Tuesday, August 14, 2018

Random Thought Today: Feelings

There is no other comfortable place to spend a day with, but your own lover



Friday, August 10, 2018

I Fall in the Autumn (16)

Sudah seminggu aku tinggal di negara ini. Namun aku masih belum bertemu dengan sosok Mas Jan yang tinggal di kamar sebelah. Diantara sekian banyak orang Indonesia disini, hanya dialah yang belum pernah kutemui. Ada banyak testimoni mengenainya. Sebagian besar penilaian baik datang dari pihak laki-laki dan keluarga. Sedangkan para wanita menganggapnya sebagai orang yang sedikit dingin. Sedikit banyak komentar itu, terus terang saja membuatku sedikit tidak bernyali untuk bertemu.

Kudengar pula bahwa dia adalah anak seorang pengusaha kaya di Jakarta. Salah satu bisnis yang bahkan dia pegang adalah aplikasi penyedia jasa travelling untuk booking tiket pesawat dan penginapan online yang saat ini sedang naik daun. Berita tentang dia yang sering ke luar negeri hampir tiap bulan juga membuatku sempat bingung untuk memberikan oleh-oleh yang kubawa. Jujur, ini hanyalah makanan khas daerah yang tidak berkelas.

Pagi ini, kudengar suara percikan air keran dari berandanya. Rupanya dia dirumah. Terbukti dengan suara mesin cucinya yang sedang mengumpulkan air. Bergegas kuraih tas karton bermotif batik yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari. Pada akhirnya kuputuskan untuk menggantinya dengan mi instan, seperti saran Satria kepadaku ketika aku mneleponnya untuk menanyakan apa yang bagus untuk kuberikan pada Mas Jan.

"Tidak ada yang bisa menolak kelezatan Ind*mie, Em. Setinggi apapun level orang itu."

Aku merapikan sedikit penampilanku sebelum bergegas keluar rumah. Kutarik nafas dalam sebelum kuketuk pintu kamarnya. Ketukan pertama, tidak ada respon sama sekali.

Ketukan kedua.

Masih tidak direspon.

Ketukan ketiga.

Butuh waktu hampir satu menit sebelum akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kamar.

Namun, ketika hampir membalikkan badanku, pintu terbuka perlahan. Seorangv laki-laki dengan tinggi sekitar 175 cm melongok keluar dengan satu tangan memegang gagang pintu dan tangan lainnya memegang sikat gigi.

Jantungku berdegup kencang. Tas karton berisi mie instanku terjatuh seketika itu pula aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Aku tak percaya dengan apa yang hadir di hadapanku. Dia yang sudah lama menghilang dari sekitarku. Dia yang tatapan matanya masih sama dengan saat terakhir kali bertemu. Aku hanya tidak bisa berkata apapun. Badanku gemetar hingga tak mampu mengeluarkan suara.

autumn leaves
Momiji atau maple adalah salah satu khas dari musim gugur di jepang.

Thursday, August 9, 2018

Diary Ai: 10 Agustus 2018 (Belajarlah karena Kamu Suka)

Melanjutkan cerita kemarin, hari ini saya akan melanjutkan bercerita tentang murid2 saya di hari senin kelas SD. Di kelas hari senin jam 6-7 malam, dihuni oleh 2 cewek sebut saja D dan E dan 2 cowok sebut saja F dan G.

D ini adalah adik dari salah satu anak didik saya di tempat saya kerja sambilan tahun lalu. Di kakak memutuskan pindah karena ada saya di sekolah baru ini, sayangnya si kakak tidak masuk ke kelas saya hehe. D ini sangat cantik, dan dia tau dia cantik. Selain cantik, dia juga pintar dan pandai bergaul. Ketika saya tanya cita2nya jadi apa, dia selalu bilang bahwa dia ingin jadi model.

E ini adalah anak yang sangat aktif dan lincah. Dia cepat belajar dan diantara teman-teman satu kelasnya, dia adalah yang paling bisa menebak apa yang saya mau ketika saya hanya berbicara dengan bahasa Inggris. Ibunya cantik sekali, saya selalu mengagumi selera fashion dan make up ibunya. 

