Friday, November 16, 2018

Survival Tips: Mencari Apartment di Jepang

Hi readers, lama juga nih saya tidak nulis tentang kehidupan di Jepang. Kali ini, saya ingin membagikan pengalaman saya mencari apartemen di Jepang sendiri. Karena kadang, kita mahasiswa biasanya akan diberikan "jatah" untuk tinggal di asrama kampus setidaknya selama 1 tahun. Nah setelah itu, kita diharuskan untuk tinggal sendiri di tempat lain. Kali ini, saya bagikan beberapa langkah yang pernah saya tempuh. Kalau misal teman-teman ada yang punya pengalaman berbeda, boleh banget lho ditambahkan.

Tips mencari apartment di Jepang


1. Gali informasi melalui Website


Bagi kita yang masih susah berkomunikasi dalam bahasa Jepang, terkadang ada rasa tidak enak atau sungkan untuk bertanya banyak mengenai mana saja apartemen yang tersedia (ada kamar kosong). Dan tidak semua teman jepang kita tahu informasi apartemen secara lengkap. Oleh karena itu, mencari sendiri melalui website broker apartemen adalah cara yang dapat kita tempuh.

Tapi kan website-nya dalam bahasa Jepang?
Kan ada opsi terjemahkan dalam bahasa Inggris, bahkan bahasa Indonesia.
Pertama, ketik kata kunci di Google Translate tentang kampusmu dengan menggunakan bahasa Jepang. Contoh dalam gambar ini, saya menggunakan kampus saya, Gifu University, atau dalam bahasa Jepangnya saya tulis Gifu Daigaku.

Kedua, copy-paste kata kunci tersebut ke dalam tab baru, seperti gambar dibawah ini. Disini akan muncul beberapa website yang merujuk ke website dari broker apartemen. Ada beberapa broker yang terpercaya, kota per kota ada broker lokal dan juga ada broker yang sama sejepang. Diantaranya adalah HomesDaimaruHeyasapoMini-Mini, dan Nissho.



Ketiga, klik websitenya dan masukkan informasi yang kamu inginkan, seperti gambar di bawah ini.


Pada gambar yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris ini, kita bisa memilih apa saja yang sesuai dengan keinginan kita. Pada pilihan Rent, kita bisa mengisi rentangan harga terendah dan tertinggi apartemen yang kita inginkan. Pada pilihan Floor Plan, kita bisa pilih bentuk ruangan apa yang kita inginkan. Contohnya seperti 1R atau one room, artinya bahwa dapur dan kamar tidak ada sekat, sedangkan 1LDK artinya one living dining kitchen, artinya kamar tidur dan dapur terpisah dengan 1 kamar, sedangkan 2LDK dengan 2 kamar, dan seterusnya.

Kita juga bisa memilih fasilitas yang diinginkan, seperti kamar mandi yang terpisah dengan toilet, AC di banyak ruangan, dan sebagainya. Setelah kita memasukkan pilihan, kita klik tombol untuk pencarian. Hasil pencarian akan berupa gambar beberapa profil apartemen yang available untuk dipesan. Selain itu, akan ada pula pilihan lokasi yang bisa kita pilih langsung untuk pencarian yang lebih spesifik, seperti yang tertampil dalam gambar berikut ini.



Keempat, kemudian kita bisa melihat-lihat apartemen yang kita inginkan. Di website, akan tertampil semua informasi mengenai denah ruangannya, sewa perbulan, dan biaya lain-lain yang dibayarkan. Selain itu, informasi mengenai perusahaan gas, listrik dan air yang dipakai juga tersedia. Informasinya sangat lengkap, hingga posisi AC dimana pun ditampilkan.



Setelah mendapatkan beberapa calon apartemen yang kita inginkan, kita bisa print atau catat nama apartemen tersebut.

2. Datang ke perusahaan broker apartement


Setelah kita mendapatkan calon-calon apartemen, kita datang ke perusahaan. Seperti yang disebutkan diatas, pilih perusahaan terdekat dari tempat tinggal untuk menghindari merepotkan diri sendiri atau orang lain. Namun, jika kita mau berusaha sedikit lebih keras, kita bisa membandingkan harga antara broker satu dengan yang lain. Perbedaannya biasanya ada di deposit money, key money dan bayar jasa ke perusahaan tersebut.

Deposit money adalah uang yang kita bayarkan pada saat tanda tangan kontrak apartemen. Uang ini biasanya akan digunakan jika ruangan kita ada kerusakan selama kita tinggal disana. Uang ini bisa kembali sejumlah sisa total uang yang digunakan untuk perbaikan. Namun, biasanya untuk kita yang sudah terlalu lama tinggal di apartemen tersebut, kita jarang mendapatkan uang deposit kembali.

Key money adalah uang yang kita bayarkan kepada perusahaan broker. Kita tidak akan mendapatkan uang ini kembali. Yang saya dengar dari beberapa penjelasan, key money ini adalah uang yang nantinya akan dibagi antara pemilik apartemen dan perusahaan.

Uang jasa, adalah uang yang kita bayarkan ke perusahaan sebagai jasa mereka menguruskan kontrak apartemen.

Kebanyakan, deposit money dan key money besarannya sama dan sejumlah harga sewa apartemen 1 bulan. Sedangkan uang jasa biasanya diambil setengah harga sewa satu bulan. Jadi, misalkan kamar saya sewanya 25.000 yen, maka di kontrak pertama, saya akan membayar sejumlah:

Uang sewa bulan pertama : 25.000 yen
Deposit money                  : 25.000 yen
Key money                        : 25.000 yen
Uang jasa                           : 12.500 yen

Total uang yang kita bayarkan dalam kontrak pertama adalah 87.500 yen

Namun, terkadang, ada broker yang menggabungkan key money dengan uang jasa, sehingga kita hanya membayar total 75.000 yen.

Ada juga apartemen yang meminta deposit money sejumlah yang sudah ditentukan, misalkan 100.000 yen di awal.

Tentu saja, semua informasi terkait ini sudah tertera di websitenya. Oleh karena itu, jika kita ingin mendapatkan yang termurah, kita harus sabar dalam membandingkan antara broker satu dengan broker lainnya.

Kita juga akan diantar untuk melihat apartemen yang kita pilih satu per satu. Di situ, kita bisa mencocokkan keinginan kita dengan realita yang ada. Apakah sesuai dengan yang kita inginkan, dan lainnya.

