Saturday, June 23, 2018

Lelakiku

Tujuh belas tahun yang lalu, jika aku ditanya tentang bagaimana kriteria lelaki idaman, aku pasti akan menjawabnya yang berkulit putih, tampan,  tinggi, smart, pintar, baik hati dan juga akhlaknya, dan humoris. Selama perjalanan hidup, hampir tidak pernah kutemui lelaki dengan seemua kriteria tersebut. Ada banyak, namun tidak ada yang mempir ke dalam hidup saya. Yang mampir kebanyakan mempunyai sebagian dari kriteria tersebut. 

Lima belas tahun kemudian, dipertemukanlah saya dengan seorang lelaki yang sama sekali tidak pernah terbayangkan untuk bahkan mendekat padanya sekalipun. Bagaimana tidak? Wajahnya hampir setiap tahun menghiasi berita kampus dengan berbagai prestasinya. Hampir setiap orang mengenal wajahnya, sedangkan saya yang saat itu mulai tidak percaya tentang relationship sudah tidak mau berurusan dengan laki-laki, dilirik orang pun tidak. 

Seingin-inginnya orang, ketika Tuhan berkehendak, maka takdir membelokkan semua rencana yang sudah tersusun indah. Takdir menyatukan kita pada tempat yang baru. Kami menjadi kawan dekat dan sering berbagi kisah. Sejauh yang aku tahu, dia adalah orang yang mendeklarasikan dirinya sebagai temanku saat dia menemukanku menangis di bawah tangga saat itu. Padahal kita baru 2 kali ngobrol. Kemudian dia menepati janjinya hingga sekarang. Dalam keadaan apapun diriku, ketika bersenang-senang dengan beasiswa, ketika bersusah payah mengais-ngais yen, dan ketika berlelah-lelah bekerja seperti sekarang, dia adalah satu-satunya teman yang membuatku nyaman untuk sekedar buang angin di depannya.

Tuhan maha baik. Itu yang aku percaya sedari dulu. Bagaimana tidak, lima belas tahun memimpikan dan mendoakan ada orang yang diinginkan, lalu booom semacam ladang gandum yang berubah menjadi koko krunch, muncullah dia yang entah dari mana datangnya. Berkulit sangat putih seperti sapi putih yang baru lahir, wajahnya tampan dengan lesung pipit mengalahkan Afgan, orangnya cerdas luar biasa, pintar dan berprestasi hingga tingkat dunia, baik hati, akhlaknya baik dan sopan, menyenangkan, dan sering bercanda tanpa menyakiti atau merendahkan. Tuhan maha baik. Hanya itu yang bisa aku ungkapkan, karena aku tak tahu lagi kalimat seperti apa yang harus aku katakan mengenai rasa syukurku yang meluap-luap.

Dia tidak romantis, dan tidak akan pernah tiba-tiba memberimu hadiah atau kejutan kecil. Coklat pun tidak. Bahkan dia melarang mengonsumsi coklat kebanyakan. Tapi tiba-tiba dia akan memberimu banyak sekali makanan sehat, vitamin, dan sebagainya. Memaksa saya memakan banyak sayur yang saya tidak suka. 

Kapan kita travelling lagi?


Dia menyemangatiku tanpa meninggikan dirinya atau merendahkanku. Dia tidak pernah protes jika aku kebanyakan ngegame. Karena dia juga gamer. Dia tak pernah protes jika aku kebanyakan nyanyi saat bersamanya. Meski suaraku sumbang dan cempreng. Dia hanya marah jika aku tak bisa berkata tidak untuk sesuatu yang aku tidak mau lakukan. Dan dia satu2nya orang yang bisa berhenti membuatku marah-marah dan cemburu. 

Jika saat ini kita masih berjalan dari dan ke rumah masing-masing, maka sebentar lagi kita akan berjalan dengan rumah kita bersama. Sebentar lagi. Amin.