F adalah anak yang ganteng dan lucu. Dia tidak pernah bisa serius, tetapi di sisi lain dia adalah anak yang paling bersemangat untuk belajar bahasa Inggris. Dia paham kalau dibandingkan dengan kedua cewek itu, dia masih banyak kekurangan, tetapi dia tak pernah mengeluh dalam belajar. Bahkan selalu mendesak kakeknya untuk belajar. Dia tinggal bersama ibu dan kakek neneknya. Dia punya keluarga yang tidak utuh. Ibunya masih seumur saya, menikah muda, lalu ditinggal suaminya pergi, sehingga dia harus banting tulang bekerja. Untungnya kakek neneknya sangat baik dan merawat F dengan kasih sayang. Tapi tidak seperti anak serupa lainnya, dia tidak pernah berusaha mencari perhatian orang lain dengan kenakalan. Justru dia malah selalu menebar senyum dan tawa.

G adalah anak yang pendiam, tapi dia suka olah raga. Cita2nya adalah menjadi pemain baseball. Namun, G ini juga yang paling angin-anginan. Adakalanya dia bersemangat, adakalanya dia turun semangatnya dan ngambek. Tapi, meskipun ngambek, dia selalu bilang kalau bakal belajar bahasa Inggris lebih keras lagi. Dia bilang akrena motivasi dari saya yang mencontohkan pemain baseball kesukaan dia, Ichiro, bisa bahasa Inggris dengan bagus jadi terkenal. Sungguh hati saya trenyuh mendengar pengakuannya minggu lalu.

Di antara kelas yang lain, kelas inilah yang paling termotivasi. Karena mereka dengan sadar ingin belajar bahasa Inggris, bukan karena orang tuanya yang memintaya. Ketika saya tanya D, dia bilang bahwa dia ingin bisa bahasa Inggris karena untuk menjadi seorang model internasional harus menguasai bahasa Inggris agar mudah berkomunikasi. E yang bercita2 menjadi seorang pegawai kantor ingin bisa bicara bahasa Inggris agar dia bisa pergi ke luar negeri dengan mudah. Sedangkan F, dia belajar bahasa Ingrgis karena dia senang. 

Perkataan F ini kemudian membuatku merenung setelahnya. Terkadang selama ini saya melakukan sesuatu karena terpaksa, karena tuntutan, karena tidak ada pilihan lain. Tapi, jarang sekali saya belajar karena saya suka. Mungkin sudah saatnya saya menilik kembali dan menata hidup. Agar melakukan sesuatu karena saya senang. Bukan hanya karena saya tidak ada pilihan lain. 

Ya...mungkin sudah saatnya saya memberanikan diri saya sendiri untuk memutuskan apa yang paling baik untuk diri saya. Ah...sudah tua juga ya....

Saturday, August 4, 2018

I Fall in the Autumn (15)

Aku mencoba mengaktifkan telepon gengamku dan menghubungkannya dengan koneksi internet di kamarku. Kulihat Satria berusaha menghubungiku sebajak 102 kali. Aku menghela nafas panjang dan mulai meneleponnya. Seperti biasa, dia memarahiku karena tidak segera menghubunginya begitu sampai di Jepang. Dia baru reda ketika aku menceritakan semuanya. Dia bilang bahwa ayah dan ibu sangat mengkhawatirkanku. Aku memintanya untuk menghubungkan ke ayah dan ibu karena orang tuaku tidak mempunyai smartphone bahkan telepon genggam.

Ya, aku dan Satria masih seperti biasanya. Tidak ada yang berubah diantara kami. Hanya saja, Satria kini sudah bekerja di salah satu perusahaan yang sedang sukses-suksesnya. Menjadi seorang CEO muda yang luar biasa. Aku sangat bangga dengannya. Sedangkan teman-temanku yang lain, mereka sebagian sudah ada yang menikah, bekerja dan ada yang sepertiku masih mengejar mimpi untuk bisa bersekolah tinggi. Bahkan, Burhan temanku itu sudah menikah, meski bukan dengan Kayla. Setidaknya, Satria belum menikah, sehingga ketika kita bertemu dengan teman-teman yang lain dan mereka menanyakan kapan kita akan menikah, kita selalu menjawab bahwa kita akan menikah bersama, atau kita sedang pacaran, meskipun tidak sama sekali. Semua itu karena kekesalan kami tentang banyaknya teman-teman yang mulai berceramah mengenai pernikahan. Tapi memang, bagiku hingga saat ini, tidak ada satu orang lelakipun yang melebihi kedekatanku dengan Satria.

"Em, nanti kirimin foto yang bagus ya. Di pakai itu kamera dariku, jangan cuma dipajang" kata dia suatu waktu

"Brisik, iya nangi kukirim foto kalender" jawabku menanggapinya.

