebagai kru NHK di Hongkong bersama dengan fotografer Kai Wong.


Kai Wong adalah sosok asli, dan memang ada jika dicari. Tetapi, sosok wajah dan profil yang dicuri oleh Miyoko Tanoshita adalah sosok dari seorang teman kerja dari Kai Wong itu sendiri, yang bernama Alamby Leung. Bandingkan foto yang diposting oleh Alamby pada twitternya di tahun 2013, kemudian diaku oleh Miyoko di tahun 2014.



Miyoko Tanoshita tidak tanggung-tanggung, dia membuat banyak sekali "akun profil" keluarganya. Seperti adiknya, sepupunya dan sebagainya untuk menunjukkan keabsahannya dalam bercerita.

Kecurigaan saya pertama adalah datang dari profil temannya yang bernama Akemi Sato. Saya telusuri tidak ada lagi. Tapi saya masih ingat, ketika dia mengunggah fotonya dan diakunya bahwa dia sedang ada di rumahnya di Jepang. Saya langsung tahu bahwa dia berbohong. Dari apa? Dari ini.


Betul. Dari hal kecil bernama colokan. Yang terpampang di bagian belakang foto dirinya adalah colokan khas Indonesia. Mulai dari situ, saya menjadi kepo akan kebohongannya, sampailah pada sosok Alamby leung juga.

Tapi, saya sengaja diam dan memilih tidak memberi tahu teman saya. Takutnya nanti malah saya dikira belagu mentang-mentang tinggal di Jepang, gitu. Cuma, saya perhatikan saat ini dia sudah tidak berhubungan dengan orang-orang tersebut. Syukurlah.

Pencuri Identitas


Ngeri sekali jika kita melihat dua contoh kasus pencuri identitas. Kita tidak tahu siapa sosok dibalik sosok yang ditampilkan, apa tujuannya sebenarnya, dan alasan dibalik kelakuannya itu.

Siapa yang akan dirugikan? Tentu saja sosok asli yang diambil profilnya tersebut. Bagaimana apabila Mbak Galuh yang asli suatu saat bertemu dengan salah satu penghuni Quora, lantas dikecam bahwa Mbak Galuh belum pernah tinggal di Jerman saja lantas menjawab pertanyaan seputar Jerman dengan sok tahu. Padahal Mbak Galuh tidak merasa berbuat seperti itu.

Bayangkan, apabila profil orang yang dicuri lantas kemudian sedang melamar pekerjaan, lalu ditolak karena masalah yang dia sendiri tidak pernah tahu.

Di era digital saat ini, ketakutan terbesar saya adalah jika ada orang yang mencuri identitas saya, saya pribadi benar-benar takut. Karena, sebagai seorang yang single dan belum menikah, juga belum punya pekerjaan tetap, saya masih ketakutan dan tidak mau repot terkena masalah yang bukan karena ulah saya.

Readers, berhati-hatilah. Jangan sampai identitas kita dicuri oleh orang lain. Bukan hanya itu, janganlah sekali-kali menjadi seorang pencuri identitas. Berbanggalah dengan apa yang kamu miliki sekarang, dan bertanggungjawablah atas apa yang kamu perbuat sendiri.

Saya pun demikian, meski saya tidak punya apa-apa dan sempat viral hingga dikecam, dibuli, bahkan masuk koran digital sejenak lalu menghilang, tapi saya cukup yakin, bahwa saya adalah saya dan tidak mencuri identitas orang lain. Masak iya, saya mau mencuri identitas sebagai Pevita Pearce atau Miki Honoka agar Vidi Aldiano tertarik sama saya? Kan ya tidak begitu.

Akhir kata, berhati-hatilah.

Thursday, August 1, 2019

Saya Kembali

Halo readers,

Sudah lama sekali saya tidak menjamah Red Momiji ya. Beberapa alasan mengapa saya jarang sekali menulis di sini adalah, karena saya lebih banyak menulis di Quora, dan Wattpad.

Bersyukur sekali, cerita I Fall in the Autumn yang saya mulai di sini, akhirnya sudah tamat. Butuh waktu 7 tahun untuk menamatkannya dan melanjutkan ceritanya. Sahabat saya, Putika, yang memberikan desain pada sampulnya loh.