Thursday, June 21, 2018

Perbedaan Hoikuen dan Yochien

Halo readers, kali ini saya akan membahas mengenai bidang yang sangat dekat dengan saya 2 bulan terakhir ini. Yaitu tentang Pendidikan Anak Usia Dini di Jepang. Kebetulan, salah satu lokasi kerja saya sebagian besar bersinggungan dengan sekolah PAUD, disamping SD dan SMP, dan saya sendiri selama 6 tahun di Jepang baru ngeh tentang hal ini.

PAUD di jepang dibedakan menjadi 2, hoikuen (保育園) dan youchien (幼稚園). Selama 6 tahun saya tinggal di Jepang, saya belum paham juga dalam membedakan antara Hoikuen dan Youchien ini. Dulu, saya mengiranya bahwa Hoikuen adalah untuk anak usia 0 - 3 tahun, sedangkan Youchien adalah untuk anak usia 3 - 6 tahun. Ternyata saya tidak salah. Namun, saya kurang lengkap. Berikut penjelasan singkat mengenai Hoikuen dan Yochien.

Hoikuen (保育園) / Nursery School

Hoikuen disebut juga Nursery School atau Day Care. Biasanya, PAUD ini diperuntukkan bagi ibu yang bekerja. Karena disini, para ibu bekerja bisa menitipkan anaknya dari usia 6 bulan hingga 6 tahun (tergantung peraturan setiap Hoikuen di setiap kota). Di Hoikuen, orang tua tidak perlu menyediakan bekal makan siang, karena pihak sekolah yang menyediakannya.

Secara akademis, di hoikuen rata-rata anak akan lebih diajarkan tentang fun activity seperti prakarya, olahraga, mendongeng, musik dan sebagainya. Sehingga, dalam hal pelajaran, akan dirasa lebih kurang dari Youchien. Hoikuen tidak mempunyai seragam khusus dan tidak ada target akademis yang harus dicapai anak.

Tujuan dari Hoikuen ini adalah untuk membangtu tumbuh kembang anak baik secara fisik ataupun mental. Karena ibu yang bekerja tentu saja akan mempunyai waktu yang lebih sedikit dari ibu rumah tangga, sehingga disinilah tempat yang terpercaya bagi para ibu bekerja untuk menipkan anaknya. Oleh karena itu, hampir semua Hoikuen bekerjasama dengan dokter, suster dan ahli nutrisi.

Youchien (幼稚園) / Kindergarten

Youchien disebut juga Kindergarten atau Taman Kanak-Kanak. PAUD ini lebih dikhususkan untuk tujuan edukasi. Sehingga Youchien mempunyai lebih banyak pelajaran dibandingkan dengan Hoikuen. Anak-anak yang bersekolah di Youchien pun diharuskan membawa bekal makan siang (meski terkadang ada Youchien yang menyiapkan bekal makan siang dari sekolah), dan belajar seperti matematika, PE, menulis dan membaca, dan pelajaran lainnya. Di Youchien, anak-anak diharuskan memakai seragam sekolah.

Anak-anak boleh masuk Youchien setelah melewati ulang tahun ke 3. Biasanya, setelah seorang anak berulang tahun ke 3, dia dapat masuk ke kelas pra-TK. Satu tahun kemudian, dia  baru akan ke kelas paling muda di TK (nenshou/ 年少). Waktu anak-anak berada di Youchien pun lebih sedikit daripada di Houkuen. Di Youchien, anak-anak mulai masuk kelas pada jam 10 pagi hingga jam 2:50 siang. Sedangkan di Houikuen bisa dari pagi jam 7:30 hingga 19:00 (tergantung orang tua). Namun, di Youchien tidak terdapat tidur siang seperti di Hoikuen.

