Sunday, July 15, 2018

Diary Ai: 16 Juli 2018 (Grey Zone)

Baiklah, pertandingan Perancis vs Kroasia ini sudah akan mulai babak kedua, dan kedudukan sementara unggul prancis. Maka saya putuskan untuk bercerita tentang pembelajaran apa yang saya dapat selama mengajar di sekolah-sekolah.

Berbeda dengan les-lesan tempat mengajar dulu, kegiatan di tempat kerja saya terhitung sebagai ekstrakurikuler berbayar. Karena kelas ekstrakurikuler kami hanya menerima murid-murid dari sekolah kami dan almamater sekoalh kami saja. Kemudian, orang tua tidak diperbolehkan menemani anak di ruang kelas. Karena nanti akan mengganggu proses belajar anak dan juga perkembangan mental anak.

Ya, di sekolah kami, perkembangan mental anak juga diperhatikan. Karena ternyata, justru banyak orang tua yang tidak menyadari mengenai karakter anak itu sendiri. Beberapa murid kami sangat spesial. Saya tidak mau menilai itu autis, tetapi kami menyebutnya sebagai anak di grey zone. Kami mengategorikan level kepribadian anak dengan label aktif, normal, grey zone dan berkebutuhan khusus. Bukan untuk rasis, tetapi gunanya untuk memudahkan kami, para guru, dalam mengajar dan menangani anak-anak tersebut di dalam kelas. Karena kebanyakan sistem ekstra kurikuler di jepang lebih berdasarkan ke jenjang kelas di sekolah (kelas 1, kelas 2 dst), bukan berdasarkan tingkat kecerdasan atau kemampuan yang dimiliki.

Saya bukan seorang psikolog, tetapi, saya ingin menyampaikan hal-hal yang saya alami dan rasakan. Disini saya benar-benar belajar bahwa karakter anak-anak itu unik, dan dalam perkembangannya, memang jika kita tidak bisa mengendalikan mereka, pertumbuhan mental mereka pun bisa terganggu. Saya tidak menyalahkan orang tuanya, tetapi, terkadang orang tua kurang memahami itu.

Kali ini saya ingin bercerita mengenai beberapa karakter anak yang saat ini sedang saya tangani.

Saya punya satu kelas, isinya 3 orang anak perempuan. kita sebut saya A, B dan C. A ini merupakan anak ketiga, dia pendiam dan selalu terlihat tegang. Dia hanya akan bicara ketika saya tanya saja, dan itu pun hanya menyangkut tentang pelajaran. Sedangkan ketika saya tanya mengenai bagaimana hari ini misalnya, dia tidak akan menjawabnya, padahal saya bertanya dengan bahasa jepang. B adalah seorang anak tunggal. Meskipun dia terlihat pendiam, namun anaknya sangat perhatian. Terlebih dengan C yang kami sebut anak pada kelas grey zone. B ini mempunyai ibu yang sangat ambisius agar B mempunyai prestasi menggungguli teman-teman sekelasnya. Nanti akan saya bahas pada waktu lain.

C ini sangat spesial. C merupakan anak pertama, dan dia punya adik yang saya ajar juga di TK, tetapi di kelas ekstrakurikuler tidak dengan saya. Adiknya normal, sama seperti anak-anak lainnya. Terus terang, saya masih mempunyai kesulitan untuk menghadapi C. Mungkin kalau di Indonesia, dia dikatakan sebagai anak nakal. Pasalnya, dia sering sekali mengoceh sendiri saat kelas berlangsung. Terkadang B dengan sabarnya mengingatkan dia, disamping kadang B tertawa mendengar ocehannya. Sedangkan A selalu tegang dan tidak pernah tersenyum sama sekali meskipun saya kadang juga terbawa tertawa dengan ocehannya C. Sayangnya, orang tua A dan B tidak suka dengan C dan selalu minta agar C dipindahkan. Namun, kita tidak bisa melakukannya karena ibunda C sudah memilih hari tersebut. Hal lain, kami pun tidak yakin C akan dapat diterima oleh anak-anak di kelas lain seperti A dan B menerima C.

