Sunday, September 23, 2018

Flora

Namanya Hana. Kebiasaannya adalah mengirimkan bunga dan coklat kepada teman-teman satu kelasnya di hari ulang tahun mereka. Bunga untuk perempuan, dan coklat untuk laki-laki. Tanpa seorang pun yang mengetahui. Mereka selalu bertanya dan menebak, tapi Hana hanya diam dan tersenyum. Ya, Hana memang jarang dianggap ada oleh teman-teman satu kelasnya.

Kami pertama kali bertemu ketika masuk tahun ajaran baru di SMA. Hana yang juga tinggal satu kampung denganku adalah anak baru di kota ini. Keluarganya baru pindah dari sebuah desa pinggiran di kota sebelah. Tidak ada yang istimewa darinya. Dia tidak tinggi, namun juga tidak pendek. Dia tidak cantik, namun juga tidak bisa dikatakan jelek. Dia tidak pintar, tapi juga bukan merupakan anak dengan nilai terburuk. Dia pun tak punya prestasi ataupun piagam. Sangat biasa dan sederhana. Sesederhana penampilannya yang selalu hanya mengikat rambutnya dengan model ekor kuda dengan karet gelang biasa. 

Kesederhanaannya juga tercermin dari kehidupan ekonomi keluarganya yang tidak kaya, bisa dikategorikan sebagai keluarga yang kekurangan. Namun, status ayahnya yang menjadi PNS membuatnya tidak pernah masuk dalam golongan . siswa yang patut menjadi penerima beasiswa. Kesederhanaannya juga tercermin dari perilakunya yang tak pernah terlihat konsumtif. Setiap hari dia selalu membawa bekal makanan dan minuman sendiri. Mungkin saja, uang jajannya dia pakai untuk membeli bunga dan coklat yang dia berikan untuk teman-teman. Entahlah.

Hana jarang sekali bicara dengan orang lain. Memang jarang yang mengajaknya bicara. Dia bukan anak yang populer lagi pintar. Hanya anak biasa-biasa saja yang kerap kehadirannya luput dari pandangan teman-teman. Wajar saja, karena kebanyakan mereka adalah teman satu SMP atau satu bimbingan belajar yang sudah saling mengenal sebelumnya. Sedangkan Hana, hanya sendiri di kota yang baru. 

Aku tahu dia yang menaruh bunga-bunga di laci anak yang berulang tahun. Tiga bulan yang lalu, ketika hari Tasya ulang tahun, dan hari itu pula aku berniat untuk berangkat lebih pagi untuk mengerjakan PR matematika karena malam sebelumnya aku terlalu capek bermain sepakbola. Aku melihat Hana meletakkan bunga di laci Tasya, lalu kemudian pergi dari kelas tanpa menaruh tasnya terlebih dahulu. Lalu, setelah anak-anak mulai ramai, Hana datang seolah dia baru saja datang di saat kehebohan bunga di laci Tasya. Tentu saja, tidak ada satupun yang menanyakan kepadanya. 

Semenjak itu, aku membuat diagram peta nama anak satu kelas dan menandainya setiap kali bunga atau coklat itu datang. Hanya satu meja yang tidak pernah dapat selama satu tahun masa pengawasanku. Meja yang hanya dia sendiri yang memakainya. Hal ini membuktikan memang dialah yang mengirimkannya. Dan, lagi-lagi tidak ada seorang pun yang peduli. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan dia ulang tahun. Tapi dia hafal semua ulang tahun teman-teman, termasuk aku. Dia memberiku sekotak dark chocolate, entah dari mana dia tahu bahwa itu favoritku. Namun begitulah dia, memperhatikan detail kesukaan kami, tanpa ada satupun yang tahu kesukaan dia. 

Hana, dia selalu tersenyum melihat kami. Ikut sedih apabila ada yang sedang curhat kesedihan di dekatnya meski dia tahu cerita itu bukan untuknya. Dia selalu tertawa jika ada yang melucu, meski itu bukan untuknya. Dia yang sering menyapu kelas seusai jam sekolah. Dia pulang yang sering mengganti air dan bunga di meja guru. Dia pula yang sering menaikkan sepeda-sepeda yang jatuh di parkiran. Tapi tak seorangpun memandangnya, kecuali para guru yang kebetulan lewat. 

Hingga suatu hari di bulan maret tanggal 15, saat dimana hampir semua laki-laki merayakan ulang tahun pujaan sekolah, Aira, yang juga merupakan teman sekelas kami, seperti biasa, satu batang bunga mawar pink kesukaan Aira sudah ada di laci mejanya pagi-pagi. Aira membawa kue ulang tahun dan merayakannya dengan teman-teman satu kelas seusai jam pelajaran. Kulihat Hana duduk dibelakang seperti biasanya, dengan sketch book nya yang tak pernah luput dari tangannya. Aku tahu dia mengabadikan moment ini dengan gambarnya yang sebenarnya tidak terlalu artistik. Tapi dia tak peduli dengan bagus tidaknya gambarnya. Kulihat dia selalu menikmati kesenangannya sendiri. 

Setelah pesta kecil itu berakhir, seperti biasa, Hana diam-diam membersihkan semuanya. Lantas pulang. Entah kenapa saat itu aku ingin sekali mengikutinya kemana dia pergi. Dia selalu jalan kaki, meski ada angkot yang lewat di jalan depan kompleks tempat tinggal kami. Namun aku ikuti pelan-pelan dengan sepeda motor. Kulihat dia mampir ke toko kue. Kuikuti lagi dia pelan-pelan. Tepat di dekat taman kota dia duduk di salah satu gasebo yang agak tersembunyi oleh pohon perdu. Diam-diam aku ikuti dia dan aku bersembunyi di belakang perdu supaya dia tidak menyadari kehadiranku. Kuliat dari sela-sela perdu, dia mengeluarkan kue yang dibelinya tadi. Sepotong kue krim dengan taburan meses coklat yang kutahu harganya sangat murah. Lantas dikeluarkannya lilin putih biasa dan dinyalakannya. 

Aku terkejut melihat apa yang terjadi. Dia memetik beberapa bunga rumput di bawah dan merangkainya dengan tali dari batang rumput kecil itu. Didendangkannya lirih lagu selamat ulang tahun, ditiupnya lilin putih besar itu. Tuhan, dia merayakan sendiri ulang tahunnya. Tanpa sadar mataku menjadi panas melihat apa yang terjadi. Sementara seorang gadis cantik merayakan ulang tahunnya dengan hampir semua orang di sekolah, di hari yang bersamaan itu pula, selama 3 tahun ini dia merayakan sendiri ulang tahunnya dengan cara sesederhana ini. Tidak ada kado, bahkan tidak ada bunga dan coklat, seperti apa yang dia berikan pada teman-temannya. Aku tak tahan dengan hal ini, kuputuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan, dadaku sesak, hingga tanpa kurasa air mataku menetes.