Survival Tips:
a. Karena kita akan tinggal bercampur dengan orang jepang, jika kita sering mengadakan pesta kecil di rumah, atau kita sering nyanyi, atau kita sensitif terhadap suara di malam hari akan mengganggu kita tidur, sebaiknya kita memilih apartemen yang temboknya dari beton, bukan tembok triplek. Karena orang jepang tidak akan segan-segan memanggil polisi jika kita ribut. Sedangkan kita pasti akan sungkan jika kita ingin menegur tetangga yang ribut.
b. Pilih apartemen yang menggunakan layanan jasa dari perusahaan gas yang tidak membutuhkan abodemen bulanan. Sehingga kita bisa sedikit berhemat biaya pemakaian gas dengan hanya membayar sesuai penggunaan saja, dan tidak dibebani biaya abodemen bulanan yang sangat mahal. Apartemen saya menggunakan layanan jasa gas dengan biaya abodemen bulanannya sebesar 2200 yen. Artinya, saya pakai ga pakai gas tetep sebulan bayar 2200 yen. Mahal sekali.
c. Pilih apartemen yang mempunyai layanan dari perusahaan air minum yang siap minum, bukan air tanah. Sehingga kita dapat menghemat pembelian air mineral.

3. Mendapatkan surat dari guarantor / penjamin


Setelah kita menentukan apartemen mana yang akan kita tinggali, maka nanti kita akan mendapatkan banyak penjelasan dari abroker tersebut mengenai surat kontrak, penjelasan apartemen dan peraturan apartemennya. Maka kita akan diminta untuk menandatangani kontrak perjanjian sewa apartemen.

Kemudian, kita akan diminta membawa dokumen tersebut ke kampus (atau ke kantor tempat bekerja) untuk mendapatkan penjamin. Jika kita adalah mahasiswa, maka penjamin kita adalah kampus. Jika kita pekerja, agak susah dan sedikit tricky. Jika perusahaan mau menjadi penjamin, maka hal ini akan mudah. Namun perusahaan tidak bersedia untuk menjadi penjamin, maka ada beberapa opsi yang bisa kita ambil:

1. Meminta orang jepang terdekat untuk menjadi penjamin
2. Mendaftar untuk program rental guarantor

Untuk kasus saya, kebetulan bos perusahaan saya bersedia menjadi guarantor.

Guarantor ini adalah orang yang bertanggungjawab apabila suatu saat ada masalah dengan kita. Entah itu nanti apartemen kita kebakaran, atau kita kabur.

4. Membayar Asuransi Apartemen


Setelah kita mendapatkan surat guarantor, maka kita akan diminta baik dari pihak kampus maupun kantor, untuk membayar asuransi. Besarannya berbeda untuk mahasiswa dan pekerja. Ketika saya menjadi mahasiswa, saya cukup membayar sekitar 4600 yen (jumlah tepatnya saya lupa) untuk masa tenggang 2 tahun. Sedangkan ketika saya sudah bekerja (menggunakan working visa), saya diminta membayar sejumlah sekitar 9000 yen untuk 1 tahun atau 17.000 yen untuk 2 tahun. Setelah kita membayar itu, kita akan mendapatkan semacam sertifikat yang harus kita sertakan dalam dokumen untuk dikembalikan ke broker.

5. Mengambil Certificate of Residence (住民票 / Jyuumin hyou)


Tidak semua broker meminta untuk menyertakan jyuuminhyou. Namun jika ada yang meminta untuk menyertakan, maka kita dapat mengambil jyuuminhyou melalui city hall (市役所/shiyakushou) atau di kantor-kantor kelurahan (区役所/ kuyakushou). Kita tinggal datang, bilang minta jyuuminhyou, membayar sekitar 300 yen, kemudian kita akan dapatkan jyuuminhyou tersebut.

Selain itu, tentu saja kita akan diminta untuk menyertakan fotokopi residence card.


6. Membayar uang kontrak sesuai kesepakatan


Setelah semua dokumen terkumpulkan, maka kita akan kembali lagi ke broker dengan membawa semua dokumen dan uang. Kemudian, kita akan menandatangani kontrak sewa apartemen. Kemudian, biasanya kita sudah akan dapat kunci, atau akan ada pemberitahuan kapan dan bagaimana cara mengambil kunci apartemennya.

Setelah kita menandatangani kontrak perjanjian tersebut, maka kita sudah sah menjadi penyewa kamar pada apartemen yang dituju. Dengan begini, kita sudah dapat memulai proses pindahan.



Nah, beginilah pengalaman saya beberapa kali pindahan apartemen di jepang. Semoga bisa membantu readers semua dalam proses mencari apartemen.



Tuesday, November 13, 2018

Renungan Pagi Ini: Upgrade vs Downgrade Diri

Sudah satu bulan rasanya saya tidak update blog kebanggaan ini. Maklum saja, aktifitas sebagai pekerja full time di Jepang sungguh melelahkan. Mau tidak mau saya harus beradaptasi dari fase mahasiswa menjadi fase bekerja. Ngomong-ngomong soal adaptasi, belakangan ini ada hal yang menyentil otak saya yang kecil ini mengenai cara manusia beradaptasi.

Manusia selalu dipersiapkan untuk beradaptasi dengan semua lingkungan yang baru. Bukan hanya limngkungan, tetapi dalam semua hal. Pekerjaan baru, status baru, pasangan baru, bahkan beradaptasi dengan baju baru. Namun rupanya, manusia masih mengalami kesulitan dalam beradaptasi.

Kita, rupanya sungguh mudah untuk upgrade diri kita menjadi lebih baik. Namun ternyata sebaliknya, kita sungguh susah melakukan downgrade untuk diri kita sendiri. Dan hasilnya, kita menjadi orang yang menyebalkan dan dicap tidak mandiri.

Jadi begini, hidup manusia memang tidak mulus. Kadang kita ditempatkan pada situasi yang menuntut kita untung meng-upgrade diri kita, wawasan kita, perilaku kita. Tapi, tak semua manusia selalu ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi dari sebelumnya. Terkadang, Tuhan menempatkan kita pada posisi yang lebih susah. Dan pada saat itulah, kita diuji dengan kemampuan adaptasi kita untuk downgrade diri.

Kita, sebagai orang yang mungkin terbiasa dengan mendapatkan sesuatu dengan mudah, kemudian tiba-tiba kita harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan uang untuk makan. Bisakah kita menurunkan standar hidup kita? Misalkan, biasanya kita membeli baju-baju dari Zara, lalu, apakah kita mau membeli baju bekas yang harganya bisa seperempat harga baju Zara? Biasanya kita membeli sepatu Adidas, lalu mau tidak kita membeli sepatu biasa yang harganya setengah dari itu?