Berikut untuk tautan cerita tersebut di Wattpad:

I Fall in the Autumn (Wattpad)

Selain itu, saya juga sempat menyelesaikan cerita lain yang berjudul Angsana. Cerita mengenai kegelisahan seorang wanita untuk bisa diterima oleh keluarga baru (calon mertua). Berikut adalah tautannya:

Angsana

Rasanya senang sekali, akhirnya bisa menyelesaikan apa yang sudha saya mulai. Karena biasanya, saya akan kehilangan ide hingga bertahun-tahun. Angsana berhasil saya selesaikan dalam waktu 4 bulan saja.

Terima kasih untuk apresiasi dari readers semua. Kali ini, mungkin saya akan melanjutkan cerita Cinta Kita Terhalang Syahadat. Namun, karena orang yang saya jadikan inspirasi pada saat itu sudah tidak ada lagi, maka sudut pandangnya akan berbeda.

Semoga kali ini bisa selesai dalam waktu lebih cepar dari Angsana ya....meskipun sepertinya susah.

Sunday, June 23, 2019

Rejeki itu Tidak Selalu Berupa Uang

Jaman saya masih lebih muda dari sekarang, saya selalu beranggapan bahwa rejeki adalah uang. Maka jika saya berdoa kepada Tuhan tentang rejeki, yang saya harapkan adalah,

"Tuhan, beri saya banyak uang"


Ternyata saya salah.

Selama ini, saya berdoa agar Tuhan memberikan banyak saya rejeki, tapi saya nggak banyak uang juga, terkadang saya sedikit kecewa. Ternyata saya kufur nikmat.

Akhir-akhir ini, setelah melalui banyak curhatan teman, saya seperti tertampar dengan keadaan. Tuhan telah memberi saya rejeki yang banyak sekali.

Lalu, apa saja rejeki itu?


Kesehatan


Kesehatan adalah hal yang pertama dan utama. Saya merasakan betapa saya bersyukur dengan kesehatan saya. Saya masih diberi akal sehat, lebih sehat mental dari sebelum-sebelumnya, saya masih diberikan fisik yang kuat, meski kadang masuk angin. Namun secara keseluruhan, fisik dan mental saya sehat.

Hidup di Jepang, kesehatan dijamin dengan adanya asuransi meski bayar asuransinya kemahalan. Setiap kali kita ke dokter, kita akan mendapatkan potongan 70% dengan adanya asuransi tersebut. Bayangkan saja, ketika om saya datang ke Jepang dan ke rumah sakit, beliau kena charge sekitar 10.000 yen.  Sedangkan saya, untuk keluhan masuk angin yang sama, hanya kena sekitar 500 yen.

Saya juga diberi rejeki dari asuransi untuk merawat gigi saya. Hal yang saya jarang lakukan di Indonesia. Ternyata, sikat gigi sering-sering itu tidak cukup. Banyak perawatan gigi yang semakin bertambah umur, semakin diperlukan. Contohnya saja, gigi bungsu. Saya tidak perlu repot-repot mencabut gigi bungsu karena di sini, dokter memberikan perawatan dan tips bagaimana cara supaya gigi bungsu tidak menabrak gigi yang lain.

Dengan adanya perawatan gigi, setiap puasa, saya jadi lebih pede. Karena rupanya, bau mulut saat puasa bukan hanya berasal dari lambung kita, melainkan juga dari sela-sela gigi kita. Rajin mengunjungi dokter gigi untuk melakukan pembersihan kotoran di sela-sela gigi adalah salah satu cara menghilangkan bau mulut.

sumber

Kesehatan juga termasuk akal sehat dan mental yang kuat. Saya harus mulai mengakui bahwa tahun-tahun sebelumnya, saya terkena serangan anxiety attack, depresi, dan hubungan percintaan yang tidak sehat. Rejeki yang Tuhan beri pada saya tahun ini adalah, saya berhasil untuk keluar dari sakit mental tersebut.

Itu adalah sedikit dari rejeki kesehatan yang Tuhan beri.