Setelah peristiwa itu, aku bertekad pada diriku sendiri untuk lebih bisa bersikap ramah dengan Hana. Mungkin dia kesepian dan ingin punya teman. Namun dia memang tak pandai untuk mengungkapkannya pada teman-teman. Suatu hari, ada sebuah kecelakaan beruntun akibat anak-anak kelas satu yang sedang bermain bola. Bola terbang ke arah Dito yang sedang mengendarai sepeda. Dito pun secara naluri memalingkan sepedanya menghindari bola itu. Namun sungguh sial, Dito menabrak kerumunan siswa termasuk aku hingga kami terjatuh dan terluka. Tak hanya itu, ban sepeda Dito pun tanpa sengaja menggerus kaki kanan Hana. Hana sempat berteriak kencang, namun perhatian orang-orang tertuju padaku dan beberapa siswi yang terluka. Kami dibawa ke UKS dengan segera, sedangkan kulihat Hana dengan mimik kesakitan berjalan tertatih menuju ruang UKS. Aku sempat berteriak menyebut namanya.

"Hana, itu Hana kegerus kakinya, tolongin donk papah dia"

Namun tak seorang pun yang menolongnya. Di ruang UKS, seperti biasa cewek-cewek menggerumuniku dan beberapa cewek yang terluka mulai menunjukkan kemanjaannya. Luka di kaki dan tanganku sudah selesai diberi obat merah, dan aku sudah bersiap kembali ke kelas. Hana baru masuk dan segera duduk di pojok. Dibukanya sepatunya perlahan dengan wajah yang menahan sakit. Cewek-cewek hanya sekilas lalu melihat kedatangan Hana dan mereka bergegas kembali ke kelas karena pelajaran sudah hampir dimulai. Aku sengaja menahan diriku untuk tidak kembali dulu. Kuawasi pergerakan Hana yang sedang mengelus telapak kakinya. 

"Nangis aja jangan ditahan. Sakit kan? Ga ada siapa-siapa koq disini"

Hana melihatku dengan tatapan nanar kesakitan, matanya mulai memerah, namun dia masih berusaha untuk menahan tangisnya. Kuambil air panas di termos dan kutambahkan sedikit air keran di baskom. 

"Basuh pakai ini, aku keluar dulu, kalau malu mau nangis didepan orang. "

Aku keluar dari pintu UKS, namun aku tidak benar-benar pergi. Aku berdiri di pintu, untuk memastikan keadaannya. Kudengar isak tangisnya dan jeritannya yang tertahan. Tuhan, aku tahu itu pasti sakit.

Hana baru kembali dari UKS setelah jam istirahat kedua. Matanya sembab. Tapi tak ada yang peduli. Pulang sekolah, aku beranikan diri untuk mengantarnya pulang. Awalnya dia menolakku. namun aku memaksa karena tahu kondisi kakinya. Dia pun akhirnya menurut. Sepanjang perjalanan kami jarang sekali mengobrol. Sangat canggung. Memang hari inilah kami pertama kalinya kami benar-bernar berbicara satu sama lain setelah 3 tahun kami satu kelas. 

"Besok aku jemput ya jam setengah 7" kataku setelah menurunkan dia di depan rumahnya.

"Ma,makasih ya Arya. " aku tersenyum dan pamit pulang.

Setelah hari itu, kami menjadi sering berbincang. Seperti tekadku setelah menyaksikannya merayakan ulang tahun waktu itu. Aku akan berusaha menjadi lebih ramah dan menjadi temannya. Suatu hari, aku tanpa sengaja ketika aku di warung yang ada di sebelah rumah Hana, aku melihat lagi sesuatu yang menyesakkan dadaku. 

"Bu, dansa itu kayak apa ya? Di pesta prom nanti ada sesi dansa." tanya Hana pada ibunya.

Lantas ibunya mengajaknya berdansa, namun aku tahu itu bukan dansa yang bagus. Namun Hana dan ibunya tertawa riang, dan Hana pun mengikuti gerakan ibunya dengan seksama. Lagi-lagi dadaku terasa sesak. Hana oh Hana...mengapa kamu begitu lugu? Setelah pesta prom di bulan Juli, aku tak pernah lagi bertemu Hana. Kudengar dari orang tuanya, Hana kuliah di Perancis. Mendapat beasiswa untuk kuliah di jurusan design. Aku hanya bisa berdecak kagum. Tak menyangka, orang sebiasa itu tiba-tiba kuliah di Perancis, disaat teman-teman lainnya berjuang untuk kuliah di universitas lokal. Namun rupanya, kabar itu lagi-lagi hanya aku yang tahu. 

10 tahun berlalu. Aku tak pernah bertemu dengan Hana. Terakhir kudengar, Hana bekerja di luar negeri, namun bukan Perancis. 2 tahun lalu, dia memboyong orang tuanya untuk tinggal bersamanya di luar negeri. Sayang aku tak sempat bertemu dengannya karena aku harus sidang tesis S2. Dia hanya mengirim pesan dan oleh-oleh dark chocolate dari Belgia yang dititipkannya lewat ibuku. Rumah Hana pun sudah ditempati orang lain. Aku sendiri sekarang kerja di sebuah kampus swasta terkenal di Jakarta. Dan entah mengapa, aku teringat memori tentang Hana. 

"drrrrtttt" smartphoneku bergetar. Kulihat Dito temanku SMA yang menelepon.

"Halo, Dito?"

"Arya, gimana soal penggalangan dana untuk reuni SMA bulan depan? Udah ada berapa yang masuk?"

"Oh iya Dit, gue mampir ya, sekarang juga gue ke rumah lo"

"Ok bos! Ditunggu ya"

Aku pun bergegas memacu mobilku ke rumah Dito yang juga berlokasi di Jakarta. Sesampainya di rumah Dito, rupanya dia hendak mengantarkan istrinya ke arisan. Aku lantas menunggu. Kulihat ada sebuah katalog di meja. Kuambil dan kubaca. Sebuah katalog pameran lukisan dari Jepang dari artist bernama Flora. Kuamati satu per satu lukisannya. Aku merasa sangat familiar dengan lukisannya. Seperti sesuatu yang terasa bahwa aku pun ada dilukisan itu. 

"Sorry Ar, gimana gimana?" Suara Dito membuyarkan konsentrasiku.

" Oh Dit, bentar, ini katalog apa ya?"

Dito melihat sebentar dan berkata "Oh, itu bahan buat bini gue wawancara bulan dua minggu lagi."

"Oh iya bini lo kan wartawan Vogue Indonesia ya. Emang ini artist mana?"

"Dia artis luar negeri, ga tau Eropa apa Amerika gitu. Karyanya udah terkenal banget dan dihargai muahaaaal banget. Nah doi mau ngadain pameran di JEC 2 minggu lagi. Minggu lalu doi habis pameran di Jepang, itu katalognya."

"Boleh gue pinjem nggak? Fotokopi doank."

" Ya boleh aja si, tapi buata apaan? Tumben lo tertarik sama lukisan."

Aku tidak menjawabnya dan melanjutkan obrolan soal reuni. Sesampainya di rumah aku lihat lagi katalognya. Aku tertarik pada beberapa lukisan yang tertampil dalam katalog. Sesuatu yang mengingatkanku kepada masa mudaku. Kuputuskan untuk datang ke tempat pameran itu.