Ada seni sosial yang berperan disitu. Bagaimana kita beradaptasi dengan lingkungan, men-downgrade diri kita, tanpa harus membuat jengkel orang-orang di sekitar. Satu hal yang perlu untuk selalu kita garis bawahi adalah, bahwa orang lain mempunyai kehidupan yang terlepas dari kehidupan kita. Minta tolonglah seperlunya, jangan membuat orang lain jengkel. Karena ada batas ikhlas dalam sebuah pertolongan manusia.

Saya pribadi belajar dari kasus saya sendiri. Hampir 7.5 tahun yang lalu, ketika saya benar-benar tidak tahu apapun tentang hal baru yang akan saya jalani, saya banyak sekali bertanya kepada dosen saya. Namun, beliau pada akhirnya berhenti menanggapi saya, karena saya kebanyakan nanya. Selanjutnya, saya yang berhenti menanggapi seseorang karena kebanyakan nanya. Dari situ, saya simpulkan bahwa memang akan ada batas ikhlas manusia untuk menolong. Jika sudah begitu, tidak ada cara lain selain kita harus bisa mandiri. Terlebih lagi, hidup di negara orang dengan pertemanan yang terbatas.

Kemudian, satu seni menolong dan meminta tolong yang harus kita garis bawahi adalah, jangan eprnah sekali-kali memikirkan bagaimana cara membalas budi. Teman saya, mbak Yohana, pernah bilang ke saya,

Ai, kita tidak akan pernah bisa membalas langsung pertolongan orang yang menolong kita. Bagaimana kita membalasnya adalah dengan menolong orang yang lain. 

Karena saya percaya, tolong menolong itu adalah sebuah rantai yang tidak terputus. Suatu saat akan kembali kepada kita melalui orang lain, bukan melalui orang yang pernah kita tolong.

Pada akhirnya, manusia bukan hanya dituntut untuk meng-upgrade dirinya, melainkan juga siap untuk men-downgrade dirinya.  Dan bagaimana kita bisa melewati keduanya, sumbernya adalah dari hati dan kemandirian kita. Jangan mengeluh, karena hidup ini memang keras.


Friday, October 19, 2018

Sakura Blossoms in Autumn?

You may heard or read several news about cherry blossom are blooming recently just like what was reported on these articles,

Clickbait


Just like the others, I was very much surprised by these articles. Even BBC wrote about that before digging some advance information. Those claims about weather changed caused by Jebi typhoon. As an ex horticulturist, I doubt those articles due to the existence of an autumn cherry blossom species.

Autumn Cherry Blossom


Only few people knows about autumn cherry blossom, but Japanese should know about the existence of the species. The first time I heard about this species is on 2012, from my Vietnamese friend, Hami chan, who said that she went to Inuyama Castle in October to see the autumn cherry blossom (Sakura). On the following October, I had a chance to see the autumn sakura at Shinjuku Gyouen Park in Tokyo.

However, it is understandable why there are not much people knows about the autumn sakura. That is because just few species-es exist, as far as I know. Here, I give you more detail about the autumn sakura.

Species Name: Prunus subhirtela

Known as an autumn sakura, winter-flowering cherry, higan cherry, or rosebud cherry originated from Japan. It is allegedly a hybrid species from P. incisa (known also as P. nipponica) x P. spachiana. There are several cultivars of P. subhirtela that grows here, in Japan. Different from all spring species-es, this species is blossoming just before the leaves fall down. Here, I will show you what the autumn sakura looks like.

Cultivar Name: Autumnalis / Jyugatsu Zakura / Higan Cherry


Jyugatsu Zakura
Source

Jyugatsu means October, judging from the name, it obviously blossoms during October. Flowers are double pale pink to white petals color blossom during fall season. You can go to Shinjuku Gyouen Park to enjoy this cherry blossom. Be aware, Jyugatsu zakura will not blossoms on Spring.

Cultivar Name: P. cerasus var Koboku Zakura


Koboku Zakura
Source


Known as Koboku-zakura in Japan. This actually one of P. cerasus cultivar. Where, P. cerasus is known as a sour cherry, one of some cherry tree species which can produce fruits, and normally blossoms during spring. However, Koboku zakura blossoms during fall with its beautiful white to pink petals.


Cultivar Name: P. parfivolia var Fuyu Zakura


Fuyu Zakura
Source


Often misidentified as P. fudanzakura from its petal shapes. Fuyu zakura comes from P. parfivolia which is one cultivar of P. pseudocerasus which blossoms during spring just like the other spring species-es. However, Fuyu zakura, like its name Fuyu means winter, blossoms during winter with its single white petals.


We shouldn't be surprised of this blossoming time caused by weather changed. But rather about just a natural time for those to just blossom. We can enjoys these sakura blossom during late of October to early November. So this week will be a good timing to go on autumn sakura hunt.

Thursday, October 18, 2018

I Fall in the Autumn (21)

"Bulan lalu aku ketemu Naoki di bandara, dia baru saja landing dari Jakarta."

Aku meletakkan sendok dan garpuku sesaat setelah mendengar namanya. Seketika pula ingatan tentang dia menjalar lagi dalam pikiranku. Kukunyah pelan tempe goreng yang terlanjur kumakan ini dengan sedikit kehilangan selera. Entah mengapa aku tak begitu ingin mendengar namanya. Aku melihat sekilas Adrian sedang memilah daging dan duri ikan goreng yang dipesannya.

"Oh, dimana dia sekarang?", tanyaku seadanya, hanya karena aku tak ingin membuat Adrian menyadari keengganan hatiku.

"Dia kerja di sebuah research center di kota Tsukuba mulai bulan kemarin. Kadang kita masih sering ketemu, kok, di beberapa acara kalau aku pas ke Tokyo.", jawab Adrian ringan.

"Oh...", jawabku begitu saja.

Kulihat Adrian mulai menyadari keenggananku dari caraku mengaduk-aduk makananku. Sesaat aku menatapnya sedikit tajam, dan dia seolah menyadari arti tatapanku, lantas Adrian memejamkan mata sejenak menyadari ketidak-tepatan arah pembicaraan ini.

"Em, maaf...aku ga bermaksud membuatmu tersinggung. Hanya saja, kupikir kamu sudah...",

"Gapapa koq, Adrian. Aku udah terima itu. Cuma memang kadang ada perasaan tidak enak jika mendengar namanya.", jawabku singkat sambil kupaksakan tersenyum.