Atau kadang dia menggodaku tentang Naoki.

"Cie...chance mu untuk bertemu Naoki besar banget tuh disana. Terus aku dilupain pasti kalau kamu jalan bareng Naoki"

Aku hanya bisa menjawab, "Bodo amat". Karena memang, meski sudah kulupakan tentang Naoki, namun masih ada sisa rasa yang tidak bisa hilang begit saja.

Akhir pekan ini, aku putuskan untuk berkeliling di sekitar tempat tinggalku yang baru. Sekedar mengambil gambar yang diminta Satria, atau menghubungi ibu Satria untuk menghubungkannya dengan orang tuaku.

Senin pagi, aku memutuskan untuk datang lebih awal ke kampus. Belum ada siapapun di ruang siswa. Belum ada satu menit aku duduk di meja kerja baruku ini, datanglah Pak Rafi yang terkejut akan keberadaanku.

"Oh! Selamat pagi, ini pasti Mbak Emi, yang mau exchange satu tahun disini ya?" sapanya ramah dengan logat jawa yang masih sangat kental.

"Iya, bapak Pak Rafi ya? Mohon bantuannya pak. Dan selamat juga atas kelahiran putra?..."

"Putri mbak" potongnya,

"Iya selamat atas kelahiran putrinya pak, semoga sehat dan sholehah" kataku.

"Terima kasih mbak Emi. Mohon maaf hari Jumat seharusnya saya yang menjemput mbak Emi tapi istri saya kontraksi jam 1 pagi itu, sudah panik saya. untungnya Raju-san baik hati jadi mau gantikan saya dia." Kelakar Pak Rafi.

Pak Rafi menuju meja kerjanya dengan segera dan menghidupkan komputernya. Dia berkata bahwa dia harus mencetak artikel ilmiahnya untuk segera diserahkan kepada Aoyama sensei, karena hari ini beliau masih akan mengurus keluarganya.

"Disini yang sudah berkeluarga tinggalnya agak jauh dari kampus, mbak karena biar dekat dengan TK dan SD. Karena anak-anak kan tidak boleh diantar orang tua ya kalau SD itu. Jadi biar dekat. Nah yang single kebanyakan tinggal di dormitory kampus. Yang tinggak di dekat kampus hanya 2 orang. Mas Jan dan mbak Rania."

"Ada berapa orang Indonesia disini pak?"

"Disini ada 5 pasang yang sudah berkeluarga. Pak Teguh dari Jogja, pak Asep dan Pak Norman dari Bandung, Bu Astuti dari Kalimantan dan saya. Yang single itu ya itu, mbak Rania, mas Jan, mas Rian, mas Ian, mas Sony, mbak Sissy, Mbak Rahma, Mbak Cinta, Mbak Fitri, sama mbak Rere. Sedikit dibandingkan dengan kota lain, mbak."

"Itu tadi siapa pak, Mas Jan, mas Ian, mas Rian, namanya mirip semua" tanyaku keheranan.

"Wah iya mbak, namanya Rian semua, tapi satu panggilannya tetap Rian, satu Ian katanya nama kecil, dan satu Jan pake J mbak, ejaan orang Eropa katanya, karena dia kuliah di Jerman sebelum ke Jepang." kelakar Pak Rafi.

"Wow, keren ya pak"

"Mas Jan memang berprestasi mbak. Sering ikut kompetisi lomba science dimana-mana. Oh iya sudah ketemu mas Jan? Tinggalnya satu apato dengan Mbak Emi"

" Belum pak, di kamar nomor berapa ya?"

"Nomor 307. Mbak Emi jadinya kamar nomor berapa? Kalau tidak salah Aoshima sensei bilanga da 3 kamar kosong di lantai 4 dan lantai 3"

"Saya 308 pak."

"Wah sampingnya mas Jan banget."

"Tidak ada orang, pak. Kemarin saya bel mau bagikan oleh-oleh, karena kata sensei kalau orang baru di apartement harus membagikan oleh-oleh atau kenang-kenangan tanda perkenalan begitu. tapi kamarnya kosong terus, saya bel 3 kali seharian itu."

"Oh iya dink, mas Jan masih di Jakarta, mbak. Pagi ini pulang. Mungkin nanti siang atau sore aja mbak. orangnya baik banget koq. Nani kalau butuh apa-apa bisa tanya mas Jan. Biar saya sms nanti mbak."