"Eh Arya, jadi datang juga lo? Bunga buat siapa tu?" sapa Dito yang terkejut dengan kedatanganku.

"Bini lo mana?"

"Tuh di booth, lagi wawancara sama artist nya "

"Gue ke sana ya"

"Ngapain Ar?? "

Tak kupedulikan pertanyaan Dito, aku terus melangkah menuju tempat wawancara. Kumasuki dengan perasaan yang bercampur aduk antara yakin dan tidak yakin. Aku melihat istri Dito selesai berfoto dan berpamitan dengan seorang wanita cantik berkelas. Dengan pakaian dan aksesoris bermerk serta high heels tinggi namun riasan wajah yang sangat tipis. Sangat cantik. Kudatangi dia dengan ragu. Dia menoleh ke arahku. Kami berpandangan sebentar dan aku merasa seperti ingin berbalik badan dan pergi.

"Sorry sir, you have no rights to come to this place..." belum selesai staff pamerannya menegurku, sang artist yang bernama Flora itu menyuruh untuk membiarkanku.

"Happy birthday, Hana" kataku sambil menyerahkan bucket bunga carnation yang aku taksir menjadi kesukaannya.

"Arya??"

"Oh aku lega, aku pikir akan salah orang." Kataku menetralisir rasa gugupku yang luar biasa.

"Darimana kamu tahu bahwa hari ini ulang tahunku?"

"Sejak di sudut taman kota suatu hari, ada seorang gadis yang merayakan sendiri ulang tahunnya sepulang sekolah, dimana pagi hari sebelumnya dia mengirimkan bunga pada gadis lain yang juga berulang tahun pada hari itu. "

" Aa..."...kulihat dia speechless dan bingung ingin mengatakan apa.

" Selamat ya Hana, kamu tumbuh menjadi bunga yang sangat indah"

Hana tersenyum dan kulihat matanya mulai memerah. Hana yang sekarang rupanya masih Hana yang seperti dulu, yang mudah tersentuh perasaannya. Kami bertukar nomor dan berjanji untuk makan siang bersama keesokan harinya.



Summer in Japan (from the view point of Gifu)

Curious about summer in Japan? Here I give you some examples about how it feels from the view point of Gifu City, Gifu Prefecture, Central Japan. Not exactly a whole Japan in but at least, it happens in many places. First of all, pardon my English. In order to strengthen my writing skill, I am trying to write in English hehe. Please correct me if I made mistake.

SUMMER IN JAPAN


1. Too Hot, Hot Damn


The maximum temperature could be over 40 Celsius degrees. In Gifu City, the place where I'm standing around, this summer (2018) reaches 40 Celsius degree, while in Tajimi Ciy, the other city in Gifu Prefecture which has the highest temperature in Gifu, the temperature can reach 43 Celsius Degree. Don't ask about how it feels. In many apps, it was said that it feels like over 50 Celsius degrees. However, in northern Japan like Hokkaido or above Tokyo (in map), the temperature will be a little bit lower than Gifu. Speaking of which, Gifu Prefecture is the hottest area in Japan during summer. Literally hot.

Gifu, with the very high humidity, imagine that you live inside the steamer. High humidity comes from the transition period between Spring and Summer. There is almost 2-3 weeks full of rain, with the high discharge. When the transition period ends, later it comes to the Summer with less rain. Scientifically, the water stored in soil will percolate up to the surface and being evaporated to the atmosphere. Unfortunately, Gifu, or let me say the place where I am living at, is surrounding by the hills. Obviously, the wind comes from the hills down, but because we are surrounding by the hills in every side, so there is no place for wind to flow. It is like the accumulation of wind, so that we feels like we live above the kettle full of hot water. Besides that, on around June to September, typhoons come and go, resulting more discharge. Sometimes, it causes flood in Nagara River and many rivers surround. 

summer in Gifu
from the top of
Gifu Castle

2. Typhoons Dance


As mentioned above, summer in Japan and other islands area has a connection with typhoons. At least twice in a month our area will be attacked by typhoon. Halola, Nanka, Soudelor, Number 18, Number 17 etc, those are the names of typhoon. Okinawa is the island which always be hit by the typhoon attack. This year, I experienced Jebi typhoon, the strongest typhoon during 2018. It was huge, like Trump said. And dangerous. Jebi typhoon caused huge damaged to Kansai International Airport, and many places. 

damages caused by Jebi
source

Typhoon is literally a tropical cyclone in a mature phase. Typhoon are capable of generating high waves, strong wind, tornadoes, and tsunami. Why typhoon can be born? It needs about 6 requirements for producing typhoon, according to Wikipedia: sufficiently warm sea surface temperatures, atmospheric instability, high humidity in the lower to middle levels of the troposphere, enough Coriolis force to develop a low pressure center, a pre-existing low level focus or disturbance, and low vertical wind shear. I won't to explain it in advance because of my lack of knowledge.

Generally, typhoon appears on between June until November, because between December up to May, God is doing the preparation for cyclone formation. During typhoon period, each school will take one day holiday on the day of typhoon comes, in case if the typhoon goes very strong. And, in my experience, every typhoon period, I need to change my umbrella at least twice. In Japan, if the forecast says will be attacked by typhoon, they will delay or cancel all the flights, trains, and other public transportation.

This illustration represents
the condition during typhoon.
A kid can be flown away by typhoon.
Source here

3. Feels like Tropical Countries


For the people who come from tropical area like Indonesia, Ecuador, Brazil, some countries in Africa etc., summer in Japan just feels like home. Summer is when we can eat tropical fruits and vegetables, such as water spinach (kangkung, Ipomoea aquatica), pare (Momordica charantia), mango obviously etc. We can also see tropical flowers like Zinnia (kembang kertas), bougenville, Cosmos (kenikir), Portulaca oleracea (krokot), Hibiscus (kembang sepatu) and also Ground cherry (ciplukan/ Physalis angulata) and of course Himawari (sunflower). You will feel like you life in tropical area, just like your granny's home.

Roses are growing
during summer


not this Himawari
will grow during summer

4. Firework Festivals


The greatest things about summer in Japan is fireworks. You can enjoy this festival around Japan. They even have the festival on the same day. Fireworks festival generally will be held every late of July or early August, located near the rivers or the sea.

Gifu is famous with the big fireworks festival for twice a year, at the end of June and the beginning of August at Nagara River close to Gifu Castle. Gifu Newspapers and Chunichi Newspaper are the main sponsors of those festival. Other than that, Gifu Fire Festival during day time and fishing performance at Ukai festival at night are another option to enjoy summer in Gifu.  

pardon my picture
this was just a small part
of Gifu firework festivals

5. Noisy Insects


Speaking about summer, just like another tropical countries, it is full of insects, bugs, snakes, mosquitoes and many other extra-disgusting animals. You will always find centipedes around your house during summer. Somehow, you will find snakes on the middle of roads. But, you can also enjoy summer orchestra by Semi insects. Sounds good and relaxing.

semi insects
source

6. Enjoying Paranormal Activities


Summer in Japan will not complete without experiencing paranormal activities. There is a festival during the middle of August named Obon, where it is believed that all the old souls will come back to their home and family. During Obon, Japanese people will return to their homeland and visiting graveyards. Some people said that they experienced paranormal activities during Obon. 