Adrian beberapa kali mengalihkan pembicaraan, namun tetap saja, nama Naoki masih terngiang. Hingga kami pulang dan kembali ke kamar masing-masing, aku masih terbayang tentang kenangan itu. Ingatan tentang Naoki bahkan telah berhasil menghancurkan ingatanku tentang hari ini bersama Adrian. Dan ini membuatku menjadi ingin tahu seperti apa dia sekarang. Aku mulai membuka akun sosial mediaku, hanya untuk mencari tahu seperti apa dia sekarang. Bahkan panggilan masuk dari Satria yang penasaran tentang kepergianku bersama Adrian hari ini pun tak kuangkat. Aku terus mencari tahu mengenai akun sosial medianya. Setelah hampir dua jam aku mencari, akhirnya kutemukan salah satu akun Instagramnya, dan aku mulai tak sabar untuk melihat-lihat sekilas foto-foto yang tertampil disana. Kunikmati wajahnya, tulisannya, dan kegiatan-kegiatannya hingga tanpa terasa aku tertidur.

Keesokan paginya, aku dibangunkan oleh telepon dari Pak Rafi yang memberiku kabar bahwa kita akan mengikuti seminar regional di Tokyo, dan Aoyama sensei meminta untuk mengajakku serta. Dan tanggal seminar itu adalah 8 Mei dan aku diminta untuk menyajikan poster tentang penelitian yang sedang aku jalani saat ini di sini. Pak Rafi mengatakan bahwa sensei datang ke ruangan namun mendapati aku tidak di tempat. Aku pun mengutuk diriku sendiri yang terlambat bangun hanya karena memuaskan rasa penasaranku terhadap Naoki. Rasa penasaran? Tidak, mungkin juga rasa rindu.

Tak kudengar aktivitas Adrian di sebelah. Mungkin dia sudah menuju ke kampus. Kulihat waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Aku pun bergegas mandi dan bersiap ke kampus. Sesampainya di kampus, segera kutemui Aoyama sensei untuk mendengar penjelasan mengenai seminar lebih lanjut dan meminta maaf atas keterlambatanku datang ke kampus hari ini. Syukurlah sensei tidak memarahiku. Namun setelah ini, aku harus bergegas untuk membuat desain poster yang akan kubawa ke Tokyo. Dan ini adalah kali pertamaku menyajikan presentasi poster dalam bahasa asing. Tiba-tiba, muncul rasa ketidak-percayaan diriku. Kulirik pak Rafi sesampainya di ruanganku, beliaupun sibuk dengan presentasinya sendiri karena beliau bukan hanya menyajikan presentasi poster, namun juga presentasi oral.

Dalam kebingungan yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata ini, tiba-tiba saja Adrian muncul, menyapa pak Rafi kemudian berjalan ke arah mejaku. Adrian memberiku makan siang dan sekotak minuman coklat Van Houten.

"Tadi bangun kesiangan? Pasti belum sarapan dan ga sempet masak bento (nasi bekal) kan?", katanya sambil meletakkan bekal makan siang di atas mejaku. Aku hanya mengangguk perlahan.

"Makasih ya... mmm...", kataku mulai ragu untuk meminta bantuan Adrian mengenai posterku.

"Kenapa Em?", tanyanya lembut disusul batuk berdehem pak Rafi tanda menggoda kami.

"Enggak, anu...boleh minta bantuan untuk bikin presentasi poster buat seminar?"

"Oooh...itu, boleh, nanti malam ya abis kita makan malam"

"Ooh, mas Jan sering makan malam sama mbak Emi to, jadi kapan reresmiannya?", goda pak Rafi pada kami tiba-tiba.

"Wah ya jelas donk pak. Namanya juga tetanggaan kamarnya. Kan pak Rafi to yang milihin apato buat Emi di samping kamar saya", kelakar Adrian disusul dengan godaan pak Rafi yang lain.

Aku hanya bisa tersenyum tanpa ikut membalas ataupun menyangkal godaan pak Rafi. Sekilas aku memandang Adrian agak lama. Tiba-tiba saja jantungku berdetak kencang seperti dipukul sesuatu. Adrian seolah menyadari jika aku memandanginya, lalu dia melempar senyum kearahku. Entah kenapa, aku justru ingin menangis. Dadaku terasa sesak, namun aku hanya bisa menarik nafas panjang. Entah perasaan apa itu, aku tak bisa mengenalinya.





Wednesday, October 3, 2018

Diary Ai: Karena Kamu Temanku

Minggu lalu, saya ada presentasi. Oleh karena itu, saya berangkat ke sekolahan siang hari. Chikako sensei hari ini tidak masuk, oleh karena itu, saya mau tidak mau harus mengurus anak-anak sendiri. Dan hari kamis, kelas saya cukup besar, ada 11 orang di tiap kelas. Dan benarlah di kelas pertama saya mendapati 2 anak menangis. Terlepas dari itu, kelas pertama berjalan dengan lancar.

Kelas kedua, saya harus berhadapan dengan seorang anak yang pergerakannya sedikit lambat dari yang lain, dan dua orang anak dari kelas paling kecil. Hari itu, saya iseng bertanya kepada Hima chan, salah satu murid saya, apakah dia duka dengan Oushin kun, murid lainnya. Hima chan bilang bahwa dia sangat menyukai Oushin karena mereka selalu bermain bersama. Kemudian saya bertanya balik ke Oushin tentang Hima chan. Oushin bilang, dia juga menyukai Hima chan. Kemudian saya bertanya pada Anna chan, siapa teman yang paling disukainya. Kemudian, Anna chan menjawab bahwa dia menyukai Kiho chan. Lantas, tiba-tiba saja Kiho chan bilang bahwa dia tidak menyukai Anna. Lalu, raut muka Anna menjadi sedih. Kemudian saya harus menenangkan mereka berdua. Duh, sungguh saya tidak akan bertanya lagi seperti itu.

Namun, hal ini menggelitik saya. Saat kelas berakhir, saya iseng lagi bertanya pada Anna, apakah dia masih mau bermain dengan Kiho setelah ini. Anna bilang, masih. Saya bertanya, kenapa? Anna bilang, "Karena Kiho chan itu temanku."

Di hari yang sama pula, aku mendapati anak-anak kelas 2 SD, Soushi kun dan Renta kun yang menangis. Perkaranya adalah bahwa Soushi itu anak yang masih mempunyai masalah dengan kegelisahannya menghadapi tekanan. Sedikit saja saya beri dia tekanan, seperti "Soushi, ini warna apa?", dan dia tidak bisa menjawab, maka dia akan menangis segera. Hari itu, kelas agak ramai, karena saya bilang minggu depan akan ada test untuk Opposite Cards, yang biasa kita sebut dengan Nakayoshi Square (nama yang tertera dalam progress chart). Ketika saya bilang siapa yang ingin mencoba tes, saya sengaja tidak menyebut nama Soushi, melainkan Sho dan Renta yang memang ingin mencoba, meskipun mereka masih belum sempurna dalam menyebutkan nama-nama kartunya.