Hanazono Kindergarten, tempat saya bekerja saat ini

Tingkatan Kelas pada Hoikuen dan Youchien

Pada Youchien, tingkatan kelas dimulai ketika seorang anak sudah mencapai usia 3 tahun. Berikut adalah tingkatan kelas pada Youchien:

Pra-TK --> Mulai usia 3 tahun hingga bulan April tahun berikutnya. Sehingga anak-anak akan masuk ke kelas Pra-TK dalam waktu yang tidak bersamaan.

Nenshou / 年少 --> Usia 3 (sudah berusia 3 tahun di bulan April) - 4 tahun
Jika seorang anak lahir di bulan Mei, maka dia harus menunggu tahun berikutnya untuk masuk ke kelas Nenshou, sebagai gantinya, dia akan masuk ke kelas Pra-TK, karena di bulan April, dia belum berusia 3 tahun.

Nenchuu / 年中 --> Usia 4 - 5 tahun

Nenchou / 年長 --> Usia 5 - 6 tahun

Pada Hoikuen, tingkatannya sama dengan Youchien, hanya saja untuk pra-TK mempunyai rentang waktu yang lebih panjang, yaitu sejak anak menginjak usia 6 bulan (beberapa Hoikuen membolehkan usia 4 bulan).

Kurikulum PAUD di Jepang

Sejauh yang saya tahu, PAUD di Jepang mempunyai standar kurikulum yang sama. Anak-anak diajar tentang tata krama, interaksi dengan orang lain, bahasa nasional (bahasa jepang), dan juga diajarkan tentang bagaimana bekerja sama dengan orang lain (team work) juga tentang rasa bertanggungjawab.

Guru PAUD biasanya tidak diperkenankan untuk mengajarkan tentang membaca dan menulis huruf dan angka. Karena di Jepang, hal itu merupakan tugas orang tua di rumah. Sepulang anak-anak dari sekolah, guru PAUD akan mengirimkan email yang berisi kegiatan anak-anak pada hari itu. Dan juga mereka akan menuliskan beberapa catatan penting dalam buku harian tumbuh kembang anak yang selalu ada di dalam radoseru anak.

Untuk lebih jelasnya mengenai perbedaan kurikulum PAUD di Youchien dan Hoikuen, akan saya bahas di artikel selanjutnya.


Wednesday, June 13, 2018

Diary Ai: 13 Juni 2018

Halo readers, saya ingin berbagi cerita seru mengenai pengalaman saya berinteraksi dengan murid-murid saya, terutama untuk mereka yang mengikuti kelas after school nya.

Kemarin, salah satu murid saya di kelas hari Senin, Shigeharu, ngotot mau ikut kelas hari Rabu. Spontan saya tanya ke manager saya apakah Shigeharu ikut kelas Rabu atau tidak, mengingat ada beberapa anak yang mengikuti kelas bahasa Inggris 2 kali seminggu. Ternyata memang Shigeharu tidak ada jadwal di hari Rabu.

Usut punya usut, dia dicari-cari oleh guru kelasnya karena nggak kelihatan di barisan antrian bus yang mengantar ke rumahnya. Begitu tahu Shigeharu ada di barisan anak-anak yang saya bawa, guru kelasnya langsung memanggilnya. Ternyata Shigeharu tidak mau pulang. Dia mau ke kelas Inggris. Kemudian dia memeluk kaki saya erat, seakan mengatakan dia ga mau pulang. Lantas guru kelasnya menggendongnya, dan dia mulai menangis dan berteriak "Aku ingin belajar bahasa Inggris".

Belum pernah ada anak TK yang seantusias ini dalam belajar bahasa Inggris. Luar biasa Shigeharu.
Dia memang sejak trial lesson sudah menunjukkan minat dan bakatnya dalam berbahasa Inggris. Untuk anak seusianya (3 tahun), secara sadar mengikuti les bahasa Inggris dan mengikuti semua aktivitas dengan senyuman dan semangat itu adalah sebuah hal yang langka. Saya pikir, Shigeharu kelak akan jadi orang yang jago berbahasa Inggris dengan cepat.