Apart from it is true or false, Japanese people are into ghosts things. Obake Yashiki or Haunted House is very popular in Japan. The biggest Haunted House is located in Fuji Q Highland, under mount Fuji. I went there once in 2014. I can barely say that the Haunted House in Fuji Q Highland is the biggest, the longest, the scariest and the most real one. Rumor has said that the building is a real deal. An old hospital during world war. My experience, when me and my friends, Owaki and Wang, entered the second stage, which is the hospital, another aura could be sensed. It was dark, smells humid and smells paranormal. The last stage will be the scariest one. It was about 20 "ghost" were hiding and suddenly appear reaching you.

In Gifu itself, Yanagase Haunted House is the famous one. I experienced there once in 2013. There was Kuchisake Onna (a girl with a big mouth) asking "Am I beautiful?". It is believed that when she asks you that question,  whatever your answer, Kuchisake Onna will bring your soul. What's my answer? "I am the most beautiful girl in the world". And guess what? The girl who played Kuchisake Onna couldn't help herself to stop a little bit and laugh like she failed her job to scary us, the guests. 

Hounted House in Fuji Q Highland
source

Those are some parts about summer in Japan. About the food and other things, I will write in another article.

Is there any other experience from you guys? Please send me the story on comment column below.


I Fall in the Autumn (19)

Benarkah aku menyukai Adrian? Adrian yang selama ini aku segani. Ataukah ini hanya perasaanku semata karena Adrian memperlakukanku lebih dekat dari saat masih di Indonesia?

Satu jam aku bercerita dengan Satria mengenai itu. Satria hanya tersenyum penuh arti tanpa memberitahu lebih jelas mengenai hal itu. Dia bahkan tidak mengejekku seperti saat aku jatuh cinta pada Rais, mantan kekasihku saat aku kuliah S1 dulu. Aku meminta Satria untuk diam dan tidak mengatakan apapun tentang ini. Aku merasa aneh dengan perasaanku sendiri. Adrian? Aku menghela nafas panjang. Satu detik berikutnya, terdengar bel berbunyi.

Kubuka pintu kamarku, dan kulihat Adrian berdiri di depan, dengan senyum tipis dan menyodorkan satu kotak besar berisi strawberry.

"Dari mana?", tanyaku heran mengapa pagi-pagi dia sudah keluar.

"Pulang arubaito panen strawberry. Nih buat kamu.", katanya sambil masuk ke kamarku.
(arubaito = kerja sambilan)

Aku membuatkannya coklat panas. Adrian bercerita tentang kegiatan memanen strawberry yang dilakukannya. Bagaimana cara memanen strawberry yang baik agar tidak rusak penampilannya. Bagaimana cara merawat strawberry dan bagaimana cara agar warna buah menjadi merah sempurna dan tidak ada warna putih. Dan dia juga bercerita mengenai strawberry putih yang sedang menjadi tren saat ini.

Entah mengapa aku selalu menyukai cara Adrian menjelaskan sesuatu. Sistematis, dan mudah dimengerti. Mungkin inilah sebabnya Adrian bisa sukses kuliah di Belanda, Jerman dan sekarang Jepang. Namun dimataku, Adrian yang sekarang di depanku ini sama sekali tidak nampak seperti seorang CEO sebuah perusahaan. Persona Adrian sejak dulu memang misterius, dingin, kaku, dan nampak perfectionist. Namun entah mengapa, semenjak disini, aku merasakan sisi lain dari Adrian yang lembut, hangat dan bersahaja.

Gawat, aku memandangi Adrian bercerita hingga jantungku terasa panas dan berdebar kencang.

"Em, jalan yuk!"

"Eh?"

"Iya, jalan yuk ke Tsurumai Park.Tempatnya bagus, tempatnya bagus untuk foto.", katanya ringan.

Aku merasa seperti mendapatkan ajakan kencan. Tapi segera aku singkirkan pikiranku. Aku tidak mau hanya menanggung perasaan itu sendiri lagi. Namun aku pun tak mampu untuk menolak ajakannya dengan mengiyakan. Segera dia pulang untuk mandi dan bersiap-siap. Sedangkan aku, mulai bingung memakai pakaian seperti apa.

Satu jam kemudian kami menaiki bus dari dekat apartement kami menuju ke stasiun kereta terdekat menuju ke arah stasiun Nagoya di kota yang lebih besar dari kota kami. Ini adalah kali pertamanya aku bepergian ke luar kota. Bersama Adrian, entah mengapa jantungku berdebar. Kami berdiri sepanjang 20 menit perjalanan dengan kereta.  Aku hanya bisa mencuri pandang kearahnya diam-diam. Kami berbincang mengenai kota Nagoya. Tentang Nagoya Port Aquarium, tentang Nagoya Castle, dan tentang Osukannon, tiga tempat yang menjadi persinggahan Adrian saat mengunjungi Nagoya. Namun Tsurumai Park dan Sakae, menjadi tempat favoritnya untuk sekedar berjalan kaki menghilangkan penat.

Salah satu spot di Tsurumai Park.
Air mancur di tengah
monumen ini menjadi
latar belakang adegan
Adrian mengambil
foto Emi


Kami berganti kereta menuju ke Chuo Line yang melaju ke arah Tsurumai Park. Aku melihat beberapa pohon sakura sedang mekar. Benar kata Adrian, pohon sakura disini sangat indah. Sembari menikmati sakura, pandanganku tertuju kepada sebuah taman mawar. Bunga mawar sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda mekar, namun aku membayangkan betapa indahnya jika mawar-maar disini mekar.

"Bulan Mei, biasanya bunga mawar disini akan mekar. Tidak sebanyak di Hana Vesta di Gifu, tapi disini cukup indah. Ada lebih dari 20 spesies mawar yang ditanam disini. Tapi aku akan mengajakmu ke Hana Vesta nanti. Kamu suka mawar kan, Emi?", kata Adrian mengejutkanku. Darimana dia tahu bahwa aku suka mawar?

"Hah? Koq tau? Satria yang bilang ya?", tuduhku. Adrian hanya tersenyum simpul sambil mengalihkan pandangannya kearah bangunan seperti sebuah monumen yang ada di belakang taman mawar.

Tiba-tiba saja Adrian menggandeng tanganku. Jantungku berdekat kencang. Dibawanya aku kembali ke bangunan monumen ini. Sebuah air mancur berada ditengahnya. Adrian berdiri tepat di depanku dengan jarak yang sangat dekat. Tuhan, jantungku semakin berdetak kencang. Seseorang tolong katakan bahwa ini adalah perasaanku saja. Aku tak berani menatap matanya. Aku hanya mampu menatap bibir Adrian. Kulihat bibirnya bergerak seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun urung. Sama seperti ketika di taman dekat rumah saat itu. Adrian lalu menghela nafas sebentar, lalu berkata,

"Em, coba mundur ke belakang, aku foto dari sini, bagus angle nya".