Soushi terlihat stress. Dia gelisah dan sedikit menangis. Melihat Soushi memegang kepalanya sambil bergumam gelisah, Renta bertanya "kamu gapapa?". Tapi tanggapan Soushi, dia malah marah dengan Renta. Saya bilang ke Renta, untuk minta maaf kepada Soushi, karena Soushi memalingkan muka dari Renta. Sho kemudian protes ke saya, bahwa Renta hanya bertanya "kamu gapapa?" (daijyoubu?). Saya bilang ke Sho bahwa tidak apa2. Karena saya tau, Renta adalah anak yang ceria, sedangkan Soushi gampang menangis. Renta pun menurut. Dia berkali-kali minta maaf dan berusaha membuat Soushi tertawa. Namun hati Soushi masih keras. Hingga Renta menangis. Dan mulai bertanya,

"Salah Renta apa? Kenapa sensei selalu menyuruh Renta minta maaf ke Soushi, padahal Renta tidak pernah melakukan salah?"

Kupeluk Renta seketika dan meminta maaf. Kujelaskan pada Renta bahwa Renta tidak ada salah. Hanya saja, Soushi yang masih kurang sabar dalam menghadapi tekanan, membuatku harus mengorbankan Renta untuk meminta maaf, agar Soushi bisa tenang. Renta bilang memaafkanku. Lalu, dengan nada sedikit marah, aku berkata pada Soushi, bahwa dia yang seharusnya meminta maaf kepada Renta karena selalu menyalahkan Renta untuk hal apapun, meski dia tahu bahwa Renta tidak berbuat salah.

Alih-alih meminta maaf, Soushi makin marah pada Renta dan tidak mau meminta maaf. Lantas saya bilang, jika tidak meminta maaf, kalian tidak akan diijinkan pulang. Lalu, Soushi minta ijin bertanya, dia bertanya, jika dia tidak minta maaf ke Renta, apakah Renta masih mau main dengannya? Di luar dugaan, Renta berkata "Iya, masih mau bermain." Aku memuji sikap Renta, lalu bertanya kenapa. Renta, dengan badannya yang lebih kecil dari Soushi itu tersenyum lalu berkata "karena kamu temanku".

Tapi dasar Soushi anak keras kepala, dia masih saja tidak mau meminta maaf. Namun, aku memuji sikap Renta. Terkadang, kita tidak tahu bahwa sikap kita yang kita anggap biasa bisa menyakiti orang lain. Terkadang, ucapan kita yang biasa, bisa membuat orang tertekan. Aku belajar dari ini, bahwa keadaan psikologis setiap orang berbeda. Benarlah bila Rosulullah memperingatkan kita untuk menjaga lisan kita. Karena kita tak pernah tahu, keadaan psikologis lawan bicara kita.

menjaga lisan
sumber dari sini


Namun, jika terpaksanya kita telah menyakiti, dan orang itu marah kepada kita, apa yang harus kita lakukan? Sama seperti yang dilakukan Renta, tetap kita harus menganggap orang itu teman kita. Karena kita mengerti, keadaan dia seperti apa. Karena kita yang sedang dalam kondisi psikologis baik, maka kita lah yang harus mengalah untuk tetap menjaga silaturahimi dengan yang lain. Sungguh, Renta telah menyadarkan saya akan pentingnya saling memaafkan, dan menjaga perasaan. Terima kasih Renta, sensei belajar sesuatu dari Renta. Semoga besok, Soushi dan Renta sudah baikan.

Tuesday, October 2, 2018

I Fall in the Autumn (20)

Aku melihat Adrian sedang berbicara cukup serius di teleponnya. Entah pembicaraan seperti apa yang dia dan Rania lakukan, namun raut wajah Adrian berubah, mengisyaratkan ada sebuah masalah. Aku memandangi Adrian dengan perasaan yang tidak menentu. Mungkin benar bahwa aku cemburu. Karena Adrian tidak pernah menunda sesuatu yang berhubungan dengan Rania. Tiba-tiba aku teringat perkataan Sony bahwa Rania itu memang tidak begitu jelas kehidupannya, seperti ada yang disembunyikan. Mungkin saja dia dan Adrian memang ada hubungan. Pikiranku sudah tidak bisa dikendalikan karena cemburu yang menyerang hebat.

Sekitar sepuluh menit Adrian meninggalkanku untuk bertelepon dengan Rania, kemudian dia kembali ke tempatku dan meminta maaf. Entah karena dorongan cemburu dan rasa penasaran ini, aku beranikan diri untuk menanyakannya.

"Rania?", tanyaku yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Adrian.

"Adrian deket banget sama Rania ya?", tanyaku sambil melihat ke arah lain.

"Rania itu teman aku pertama kali ketika aku datang ke Jepang, Em. Wajarlah kalau kami dekat", katanya sambil tersenyum.

Aku mengutuknya dalam hati atas ketidakpekaannya terhadap perasaan ini. Namun nyatanya, kubiarkan saja seolah tidak terjadi apa-apa padaku.

"Rania ada masalah?", selidikku.

Sambil berjalan menuju ke stasiun Tsurumai, dia menerawang jauh ke depan,

"Rania itu kuat. Yang paling kuat dari semua orang yang kukenal. Termasuk kamu, termasuk aku sendiri pun. Masalah apapun pasti bisa dia selesaikan. Dia cuma butuh teman untuk berbagi. Dan karena temannya disini yang dia percaya sedikit, aku salah satunya, jadi mungkin terkesannya seperti ada sesuatu yang special diantara kami", Adrian mengakhiri penjelasannya dengan senyum kearahku. Aku hanya bisa mengangguk saja mendengar penjelasannya.

"Tapi Adrian ada rasa dengan Rania?", tanyaku tak bisa lagi menahan rasa cemburu ini.