Pada awalnya saya bingung untuk mengatasi C ini. Bahkan bos saya dua-duanya juga angkat tangan. Kami sudah berusaha berbagai cara, mulai dari mendekatinya, memberikan order dalam bahasa jepang, hingga di temani disampingnya, namun tetap saja dia tidak bisa dikendalikan. Hingga suatu waktu, kami mengundang mantan guru TK nya dan kami akhirnya mendapatkan tips dari dia bagaimana cara mengatasinya. Namun ternyata, tips itu hanya bertahan satu hari, karena minggu depannya tips nya tidak mempan. Apesnya, minggu tersebut tepat dengan kunjungan orang tua. Marahlah si ayah C, dan dengan wajah emmerah antara marah dan malu, dia keluar kelas sambil membungkuk sedalam-dalamnya. Minggu depannya, ibunya bilang bahwa C dimarahi oleh ayahnya habis-habisan.

C ini sebenarnya sangat cerdas. Dalam menerima pelajaran bahasa Inggris, ingatannya cukup kuat. Betapa tidak, dia tidak pernah benar-benar memperhatikan saya ketika mengajar, namun di minggu depannya ketika saya paksa dia untuk menjawab, dia bisa mengatakannya, meski dengan gurauan. Itu adalah salah satu bukti bahwa dia mendengar apa yang saya katakan. Hanya saja, memang dia tidak mampu untuk mengendalikan dirinya sendiri.

Minggu lalu, entah karena saya memang sedang PMS atau saya yang sudah capek menghadapi dia, dan kebetulan juga bos saya dua-duanya sedang repot menghadapi orang tua siswa, akhirnya saya ikat dia dengan pita bajunya ke kursi sebagai hukuman karena dia bermain pita baju saat kelas berlangsung. kemudian saya menyuruh dia untuk berjanji agar tidak mengulanginya lagi baru saya mau lepaskan ikatannya. Saya ingin dia belajar mengendalikan dirinya sendiri. Akhirnya, di setiap dia bergerak memainkan ikatan bajunya, saya pelototi dia, dan cara itu berhasil. Dia menjadi diam dan tidak mengoceh seperti biasanya.

Kemudian, tibalah saat kami bermain PCC game, dimana saya berikan kartu kata kerja bergambar kepada anak-anak, dan mereka menyebutkan bahasa inggrisnya. Ketika giliran dia, saya benar-benar paksa dia untuk menjawab. Saya sampai memegang tangannya, menunjuk gambar per gambar. Saya tidak berharap dia akan mengatakan dalam bahasa inggris, tetappi saya tetap bilang padanya untuk mengatakan dalam bahasa inggris. Di luar dugaan, dia mengerti dan dia menyebutkan. B juga memberikan semangat dengan memegang tangan satunya.

"C..ganbare!!!" kata B

C sempat mendengus berkali-kali, tetapi saya tetap paksa dia seperti ibu saya dulu memaksa saya untuk belajar. And it works. Dan dia itu tahu padahal selama ini dia tidak pernah mengucapkannya, bahkan tidak pernah benar-benar memperhatikannya. Disitu saya sadar, bahwa C ini mendengar meski dia tidak bisa fokus. Dan dia mengingatnya dengan baik. Hanya itu, dia belum bisa mengontrol dirinya sendiri.

Kemudian, saya jadi ingat jaman saya kecil. Dulu susah sekali belajar. Kadang sering bicara sendiri berimajinasi persis seperti C. Saya masih ingat saat TK besar, saya mewarnai bagian tubuh gambar orang dengan warna coklat ketika semua anak mewarnainya dengan warna kuning. Hingga bu guru menegur saya, saya jawab dengan enteng, karena kulit saya coklat. Lalu saya dimarahi. Tapi saya tidak mau menggantinya. Saya jadi mikir, jangan-jangan saya waktu kecil juga masuk di ranah grey zone.