Sunday, June 10, 2018

Jepang itu Mahal Kawan, Biasakanlah

Halo readers, apa kabar puasanya? Sudah menjelang Idul Fitri, semoga ibadahnya semakin lancar dan semakin berat timbangannya, amin.

Kali ini saya tidak akan membahas mengenai bagaimana puasa di Jepang, karena hal tersebut akan saya ceritakan mungkin minggu depan saat Idul Fitri, kalau nggak lupa.

Setelah beberapa waktu lalu saya sempat membahas mengenai biaya hidup di Jepang, kali ini akan saya lanjutkan dengan detail pengeluaran apa saja yang harus kita perhatikan selama hidup di Jepang. Karena kita sebagai orang asing, ada banyak sekali pengeluaran yang nantinya akan datang kepada kita, dan hal tersebut akan menjadi aneh bagi kita karena kita tidak pernah melakukan sebelumnya ketika di Indonesia.

http://www.smosh.com/articles/5-things-everyone-can-learn-spongebob-squarepants-patrick-star

Biaya hidup di Jepang yang perlu kita tahu

1. Deposit Money

Uang deposito ini adalah uang yang harus kita bayarkan saat kita ingin menyewa apartemen/asrama. Besarannya rata-rata adalah setara dengan satu bulan uang sewa, ada pula yang dua bulan uang sewa atau dalam nominal yang sudah ditentukan oleh pemilik apartemen. 

Uang deposito ini hanya dibayarkan sekali, yaitu pada awal perjanjian atau kontrak. Dan uang ini akan kembali apabila kita keluar dari apartemen/asrama. Besarannya bisa kembali penuh 100%, 50% atau jumlah tertentu, tergantung kerusakan dan kebersihan tempat kita ketika ditinggalkan. Karena biasanya, uang ini akan digunakan oleh pemilik apartemen untuk mengganti biaya kerusakan (bila ada) yang kita perbuat selama tinggal di tempat tersebut.

Oleh karena itu, readers sekalian, bagi yang hendak menetap di Jepang, diharapkan untuk mempersiapkan uang deposito ketika hendak berangkat ke Jepang. Ada baiknya bertanya terlebih dahulu dengan pengelola asrama, atau teman yang membantu tentang besaran uang deposito yang harus dibayarkan. Tujuannya adalah supaya tidak memberatkan readers semua ketika sampai di Jepang tau-tau harus membayar sekian puluh ribu yen.

2. National Health Insurance

Sebagai orang asing, kita tidak akan lepas dari asuransi kesehatan yang wajib dibayarkan oleh setiap penduduk yang tinggal di Jepang dalam kurun waktu minimal 6 bulan. Dan kita tidak akan bisa menghindari ini, karena asuransi kesehatan ini merupakan program pemerintah Jepang. Sehingga, setiap bulannya kita secara otomatis akan mendapatkan tagihan pembayaran asuransi langsung dari balai kota.

Besarannya berbeda-beda, tergantung oleh dimana kita tinggal dan status visa kita. Untuk mahasiswa, di Tokyo, beberapa tempat mewajibkan untuk setiap mahasiswa single untuk membayar kurang lebih 1000 yen. Di Gifu, setiap mahasiswa dibebankan 2200 yen setiap bulan untuk asuransinya. Sedangkan untuk orang yang sudah bekerja, jumlah yang dibebankan akan menjadi lebih banyak. Untuk single, di Gifu besarannya sekitar 10.000 yen, dan akan bertambah apabila kita sudah menikah dan punya anak. 

Berbeda dengan kebanyakan sistem asuransi di Indonesia yang akan hangus dalam kurun waktu tertentu apabila tidak ada klaim. Asuransi dari pemerintah jepang ini dapat digunakan untuk berbagai hal. Yang utama adalah potongan 70% biaya berobat di klinik maupun di rumah sakit. Selain itu, kita dapat menggunakannya sebagai jaminan dalam membeli handphone, atau mendaftar kartu kredit. 

