Wednesday, March 20, 2019

Busana Formal Wanita di Jepang

Dua hari kemarin, saya berkesempatan untuk menghadiri upacara kelulusan siswa di sekolah-sekolah tempat saya mengajar. Biasanya saya menghadiri sebuah upacara sebagai peserta, kali ini saya berperan sebagai seseorang yang bekerja di balik layar. Ya, saya seorang guru.

Rupanya, sebagai salah seorang yang bekerja di balik layar, pakaian formal yang digunakan sungguh berbeda dengan orang yang berperan sebagai peserta upacara. Meski sama-sama menggunakan setelan jas, namun ada kode warna yang berbeda yang saya pelajari kali ini.

Sebagai peserta, kita boleh menggunakan pakaian formal dengan dalaman atau luaran warna cerah, seperti gambar di bawah ini. 


Meskipun berwarna hitam, namun dalaman yang dipakai boleh berwarna cerah. Dan juga, korsase bunganya pun pasti akan berwarna cerah.

Namun, bagi yang dibelakang layar, tidak seperti itu. Kami diharuskan memakai pakaian serba hitam. Dalaman pun berwarna hitam. Sama halnya dengan pakaian formal serba hitam ketika menghadiri upacara pemakaman. 

Berikut adalah gambaran pakaian formal yang dipakai oleh kami, para guru.


Aksen berwarna tidak boleh ada dalam baju dan rok, juga sepatu. Aksen berwarna pastel biasanya digunakan pada korsase bunga, dan juga pita rambut. Sedangkan aksen putih digunakan pada anting dan kalung.

Sayangnya, atas ketidak tahuan saya, di hari pertama, saya salah kostum. Saya menggunakan celana panjang, dan dalaman baju warna putih. Tidaklah salah secara definisi pakaian formal secara umum. Hanya saja, itu bukan gaya formal wanita jepang ketika menghadiri sebuah upacara resmi.

Gaya busana saya kemarin, seperti ini.
Satu pelajaran budaya yang saya pelajari di tahun ke 8 saya tinggal di negara ini. Sungguh, tidak habis saya belajar meski sudah lama menetap disini.

Tuesday, March 19, 2019

The power of emak-emak complain

Halo readers, sudah lama sekali saya tidak menulis di blog. Karena saya lebih sering menjawabi pertanyaan konyol di Quora. Ah, andai saya bisa lebih banyak menulis di blog sendiri. Tapi, tayangan di Quora lebih cepat naik daripada blog sendiri.

Ya sudahlah.

Kali ini, saya ingin menumpahkan sedikit uneg-uneg saya mengenai satu wali murid yang begitu menyebalkan. Mohon maaf jika saya terkesan terlalu kasar atau menjelek-jelekan. Tetapi, saya tidak akan mengatakan siapa yang dimaksud.

Ibu-ibu, pernahkan kalian mengelukkan komplain kepada guru yang mengajar anakmu? Dimana komplainnya menghinakan anak lain atau orang tua dari teman sekelas anakmu?

Sungguh, di mata saya itu adalah perbuatan yang biadab.

Mulutmu, ibu, mohon dijaga.

Setiap anak yang lahir adalah berkah bagi orang tuanya. Seperti apa pun keadaan anak. Apakah itu istimewa, atau butuh perhatian lebih. Apakah itu normal, atau berkebutuhan khusus.

Satu ibu yang menjadi wali murid saya, sungguh membuat hati saya kesal. Dia memaksa kami untuk mengeluarkan satu murid spesial (terlalu aktif) dari kelas anaknya. Hanya karena dia tidak suka dengan anak itu.

Bisa dibayangkan, bagaimana kami harus menjelaskan kepada si anak aktif tersebut? Dan bagaimana hancurnya perasaan ibu dari si anak tersebut?

Bukan dia saja, bahkan dia juga memaksa kami untuk tidak menerima murid baru di kelas anaknya, hanya karena anak tersebut terlambat masuk ke tahun ajaran.

Apa salahnya? Toh juga kemampuan dia setara dengan anaknya.

Bisa dibayangkan, betapa kagetnya sang ibu ketika dijelaskan yang sebenarnya.

Kemudian, dia juga memaksa untuk tidak menerima anak lainnya, hanya karena dia tidak suka dengan profesi ibu anak tersebut yang "cuma" sebagai pemasak di kantin.