Iya, pasti saya waktu kecil ada di ranah grey zone, tapi ibu saya galak sekali, sehingga saya bisa survive hingga saat ini. Bayangkan apabila ibu saya tidak pernah memarahi saya, atau mengajari saya dengan paksa, mungkin saya saat ini masih di rumah dengan segala imajinasi saya. Saya kalau ingat waktu kecil dulu suka ngeri. Bisa hafal butir-butir pancasila lengkap. Bisa mengingat dengan jelas detail gambar. Yah sayang sekali, kemampuan itu sekarang hilang begitu saja seiring pertumbuhan usia saya. Tapi saya sadari, saya memang cukup aneh saat saya kecil dulu.

Well sepertinya pertandingan bolanya sudah selesai. Saya mau siap-siap tidur dulu. Saya lanjutkan kapan-kapan ceritanya

Saturday, July 7, 2018

Kuliner: Tempura Momiji khas dari Minou, Osaka

Halo readers, apa kabar hari ini? Semoga dalam keadaan yang sehat ya. Setelah beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis tentang tempura Akasia dari Nagano, kali ini saya akan menulis tentang tempura Momiji.

Meskipun saya belum pernah memakannya, namun tempura ini menjadi salah satu daftar catatan pribada saya untuk saya lakukan suatu saat nanti.

Tempura Momiji dari Osaka


Momiji atau yang lebih dikenal sebagai daun maple, adalah salah satu dedaunan yang jarang sekali orang tertarik untuk memakannya. Namun, orang Jepang sepertinya pandai untuk memanfaatkan alam. Tepatnya di daerah Minou, Osaka, tempura momiji merupakan makanan tradisional semenjak tahun 1300an.

Tidak semua daun maple dapat dimakan. Rupanya ada tipe daun maple yang edible, yaitu daun maple tipe daun kecil yang berwarna kuning. Mengapa yang kuning, bukan yang merah atau hijau? Karena yang pada fase daun berwarna kuning itu ternyata mempunyai tekstur yang lebih lembut. Dan juga, ketika daun tersebut diawetkan melalui pengasinan atau pemberian garam, warna daun tidak akan berubah.

Warna daun momiji yang dapat dibuat tempura
Source: https://www.flickr.com/photos/maki_s_brown_eyes/2037500742


Untuk membuat tempura momiji ini, diperlukan waktu yang cukup lama untuk persiapannya. Pasalnya, untuk mengumpulkan daun maple ini, kita harus menunggu akhir musim gugur untuk dapat memanen daun maple berwarna kuning. Kemudian, kita awetkan dengan pemberian garam dan didiamkan selama setahun lamanya sebelum digoreng.

Proses pengasinan daun momiji kuning
Source: https://otb.news/nhat-ban/du-lich-am-thuc/tempura-la-phong-chien-gion.html

Proses penggorengan tempura momiji
Source: https://firstwefeast.com/eat/2014/10/the-real-taste-of-fall-is-deep-fried-maple-leaves-not-psl

Bagaimana dengan rasa tempura momiji ini? Rasanya manis, karena diberi penambahan gula sebelum digoreng. Namun, jika tidak diberi gula, maka tidak akan ada rasanya. Videonya dapat disaksikan disini.

Kita dapat membeli tempura momiji ini di toko Hisakuni Kousendo di Minou, Osaka. Berikut adalah alamatnya,

Hisakuni Kousendou
Address: Osaka, Minoo, Minno 1-1-40
Hours: 9:30-18:00
Closed: Thursdays
Prices: 320-1500 yen
Phone: 072-721-2747
Other Languages: English and Chinese
Website: http://www.hisakuni.net (Japanese)

Momiji Tempura
Source: https://matcha-jp.com/en/740

Wednesday, July 4, 2018

Renungan Pagi Ini: Tentang Kepercayaan

Gosip itu cepat sekali menyebar. Entah benar, entah tidak. Entah ditambahi, entah dikurangi. Dan kali ini, sahabat saya yang terkena gosip. Setelah bertahun-tahun saya yang selalu jadi korban gosip.