Kita dapat membayar uang asuransi ini untuk 6 bulan sekali waktu, atau menyicil per bulan. 

Bagaimana jika telat membayar atau tidak terbayarkan? 
Tenang saja, pihak balai kota akan mengirimkan kembali tagihannya.

Bagaimana jika kita tidak pernah membayarkan dan kita tidak pernah menggunakannya? 
Menurut cerita beberapa teman yang pernah mengalami, ketika kita mengajukan permohonan untuk pemutusan segala hal yang berkaitan dengan kepulangan kita ke Indonesia, maka kita diwajibkan untuk melunasinya.
Namun ada beberapa cerita teman yang mereka lolos tidak ditagih.

Namun, ada baiknya jika kita rutin membayarkannya setiap bulan. Karena musibah siapa yang tahu?

Karena sudah subuh, dan saya mau lanjut tidur, maka dicukupkan dulu dengan 2 poin yang paling penting tentang biaya di jepang yang wajib kita tahu. 
Selanjutnya akan saya update sepulang kerja.






Monday, June 4, 2018

Apa yang harus dilakukan ketika di-bully?

Halo readers, barusan kebetulan banget habis mendengarkan ceramah dari Prof. Quraish Shihab disini, dan temanya adalah tentang apa yang kita harus lakukan menurut Islam ketika kita di-bully dan difitnah. Malam sebelumnya, kebetulan pula saya baru menerima telepon dari salah seorang kawan yang baru saja bercerita bahwa dia habis difitnah. Jauh sebelum itu, saya sendiri pun sempat menjadi korban bullying dan fitnah pada komunitas yang sama dengan kawan saya tersebut.

Ulasan dari Prof. Quraish Shihab ini sungguh sangat menyejukkan. Untuk itu, saya ingin merangkum apa yang telah disampaikan beliau, dengan menambahkan tips yang saya pernah lakukan ketika saya berusaha melawan banyaknya bullying dan fitnah yang menimpa diri saya. Nabi saw saja sering difitnah, apalagi Jokowi? Apalagi cuma seonggok saya?? Yuk kita simak tips bagaimana seharusnya kita menghadapi fitnah.

Sumber: http://liputanislam.com/kajian-islam/tafsir/fitnah-dalam-al-quran-2/


Tips melawan bullying dan fitnah

1. Berusaha menghindar dari tempat fitnah

Yang dapat kita lakukan pertama kali adalah dengan menghindari tempat-tempat datangnya fitnah. Dalam pemahaman saya, dan yang pernah saya lakukan, saat itu adalah bukan hanya menghindari tempat-tempat dimana fitnah itu berasal, tetapi juga menghindari si penyebar fitnah (yang kebetulan pada saat itu mereka tergabung dalam satu genk/kelompok).

Diharapkan, dengan kita menghindari tempat-tempat yang bisa menimbulkan fitnah dan kesalah pahaman ini, kita bisa lebih mengontrol emosi terlebih dahulu akan datangnya fitnah. Sehingga, jika ada fitnah dan kesalah pahaman, tidak akan serta merta orang menilai bahwa fitnah itu benar hanya karena kita termakan emosi.

2. Menjaga perilaku dan mencoba memahami perspektif orang lain

Kemudian, tentunya dengan adanya fitnah, hal ini merupakan juga peringatan bagi kita untuk menjaga perilaku. Mungkin, ada orang yang tidak suka dengan apa yang kita lakukan, baik atau buruk. Karena yang namanya manusia, apapun yang kita lakukan, entah itu baik atau buruk, pasti akan selalu saja ada orang yang mencari-cari kesalahan kita untuk sekedar mengatakan bahwa kita itu buruk. Sehingga, masa seperti ini, akan menjadi masa yang lebih tepat bila digunakan untuk memahami perspektif dari orang-orang yang menyebar fitnah tersebut, kenapa mereka sampai berfikiran seperti itu.