Pekerjaan


Apa yang tidak lebih baik dari sebuah pekerjaan impian? Terlebih lagi, combo impian. Saya bermimpi untuk pergi ke Jepang, saya pernah bercita-cita menjadi guru TK, saya pernah berkeinginan menjadi guru bahasa Inggris. Lalu Tuhan mengabulkannya menjadi guru bahasa Inggris di TK di Jepang. The best!!

Percintaan


Punya pasangan yang sangat mendukung cita-cita, karir dan polah saya yang seperti anak-anak ini adalah rejeki yang sangat luar biasa.



Keluarga


Punya keluarga yang bahagia dan mendukung setiap langkah kita meski sering ditekan untuk segera menikah, adalah rejeki yang Tuhan berikan untuk kita. Bayangkan saja, tidak banyak orang tua yang ikhlas melepas anak gadisnya pergi sejauh-jauhnya dari rumah. Saya bersyukur Tuhan beri saya rejeki dilahirkan dan dibesarkan orang tua saya. Meski dulu kami pernah kekurangan.

Hari libur yang menyenangkan


Ini adalah rejeki yang sangat penting. Tidak ada hari libur yang lebih baik dari libur yang bisa seharian tidur di rumah sambil nonton Netflix. Tidak ada.

Rasa aman


Jangan salah, rasa aman juga merupakan rejeki dari Tuhan. Bagaimana nikmatnya kita tidur dengan nyaman di malam hari, atau pulang dari lab di tengah malam menjelang pagi tanpa gangguan orang jahat atau jin, kita hidup di daerah bukan konflik, itu semua adalah rejeki Tuhan.

Lalu, apa lagi yang harus kita kecewakan dari rejeki Tuhan?

Maka dalam Al Quran, ayat "nikmat Tuhan yang mana kah yang kamu dustakan" mengalami perulangan beberapa kali. Mengapa? Untuk mengingatkan kita bahwa Tuhan telah memberi kita begitu banyak nikmat, rejeki dan kemudahan dalam menjalani hidup.



Lalu, apakah kita masih akan terus kufur nikmat?

Bersyukurlah akan rejeki Tuhan. Bersyukurlah.

Masalah memang akan terus ada. Justru kalau kamu merasa hidupmu tidak bermasalah, maka dirimulah yang sesungguhnya bermasalah. Coba tanya ke temanmu, apakah kamu menyebalkan?




Thursday, June 6, 2019

Oyster dan Barnacle (boys) di Miyajima

Halo readers, sudah lama sekali saya tidak berbagi cerita disini. Maklum saja, Wattpad dan Quora menyita perhatian saya hingga saya terlupa untuk menulis pada tempat yang sudah saya besarkan sendiri.

Duh, jadi ngelantur.

Baik, mari kita kembali ke topik.

Golden Week tahun ini, saya berkesempatan mengunjungi Hiroshima. Salah satu obyek wisata yang saya kunjungi adalah Itsukushima Island, atau yang lebih dikenal sebagai Miyajima.

redmomiji.com/miyajima
Itsukushima Shrine Gate


Salah satu yang terkenal di Miyajima adalah Itsukushima torii atau Shrine Gate yang berlokasi di pinggir pantai. Kita bisa berjalan ke arahnya ketika surut dan harus segera kembali ke daratan ketika pasang.

Kuil ini menjadi salah satu situs yang dilindungi oleh UNESCO, loh.

Untuk sampai di pulau ini, kita harus menaiki kapal ferry dari Hiroshima port. Dalam perjalanan di kapal ferry, saya dikisahkan banyak hal tentang Hiroshima oleh teman saya, Mas Wahyudin dan Mas Ginting.

redmomiji.com/miyajima-ferry
Kapal ferry yang mengangkut kami

Satu hal yang menarik adalah, bahwa Hiroshima tidak selalu tentang momiji manju. Tetapi juga oysters.

Karena gambar oysters saya ditolak,
maka saya upload gambar dari matcha-jp.com

Hiroshima Oysters


Hiroshima rupanya memproduksi 58% dari seluruh total produksi oysters di Jepang. Hal ini sudah berlangsung selama lebih dari 400 tahun lamanya.