Pasalnya, gosip yang tersebar itu sama sekali tidak benar. Yang membuat saya marah adalah, gosip itu tersebar dengan salah kaprah dan seharusnya adalah bukan berita yang harus disebarkan ke orang-orang begitu saja. Ibarat hal ini adalah memancing di air keruh.

Source: https://www.lakebaldwindental.com/blog/2017-07-25-spicy-food-and-oral-health


Saya kemudian teringat pada perkataan mentor kejiwaan saya beberapa tahun yang lalu,

Jika kamu ingin menguji seseorang itu bisa dipercaya atau tidak, berilah dia sebuah berita bohong. Apabila berita itu tidak tersebar meski sudah cukup lama, artinya bahwa dia adalah orang baik. Apabila berita itu tersebar dalam hitungan jam, maka hindari orang itu karena dia tidak bisa dipercaya.


Saya membayangkan kondisi mental sahabat saya yang saat ini sedang dilanda masalah tersebut. Sudah hati dan pikirannya kacau, ditambah dengan orang-orang sekelilingnya memberitakan dia yang tidak benar. Kemudian atas dasar berita tersebut, sahabat saya dinilai macam-macam dan disalahkan oleh orang-orang yang tidak mengetahui seperti apa yang dirasakan oleh sahabat saya.

Tuhan, saya pernah ada di posisinya tepat berada diatas sepatu dia saat ini, saya paham sekali rasanya dan galaunya seperti apa. Saya hanya ingin berteriak apda orang-orang yang pandai menilai itu, agar semoga suatu saat nanti mereka akan merasakan apa yang kami pernah rasakan ini, sehingga mereka akan menyadari seperti inilah rasanya menerima perlakuan dari orang-orang seperti mereka. Suatu saat nanti, Tuhan.

Hari ini saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari kisah sahabat saya. Tentang berharganya sebuah kepercayaan, tentang harapan, tentang perjuangan, dan tentang makna dibalik semua ujian Tuhan. Dan yang pasti, bagi saya, sekarang saya paham untuk harus berkawan dengan siapa. Dan saya pun harus terus memperbaiki diri untuk tetap berusaha menjadi orang yang lebih baik, dan lebih dapat dipercaya. Karena memang, kepercayaan itu penting. Apalagi, kita hidup di Jepang dimana orang Jepang sangat memegang tinggi kepercayaan.

Tuesday, June 26, 2018

Kyuushoku Touban di TK Jepang

Halo readers, seperti janji saya di twitter kemarin, saya akan menulis tentang Kyuushoku touban atau dalam bahasa Indonesianya adalah pelayan makan siang. Sebelum kita membahas lebih lanjut, mari kita uraikan dulu tentang apa itu Kyuushoku Touban.

Kyuushoku atau 給食-きゅうしょく 

artinya adalah school lunch.

Touban atau 当番 - とうばん

artinya adalah duty atau tugas.

Jadi, Kyuushoku Touban definisinya adalah petugas pemlayan makan siang di sekolah.

Di sekolah saya, setiap hari, anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok guna melaksanakan tugas tersebut. Setiap harinya mereka akan bergiliran menjadi Kyuushoku Touban.

Karena di sekolah saya adalah sekolah TK, maka euforia anak-anak masih sangat bersemangat sekali. Tak jarang mereka akan dengan bangganya berkata kepada saya yang kebetulan lewat di depan kelas, seperti ini

" Sensei, hari ini saya jadi o kyuushoku touban loh"
atau
" Sensei, tadi saya ganbatta (berusaha keras-kata lampau) jadi o kyuushoku touban loh"

Apa sih tugas dari kyuushoku touban? Mengapa anak-anak begitu bangganya?