Bisa dibayangkan betapa hancurnya si ibu?

Ya. Kami memilih untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
Biar saja para ibu lain mengetahui bagaimana mulut kejam dari ibu tersebut. Padahal anak dari ibu itu juga tidak lebih baik dari anak-anak yang ditolaknya, koq.

Sungguh, kejam sekali mulut si ibu.

Untung saja, kami memilih untuk kehilangan 3 anak dari ibu tersebut, daripada kami kehilangan banyak anak hanya karena menerima permintaan aneh dari si ibu.

Wahai para ibu, dari hati yang paling dalam, mohon untuk tidak berlaku seperti itu. Cobalah berfikir, bagaimana jika kamu yang diperlakukan seperti itu? Pasti marah bukan? Pasti kesal bukan?

Saya sendiri adalah korban. Dulu, ketika saya TK, pun banyak ibu yang tidak menyukai saya, karena saya istimewa. Saya terlalu aktif dan terlalu aneh untuk anak-anak seusia saya yang lain. Saya paham sekali bagaimana sakit hati ibu saya menghadapinya.

Tolonglah, para ibu. Jaga mulutmu.

Wednesday, February 27, 2019

Perbedaan antara Orang Osaka dengan Orang Tokyo

Kebetulan ada pertanyaan menarik di Quora. Jadi sambil saya jawab di sana, saya juga tulis disini sebagai catatan penginat untuk saya sendiri. Karena mungkin, suatu saat saya bosan dengan Quora dan menghapus akun saya dari sana, maka saya masih bisa menyimpan arsip jawaban-jawaban saya.

Berikut ini adalah perbedaan antara orang Osaka dengan orang Tokyo. Dimana kita tahu bahwa Osaka dan Tokyo terpisah jauh. Seperti Surabaya dan Jakarta.

Jawaban saya akan merujuk pada karakteristik keduanya.

Orang Tokyo



  • Sibuk
  • Sopan
  • Dingin
  • Formal
  • Following rules
  • Suka memendam perasaan
  • Cuek (tidak terpengaruh dengan personal orang lain)
  • Sering tampak stress (masalah pekerjaan)
  • Tidak suka tawar menawar ketika berbelanja

Shibuya Crossing di Tokyo
sumber


Tokyo, sama seperti ibukota sebuah negara pada umumnya, adalah tempat dimana banyak sekali orang dari segaja penjuru Jepang berkumpul dan pindah dengan alasan pekerjaan. Sehingga, orang Tokyo terlihat cenderung lebih tidak peduli dengan urusan orang lain.

Tokyo (Kanto) mempunyai dialek yang dipakai sebagai standar bahasa Jepang yang dipelajari oleh orang asing. Biasanya, dialek Tokyo (Kanto) ini juga merupakan dialek formal bahasa Jepang.

Orang Osaka


  • Ramah
  • Pragmatis
  • Independen
  • Suka menawar ketika berbelanja
  • Ekspresif terhadap perasaannya

Tsutenkaku, Osaka
sumber


Orang Osaka lebih cenderung easygoing. Mungkin karena Osaka dulunya adalah kota perdagangan, sehingga banyak sekali interaksi dengan dunia luar (negara lain). Terbukti dengan pendapat orang Jepang yang mengatakan bahwa Osaka lebih ramah terhadap orang asing dibandingkan dengan Tokyo, yang meskipun saat ini banyak orang asing yang tinggal di Tokyo.

Sebagaimana orang Jawa yang meski pergi ke Antartika pun masih bisa dikenali sebagai orang Jawa karena bahasanya, dialek Osaka (Kansai) pun demikian. Dialek Osaka (Kansai) itu lebih tebal dari dialek daerah lainnya, sehingga mudah untuk dikenali. 

Orang Osaka, menurut saya pribadi cenderung lebih jorok. Jika kita pergi ke Osaka, lalu kemudian pergi ke Tokyo, akan terasa bedanya. Bau pesing, puntung rokok, dan tumpahan bir akan terlihat banyak di Osaka. 

Saya lebih menyukai Tokyo meskipun lebih ramai dan sibuk. Karena kota di Tokyo sangat terawat dan bersih. Gelandangan di Tokyo lebih sedikit. Namun, di Osaka, terutama di Shin Imamiya, kita bisa melihat tiap malam, banyak gelandangan yang tidur di area depan stasiun. Dan jumlahnya itu sangat banyak, seperti orang satu kampung.