3. Berusaha menjelaskan secara obyektif dan argumentatif

Jika fitnah itu telah tersebar luas ketika kita sudah menjauhi tempat dan si penyebar fitnah itu, maka yang harus kita lakukan adalah menjelaskannya. Bagaimana kita menjelaskan duduk perkaranya? Jelaskanlah fitnah dan kesalah pahaman tersebut secara obyektif dan dengan argumentasi yang baik bahwa fitnah tersebut adalah tidak benar.

Selain itu, kita harus telusuri argumentasi orang tersebut. Apakah fitnah itu bersumber karena karya kita, tulisan kita, atau hanya karena sensitivitas tanpa alasan semata. Kebanyakan fitnah itu bersumber dari sensitivitas manusia semata yang menunjukkan betapa kotornya hati si penyebar fitnah tersebut.

Pengalaman saya, saya paling malas untuk menjelaskan kepada orang-orang. Saya hanya akan menjelaskan detail duduk perkaranya hanya kepada orang yang berani bertanya kepada saya secara langsung. Karena bagi saya, orang yang bertanya kepada saya mengenai sebuah kebenaran adalah orang yang betul-betul peduli kepada saya. Dan orang-orang yang seperti itu, saya anggap sebagai saudara saya, dan orang-orang seperti itu di mata saya adalah orang-orang yang baik hatinya.

4. Buktikanlah bahwa fitnah itu tidak benar

Kemudian, yang kita harus lakukan adalah membuktikan ketidakbenaran fitnah tersebut melalui sikap-sikap keseharian kita. Yakinlah bahwa dengan menunjukkan sikap kita yang apa adanya kita secara jujur dan bertentangan dari  fitnah itu, maka lama-kelamaan fitnah tersebut justru akan menjadi bumerang bagi si penyebar fitnah.

Dan bagi kita yang apabila kita mendapatkan informasi sebuah berita yang belum tentu kebenarannya, atau mendapati fitnah, yang harus kita lakukan adalah jangan terpancing dengan hal-hal tersebut. Jangan menanggapi fitnah dengan menyebarkannya, apalagi dengan menambahkannya.

Dan kepada orang yang memfitnah dan mem-bully kita, harus kita tanamkan ke diri kita, bahwa kita hidup bukan dari uang mereka. Kita hidup bukan dari hasil jerih payah dan keringat mereka. Kita sakit, mereka tidak pernah ada. Kita senang, mereka pun tidak pernah ada. Maka, sejatinya, orang-orang seperti itu bukanlah kawan kita, bahkan sejatinya pun kita dengan mereka tidak saling mengenal. Tapi jangan anggap mereka musuh kita. Doakanlah agar mereka suatu saat menyadari bahwa yang mereka lakukan itu salah. Dan doakanlah agar suatu saat mereka mengerti bagaimana rasanya berada di posisi kita.

Sebuah reminder untuk kita dalam konteks hubungan antar manusia, untuk selalu menjaga kebaikan diantara manusia satu dengan yang lainnya. Semoga kita senantiasa terhindar dari fitnah, dan semoga kita bukan termasuk orang yang suka membuat fitnah atau menyebarkan fitnah. Amin.


Saturday, June 2, 2018

Pengalaman Mencari Kerja di Jepang

Halo readers, apa kabar? Sepertinya sudah lama sekali saya tidak menulis. Mati ide menjadi alasan utama saya kenapa tidak menulis sekian lama. Tapi, saya paksakan juga hari ini untuk menulis tentang sesuatu yang pernah saya alami, yaitu tentang pengalaman saya kesana kemari mencari alamat kerja.