Sejarah Kyuushoku Touban


Sejarah mencatat bahwa school lunch pertama di Jepang terjadi pada tahun 1889 di Kota Tsuruoka, Perfektur Yamagata. Dimana menunya pada saat itu adalah dua buah onigiri (nasi kepal), ikan asin, dan asinan sayuran. Di tahun 1914, mulai diadakan makan siang di sekolah di Tokyo, lantas kemudian pemerintah jepang mulai memberikan subsidi untuk makan siang di sekolah. Menu kebanyakan menggunakan nasi. Menu roti sebagai makanan pokok pengganti nasi mulai diperkenalkan pada sekitar tahun 1919.

Kyuushoku Touban sendiri dimulai pada sekitar perang dunia kedua. Tepatnya pada bulan Desember 1946 di Tokyo, dimulailah sistem Kyuushoku Touban, yang kemudian diikuti oleh Perfektur Chiba dan Kanagawa. Hingga saat ini, dari tingkat TK hingga SD, sekolah diwajibkan untuk menggunakan sistem Kyuushoku Touban. Sedangkan di SMP dan SMA, hanya beberapa sekolah yang menggunakannya, selebihnya, biasanya anak-anak SMP dan SMA membawa bekal makan siang sendiri dari rumah.

Tugas Kyuushoku Touban

Jumlah anak yang biasa menjadi kyuushoku touban dalam satu harinya kira-kira 6 anak. Dua anak akan bertugas menjemput nasi dan sayur dari dapur sekolah menuju ke kelas masing-masing. Dua orang akan membawa keranjang piring dan mangkok. Dan dua orang akan membawa minumannya (karena anak TK, maka mereka akan membawa beberapa box susu).

Sesampainya di kelas, mereka akan bertugas kembali untuk membagikan nasi, sayur, lauk, buah dan pencuci mulut kepada teman-temannya. Untuk takaran nasi, biasanya guru kelas yang akan mengambilkannya. Sedangkan untuk miumannya, guru kelaslah yang akan menuangkannya.

Setelah selesai makan siang, kyuushoku touban juga akan bertugas mengangkut kembali perkakas makan siang kembali ke dapur. Guru kelasnya juga memastikan bahwa setiap anak sudah harus mendapatkan jatah makan siang yang sama sebelum tanda makan siang dimulai.

Seragam kyuushoku touban berbeda-beda di setiap sekolah. Namun, mereka harus menggunakan celemek, penutup kepala, dan kadang juga harus menggunakan masker penutup mulut. Sebelum memulai tugasnya, anak-naka juga diharuskan untuk mencuci tangan dan menyeterilkan tangan dengan menggunakan antiseptik.

Kyuushoku Touban
Sumber: http://web-japan.org/kidsweb/ja/cool/17/kyushoku.html

Tujuan adanya Kyuushoku Touban

Orang Jepang sangat menjunjung tingi adab dalam setiap partikel kehidupan. Dengan adanya kyuushoku touban, mereka mengajarkan kepada anak-anak tentang bagaimana tata krama di saat makan. Selain itu, anak-anak juga diajarkan mengenai nutrisi melalui menu-menu makanan setiap harinya. Hal yang paling penting dari tujuan adanya kyuushoku touban ini adalah tentang tanggungjawab. Dimana mereka yang bertugas harus melakukan pekerjaannya dengan baik dan penuh tanggung jawab. Selain itu, anak-anak juga diajarkan mengenai bagaimana cara melayani publik, dan juga kerja sama tim.

Saya sendiri selalu menikmati melihat anak-anak yang sedang menjalankan tugas sebagai Kyuushoku touban. Karena betul-betul mereka dididik untuk bertanggungjawab terhadap makanan tersebut supaya tidak tumpah, atau benar-benar memastikan bahwa teman-temannya sudah mendapatkan semua porsi dari menu hari itu.