Berikut adalah sedikit ulasan dari saya mengenai perbedaan orang Osaka dengan Tokyo. Semoga sedikit membantu

Monday, January 21, 2019

Pengalaman Tervonis Influenza A

Selama bertahun-tahun tinggal di Jepang, saya selalu lolos dari vonis influenza A. Meskipun di tahun 2015 pernah mengalami demam tinggi, namun rupanya hanya common cold, atau flu biasa alias masuk angin disertai turunnya sistem imun dan infeksi tenggorokan yang menyebabkan demam.

Selama ini pula saya selalu menghindari vaksinasi. Bukan karena anti vaksin, tetapi karena vaksin itu mahal, saya masih misqueen, dan takut dengan jarum, suntik. Tetapi saya lolos juga dari vonis si A.

Akhir tahun 2018, saya diharuskan untuk imunisasi. Karena saya kerja di sekolah-sekolah yang memang berpotensi terhadap penyebaran influenza. Minggu kedua bulan November, saya divaksin.

Ternyata tidak sesakit yang saya kira saat disuntik, tetapi setelah disuntik saya justru mengalami demam sedikit dan bekas suntikan pegal seolah-olah saya baru dipukul Steve Roger. Selama 4 hari saya mengeluh rasa sakit. Kata teman, itu reaksi normal orang baru divaksin.

Saya sempat lega karena biasanya di bulan Desember adalah waktu untuk terbaring lemah karena common cold. Tetapi saya sehat wal afiat sepanjang Desember.

Hari terakhir di rumah, saya tidur bersama nenek saya, yang kebetulan sedang sakit. Dan saya mulai terasa tertular. Beruntung saya pulang ke Jepang mendapatkan kelas bisnis, jadi saya bisa tidur dan istirahat dengan nyaman.

Sempat demam dua hari, namun kemudian sehat lagi. Tetapi, kabar mengenai influenza outbreak sudah merajalela. Apalagi, Gifu merupakan kota dengan outbreak tertinggi di Jepang. Dan salah satu sekolah tempat saya bekerja mengalami outbreak yang parah.

Sabtu pagi, saya bertemu dengan sensei saya untuk membahas rencana saya kedepan, karena saya memutuskan untuk memperpanjang kontrak kerja dan masih akan berstatus working visa hingga tahun 2020. Sensei saya mengatakan bahwa beliau mungkin kena influenza. Waduh, pikir saya, saat itu, memang merasa tidak enak badan. Tidak demam, melainkan hidung meler dan batuk.

Pulang dari kampus, saya ke Malera. Kali ini bukan untuk shopping, melainkan untuk mengurus kartu kredit. Pulang dari Malera, di tengah perjalanan, saya merasa terengah-engah. Padahal baru makan banyak. Sampai di rumah, mendadak badan saya demam tinggi. Saya ukur dengan termometer suhu badan, mencapai 37 derajat malam hari itu. Namun, masih saya dipaksakan untuk mengikuti rapat I4.

Akibatnya, keesokan harinya, suhu badan saya naik hingga 40 derajat di pagi hari. Saya hanya tidur saja sepagian. Siangnya, suhu saya fluktuatif antara 37 - 39 derajat. Kemudian saya putuskan untuk ke rumah sakit besoknya.

Setelah mendapat ijin dari boss, pergilah saya ke rumah sakit. Dokter menanyakan saya mulai dari kapan terasa demam, apa saja yang di rasakan. Lalu dokter meminta saya untuk cek influenza.

Cek Influenza


Influenza test kit


Pertama, hidung kita dimasukkan alat yang nampak seperti cotton bud panjang. Rasanya seperti apa? Luar biasa sakit. Karena alat itu akan masuk jauh ke dalam hidung dan diputar-putar selama hampir 30 detik. Mata kanan saya sampai kedutan dan hingga saat ini belum berhenti, loh.

Uji Influenza


Kemudian, suster menyiapkan reagent dan memasukkan cotton bud yang sudah terdapat contoh ingus kita ke dalam reagent. Setelah mendapat ekstrak contoh ingus, suster memasukkan alat yang nampah seperti kertas pH ke dalam ekstrak ingus bercampur reagent. Ditunggu 10 menit, lalu keluar hasilnya.