Teluk Hiroshima mempunyai arus yang tenang, sehingga sangat cocok digunakan untuk budidaya oysters. Dalam perjalanan saya menuju Miyajima, saya melihat banyak sekali keranda budidaya oyster.

redmomiji.com/oysterfarm
Oyster Farm in Hiroshima Bay

Musim dingin adalah waktu yang tempat untuk memulai pengumpulan kerangka. Oyster muda diikat dengan menggunakan tali kemudian diletakkan di bawah papan-papan seperti di gambar tersebut. Gunanya adalah untuk memancing oyster lain untuk menempel dan berkumpul di sekitar tali.

Contohnya bisa dilihat dalam video ini.

Oyster berkembang dari musim ke musim hingga musim gugur adalah saat yang tepat untuk memanen. Ketika musim panen, papan-papan itu akan dibuka dengan bantuan kapal.

Namun, rupanya budidaya ini bukannya tanpa halangan. Makanan yang digunakan untuk memancing oyster muda untuk berkumpul pada tempat yang sudah disediakan, bukan hanya dimakan oleh oyster, tetapi juga barnacle.


Oh, bukan Barnacle boy yang ini.

Barnacle boys di Miyajima


Barnacles merupakan makanan pokok bagi burung-burung yang ada di pantai, sehingga masih ada dalam rantai makanan. Hanya saja, kehadirannya ibaratkan rumput liar pada tanaman, tidak diinginkan oleh peternak oyster.

redmomiji.com/miyajima-barnacles
Barnacle boys yang melekat pada gerbang kuil Miyajima


Akibatnya, produksi oyster dapat terganggu. Di samping itu, orang Jepang tidak mengonsumsi barnacles seperti orang Spanyol. Pun juga tidak memanen barnacles.

Sayangnya, waktu saya berkunjung di Miyajima masih kurang lama. Lain kali, saya akan bercerita lebih banyak lagi mengenai Miyajima. Berikut adalah beberapa gambar yang kami ambil dalam perjalanan saya berkeliling Itsukushima Shrine di Miyajima.

Hiroshima Steamed Bun
Ada varian sapi, anago dan oyster

Itsukushima Shrine Gate

Kayu yang digunakan sebagai penyangga toori
Umurnya sudah 1000 tahun

Saya menikmati oyster


Saya kegendutan di depan toori


Sumber:
https://en.wikipedia.org/wiki/Itsukushima_Shrine
http://visithiroshima.net/world_heritage/itsukushima/miyajima.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Barnacle
https://scialert.net/fulltextmobile/?doi=rjes.2007.324.330
https://www.hiroshima-navi.or.jp/en/special/burari/201803_01/
http://www.kunihiro-jp.com/eg/about/index.html

Friday, May 10, 2019

Selayang Pandang Kurashiki, Okayama

Setelah berjanji pada teman-teman sejak 2013, baru di tahun 2019 ini saya berkesempatan untuk mengunjungi Okayama. Salah satu obyek wisata yang saya kunjungi adalah Kurashiki.

Kurashiki


Kurashiki adalah salah satu kota di perfektur Okayama yang terkenal dengan keindahan alam dan nuansa Jepang pada zaman dahulu kala. Kota ini sendiri mempunyai arti sebagai kota gudang. Karena sejarahnya, kota ini merupakan gudang beras di Jepang. Ada banyak sekali obyek wisata yang dapat kita kunjungi di Kurashiki. 

1. Bikan Historical Area

Daerah Bikan menjadi pusat perhatian di Kurashiki karena hampir seluruh bangunan yang ada bercat putih. 

Bikan District


Di sini juga mengalir sungai Kurashiki yang pada kedua sisi sungainya ditanami pohon willow. 

Kurashiki River

Beberapa museum terkenal seperti Ohara Museum of ArtMuseum of FolkcraftToy Museum, dan Archaeological Museum. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu untuk mengunjunginya satu per satu.