Bagaimana dengan Indonesia? Teman-teman ada cerita? Yuk boleh dibagikan di kolom komentar.

Saturday, June 23, 2018

Lelakiku

Tujuh belas tahun yang lalu, jika aku ditanya tentang bagaimana kriteria lelaki idaman, aku pasti akan menjawabnya yang berkulit putih, tampan,  tinggi, smart, pintar, baik hati dan juga akhlaknya, dan humoris. Selama perjalanan hidup, hampir tidak pernah kutemui lelaki dengan seemua kriteria tersebut. Ada banyak, namun tidak ada yang mempir ke dalam hidup saya. Yang mampir kebanyakan mempunyai sebagian dari kriteria tersebut. 

Lima belas tahun kemudian, dipertemukanlah saya dengan seorang lelaki yang sama sekali tidak pernah terbayangkan untuk bahkan mendekat padanya sekalipun. Bagaimana tidak? Wajahnya hampir setiap tahun menghiasi berita kampus dengan berbagai prestasinya. Hampir setiap orang mengenal wajahnya, sedangkan saya yang saat itu mulai tidak percaya tentang relationship sudah tidak mau berurusan dengan laki-laki, dilirik orang pun tidak. 

Seingin-inginnya orang, ketika Tuhan berkehendak, maka takdir membelokkan semua rencana yang sudah tersusun indah. Takdir menyatukan kita pada tempat yang baru. Kami menjadi kawan dekat dan sering berbagi kisah. Sejauh yang aku tahu, dia adalah orang yang mendeklarasikan dirinya sebagai temanku saat dia menemukanku menangis di bawah tangga saat itu. Padahal kita baru 2 kali ngobrol. Kemudian dia menepati janjinya hingga sekarang. Dalam keadaan apapun diriku, ketika bersenang-senang dengan beasiswa, ketika bersusah payah mengais-ngais yen, dan ketika berlelah-lelah bekerja seperti sekarang, dia adalah satu-satunya teman yang membuatku nyaman untuk sekedar buang angin di depannya.

Tuhan maha baik. Itu yang aku percaya sedari dulu. Bagaimana tidak, lima belas tahun memimpikan dan mendoakan ada orang yang diinginkan, lalu booom semacam ladang gandum yang berubah menjadi koko krunch, muncullah dia yang entah dari mana datangnya. Berkulit sangat putih seperti sapi putih yang baru lahir, wajahnya tampan dengan lesung pipit mengalahkan Afgan, orangnya cerdas luar biasa, pintar dan berprestasi hingga tingkat dunia, baik hati, akhlaknya baik dan sopan, menyenangkan, dan sering bercanda tanpa menyakiti atau merendahkan. Tuhan maha baik. Hanya itu yang bisa aku ungkapkan, karena aku tak tahu lagi kalimat seperti apa yang harus aku katakan mengenai rasa syukurku yang meluap-luap.

Dia tidak romantis, dan tidak akan pernah tiba-tiba memberimu hadiah atau kejutan kecil. Coklat pun tidak. Bahkan dia melarang mengonsumsi coklat kebanyakan. Tapi tiba-tiba dia akan memberimu banyak sekali makanan sehat, vitamin, dan sebagainya. Memaksa saya memakan banyak sayur yang saya tidak suka. 

Kapan kita travelling lagi?


Dia menyemangatiku tanpa meninggikan dirinya atau merendahkanku. Dia tidak pernah protes jika aku kebanyakan ngegame. Karena dia juga gamer. Dia tak pernah protes jika aku kebanyakan nyanyi saat bersamanya. Meski suaraku sumbang dan cempreng. Dia hanya marah jika aku tak bisa berkata tidak untuk sesuatu yang aku tidak mau lakukan. Dan dia satu2nya orang yang bisa berhenti membuatku marah-marah dan cemburu. 

Jika saat ini kita masih berjalan dari dan ke rumah masing-masing, maka sebentar lagi kita akan berjalan dengan rumah kita bersama. Sebentar lagi. Amin.