"Makasih banyak, Pak Rafi. Saya senang sekali bisa diterima baik seperti ini." kataku sambil dalam hati kuucap banyak syukur.

Obrolan kami terputus saat Aoyama sensei masuk ke ruangan kami dan berbincang mengenai artikel Pak Rafi lantas beliau mengajakku untuk mengurus semua dokumen berkenaan dengan aktifitas akademikku selama disini nanti.

Thursday, August 2, 2018

How I Explain to Kids about a part of My Religion Things

Living in Japan as a Moslem gives another level of challenge to me. Moreover, as an educator person who is dealing with kids, I need to explain why I can't do that or eat that.

Almost everyday, I eat lunch together with kids, and there will be a time when they will ask me the same questions:

"Why you don't eat pork?"

Because I am Moslem. This answer will be no problem for adults, but kids? No way! They don't even understand what Moslem is.

Here is the answer that I give to them.

" I have an allergic things about pork, same as you have allergy of milk, or eggs. If you eat eggs, something bad will happen to you, right? So do I. If I eat pork, something bad will happen to me. "

So, Moslem, please do not give any difficult explanation to people who didn't even understand what Islam is. Keep it simple, and make sure that they get your points. And please, teach your kids to explain as simple as that to their friends. Japanese people are really concern about allergic things, so just keep it simple. Do not make any difficulties on your life :)

I Fall in the Autumn (14)

Lamunanku akan masa lalu terhenti ketika pramugari mengumumkan kepada seluruh penumpang agar mengencangkan tali ikat pinggang karena pesawat akan segera mendarat. Segera kumasukkan surat yang sudah hampir 10 tahun masih kusimpan rapi ini ke dalam tas tanganku. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Dan tak ku sangka aku akan segera mendarat ke tempat dimana dia tinggal, Jepang.

Sudah bertahun-tahun ini kujalani hidup tanpa memikirkan tentang dia, namun entah kenapa takdir membawaku ke negara ini. Sehingga mau tidak mau, aku harus membuka kembali surat yang telah lama kusimpan rapi di lemariku. Aku sebenarnya tidak berharap untuk bertemu dengannya, namun ada satu perasaan ingin tahu yang menyusup. Seperti apa dia sekarang?

Kutahan lamunanku tentang Naoki, ketika kulihat sepasang orang Asia selatan membawa karton besar bertuliskan namaku. Aku menghampirinya dan memperkenalkan diri. Mereka adalah sepasang suami istri dari Bangladesh yang bernama Mr. Salam dan Mrs. Jobaida. Mr. Salam adalah yang akan menjadi rekan kerjaku selama di Jepang ini. Kurasa mereka sangat baik sekali.

"Previously, Rafi-san, one of my lab mates, he is from Indonesia as well, who would pick you up here. But this morning, his wife gave a birth, so me and my wife took his job with pleasure." Jelas Mr. Salam sambil menaikkan koporku ke dalam bagasi mobilnya.

Sepanjang perjalanan, kami berbincang banyak mengenai seperti apa Prof. Aoshima Haruto, tentang Pak Rafi yang istrinya baru melahirkan pagi ini, tentang seperti apa ritme kerja di laboratorium mereka, dan tentang kehidupan orang asing di Jepang terutama orang Muslim.

"Do you think that I can follow the rhythm? I am afraid..." kataku yang mulai mendadak hilang kepercayaan diri setelah mendengar cerita dari Mr. Salam tentang pencapaian-pencapaian mahasiswa-mahasiswa dari Prof. Aoshima. Tentang penemuan varietas baru tanaman, tentang sistem penyatuan gen tanaman untuk mendapatkan warna varian baru dalam sebuah spesies bunga, dan lain-lain. Aku pun sebelumnya mengagumi Prof. Aoshima setelah mengikuti seminar beliau yang dilaksanakan di kampusku. Oleh karena itu aku memberanikan diri untuk mengikuti program pertukaran pelajar selama tahu tahun ini di laboratorium Prof. Aoshima. Berharap untuk bisa mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya mengenai pemuliaan tanaman bersama beliau.

"Yes you can!! Don't worry. The key is team work, Emi-san. We will be happy to help you. Because helping you means helping us as well." Kata Mr. Salam kemudian kami tertawa.