"Oh, okay", jawabku tersadar dari lamunanku sendiri. Sembari mengatur nafasku yang sempat kutahan tadi, aku mencoba berpose senetral mungkin agar tidak terlihat salah tingkah.

Tiba-tiba, handphone Adrian berbunyi, Adrian meminta ijin untuk mengangkat telepon. Aku sedikir mencuri dengar ketika dia menyebut nama Rania. Dadaku tiba-tiba terasa sesak dan panas. Ada rasa gelisah yang menyelimutiku. Ada rasa penasaran besar yang menyerang. Tidak, itu bukan penasaran. Sepertinya aku sedang terbakar cemburu.

Musim gugur itu
tidak hanya tentang
gugurnya daun maple
dan ginko, tapi juga
tentang mekarnya
bunga osmanthus
atau kinmokusei.
Bunga ini harum sekali.
Harumnya manis,
seolah ingin sekali memakannya.
Bunga ini menjadi
bunga kesukaan saya
 ketika musim gugur.
Saya selalu menghirup
aromanya kuat-kuat. Wangi sekali

Saturday, September 22, 2018

The Story I Have to Tell

Apa yang akan kalian lakukan jika mengalami kegagalan dalam kehidupan?
Apa yang akan kalian lakukan jika kalian merasa membuang waktu terlalu lama untuk sebuah hal yang tidak pasti?

Pertanyaan itu begitu menghantuiku selama hampir 6 bulan ini. Hidupku seperti roller coaster yang bergerak naik turun, terkadang berhenti di atas, kemudian tergelincir. Pada kenyataannya aku tidak suka naik roller coaster. 

Ya, aku gagal dalam satu bab kehidupanku. Banyak orang menertawakanku. Banyak orang menyumpahiku dengan hinaan yang mengerikan. Tapi, banyak orang yang menyemangatiku. Banyak orang yang merangkulku untuk selalu stabil secara emosi. Dan aku bersyukur karena itu. 

Aku mengalami power harashment oleh profesorku sendiri. 3 tahun aku berjuang mati2an untuk sekedar lulus. Namun, beliau tak kunjung juga membaca hasil tulisan ilmiahku. Bahkan ketika pertama kali aku harus mengeluarkan seluruh tabunganku untuk perpanjangan semester, kupikir akan memberinya waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugasnya sebagai seorang pembimbing, namun hasilnya nihil.

Setidaknya, aku sudah menulis 4 draft dan 1 disertasi utuh. Begitu mulutku selalu berucap untuk menenangkan hati dan pikiranku dari kebiasaanku menyalahkan diri sendiri. Selama itu aku mendengarkan kata orang yang menyalahkanku. Namun akhirnya aku sadar. Aku tidak salah. Aku sudah menyelesaikan tugasku sebagai seorang siswa.

Yang pertama ada dalam pikiranku adalah keluargaku. Betapa besar dukungan dan harapan yang mereka letakkan padaku. Aku merasa mengecewakan mereka. Aku merasa mempermalukan mereka. Tapi kemudian aku sadar, bahwa mereka masih bangga memilikiku.

Aku hampir tidak bisa bangkit jika Hase tidak ada. Aku hampir bunuh diri, jika sahabat-sahabat Radio PPI Jepang tidak ada. Aku hampir tidak bisa makan, jika bukan dari kiriman keluarga. Aku yang sempat bangga bisa mengirim sedikit uang ke keluarga, berputar lagi menjadi beban. Belum lagi, aku harus membayar uang kuliah. 

Aku masih ingat ketika Pak Dekan yang baik hati menyarankanku untuk bekerja penuh. Aku mati-matian melamar pekerjaan. Datang ke interview-interview. Ditolak. Coba lagi. Interview lagi. Aku sudah tidak menghitung lagi berapa banyak uang yang seharusnya bisa kutabung, tapi kupergunakan untuk berangkat interview. Pada akhirnya aku mendapat pekerjaan di tempat yang sangat dekat dengan rumah. Allah maha baik.

Dan profesor saya, dia malah memintaku untuk menundaku bekerja. Aku bilang padanya bahwa aku tidak punya uang untuk membayar uang kuliah lagi. Dia malah memakiku. Dia menyalahkanku, dia mengatakan bahwa aku tidak punya kemauan untuk lulus. Aku kaget dan menangis seketika. Dia melanjutkannya dengan mengatakan bahwa dia tidak hidup untukku. Kalau aku serius mau lulus, dia akan memberiku uang untuk melanjutkan. Aku marah seketika.

Untuk apa aku lanjutkan? Dia saja, tidak pernah membaca tulisanku. 4 judul aku ajukan, tak satupun yang dia baca. Dia bahkan mengoreksi tulisan junior yang belum butuh publikasi. 

Aku masih ingat ketika aku bersemangat untuk pergi konferensi ke luar negeri. Aku diterima 2 kali dalam konferensi luar negeri. Oral presentation. Suatu kesempatan yang sangat besar yang setiap mahasiswa dambakan. Apa jawaban profesor saya? "jika kamu ngotot pergi, keluarkan nama saya".

Mengeluarkan nama dia dari tulisanku, sama saja dengan membunuhku, karena aku juga tidak akan bisa lulus tanpa nama dia tercantum dalam tulisanku. Itu hanya sebagian kecil cerita mengenai hal2 yang kualami bersama beliau. 

Terkadang aku iri dengan teman-teman yang lain. Profesornya sangat murah hati. Sangat membantu. Bahkan menganggap sebagai anak. Tapi profesor saya? Saya lulus S2 saja, jangankan hadiah, ucapan selamat saja hanya lewat email. Tidak ada selebrasi. Aku rasa, jika kalian sedang dimarahi profesor, bersyukurlah, karena beliau menyayangimu.

Jika kalian bertanya, apa rencanaku kedepan?
Aku akan keluar dari universitas yang sekarang. Aku akan fokuskan diri untuk bekerja dan mengumpulkan uang. Saat umurku 32 tahun, aku akan kuliah S3 lagi mengambil jurusan fisiologi tanaman atau pemuliaan tanaman yang kuidamkan.Mungkin kalian pikir aku gila. Namun, aku memang bercita-cita menjadi seorang peneliti. Itulah mengapa aku marah ketika profesor itu mengataiku seperti itu. Jika aku tidak ingin lulus, sudah sejak tahun pertama aku keluar. Bahkan, aku tidak akan mengambil resiko besar melanjutkan studi dengan beliau.

Oh iya, aku sudah membawa kasus ini ke universitas. Profesorku sudah diganti kepada Pak Dekan yang baik hati. Aku tak ingin mengecewakan beliau, namun, aku juga tak ingin mengorbankan masa depanku. Aku yakin, jika aku gagal pada bagian ini, aku punya kesuksesan di bagian lain. 