Dan taraaaaaa......dokter dengan enteng mengatakan bahwa saya terkena influenza A. Saya kaget. Tapi kan sudah vaksin influenza, dok. Protes saya. Namun rupanya, vaksin saja tidak cukup untuk mencegah influenza tidak menyerang. Namun, vaksin membantu sistem imun kita untuk sedikit kebal terhadap virus influenza A. Sehingga, demamnya bisa lebih turun.

Akhirnya saya pulang dengan 3 macam obat di tangan. Obat anti-virus bernama Zofuru-ze, obat penurun panas bernama Karona-ru yang diminum hanya ketika demamnya diatas 38 derajat celcius, dan obat radang tenggorokan bernama Transemint.


bungkus obat anti-virus



Hari ini sudah hari kedua sejak saya divonis influenza A, dan sudah hari ke 4 sejak pertama kali demam. Kata teman saya yang pernah mengalami influenza, hari ke 4 dan ke 5 adalah hari rawan penularan virus. Oleh karena itu, pasien influenza biasanya dilarang bertemu dengan orang selama minimal 5 hari.

Karena harus diisolasi, saya terpaksa ambil cuti kerja seminggu. Bukannya senang, namun saya bingung mau ngapain dirumah seminggu tanpa kegiatan? 3 hari ini di rumah hanya makan-tidur-buang air-mandi-makan begitu seterusnya. Punggung dan pantat saya sampai pegal.

Akhir kata, hari ini demam saya sudah sedikit turun, diangka 37 derajat. Semoga semakin membaik dan dimatikan semua virus dalam tubuh saya. Amin.

Untuk readers, jaga kesehatan ya. Jangan lupa untuk selalu makan makanan yang bergizi, cuci tangan dan berkumur setelah pulang dari luar, dan jangan menyentuh bagian wajah secara langsung dengan tangan ketika di luar rumah.

Semoga readers terhindar dari jahanamnya virus influenza A.

penampakan virus A

Saturday, January 5, 2019

Menutup 2018 dengan Drama maskapai All Nippon Airways

Akhir bulan Desember lalu, saya berkesempatan untuk kembali pulang. Setelah melalui drama kartu kredit ditolak berkali-kali, akhirnya kami memutuskan untuk membeli tiket pesawat sekali jalan.

Ketika berangkat, meskipun memesan pada situs Garuda Indonesia, namun rupanya kami mendapatkan jasa layanan Sky Team karena pesawat Garuda tidak beroperasi pad ahari Sabtu. Lantas kami mendapatkan pelayanan dari All Nippon Airways (ANA).

Saya pikir ANA adalah maskapai yang menyenangkan, setelah membaca banyak review dari pelanggan. Tapi rupanya tidak begitu.

Harga yang didapat adalah 76.040 yen, setara dengan sekitar 9 juta rupiah untuk sekali jalan dari Haneda ke Yogyakarta. Sedangkan dua bulan sebelumnya, saya mendapatkan harga 50.240 yen untuk perjalanan pulang pergi Haneda - Yogyakarta dan Yogyakarta - Haneda dari Garuda Indonesia.

ANA mahal, pikir saya. Namun, saya berharap pelayanan ANA sangat memuaskan seperti yang orang bilang. Ternyata, nasib saya tidak seberuntung orang lain.

Sebetulnya, pada saat pemesanan, kami tidak dapat memilih kursi seperti biasanya. Saya pikir, nanti bilang ke staff-nya saja. Karena pada penerbangan sebelumnya, saya ditempatkan disebelah Mas Fikri, meskipun kami tidak memesan tiket secara bersamaan.

Namun sangkaan saya salah. Dengan dalih kursi telah penuh, kami terpisah tempat duduk. Ditambah lagi, ternyata kami harus mengambil bagasi di Jakarta terlebih dahulu dan check in lagi untuk penerbangan selanjutnya.

Saya meradang seketika. Karena ketakutan untuk penerbangan domestik yang mempunyai limit bagasi hanya 20 kg per orang. Sedangkan bagasi saya satu koper 30 kg dan bagasi Hase 25 kg. Namun Hase menenangkan saya untuk tidak marah-marah dengan staff ANA.