Sekedar berbagi pengalaman mencari kerja yang pernah saya lakukan, ada beberapa cara yang bisa kita tempuh untuk mencari kerja di Jepang.

Source: https://www.talentsquare.com/blog/9-qualities-great-job-seekers/

Beberapa cara mencari kerja di Jepang


1. Melalui rekomendasi tempat kerja dari kampus

Pertama, hal yang paling dekat dengan kita adalah kampus atau universitas tempat kita belajar. Kampus merupakan tempat utama dari perusahaan untuk berpromosi dan mencari calon-calon pekerja terbaik. Disamping itu, kita akan mendapatkan rekomendasi dari sensei kita secara langsung, yang akan menjadi pertimbangan kuat perusahaan untuk menerima kita.

2. Datang ke Job Fair

Di Jepang juga ada Job Fair. Memang tidak semua perusahaan yang membuka booth stand di Job Fair itu juga akan melakukan penerimaan formulir atau aplikasi penjaringan tenaga kerja, namun beberapa perusahaan melakukannya bahkan hingga ke tahap wawancara di tempat. Untuk yang bahasa Jepang-nya pas-pasan, jangan patah semangat, karena beberapa perusahaan, terutama perusahaan multinasional atau perusahaan besar dan berskala internasional, selalu menyediakan staff yang bisa berbahasa asing dan juga sangat welcome terhadap pelamar orang asing. Informasi mengenai Job Fair bisa didapatkan juga melalui universitas, ataupun situs-situs penyedia layanan pencarian kerja.

3. Melamar langsung ke perusahaan

Saya pernah beberapa kali melamar langsung ke perusahaan, atas rekomendasi dari beberapa orang-orang besar yang kebetulan saya pernah bekerja sama dengan beliau-beliau di sebuah kesempatan. Biasanya, tes seleksi akan dilakukan secara online, dan dalam waktu yang tidak bersamaan dengan pelamar lainnya. Meskipun gagal dalam wawancara terakhir, namun bagi saya, tipe melamar pekerjaan ini menjadi beban yang sangat berat dibandingkan dengan tipe melamar kerja lainnya. Karena kita membawa nama seseorang dan harus berjuang keras membuktikan bahwa rekomendasi nama kita ke perusahaan yang dibawa benar-benar terbukti akurat.

Ketiga cara diatas, pengalaman saya, saya harus mengisi Entry Sheet, formulir pendaftaran dan CV dengan bahasa Jepang dengan (tentu saja) ditulis tangan. Seperti melamar kerja jaman dulu pada umumnya, kadang saya juga kesal karena harus berkali-kali berganti lembar karena satu kesalahan dalam penulisan huruf kanji. Belum lagi, kalau salah kalimat dan tata bahasa. Menulis CV dalam bahasa Jepang haruslah berhati-hati. Karena jika tertinggal 1 huruf saja, maka formulirmu tidak akan dimengerti, bisa-bisa, kamu tidak akan mendapatkan email panggilan untuk wawancara.

4. Melamar melalui perusahaan pencari tenaga kerja (Recruiters/Hakken Kaisha)

Cara keempat yang saya tempuh adalah dengan mendaftarkan diri ke perusahaan-perusahaan recruiter di Jepang. Perusahaan ini ada yang berbasis bahasa jepang, ada pula yang berbasis bahasa Inggris, bahkan bahasa Indonesia. Beberapa perusahaan recruiter ini ada yang sengaja mencari bantuan melalui PPI atau grup-grup komunitas sebuah negara. Namun, kita juga harus berhati-hati, karena tidak semua perusahaan recruiter ini mempunyai reputasi yang baik juga. Ada juga yang sedikit nakal.