Kegagalan bukanlah sesuatu yang buruk. Tak perlu malu untuk mengakuinya. Terkadang, kegagalan akan membawa kita menjadi lebih bijak. Mengambil kesimpulan bahwa kita tidak cocok disini. 

Pada akhirnya, aku berani untuk menulis ini. Dengan ini, aku sudah melepaskan semua beban yang ada di pikiranku. Aku sudah siap untuk memfokuskan segala pikiranku untuk masa depan yang lebih baik. Untuk menjadi seorang pengajar yang baik. Untuk menjadi istri yang hebat. Untuk menjadi ibu yang luar biasa. Demi semua orang yang mendukungku. Keluargaku, sahabat2 Radio PPI Jepang, sahabat2 Butuh Piknik, sahabat2 Pennywise, sahabat2 SDM I4, dan semua yang telah membantu menstabilkan emosi dan mentalku. 

Aku menulis ini sambil mendengarkan lagu Good Doctor versi Jepang yang dimainkan oleh Yamazaki Kento, artis favoritku. Aku menangis. Meresapi tulisan yang kubuat sendiri. Mungkin karena aku usai menonton episode terakhirnya. Masih terbayang dialog Minato Shindo pada salah satu pasiennya. 

"Aku bukan berasal dari kalangan orang biasa. Orang-orang bilang aku todak akan pernah bisa menjadi dokter. Tapi aku punya banyak orang yang mendukungku, makanya aku berusaha keras dan tidak menyerah untuk menjadi dokter, dan sekarang, aku disini."

Mungkin sama seperti itu. Ketika banyak orang yang menertawakanku, ternyata lebih banyak orang yang mendukungku. Dan itu adalah hartaku yang paling berharga. 

Terima kasih semuanya. Mungkin sekarang aku masih di titik minus. Tapi aku yakinkan, aku akan membuat kalian bangga padaku yang bisa bangkit. Kalian semangatku. Akan selalu ada kemudahan setelah kesukaran. Karena itu adalah janji Allah.



Monday, September 17, 2018

I Fall in the Autumn (18)

Aku ingin bercerita tentang Adrian. Tentang perbedaan yang kurasakan selama aku disini. Bukan Adrian yang sama yang aku kenal ketika SMA dulu. Yang seolah membuat jarak dengan orang lain. Adrian yang sekarang hampir selalu membuat aku merasa jatuh dalam pesonanya. Hampir. Ya, jika bukan karena testimoni teman-teman disini yang memandang Adrian sebagai laki-laki yang ketus dan dingin, meski pak Rafi dan beberapa bapak ibu menilai Adrian itu sangat baik. Aku tidak mau terlalu percaya diri dengan perlakuan Adrian padaku, bisa saja hanya karena aku adalah teman lamanya. Namun, jauh di lubuk hatiku, aku tak bisa menolak bahwa aku merasakan getaran ketika bersamanya.



Seperti saat hujan pertama di musim semi ini. Aku yang masih belum terlalu mengandalkan ramalan cuaca pada aplikasi smartphone, lupa untuk membawa payung. Malam itu, ketika aku pulang dari ruang eksperimen dan berpamitan dengan Pak Rafi, hampir saja aku menerobos dinginnya hujan di awal musim semi. Hingga Adrian memayungiku dari belakang. Dan kita berjalan berdua. Bercerita mengenai kegiatan sehari-hari. Ada keramahan yang tidak pernah muncul sebelumnya dari Adrian. Ada tawa renyah yang hanya satu kali aku rasakan, yaitu ketika dia meminta untuk foto bersamaku tepat di hari terakhir kita bertemu.



Atau ketika aku mengurus aplikasi untuk mengikuti kelas bahasa Jepang. Dia mengantarku ke International Student Center atau yang biasa kita sebut sebagai Ryuugakusei Senta. Dia tiba-tiba saja menarik tubuhku di pelukannya. Sedetik kemudian baru kusadari ada anak jepang yang menaiki sepedanya dengan kecepatan terlalu tinggi dan hampir menabrakku. Aku hanya mengucapkan terima kasih dengan perasaan malu sekaligus kikuk.



Atau ketika setiap malam dia menawariku untuk makan bersama di rumahnya. Dan menjadikan kegiatan memasak bersama adalah salah satu kegiatanku bersamanya setiap malam. Meskipun pada awalnya aku merasa sungkan, namun setelah satu minggu, seolah-olah adalah hal yang biasa. Tentu saja, dimana ada kami, Satria akan selalu hadir menemani makan malam kami melalui video call. Dan dia akan selalu marah karena sudah menghabiskan lebih dari 2 jam waktunya hanya untuk bercerita lepas. Namun kita akan melakukannya lagi besoknya, dan hari-hari seterusnya.

Adrian rupanya penyuka kejutan. Lebih tepatnya, dia yang memberi kejutan. Satu hari setelah aku bercerita mengenai kesulitanku dalam eksperimenku, tiba-tiba paginya dia datang ke laboratoriumku sekedar memberikan minuman coklat yang menjadi favoritku disini seraya menyemangatiku. Melempar senyum kepada Pak Rafi, lalu pergi.  Atau ketika dia menyeretku tiba-tiba di hari minggu. Aku yang masih dengan piyamaku hanya berbalut mantel musim dingin panjang diajaknya ke taman dekat apartemen kami pagi-pagi.

"Lihat Em, Sakuranya mekar. Cantik kan?", katanya sembari aku berkata dalam hati, "Nggak penting banget si".

Kemudian dia membidikkan kameranya. Memotret beberapa bagian dari pohon sakura itu. Aku berdiri sambil melipat tanganku di bawah salah satu pohon sakura yang sudah mekar sekitar 50%. Bunga sakuranya lebih kecil dan warna pink nya lebih tebal daripada bunga sakura yang ditunjukkan Adrian sebelumnya. Tiba-tiba kurasakan Adrian memotret ke arahku. Aku menengok kebelakang, terlambat menyadari bahwa Adrian mengambil fotoku. Ku lepas tanganku seraya berteriak padanya untuk menghentikan aksinya. Tanpa kusadari, kami tertawa lepas sambil berusaha merebut kamera dari tangan Adrian.



Lantas, tiba-tiba dia memegang tangan kiriku. Kami berdiri tepat di bawah kanopi pohon-pohon sakura yang sedang berkompetisi untuk menampilkan setiap keindahannya. Satu helai kelopak sakura jatuh ke sela-sela rambutku. Jantungku seakan berhenti saat Adrian menatapku lekat-lekat. Lidahku kaku untuk berkata, aku hanya menatapnya dengan tubuh bergetar. Kulihat mulut Adrian hendak mengatakan sesuatu, namun enggan. Satu tarikan nafasnya kemudian sebelum akhirnya dia menolehkan matanya ke arah belakangku sembari berkata,

"Bentar ya," sembari melepas tanganku dan berjalan lurus ke depan lalu kembali lagi. Dia menyematkan satu helai Sakura kecil di dekat telinga kiriku. Satu detik dia menatapku sambil tersenyum, lalu mengarahkan kameranya tepat di depanku.