Sesampainya kami di universitas, Mr. Salam langsung membawaku ke student room untuk meletakkan koper dan tas bawaanku. Kemudian Mrs. Jobaida membelikanku minuman dan makanan halal dari mini market di dalam kampus. Aku sangat senang sekali disambut dengan begitu ramah. Karena sebelumnya, aku sempat merasa ketakutan kalau saja sambutan untukku sanagt dingin.

Kemudian Mr. Salam membawaku ke ruangan Prof. Aoshima. Dengan sedikit gugup aku menyapa beliau.

"Oh Emi-san, it's good to see you again. How was your flight?" Tanya beliau dengan ramah. Kemudian beliau mengajakku berkeliling ke lab beliau sebentar untuk menjelaskan tempat-tempat yang nanti akan menjadi ranah kerjaku. Kemudian beliau memintaku untuk membawa koper dan tasku karena beliau akan mengantarku ke apartemen tempatku tinggal satu tahun ini.

" I am very sorry I couldn't give you a place in university dormitory, because it's so full this year. But I found a good place, close to university, so that you can just take a walk just 10 minutes to reach university." terang beliau mengenai apartemen yang akan kutinggali.

Sebelum sampai di apartemen, kami singgah sebentar ke supermarket untuk membeli banyak barang kebutuhan sehari-hari. Beliau pun mengangkat belanjaan dan juga beras 10 kg sambil melarangku agar tidak ikut mengangkatnya karena beliau rasa aku masih capek

"Thank you very much, Prof. I am so happy to get this help"

" No, no, don't me. It is my job to treat my students. And please, don't call me Professor. I don't like it. Just call me sensei. " terangnya.

Kemudian sampailah kami pada sebuah apartemen yang menurutku mewah. beliau mengantarku sampai ke kamarku, ruangan nomor 308. Tepat di ujung kiri gedung. Aoshima sensei mengatakan sengaja memilihkannku kamar di lantai 3 dan di ujung, karena cahaya mataharinya tidak begitu silau. Beliau memperhatikanku yang memang tidak terlalu menyukai tempat yang silau akan cahaya matahari. Bayangan pohon di depan beranda cukup menghalangi sinar matahari masuk kedalam kamarku.

"I heard that there is one Indonesian boy is living here, in this apartment. Perhaps, you can be friend with him. Please take a rest and enjoy your first weekend in Japan. Come to lab next Mondat on 9. Please don't be late." pesan Aoshima sensei sebelum beliau kembali ke kampus. Aku mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Berharap semoga hari-hariku di Jepang selama satu tahun ini akan menyenangkan. Di akhir musim panas ini, seolah aku menerbangkan harapan baru untukn memasuki musim baru. Musim gugur yang kata banyak orang adalah musim yang sangat indah.

Musim gugur di Lake Biwa, Shiga Prefecture.
Saat itu aku sempat jatuh cinta pada seseorang yang pergi bersama disini. Namun tidak jadi hehe



Sunday, July 29, 2018

I Fall in the Autumn (13)

Malamnya, Satria ke rumahku mengantarkan kotak makanan yang kuberikan pada Naoki. Dia bilang padaku bahwa dia memukul keras Naoki. Dia bercerita bahwa Adrianlah menyaksikan ketika Naoki meremas suratnya dan membuangnya ke tempat sampah. Dan ketika Adrian sedang memungutnya, Satria datang dan tak bisa lagi menahan emosinya.

"Maaf Em, aku ga tau apa yang terjadi, tapi aku tau pasti perasaanmu seperti apa. Cuma kenapa kamu ga bilang dulu ke aku?"

Dan aku hanya diam tak menjawabnya. Satriapun hanya merangkulku dan mengelus kepalaku lama tanpa kami bicara satu sama lain lagi. Seolah dia mengerti hatiku yang sedang ingin bicara, namun mulutku terkunci rapat.

"Besok pergi bareng aku ya" katanya, sebelum dia pamit untuk pulang.

Semenjak saat itu, aku menghindari Naoki pun juga Kayla dan teman-temannya. Dan aku berusaha keras untuk tidak lagi melihat ke arah Naoki seperti sebelumnya. Ada rasa sakit dan malu yang menyusup dalam kehidupanku. Dan hal ini membuat sisa hari-hariku di sekolah menjadi sedikit tersiksa. 