Ada perusahaan pencari tenaga kerja di Jepang yang menyediakan visa namin (visa pengungsi), bukannya visa kerja. Ada juga yang menahan paspor kita. Ada pula yang pekerjaan kita ternyata tidak sesuai dengan yang ditawarkan sebelumnya. Parahnya, banyak pula yang menjadi korban, terutama orang Indonesia, dengan iming-iming bisa bekerja dan mendapat gaji puluhan juta di Jepang. Nyatanya, kita malah kehilangan status kewarganegaraan karena kita malah diajukan visa pengungsi oleh perusahaan tersebut. Pernah suatu ketika, saya mendapatkan pesan dari seseorang yang menawarkan saya pekerjaan dengan visa pengungsi. Sontak saja saya tolak. Perusahaan-perusahaan yang seperti ini yang harus benar-benar kita hindari.

tetapi, ada banyak sekali perusahaan pencari tenaga kerja di Jepang yang memiliki reputasi bagus dan recommended. Berikut adalah beberapa situs perusahaan recruiter yang saya ikuti.

DODA JAPAN

NODE INC

YOLO Japan

Gaijin Pot

Daijobs

Asian Youth Network Japan

PASONA


FYI. Di Pasona, ternyata recruiters nya banyak yang merupakan orang Indonesia loh. 

Situs-situs tersebut menyediakan banyak sekali lowongan kerja untuk orang asing, terutama yang bisa berbahasa Inggris, selain bisa bahasa Jepang tentunya. Dan mudahnya, disini pula kita bisa mengirimkan CV dalam bahasa Inggris. Jadi, untuk readers yang belum terlalu pede menggunakan bahasa Jepang, bisa sedikit tenang karena bisa mengirimkan CV dan surat lamaran dalam bahasa Inggris.

Bagi saya, disini, saya bisa dengan bebas memilih pekerjaan yang saya inginkan. Karena setiap informasi lowongan diberikan gambaran secara detail, termasuk urusan gaji, lokasi dan persyaratan khusus. Dan puji syukur pada Tuhan, kerja yang saat ini saya dapatkan ternyata justru yang saya daftar melalui salah satu situs tersebut.

Nah, begitulah pengalaman saya kesana kemari mencari alamat pekerjaan di jepang. Semoga pengalaman saya ini bisa membantu readers yang sedang bingung mau bagaimana mencari pekerjaan di Jepang ini. Semoga bermanfaat :)


Wednesday, April 11, 2018

Tahun Baru, Hidup Baru, Kesibukan Baru

Haloo......

Sepertinya sudah berdebu sekali Red Momiji ini. Sampai-sampai si pemilik MyST ini sudah malas untuk mengingatkanku menulis di laman yang dia buat ini. Hehe maafkan ya...

Readers yang budiman dan tidak julid, saya ingin berbagi kesenangan yang saya terima sejak hari Valentine 2018. Tepatnya di hari itu, 2 kebahagiaan terbesar saya terjadi. Pagi hari, saya mendapat email mengenai penerimaan di tempat saya bekerja full time ini, dan sore harinya, dosen pembimbing saya diganti. Kenapa dosen pembimbing saya diganti? Nanti akan saya ceritakan ketika bertemu langsung saja. Biar readers ga jadi julid hehehe.

Maka dari itu, tepat 4 April, saya resmi menyandang status Working Visa. Dan kemudian, mulai tanggal itu pula kesibukan saya bertambah. 9 ke 9 bekerja, pulang mengerjakan data penelitian baru, 4 am - 9 am persiapan masak bekal dll. Sungguh menjadi seorang yang sudah bekerja itu melelahkan sekali. Dan, saya jadi bertepuk tangan luar biasa untuk ibu2 bekerja di Jepang ini. Bayangkan saja, mereka sudah bekerja, kemudian masih merawat anak2nya di rumah, masih melayani suaminya. Dan semua itu dilakukan tanpa pembantu. Bagaimana tidak luar biasanya mereka??

Anyway, nanti kalau sabtu-minggu, saya usahakan untuk menulis update. Ditunggu yaa....

Salam dari yang sedang merindukan masa full kuliah,

Ai