Masih kesal, kami menuju ke pesawat. Malang bagi saya, saya mendapatkan tempat tepat di tengah dua pria. Sebelah kiri saya bule amerika oversize, dan sebelah kanan saya mas-mas mahasiswa Indonesia yang kuliah di Amerika. Badannya bisa dibilang tinggi, besar, namun berotot bagus. Saya kurang nyaman karena bule itu sudah menempati setengah kursi saya.

Tibalah kita take off. Si bule sudah tidur. Mas mahasiswa masih menonton Deadpool dengan tertawa. Saya kesulitan untuk duduk karena pantat saya bersenggolan dengan pantat bule. Bahkan kursi saya tidak bisa disandarkan kebelakang karena rupanya orang di belakang mempunyai kaki yang panjang.

Saya kemudian ke toilet, sambil melihat-lihat kursi. Rupanya masih ada cukup banyak kursi kosong. Bahkan yang dua kursi bersebelahan pun masih banyak. Saya kembali meradang, merasa dipermainkan oleh staff ANA.

Pramugari ANA juga rupanya tidak seramah pramugari maskapai lain yang pernah saya naiki. Tidak ada rasa simpati kepada saya yang benar-benar nampak kesulitan untuk sekedar duduk. Sampai akhirnya saya dengan nada sedikit judes, meminta untuk pindah kursi.

Beruntung, pramugari mengijinkan saya untuk pindah ke kursi yang kosong di seberang. Akhirnya urusan duduk dan tidur teratasi.

Satu pelajaran bagi saya, jika badan kita oversize, atau kaki kita panjang, lebih baik kita sadar diri dengan memilih kursi yang lebih besar atau ruang kaki yang lebih panjang. Bisa kan, memilih kursi di depan yang ruang kakinya lega. Atau kelas bisnis yang kursinya lebih besar dan nyaman.

Dengan begitu, kita tidak akan mengganggu kenyamanan penumpang lain, yang mungkin saja telah membayar lebih dari harga penumpang lain.

Namun drama saya belum berakhir. Saya dibangunkan oleh pramugari pada pukul setengah 3 pagi untuk sarapan. Lagi-lagi saya kurang beruntung. Makanannya ternyata tidak seenak sarapan di Garuda. Tapi masih bisa saya terima karena untuk satu jam, saya bisa memejamkan mata.

Pada saat landing, saya hampir kejang-kejang akibat pergerakannya sangat kasar. Hampir semua penumpang tergoyang. Bahkan, bagian atas pesawat ikut bergoyang ke kiri dan kanan, membuat saya tidak berhenti mengucap syahadat. Ini adalah pendaratan paling kasar yang pernah saya alami.

Setelah mengambil bagasi, kami melakukan cek in kembali. Was-was dengan jumlah bagasi. Koper saya hampir saja kena charge. Namun, saya yang sudah tidak enak hati sejak sebelumnya, dengan sedikit judes, kami menjelaskan kepada staff di Jakarta.

Beruntung mereka memberikan kami kelonggaran setelah debat panjang berakhir. Meski mbaknya terlihat benar setengah hati.

Akhirnya kami sampai juga di Yogya. Dan menutup 2018 dengan janji untuk tidak akan pernah lagi menggunakan maskapai ANA, kalau tidak benar-benar kepepet.


Friday, December 21, 2018

Aku Benci Kamu!

Kamis lalu adalah hari terakhir di salah satu sekolah TK tempat saya mengajar. Ada hal yang membuat saya tersenyum pada hari itu.

Sebut saja namanya A, 3 tahun. Setiap minggu saat saya jemput untuk dibawa ke kelas saya, dia selalu mengatakan "Aku benci Diana sensei!!".

Aku selalu menjawab dengan, " Terima kasih, A".

Lalu dibalasnya, "Ini bukan pujian!!".

A adalah anak yang pintar untuk usianya. Dia bisa mengingat alfabet dari A ke Z ataupun Z ke A. Artinya, dia sudah mengenal huruf alfabet. Tentu saja dia sudah bisa membaca huruf hiragana.

A tidak bisa diam. Saat di kelas, dia suka berkeliling. Tapi hebatnya, dia mendengarkan apa yang saya sampaikan, dan mengingatnya.

A menyukai Shinkalion. Setiap minggu pasti dia akan bercerita kepada saya tentang Shinkalion.

Minggu ini adalah minggu terakhir di tahun 2018 untuk kelas saya. Dan karena berdekatan dengan hari Natal, maka sekolah kami memberikan hadiah natal berupa candy canes.