"Cantik", katanya sambil tersenyum.

"Yuk pulang", seraya menarik tanganku ke arah apartemen.



Aku hanya terdiam melihat tingkahnya. Di dalam kamar, aku hanya memandangi sakura yang dia sematkan. Bunganya sudah mulai layu, tapi aku masih bergetar mengingat kejadian tadi. Aku menyadari ada getaran yang sama seperti ketika aku memandang Naoki dulu. Hanya saja kali ini, aku merasakan getaran itu bukan datang dariku sendiri.



Semakin lama, kami menjadi sering jalan bersama. Dan teman-teman disini menjadi sering menanyakan hubungan kami. Namun aku hanya menjawab bahwa kami sudah kenal semenjak SMP, jadi wajarlah jika Adrian terkesan lebih ramah dan terbuka padaku. Mereka menjawab dengan gaya khas jepang, eeeee......



Aku hanya berani bercerita diam-diam dengan Kak Cinta. Karena diantara teman-teman wanita disini, aku merasa lebih nyaman untuk bercerita dengannya. Kak Cinta juga menjadi salah satu dari sedikit orang yang bisa dibilang cukup dekat dengan Adrian. Kak Cinta selalu berbinar-binar jika aku sudah bercerita tentang hal yang kualami dengan Adrian. Dia selalu nampak excited mendengarnya, mungkin justru dia yang paling bersemangat tentang kejadian-kejadian itu dibanding aku sendiri. Tak jarang dia sengaja meninggalkan kami jika kami bertemu Adrian secara kebetulan di kantin, sambil mengedipkan mata manja pada Adrian sembari menepuk pundaknya dan berkata "tanoshinde ne!", yang kemudian kutahu artinya sebagai "selamat bersenang-senang".



Mungkin saja aku jatuh cinta pada Adrian. Aku hampir saja menyombongkan keberadaanku sebagai satu-satunya orang yang dekat dan tahu Adrian. Hingga dia datang. Rania. Aku bertemu dengannya pukul 9 pagi. Ketika aku akan berangkat ke kampus. Seketika aku mengunci rumahku, seketika itu juga pintu rumah Adrian terbuka. Dan dia keluar disana sambil memakai mantelnya. Kulihat ekspresi Adrian sedikit terkejut melihatku, namun dia selalu berhasil menguasai ekapresinya. Dia mengenalkanku padanya.

"Em, ini Rania. Rania, ini Emi."

Rania mengulurkan tangannya, aku menyambutnya dan kami berjabat tangan sambil mengenalkan nama masing-masing. Adrian memintaku untuk pergi duluan karena dia akan mengantar Rania ke apartemennya dulu. Rania tersenyum padaku. Aku kemudian pergi meninggalkan mereka dengan tanda tanya. Sekilas aku melihat rania sebagai gadis yang lemah lembut. Tatapan matanya sayu, namun tidak bisa memudarkan kecantikan. Dia bahkan lebih cantik dari Kak Cinta yang menurutku paling cantik diantara pelajar Indonesia yang ada disini. Tapi, kenapa sepagi itu di rumah Adrian? Selama aku disini, tak pernah sekalipun aku menemukan orang lain masuk ke rumah Adrian selain aku. Pak Rafi sekalipun tidak. Apalagi Kak Cinta. Adrian pun tak pernah tersebut nama Rania selama berbicara denganku. Pikiranku dipenuhi oleh tanda tanya. Rupanya aku masih tidak begitu mengenal Adrian.



"Em, kamu cemburu.", komentar Kak Cinta sembari mengupas jeruk saat aku bercerita tentang kejadian itu di rumahnya malam itu juga.

"Rania anaknya baik koq. Dia cuma emm....apa ya? Misanthropist.", sambungnya.

"Misanthropist? Apa itu kak?", tanyaku yang tidak mengerti istilah baru di telingaku.

"Misanthropist itu semacam anti sosial gitu. Dia jarang kumpul di acara-acara itu. Kadang memang jadi bullian anak-anak, tapi aslinya baik koq. Dia udah punya pacar di Indonesia. Udah tunangan kalo ga salah."

"Beneran, Kak?", tanyaku spontan. Kak Cinta berhenti dari aktivitasnya membersihkan jeruk kupasannya. Kemudian menatapku lekat dengan senyum simpul sembari berjalan kearahku.

"Kamu lagi jatuh cinta", katanya mantab sembari mencolek pipiku dengan telunjuknya, lalu berjalan kearah meja makan lagi.

"Makanya kamu cemburu,", sambungnya sambil tertawa kecil.



Aku hanya terdiam. Benarkah aku cemburu? Apakah aku jatuh cinta pada Adrian?


Musim gugur bukan hanya tentang daun yang berguguran.
Namun juga tentang mekarnya bunga Camelia yang cantik

Sunday, September 16, 2018

Coretan Pagi Ini: Mental Ketika Sakit

Seringkali saya bertanya dalam hati ketika menonton dorama Jepang, mengapa orang yang sakit digambarkan dengan orang-orang yang ceria, yang kreatif, yang menyenangkan? Sedangkan di Indonesia, film dan sinetron kita menyajikan orang yang sakit dengan keadaan lemah lesu, sungguh sakit sekali hingga tidak bisa apa2.

Kita coba lihat drama Jepang dari mulai One Little of Tears, bahkan hingga ke Good Doctor pun, orang-orang yang sakit digambarkan sangat ceria. Pertama, saya pikir itu hanya sebuah ilusi penggambaran orang jepang yang tidak mau imej lemah. Namun setelah saya makan bareng Ryouichi-kun minggu lalu, ternyata pikiran saya salah.

Ryouichi-kun, dia masih Nenchu (TK besar). Dia adalah sprinter, pelari andalan kelas Persik. Awalnya kami berbincang pada saat makan, bagaimana Ryo-kun mengkhawatirkan Yuma-kun (anak dari seorang pemain bola profesional Liga Jepang) dari kelas Mawar,  dan juga Haruma-kun (murid favorit saya yang nampak seperti anak nakal tapi ternyata sopan sekali) dari kelas Lili. Yuma dan Haruma adalah sprinter yang sangat cepat, saingan berat Ryo yang juga pelari tercepat di kelasnya.

Tidak nampak sama sekali di mata saya setiap harinya bahwa Ryo itu sakit. Sampai kemudian di tengah makan, ibunya datang ke kelas. Dan hari itu saya baru tahu bahwa setiap hari, ibunya harus datang ke kelas. Maklum saja, kami guru bahasa Inggris selalu dioper dari satu kelas ke kelas lain setiap minggunya dan daris ekolahs atu ke sekolah lain, jadi kesempatan untuk berada dalam satu kelas itu hanya satu kali selama satu semester ini.

Saya pikir, ibunya datang karena Ryo ketinggalan sesuatu. namun ketika beliau berlutut dan membuka baju Ryo, kemudian mengeluarkan alat suntik, dan menyintikkan cairan ke perut Ryo, di depan mata saya, saya terbelalak kaget. Saya tanya dengan hati2 ke ibunya Ryo sakit apa, tapi karena bahasa Jepang saya yang masih bego ini, apalagi untuk kata kesehatan, saya kurang paham. Namun yang saya tangkap, ibunya bilang bahwa penyakitnya sudah ada sejak Ryo lahir, dan dia harus disuntik insulin setiap hari.