Adrian berhenti sejenak kemudian menoleh ke arahku, menatapku tajam ke arah mataku. Membuat aku sedikit takut, karena mengingatkanku pada tatapan-tatapan Adrian semasa SMA dulu. Adrian menghela nafas sedikit, memegang pundakku, lalu berkata lirih,

"Rania itu sahabatku, Em. Aku kagum dengan Rania, aku suka dengan Rania sebagai sahabat. Dan sahabat terdekatku mencintai Rania. Jadi tidak mungkin ada perasaan lain selain sahabat diantara kami.Aku menjaga Rania, untuk Andrew, sahabatku"

Tidak ada kata lain yang bisa keluar dari mulutku selain kata maaf. Lantas aku menyadari betapa konyolnya aku dengan rasa cemburuku yang tidak beralasan ini. Aku hanya menunduk setelah itu. Adrian menyadari rasa maluku ini, kemudian mulai mencairkan suasana.

"Sudah, jangan bahas Rania terus, nanti dia senang. Mending kita shalat dulu, udah hampir maghrib tapi kita belum shalat ashar. Nanti setelah itu, kita makan. Aku ada langganan restoran Indonesia enak disini.", katanya.

Lalu kami pergi ke Nagoya Masjid untuk shalat Ashar. Karena tempat shalat untuk laki-laki dan perempuan dipisah, maka kami menuju ke tempat yang sudah disediakan masing-masing. Adrian berpesan untuk sekalian shalat Maghrib di Masjid. Ruangan untuk wanita ini tidak ada orang. Seusai shalat Ashar, aku duduk di pojok tembok sambil mengisi baterai ponselku dari baterai eksternal. Sesekali aku membaca artikel lepas, atau hanya menengok timeline sosial mediaku. Menjelang maghrib, jamaah mulai berdatangan. Aku melihat berbagai etnis dari penjuru dunia. Mesir, Arab, Bangladesh, Indonesia, Pakistan. Namun yang membuat aku takjub adalah bahwa ternyata di Nagoya ini, banyak orang jepang yang memeluk Islam.

Nagoya Masjid



Mereka menanyaiku dengan bahasa Inggris dengan ramah. Mereka bilang baru pertama melihatku di masjid. Sambil menunggu shalat maghrib, kami sedikit berbincang mengenai diriku yang tinggal di kota kecil di samping Nagoya. Seusai shalat, mereka dengan ramah berpesan agar aku sering-sering mengunjungi masjid ini, baik untuk mengaji atau untuk kegiatan lainnya. Aku senang sekali dengan keramahan ini.

Aku menemui Adrian di luar Masjid, kemudian kami bertolak menuju ke restoran langganannya di Sakae. Namanya Bulan Bali, restoran Indonesia yang menyajikan makanan khas Indonesia. Aku girang bukan main hingga sedikit meloncat ketika sampai di depan restoran. Selama satu bulan ini aku sudah merasakan apa yang dinamakan rindu tanah air, terutama dalam hal makanan. Kami khilaf memesan banyak makanan, mulai dari soto, bakso, oseng tempe, oseng kangkung, hingga sate-satean.

Cafe Bulan Bali
Bertempat di Sakae, Nagoya


Kami makan dengan lahap seperti orang yang kelaparan, sambil bercerita tentang masa lalu kami di SMA. Tentang bagaimana Kyla mengharapkan Satria, tetapi Satria seperti acuh terhadap Kyla. Tentang Burham yang akhirnya terkabulkan doa-doa semasa SMA untuk bisa berdekatan dengan Kyla. Bahkan sekarang mereka sedang mempersiapkan pernikahannya. Tentang Bisma, ketua OSIS yang terpilih mengalahkan suara Adrian, yang sekarang sudah menjadi diplomat muda ditempatkan di Hungaria. Dan tentang dia, Naoki.

Sunday, September 23, 2018

Flora

Namanya Hana. Kebiasaannya adalah mengirimkan bunga dan coklat kepada teman-teman satu kelasnya di hari ulang tahun mereka. Bunga untuk perempuan, dan coklat untuk laki-laki. Tanpa seorang pun yang mengetahui. Mereka selalu bertanya dan menebak, tapi Hana hanya diam dan tersenyum. Ya, Hana memang jarang dianggap ada oleh teman-teman satu kelasnya.

Kami pertama kali bertemu ketika masuk tahun ajaran baru di SMA. Hana yang juga tinggal satu kampung denganku adalah anak baru di kota ini. Keluarganya baru pindah dari sebuah desa pinggiran di kota sebelah. Tidak ada yang istimewa darinya. Dia tidak tinggi, namun juga tidak pendek. Dia tidak cantik, namun juga tidak bisa dikatakan jelek. Dia tidak pintar, tapi juga bukan merupakan anak dengan nilai terburuk. Dia pun tak punya prestasi ataupun piagam. Sangat biasa dan sederhana. Sesederhana penampilannya yang selalu hanya mengikat rambutnya dengan model ekor kuda dengan karet gelang biasa. 

Kesederhanaannya juga tercermin dari kehidupan ekonomi keluarganya yang tidak kaya, bisa dikategorikan sebagai keluarga yang kekurangan. Namun, status ayahnya yang menjadi PNS membuatnya tidak pernah masuk dalam golongan . siswa yang patut menjadi penerima beasiswa. Kesederhanaannya juga tercermin dari perilakunya yang tak pernah terlihat konsumtif. Setiap hari dia selalu membawa bekal makanan dan minuman sendiri. Mungkin saja, uang jajannya dia pakai untuk membeli bunga dan coklat yang dia berikan untuk teman-teman. Entahlah.

Hana jarang sekali bicara dengan orang lain. Memang jarang yang mengajaknya bicara. Dia bukan anak yang populer lagi pintar. Hanya anak biasa-biasa saja yang kerap kehadirannya luput dari pandangan teman-teman. Wajar saja, karena kebanyakan mereka adalah teman satu SMP atau satu bimbingan belajar yang sudah saling mengenal sebelumnya. Sedangkan Hana, hanya sendiri di kota yang baru. 

Aku tahu dia yang menaruh bunga-bunga di laci anak yang berulang tahun. Tiga bulan yang lalu, ketika hari Tasya ulang tahun, dan hari itu pula aku berniat untuk berangkat lebih pagi untuk mengerjakan PR matematika karena malam sebelumnya aku terlalu capek bermain sepakbola. Aku melihat Hana meletakkan bunga di laci Tasya, lalu kemudian pergi dari kelas tanpa menaruh tasnya terlebih dahulu. Lalu, setelah anak-anak mulai ramai, Hana datang seolah dia baru saja datang di saat kehebohan bunga di laci Tasya. Tentu saja, tidak ada satupun yang menanyakan kepadanya. 