Ada satu toko yang saya kunjungi, yaitu toko yang menjual aksesoris yang terbuat dari bagian tanaman asli. Bagian tanaman tersebut diawetkan dengan menggunakan bahan kimia semacam lilin selama kurang lebih satu tahun. Lalu dibuat sebagai ornamen untuk aksesoris pada gelang, kalung dan anting.



Saya juga berkesempatan untuk mencoba jajanan yang ada di daerah ini, yaitu handmade sweet potato soft-cream. Terbuat dari ubi ungu khas Okinawa, dengan krim yang terasa sekali susunya. Dibuat oleh pasangan kakek dan nenek yang masih bersemangat.


2. Ivy Square

Ivy Square adalah sebuah tempat wisata yang hampir seluruh bangunannya dikelilingi oleh tanaman merambat.

Ivy Square


Dalam sejarahnya, Kurashiki pernah menjadi kota bayangan dari kota sebelah, yaitu Kojima. Kojima adalah kota yang terkenal dengan denimnya. Jepang pada saat itu berambisi untuk menjadikan Kojima sebagai koita penghasil denim terbaik. Oleh karena itu, Jepang melakukan penanaman tanaman kapas secara masif, dan kota yang terpilih untuk ditanami adalah kurashiki.

Bangunan pada Ivy Square ini merupakan bangunan bekas tempat pengolahan kapas dan produksi benang untuk pembuatan denim.


Terdapat 4 museum terkenal di kawasan Ivy Square, yaitu Kurabo MuseumKojima Denim MuseumMomotaro Karakuri MuseumPiggybank Museum. Sayang pula, saya belum berkesempatan untuk mengunjunginya satu per satu.

3. Mitsui Outlet Park


Bagi pecinta barang bermerk, dapat pula mengunjungi Mitsui Outlet Park. Tempat ini adalah surga bagi Anda yang suka berbelanja.

Image result for mitsui outlet park kurashiki


Rasanya kurang puas bermain di Kurashiki selama setengah hari saja. Lain kali, saya akan kembali lagi dan menjelajah Kurashiki lebih dalam lagi.


Wednesday, March 20, 2019

Busana Formal Wanita di Jepang

Dua hari kemarin, saya berkesempatan untuk menghadiri upacara kelulusan siswa di sekolah-sekolah tempat saya mengajar. Biasanya saya menghadiri sebuah upacara sebagai peserta, kali ini saya berperan sebagai seseorang yang bekerja di balik layar. Ya, saya seorang guru.

Rupanya, sebagai salah seorang yang bekerja di balik layar, pakaian formal yang digunakan sungguh berbeda dengan orang yang berperan sebagai peserta upacara. Meski sama-sama menggunakan setelan jas, namun ada kode warna yang berbeda yang saya pelajari kali ini.

Sebagai peserta, kita boleh menggunakan pakaian formal dengan dalaman atau luaran warna cerah, seperti gambar di bawah ini. 


Meskipun berwarna hitam, namun dalaman yang dipakai boleh berwarna cerah. Dan juga, korsase bunganya pun pasti akan berwarna cerah.

Namun, bagi yang dibelakang layar, tidak seperti itu. Kami diharuskan memakai pakaian serba hitam. Dalaman pun berwarna hitam. Sama halnya dengan pakaian formal serba hitam ketika menghadiri upacara pemakaman. 

Berikut adalah gambaran pakaian formal yang dipakai oleh kami, para guru.


Aksen berwarna tidak boleh ada dalam baju dan rok, juga sepatu. Aksen berwarna pastel biasanya digunakan pada korsase bunga, dan juga pita rambut. Sedangkan aksen putih digunakan pada anting dan kalung.

Sayangnya, atas ketidak tahuan saya, di hari pertama, saya salah kostum. Saya menggunakan celana panjang, dan dalaman baju warna putih. Tidaklah salah secara definisi pakaian formal secara umum. Hanya saja, itu bukan gaya formal wanita jepang ketika menghadiri sebuah upacara resmi.

Gaya busana saya kemarin, seperti ini.
Satu pelajaran budaya yang saya pelajari di tahun ke 8 saya tinggal di negara ini. Sungguh, tidak habis saya belajar meski sudah lama menetap disini.