Kamis itu, waktu saya menjemput anak-anak, saya bertemu A di depan gerbang. Dan beginilah percakapan kami.

"Diana sensei, terima kasih permennya (candy cane). Aku sudah makan semalam. Enak sekali."

Lalu saya elus pipi A seperti biasanya. A nampak senang sekali sampai memegang tangan saya, tanda dia enggan melepaskan tangan saya dari pipinya.

Tiba-tiba dia memeluk saya. Lalu saya peluk dia erat.

"Besok libur musim dingin ya? Sensei ga ketemu lagi donk sama A. Selamat liburan yaa"

"Tapi tahun depan kan kita ketemu lagi. Diana sensei jangan sedih"

Saya tersenyum geli mendengar penuturan A. Biasanya, dia selalu bilang kalau dia membenci saya.

Kemudian datanglah B. Teman satu kelas A, tapi di kelas saya berbeda jam kelas. B ini salah satu anak favorit saya, namun juga jadi salah satu anak yang paling susah untuk saya kendalikan.

B datang dan meminta tos tangan. Kami melakukan tos. Lalu A bilang ke B.

"Kamu dapat permen dari Diana sensei?"

"Iya dapat, tapi aku belum makan."

"Aku udah habis. Enak lho, buruan dimakan."

Kemudian B berkata pada saya,

"Sampai ketemu lagi tahun depan"

"B kun, B kun, tadi aku dapat gyuut (pelukan) dari Diana sensei lho", kata A dengan raut wajah yang bahagia.

Kemudian B pun langsung memeluk saya.

Lucu rasanya melihat tingkah anak-anak seperti A.

Meski dimulut mereka bilang benci, aslinya mereka suka.

Saya belajar banyak dari anak-anak.

Friday, December 14, 2018

Adab makan ala anak-anak Jepang

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah membahas mengenai Kyuushoku Touban , yaitu sekelompok anak yang ditugaskan untuk serving makan siang di sekolah. Kali ini, kita akan membahas mengenai adab makannya.

Karena hanya di tingkat TK, kami para guru diwajibkan untuk ikut makan bersama murid, maka yang akan saya tulis ini adalah adab anak-anak dalam makan. Namun, hal ini sesungguhnya berlaku untuk semua umur.

Tata cara makan di Jepang


Adab sebelum makan


1. Cuci tangan dan sterilkan dengan alkohol


Sedari kecil, anak-anak jepang telah dididik untuk selalu menjaga kebersihan tangan. Di sekolah tempat saya mengajar, guru meminta para Kyuushoku touban untuk tidak membagikan makanan kepada mereka yang belum cuci tangan.

2. Menyiapkan perlengkapan makanan



Di Jepang, sedari umur 3 tahun, anak diajarkan untuk bertanggungjawab terhadap barang yang mereka miliki. Salah satunya perlengkapan makan yang terdiri dari: sendok, garpu, sumpit, gelas, sikat gigi dan alas makan serta napkin.

3. Menunggu Kyuusoku touban untuk membagikan makanannya


Guru akan menghidangkan makanan ke dalam piring-piring, lalu Kyuushoku touban akan berkeliling membagikannya. Mereka akan bertanya kepada anak per anak apakah mau sukunai (sedikit, merujuk ke porsi yang lebih sedikit) atau ippai (banyak, merujuk ke porsi biasa), begitu cara yang dilakukan di sekolah saya.

Untuk yang mempunyai alergi, biasanya disediakan makanan khusus.

4. Dilarang memakan sebelum semua makanan dibagikan ke semua anak


Anak-anak tidak diijinkan makan sebelum semua makanan terbagikan dan membaca doa bersama.

5. Berdoa sebelum makan


Siapa bilang orang Jepang tidak berdoa?
Kebetulan di sekolah tempat saya mengajar adalah sekolah yang mengintegrasikan ajaran agama Budha. Sehingga, mereka mengenalkan tata cara berdoa pada Tuhan kepada anak-anaknya.

Adab ketika makan




1. Dilarang berbicara dengan mulut penuh makanan

Di Jepang tidak melarang untuk berbicara dan ngobrol saat makan. Bahkan, terkadang meeting pun dilakukan bersamaan dengan makan. Hanya saja, ada etika untuk tidak berbicara di saat mengunyah makanan atau saat mulut penuh dengan makanan.