Semenjak itu, aku membuat diagram peta nama anak satu kelas dan menandainya setiap kali bunga atau coklat itu datang. Hanya satu meja yang tidak pernah dapat selama satu tahun masa pengawasanku. Meja yang hanya dia sendiri yang memakainya. Hal ini membuktikan memang dialah yang mengirimkannya. Dan, lagi-lagi tidak ada seorang pun yang peduli. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan dia ulang tahun. Tapi dia hafal semua ulang tahun teman-teman, termasuk aku. Dia memberiku sekotak dark chocolate, entah dari mana dia tahu bahwa itu favoritku. Namun begitulah dia, memperhatikan detail kesukaan kami, tanpa ada satupun yang tahu kesukaan dia. 

Hana, dia selalu tersenyum melihat kami. Ikut sedih apabila ada yang sedang curhat kesedihan di dekatnya meski dia tahu cerita itu bukan untuknya. Dia selalu tertawa jika ada yang melucu, meski itu bukan untuknya. Dia yang sering menyapu kelas seusai jam sekolah. Dia pulang yang sering mengganti air dan bunga di meja guru. Dia pula yang sering menaikkan sepeda-sepeda yang jatuh di parkiran. Tapi tak seorangpun memandangnya, kecuali para guru yang kebetulan lewat. 

Hingga suatu hari di bulan maret tanggal 15, saat dimana hampir semua laki-laki merayakan ulang tahun pujaan sekolah, Aira, yang juga merupakan teman sekelas kami, seperti biasa, satu batang bunga mawar pink kesukaan Aira sudah ada di laci mejanya pagi-pagi. Aira membawa kue ulang tahun dan merayakannya dengan teman-teman satu kelas seusai jam pelajaran. Kulihat Hana duduk dibelakang seperti biasanya, dengan sketch book nya yang tak pernah luput dari tangannya. Aku tahu dia mengabadikan moment ini dengan gambarnya yang sebenarnya tidak terlalu artistik. Tapi dia tak peduli dengan bagus tidaknya gambarnya. Kulihat dia selalu menikmati kesenangannya sendiri. 

Setelah pesta kecil itu berakhir, seperti biasa, Hana diam-diam membersihkan semuanya. Lantas pulang. Entah kenapa saat itu aku ingin sekali mengikutinya kemana dia pergi. Dia selalu jalan kaki, meski ada angkot yang lewat di jalan depan kompleks tempat tinggal kami. Namun aku ikuti pelan-pelan dengan sepeda motor. Kulihat dia mampir ke toko kue. Kuikuti lagi dia pelan-pelan. Tepat di dekat taman kota dia duduk di salah satu gasebo yang agak tersembunyi oleh pohon perdu. Diam-diam aku ikuti dia dan aku bersembunyi di belakang perdu supaya dia tidak menyadari kehadiranku. Kuliat dari sela-sela perdu, dia mengeluarkan kue yang dibelinya tadi. Sepotong kue krim dengan taburan meses coklat yang kutahu harganya sangat murah. Lantas dikeluarkannya lilin putih biasa dan dinyalakannya. 

Aku terkejut melihat apa yang terjadi. Dia memetik beberapa bunga rumput di bawah dan merangkainya dengan tali dari batang rumput kecil itu. Didendangkannya lirih lagu selamat ulang tahun, ditiupnya lilin putih besar itu. Tuhan, dia merayakan sendiri ulang tahunnya. Tanpa sadar mataku menjadi panas melihat apa yang terjadi. Sementara seorang gadis cantik merayakan ulang tahunnya dengan hampir semua orang di sekolah, di hari yang bersamaan itu pula, selama 3 tahun ini dia merayakan sendiri ulang tahunnya dengan cara sesederhana ini. Tidak ada kado, bahkan tidak ada bunga dan coklat, seperti apa yang dia berikan pada teman-temannya. Aku tak tahan dengan hal ini, kuputuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan, dadaku sesak, hingga tanpa kurasa air mataku menetes.

Setelah peristiwa itu, aku bertekad pada diriku sendiri untuk lebih bisa bersikap ramah dengan Hana. Mungkin dia kesepian dan ingin punya teman. Namun dia memang tak pandai untuk mengungkapkannya pada teman-teman. Suatu hari, ada sebuah kecelakaan beruntun akibat anak-anak kelas satu yang sedang bermain bola. Bola terbang ke arah Dito yang sedang mengendarai sepeda. Dito pun secara naluri memalingkan sepedanya menghindari bola itu. Namun sungguh sial, Dito menabrak kerumunan siswa termasuk aku hingga kami terjatuh dan terluka. Tak hanya itu, ban sepeda Dito pun tanpa sengaja menggerus kaki kanan Hana. Hana sempat berteriak kencang, namun perhatian orang-orang tertuju padaku dan beberapa siswi yang terluka. Kami dibawa ke UKS dengan segera, sedangkan kulihat Hana dengan mimik kesakitan berjalan tertatih menuju ruang UKS. Aku sempat berteriak menyebut namanya.

"Hana, itu Hana kegerus kakinya, tolongin donk papah dia"

Namun tak seorang pun yang menolongnya. Di ruang UKS, seperti biasa cewek-cewek menggerumuniku dan beberapa cewek yang terluka mulai menunjukkan kemanjaannya. Luka di kaki dan tanganku sudah selesai diberi obat merah, dan aku sudah bersiap kembali ke kelas. Hana baru masuk dan segera duduk di pojok. Dibukanya sepatunya perlahan dengan wajah yang menahan sakit. Cewek-cewek hanya sekilas lalu melihat kedatangan Hana dan mereka bergegas kembali ke kelas karena pelajaran sudah hampir dimulai. Aku sengaja menahan diriku untuk tidak kembali dulu. Kuawasi pergerakan Hana yang sedang mengelus telapak kakinya. 

"Nangis aja jangan ditahan. Sakit kan? Ga ada siapa-siapa koq disini"

Hana melihatku dengan tatapan nanar kesakitan, matanya mulai memerah, namun dia masih berusaha untuk menahan tangisnya. Kuambil air panas di termos dan kutambahkan sedikit air keran di baskom. 

"Basuh pakai ini, aku keluar dulu, kalau malu mau nangis didepan orang. "

Aku keluar dari pintu UKS, namun aku tidak benar-benar pergi. Aku berdiri di pintu, untuk memastikan keadaannya. Kudengar isak tangisnya dan jeritannya yang tertahan. Tuhan, aku tahu itu pasti sakit.

Hana baru kembali dari UKS setelah jam istirahat kedua. Matanya sembab. Tapi tak ada yang peduli. Pulang sekolah, aku beranikan diri untuk mengantarnya pulang. Awalnya dia menolakku. namun aku memaksa karena tahu kondisi kakinya. Dia pun akhirnya menurut. Sepanjang perjalanan kami jarang sekali mengobrol. Sangat canggung. Memang hari inilah kami pertama kalinya kami benar-bernar berbicara satu sama lain setelah 3 tahun kami satu kelas. 