Aku melewati hari-hariku seperti biasa, hanya tanpa Naoki lagi. Kufokuskan pikiranku untuk menghadapi ujian akhir dengan tenang. Hingga akhirnya aku diterima di salah satu universitas negeri di kota Solo. Sedangkan Satria akan melanjutkan di universitas ternama di Yogyakarta. Bagi kami, Solo dan Jogja sangat dekat. Pun bisa saling mengunjungi satu sama lain tiap akhir pekan.

Di acara kelulusan, aku melihat Naoki didampingi oleh kedua orang tuanya. Ketika kami berpapasan selepas acara, aku hanya bisa menunduk dan berjalan cepat. Mungkin karena rasa sakit hati ini masih membekas. Namun, tak kusangka bahwa hari itu juga adalah hari terakhir aku bertemu dengan Naoki.

Aku baru mengetahuinya ketika hari pengambilan ijasah dan segala dokumen kelulusan. Aku dengar dari banyak teman yang membicarakannya, bahwa Naoki sudah duluan mengambil ijasah karena akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi di Jepang. Saat itu, entah mengapa ada rasa sesal, ada rasa rindu, namun juga ada rasa kesal yang luar biasa yang menyergapi hatiku. Dan hal itu membuatku hanya bisa berdiri mematung di dekat lapangan basket, tempat dimana aku biasa memandang Naoki dari kejauhan. Namun saat itu, lamunanku buyar karena Satria menepukku dari belakang. Dia datang bersama Adrian dengan kamera yang terlihat mahal. 

Adrian meminta untuk kami berfoto bersama. Dia mengatakan bahwa minggu depan dia akan bertolak ke Belanda dan melanjutkan kuliah di Groningen. Dengan mata berbinar, aku mengucapkan selamat. Sungguh dari lubuk hatiku terdalam, aku tak terkejut, karena dimataku, Adrian adalah seseorang yang sangat jenius. 

" Em, foto berdua yuk, belum ada foto berdua dengan Emi" ajaknya. Lalu dia meminta Satria untuk mengambil gambar kami. Dan dia berpamitan karena harus bersiap-siap pulang ke Jakarta sebelum berangkat ke Belanda. Aku dan Satria, kami duduk berdua di bangku penonton di dalam lapangan basket. Selama hampir satu jam, kami hanya berbicara mengenai kenangan-kenangan selama SMA ini sebelum akhirnya kami bosan dan memutuskan untuk pulang. 

Aku lantas bergegas mengambil sepedaku di tempat parkir, sedangkan Satria beranjak menuju tempat parkir motornya. Dan saat itu, aku dikejutkan oleh bungkusan plastik warna hitam terjepit di tempat duduk belakang sepedaku. Aku menengok ke sekeliling, namun rupanya sudah tidak ada orang, karena memang hari itu adalah hari libur untuk murid-murid kelas 1 dan 2. Kubuka bungkusan itu, dan kutemukan sebuah surat dalam amplop warna ungu muda bergambar bunga lavender, bertuliskan "Emi R.". Dengan perasaan berdebar, aku membuka amplop itu dan kubaca pelan-pelan saat itu juga.

Emi へ,
Maafkan aku yang tak mampu mengatakan sepatah kata baik pun tentang kita. Terima kasih telah mengingat kenangan yang selama ini pun selalu aku jaga. Bukannya aku tak mau mengatakannya, namun karena aku adalah pecundang yang takut jika kenyataannya tidak ada bekas sama sekali tentang itu dalam ingatanmu.
Ternyata aku salah.
Hingga waktuku disini berakhir pun, aku tak sempat punya keberanian untuk benar-benar menatapmu ketika mengungkapkan ini. Maafkan aku yang seorang pengecut ini.
Jika boleh aku memelihara harapan, kelak takdir membawa kita bertemu kembali, maka aku akan berusaha sekuat hatiku agar kita tetap tinggal bersama dalam satu ruang dan waktu, saling berpegang tangan satu sama lain dan tak akan kulepaskan lagi. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menjadi seorang pengecut lagi.
Aku sangat berharap, kesempatan itu akan terjadi.
直樹
Aku tak tahu apa yang dimaksud dalam surat ini. Siapa pengirimnya pun aku tak tahu. Hingga satu tahun kemudian, ketika aku berusaha keras menerjemahkan dua huruf asing itu. Dan saat aku tahu, bahwa itu adalah namanya, Naoki. hatiku bergetar. Keinginan untuk bertemu lagi dengannya tumbuh kembali.

Selain daun maple, Kochia juga menjadi salah satu daya tarik ketika musim gugur