Saya kemudian melihat Ryo, tidak ada sama sekali tampang orang sakit. Ryo ceria, dan penuh energi setiap kali bermain setelah jam makan siang. Setiap pelajaran bahasa Inggris pun dia selalu ceria dan tidak pernah murung, apalagi ngambek. Ryo ini anak baik.

Lalu saya tanya, Ryo, jika besar kamu nanti mau jadi apa? Dia bilang, ingin jadi pelari andalan Jepang. Saya menahan air mata, kemudian saya bilang, semangat ya. Dia mengangguk dan menghabiskan makanan di mulutnya.

Saya tanya lagi,

"Ryo ga sakit?"

Ryo bilang, "Sakit, sensei, tapi sudah terbiasa."

"Kenapa Ryo terlihat senang? Kan Ryo sakit?"

"Byoki ha byoki de (saya masih kurang bisa memahami kalimat ini), tapi Ryo juga ingin bermain dengan teman-teman. Karena itu Ryo ganbaru. Mama bilang Ryo bisa jadi sprinter yang hebat."

Dari situ saya menyimpulkan bahwa anak-anak memang ditanamkan untuk menjadi kuat meskipun dalam keadaan sakit. Mental kuat seperti itu yang saya sedang butuhkan. Mental kuat yang seperti orang jepang, yang masih bersemangat meskipun dalam keterbatasan.

Yayoi Kusama, beliau punya phobia dengan motif polkadot, namun beliau berhasil membuat ketakutan itu menjadi sebuah karya.

Saya, yang cuma kena Power Harrasment oleh mantan sensei saya ini sudah dendam ga ketulungan. Melihat Ryo ini, saya malu dengan diri saya sendiri. Saya harus bisa bermental kuat seperti Ryo. Saya harus bisa menemukan jalan sukses saya setelah ini.

Terima kasih, Ryo, sudah mengajarkan sensei apa itu yang namanya mental kuat. Sensei mendoakan Ryo menjadi sprinter andalan jepang suatu saat nanti.

Saturday, September 15, 2018

The Secret of Nasi Goreng: a science of rice and spices

A lot of people knows what is Nasi Goreng or fried rice, and world vote it as the second most delicious food according to CNN after Rendang, which comes from Indonesia. And that is one of Indonesian pride on culinary. But when the first time I came to Japan on 2011, I was so surprised, JAPAN HAS IT'S OWN NASI GORENG!!! Then, when I came to Chinese restaurants, I saw nasi goreng everywhere!! And, there are lots of Malays who claimed that Nasi Goreng is also originally from Malaysia. So, here, I am trying to tell you anything about the secret of Nasi Goreng.

The Secret of 

Nasi Goreng (Fried Rice)


1. The Origin of Nasi Goreng

According to Wikipedia, the origin of Nasi Goreng came from Indonesia. It was spread out around the world by Indonesian immigrant into Malaysia, Sri Lanka, Suriname, and Netherlands.

However, Nasi Goreng was apparently not 100% original from Indonesia. Hold on, I have my theory to talk about that. So, it had been modified from chaofan, a Chinese style fried rice. Chaofan itself begun from Southern China, where in history, people from Southern China traveled to Indonesia back then approximately on 10th century. I believe that chaofan was introduced to Indonesian indigenous, since our staple food is rice as well. Since then, perhaps, Nasi Goreng begins with Indonesian original taste.

Chaofan aka Chinese Nasi Goreng
source: https://www.whats4eats.com


Wait a sec, apparently, it's not only chaofan which influenced Nasi Goreng. Since Indonesia at that time was gaining influences not only from China, but also from Middle Eastern. So that the cuisine. Pilaf is one of rice dish which was allegedly giving influence in Nasi Goreng as well.

Pilaf aka Middle Eastern style Nasi Goreng
source: http://www.thinkrice.com

2. The Difference between Nasi Goreng, Chaofan, Pilaf and other Fried Rice Variants

Since Nasi Goreng is a kind of mix between chaofan and pilaf, and of course a taste of Indonesian, it has a unique flavor and can be distinguished from other fried rice variants. Here, let's talk about the difference between Nasi Goreng, Chaofan and Pilaf.

a. Rice


Despite rice as the main ingredient for fried rice, however, there is a big difference between the actual rice they use from each area. As I learned from my past studies that there are many different kinds of rice, or what we call as paddy or Oryza sativa variance in agriculture. It has to be distinguished between common rice (Oryza sativa) with African rice (Oryza glaberrima), which is a different species. And most of fried rice use Oryza sativa varieties.

Japanese Rice, Oryza sativa subsp. japonica
source: https://www.smartkitchen.com


China and East Asia (Japan and Korea) where japonica rice variety grows largely, known scientifically as Oryza sativa subsp. japonica (subsp. refers to sub species). Japonica rice characteristics are round and thick, and also sticky when it gets cooked. Middle Eastern uses the other variance, which is aromatica rice, the longer grains, thinner and less sticky compare to Japonica ones. One of the varieties is Basmati Rice. That would make pilaf has different texture than chaofan.

Basmati Rice, Oryza sativa subsp. aromatica
source: https://freshpatna.com


On the other hand, since Indonesia is located between japonica and aromatica, there is another variety which is largely grown, Oryza sativa subsp. indica.  The texture is somewhere in the middle of japonica and aromatica rice. It makes Nasi Goreng is just fine and perfect texture among the other. Rice character is apparently became a distinguish factor to differentiate between fried rice around the world.

Indica Rice, Oryza sativa subsp. indica
source: https://www.alibaba.com

b. Spices / Ingredients


Chaofan uses soy sauce, garlic and sesame oil as a basic ingredients. Some styles may add scallion, ginger, chili pepper, vegetables and meat in. The characteristic of chaofan is the garlic taste on it. While pilaf uses cooked onion, garlic, cumin, cardamon, and some featured spices. Beside that, the rice had been cooked with broth, previously. Pilaf is more spicy (stronger taste) compare to both Nasi Goreng and chaofan.

Horwever, Nasi Goreng uses sweet soy sauce (kecap), mixture of shallot, garlic, salt, pepper, tomato, chilli pepper, and some styles may add shrimp paste. Completely a different ingredients which make an authentic taste of Indonesia.


Conclusion


The combination between rice and spices makes a big different between each country style. It is not only about food, but also about culture, and agriculture.  It is a basic instinct that people on an area knows better what suitable for what they have. Japonica rice would not work perfectly with pilaf style, as well as Basmati rice with chaofan. It could be works, but is it as authentic as the original recipe? It's a human judgement 😄

The conclusion is Nasi Goreng is delicious, as well as other fried rice styles. Rather than debating where fried rice dishes came from, I believe where there is rice, there is fried rice, whatever in chaofan style, pilaf style, or just Nasi Goreng.