Thursday, June 21, 2018

Perbedaan Hoikuen dan Yochien

Halo readers, kali ini saya akan membahas mengenai bidang yang sangat dekat dengan saya 2 bulan terakhir ini. Yaitu tentang Pendidikan Anak Usia Dini di Jepang. Kebetulan, salah satu lokasi kerja saya sebagian besar bersinggungan dengan sekolah PAUD, disamping SD dan SMP, dan saya sendiri selama 6 tahun di Jepang baru ngeh tentang hal ini.

PAUD di jepang dibedakan menjadi 2, hoikuen (保育園) dan youchien (幼稚園). Selama 6 tahun saya tinggal di Jepang, saya belum paham juga dalam membedakan antara Hoikuen dan Youchien ini. Dulu, saya mengiranya bahwa Hoikuen adalah untuk anak usia 0 - 3 tahun, sedangkan Youchien adalah untuk anak usia 3 - 6 tahun. Ternyata saya tidak salah. Namun, saya kurang lengkap. Berikut penjelasan singkat mengenai Hoikuen dan Yochien.

Hoikuen (保育園) / Nursery School

Hoikuen disebut juga Nursery School atau Day Care. Biasanya, PAUD ini diperuntukkan bagi ibu yang bekerja. Karena disini, para ibu bekerja bisa menitipkan anaknya dari usia 6 bulan hingga 6 tahun (tergantung peraturan setiap Hoikuen di setiap kota). Di Hoikuen, orang tua tidak perlu menyediakan bekal makan siang, karena pihak sekolah yang menyediakannya.

Secara akademis, di hoikuen rata-rata anak akan lebih diajarkan tentang fun activity seperti prakarya, olahraga, mendongeng, musik dan sebagainya. Sehingga, dalam hal pelajaran, akan dirasa lebih kurang dari Youchien. Hoikuen tidak mempunyai seragam khusus dan tidak ada target akademis yang harus dicapai anak.

Tujuan dari Hoikuen ini adalah untuk membangtu tumbuh kembang anak baik secara fisik ataupun mental. Karena ibu yang bekerja tentu saja akan mempunyai waktu yang lebih sedikit dari ibu rumah tangga, sehingga disinilah tempat yang terpercaya bagi para ibu bekerja untuk menipkan anaknya. Oleh karena itu, hampir semua Hoikuen bekerjasama dengan dokter, suster dan ahli nutrisi.

Youchien (幼稚園) / Kindergarten

Youchien disebut juga Kindergarten atau Taman Kanak-Kanak. PAUD ini lebih dikhususkan untuk tujuan edukasi. Sehingga Youchien mempunyai lebih banyak pelajaran dibandingkan dengan Hoikuen. Anak-anak yang bersekolah di Youchien pun diharuskan membawa bekal makan siang (meski terkadang ada Youchien yang menyiapkan bekal makan siang dari sekolah), dan belajar seperti matematika, PE, menulis dan membaca, dan pelajaran lainnya. Di Youchien, anak-anak diharuskan memakai seragam sekolah.

Anak-anak boleh masuk Youchien setelah melewati ulang tahun ke 3. Biasanya, setelah seorang anak berulang tahun ke 3, dia dapat masuk ke kelas pra-TK. Satu tahun kemudian, dia  baru akan ke kelas paling muda di TK (nenshou/ 年少). Waktu anak-anak berada di Youchien pun lebih sedikit daripada di Houkuen. Di Youchien, anak-anak mulai masuk kelas pada jam 10 pagi hingga jam 2:50 siang. Sedangkan di Houikuen bisa dari pagi jam 7:30 hingga 19:00 (tergantung orang tua). Namun, di Youchien tidak terdapat tidur siang seperti di Hoikuen.