"Besok aku jemput ya jam setengah 7" kataku setelah menurunkan dia di depan rumahnya.

"Ma,makasih ya Arya. " aku tersenyum dan pamit pulang.

Setelah hari itu, kami menjadi sering berbincang. Seperti tekadku setelah menyaksikannya merayakan ulang tahun waktu itu. Aku akan berusaha menjadi lebih ramah dan menjadi temannya. Suatu hari, aku tanpa sengaja ketika aku di warung yang ada di sebelah rumah Hana, aku melihat lagi sesuatu yang menyesakkan dadaku. 

"Bu, dansa itu kayak apa ya? Di pesta prom nanti ada sesi dansa." tanya Hana pada ibunya.

Lantas ibunya mengajaknya berdansa, namun aku tahu itu bukan dansa yang bagus. Namun Hana dan ibunya tertawa riang, dan Hana pun mengikuti gerakan ibunya dengan seksama. Lagi-lagi dadaku terasa sesak. Hana oh Hana...mengapa kamu begitu lugu? Setelah pesta prom di bulan Juli, aku tak pernah lagi bertemu Hana. Kudengar dari orang tuanya, Hana kuliah di Perancis. Mendapat beasiswa untuk kuliah di jurusan design. Aku hanya bisa berdecak kagum. Tak menyangka, orang sebiasa itu tiba-tiba kuliah di Perancis, disaat teman-teman lainnya berjuang untuk kuliah di universitas lokal. Namun rupanya, kabar itu lagi-lagi hanya aku yang tahu. 

10 tahun berlalu. Aku tak pernah bertemu dengan Hana. Terakhir kudengar, Hana bekerja di luar negeri, namun bukan Perancis. 2 tahun lalu, dia memboyong orang tuanya untuk tinggal bersamanya di luar negeri. Sayang aku tak sempat bertemu dengannya karena aku harus sidang tesis S2. Dia hanya mengirim pesan dan oleh-oleh dark chocolate dari Belgia yang dititipkannya lewat ibuku. Rumah Hana pun sudah ditempati orang lain. Aku sendiri sekarang kerja di sebuah kampus swasta terkenal di Jakarta. Dan entah mengapa, aku teringat memori tentang Hana. 

"drrrrtttt" smartphoneku bergetar. Kulihat Dito temanku SMA yang menelepon.

"Halo, Dito?"

"Arya, gimana soal penggalangan dana untuk reuni SMA bulan depan? Udah ada berapa yang masuk?"

"Oh iya Dit, gue mampir ya, sekarang juga gue ke rumah lo"

"Ok bos! Ditunggu ya"

Aku pun bergegas memacu mobilku ke rumah Dito yang juga berlokasi di Jakarta. Sesampainya di rumah Dito, rupanya dia hendak mengantarkan istrinya ke arisan. Aku lantas menunggu. Kulihat ada sebuah katalog di meja. Kuambil dan kubaca. Sebuah katalog pameran lukisan dari Jepang dari artist bernama Flora. Kuamati satu per satu lukisannya. Aku merasa sangat familiar dengan lukisannya. Seperti sesuatu yang terasa bahwa aku pun ada dilukisan itu. 

"Sorry Ar, gimana gimana?" Suara Dito membuyarkan konsentrasiku.

" Oh Dit, bentar, ini katalog apa ya?"

Dito melihat sebentar dan berkata "Oh, itu bahan buat bini gue wawancara bulan dua minggu lagi."

"Oh iya bini lo kan wartawan Vogue Indonesia ya. Emang ini artist mana?"

"Dia artis luar negeri, ga tau Eropa apa Amerika gitu. Karyanya udah terkenal banget dan dihargai muahaaaal banget. Nah doi mau ngadain pameran di JEC 2 minggu lagi. Minggu lalu doi habis pameran di Jepang, itu katalognya."

"Boleh gue pinjem nggak? Fotokopi doank."

" Ya boleh aja si, tapi buata apaan? Tumben lo tertarik sama lukisan."

Aku tidak menjawabnya dan melanjutkan obrolan soal reuni. Sesampainya di rumah aku lihat lagi katalognya. Aku tertarik pada beberapa lukisan yang tertampil dalam katalog. Sesuatu yang mengingatkanku kepada masa mudaku. Kuputuskan untuk datang ke tempat pameran itu.

"Eh Arya, jadi datang juga lo? Bunga buat siapa tu?" sapa Dito yang terkejut dengan kedatanganku.

"Bini lo mana?"

"Tuh di booth, lagi wawancara sama artist nya "

"Gue ke sana ya"

"Ngapain Ar?? "

Tak kupedulikan pertanyaan Dito, aku terus melangkah menuju tempat wawancara. Kumasuki dengan perasaan yang bercampur aduk antara yakin dan tidak yakin. Aku melihat istri Dito selesai berfoto dan berpamitan dengan seorang wanita cantik berkelas. Dengan pakaian dan aksesoris bermerk serta high heels tinggi namun riasan wajah yang sangat tipis. Sangat cantik. Kudatangi dia dengan ragu. Dia menoleh ke arahku. Kami berpandangan sebentar dan aku merasa seperti ingin berbalik badan dan pergi.

"Sorry sir, you have no rights to come to this place..." belum selesai staff pamerannya menegurku, sang artist yang bernama Flora itu menyuruh untuk membiarkanku.

"Happy birthday, Hana" kataku sambil menyerahkan bucket bunga carnation yang aku taksir menjadi kesukaannya.

"Arya??"

"Oh aku lega, aku pikir akan salah orang." Kataku menetralisir rasa gugupku yang luar biasa.

"Darimana kamu tahu bahwa hari ini ulang tahunku?"

"Sejak di sudut taman kota suatu hari, ada seorang gadis yang merayakan sendiri ulang tahunnya sepulang sekolah, dimana pagi hari sebelumnya dia mengirimkan bunga pada gadis lain yang juga berulang tahun pada hari itu. "

" Aa..."...kulihat dia speechless dan bingung ingin mengatakan apa.

" Selamat ya Hana, kamu tumbuh menjadi bunga yang sangat indah"

Hana tersenyum dan kulihat matanya mulai memerah. Hana yang sekarang rupanya masih Hana yang seperti dulu, yang mudah tersentuh perasaannya. Kami bertukar nomor dan berjanji untuk makan siang bersama keesokan harinya.