2. Habiskan makanan sebelum meminta tambah

Okawari atau menambah makanan, hanya boleh dilakukan ketika anak-anak telah memakan dessert. Jika masih ada sisa makanan di tempat, dia tidak diijinkan menambah makanan.

3. Dessert dimakan terakhir

Pencuci mulut tidak boleh dimakan jika nasi, sayur dan lauknya belum habis.

4. Sikap makan yang baik


Guru dituntut untuk mendisiplinkan laku murid ketika makan. Seperti kaki yang tidak boleh keluar dari kursi, duduk tegak ketika makan, tidak berkeliling ruangan selama makan, tidak boleh bermain dengan makanan.

Pun juga ketika ada makanan yang tidak sengaja jatuh. Anak-anak harus meminta maaf karena telah membuang makanan.

Karena kebiasaan dari kecil inilah, orang Jepang selalu menghabiskan makanan.

5. Makanlah walau kamu tidak suka


Kebanyakan anak kecil, seperti di film Crayon Shinchan, mereka tidak suka sayuran. Tetapi, di sekolah, mereka tetap diharuskan untuk memakan makanan yang tidak mereka sukai. Tetapi, guru akan memberikan porsi yang lebih sedikit dibanding anak lainnya.

Jika mereka berhasil memakannya habis, maka guru akan memuji mereka. Semakin sering dipuji, jumlah sayur yang akan mereka makan selanjutnya akan bertambah. Maka lama kelamaan, mereka akan dapat memakan sayuran yang mereka tidak sukai.

Salah satu murid kesayangan saya, K-kun, dia tidak suka makan jeruk segar meski dia menyukai jus jeruk. Guru kelasnya sudah kehabisan akal untuk membuat K memakan jeruk segar.

Suatu ketika, saya duduk di sebelah K ketika makan, kebetulan dessert-nya adalah jeruk. Ketika yang lain mendapatkan 1 buah jeruk utuh, Kouyou hanya diberi 3 bagian. Gurunya sudah mewanti-wanti agar K menghabiskannya. Kouyou menggerutu.

Saya tanya kenapa, dia bilang jeruk segar itu pahit. Lalu, saya teringat jaman saya kecil yang tidak suka makan jeruk segar juga. Lalu alm. pakdhe saya mengajarkan cara memakan jeruk tanpa memakan lapisan kulit tipisnya.

Yaitu jeruknya dibuka, hingga keluar bagian dagung buahnya. Lalu memakan daging buahnya tanpa memakan kulit tipisnya. Dan saya mengajarkannya kepada K.

Dia menikmatinya. Lalu, diluar dugaan, K meminta tambah jeruk. Gurunya terkejut, lalu diberikannya 1 buah jeruk. Dan habis.

Beberapa waktu kemudian, gurunya berterimakasih kepada saya, karena K sekarang mau makan jeruk. K bilang saya yang mengajarinya. Rasanya senang sekali, ada hal kecil yang bisa saya lakukan.

Adab setelah makan



1. Berdoa setelah makan


Setelah selesai makan, mereka melakukan gochisousama (ucapan terima kasih setelah makan), lalu diakhiri dengan berdoa setelah makan.

2. Berberes alat makan dan meja


Setelah selesai berdoa, anak-anak diharuskan untuk mengembalikan piring dan mangkok yang digunakan untuk makan, kedalam keranjang. Kyuushoku touban akan membawanya ke kantin sekolah.

Alat makan pribadi dimasukkan kedalam tempatnya, lalu dimasukkan kedalam tas masing-masing untuk dibawa pulang.

Meja dilap dengan tissue. guru biasanya akan menyemprotkan alkohol, lalu akan mengelapnya dengan lap kain. Di SD, anak-anak yang melakukannya sendiri.

3. Mencuci tangan dan menyikat gigi


Setelah selesai berberes, Kyuushoku touban akan mengangkut semua perlengkapan dan mengembalikannya ke kantin sekolah.

Kemudian, anak-anak segera menuju ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan menyikat gigi. Mereka tidak anakn mendapatkan istirahat main jika mereka belum menyikat gigi.

Setelah selesai, barulah mereka boleh main di luar selama 1 jam istirahat.

Begitulah adab makan siang di sekolah saya.

Ada pengalaman lain di sekolah teman-teman semua? Boleh donk diceritakan di kolom komentar :)