Hanazono Kindergarten, tempat saya bekerja saat ini

Tingkatan Kelas pada Hoikuen dan Youchien

Pada Youchien, tingkatan kelas dimulai ketika seorang anak sudah mencapai usia 3 tahun. Berikut adalah tingkatan kelas pada Youchien:

Pra-TK --> Mulai usia 3 tahun hingga bulan April tahun berikutnya. Sehingga anak-anak akan masuk ke kelas Pra-TK dalam waktu yang tidak bersamaan.

Nenshou / 年少 --> Usia 3 (sudah berusia 3 tahun di bulan April) - 4 tahun
Jika seorang anak lahir di bulan Mei, maka dia harus menunggu tahun berikutnya untuk masuk ke kelas Nenshou, sebagai gantinya, dia akan masuk ke kelas Pra-TK, karena di bulan April, dia belum berusia 3 tahun.

Nenchuu / 年中 --> Usia 4 - 5 tahun

Nenchou / 年長 --> Usia 5 - 6 tahun

Pada Hoikuen, tingkatannya sama dengan Youchien, hanya saja untuk pra-TK mempunyai rentang waktu yang lebih panjang, yaitu sejak anak menginjak usia 6 bulan (beberapa Hoikuen membolehkan usia 4 bulan).

Kurikulum PAUD di Jepang

Sejauh yang saya tahu, PAUD di Jepang mempunyai standar kurikulum yang sama. Anak-anak diajar tentang tata krama, interaksi dengan orang lain, bahasa nasional (bahasa jepang), dan juga diajarkan tentang bagaimana bekerja sama dengan orang lain (team work) juga tentang rasa bertanggungjawab.

Guru PAUD biasanya tidak diperkenankan untuk mengajarkan tentang membaca dan menulis huruf dan angka. Karena di Jepang, hal itu merupakan tugas orang tua di rumah. Sepulang anak-anak dari sekolah, guru PAUD akan mengirimkan email yang berisi kegiatan anak-anak pada hari itu. Dan juga mereka akan menuliskan beberapa catatan penting dalam buku harian tumbuh kembang anak yang selalu ada di dalam radoseru anak.

Untuk lebih jelasnya mengenai perbedaan kurikulum PAUD di Youchien dan Hoikuen, akan saya bahas di artikel selanjutnya.


Wednesday, June 13, 2018

Diary Ai: 13 Juni 2018

Halo readers, saya ingin berbagi cerita seru mengenai pengalaman saya berinteraksi dengan murid-murid saya, terutama untuk mereka yang mengikuti kelas after school nya.

Kemarin, salah satu murid saya di kelas hari Senin, Shigeharu, ngotot mau ikut kelas hari Rabu. Spontan saya tanya ke manager saya apakah Shigeharu ikut kelas Rabu atau tidak, mengingat ada beberapa anak yang mengikuti kelas bahasa Inggris 2 kali seminggu. Ternyata memang Shigeharu tidak ada jadwal di hari Rabu.

Usut punya usut, dia dicari-cari oleh guru kelasnya karena nggak kelihatan di barisan antrian bus yang mengantar ke rumahnya. Begitu tahu Shigeharu ada di barisan anak-anak yang saya bawa, guru kelasnya langsung memanggilnya. Ternyata Shigeharu tidak mau pulang. Dia mau ke kelas Inggris. Kemudian dia memeluk kaki saya erat, seakan mengatakan dia ga mau pulang. Lantas guru kelasnya menggendongnya, dan dia mulai menangis dan berteriak "Aku ingin belajar bahasa Inggris".

Belum pernah ada anak TK yang seantusias ini dalam belajar bahasa Inggris. Luar biasa Shigeharu.
Dia memang sejak trial lesson sudah menunjukkan minat dan bakatnya dalam berbahasa Inggris. Untuk anak seusianya (3 tahun), secara sadar mengikuti les bahasa Inggris dan mengikuti semua aktivitas dengan senyuman dan semangat itu adalah sebuah hal yang langka. Saya pikir, Shigeharu kelak akan jadi orang yang jago berbahasa Inggris dengan cepat.