Monday, September 17, 2018

I Fall in the Autumn (18)

Aku ingin bercerita tentang Adrian. Tentang perbedaan yang kurasakan selama aku disini. Bukan Adrian yang sama yang aku kenal ketika SMA dulu. Yang seolah membuat jarak dengan orang lain. Adrian yang sekarang hampir selalu membuat aku merasa jatuh dalam pesonanya. Hampir. Ya, jika bukan karena testimoni teman-teman disini yang memandang Adrian sebagai laki-laki yang ketus dan dingin, meski pak Rafi dan beberapa bapak ibu menilai Adrian itu sangat baik. Aku tidak mau terlalu percaya diri dengan perlakuan Adrian padaku, bisa saja hanya karena aku adalah teman lamanya. Namun, jauh di lubuk hatiku, aku tak bisa menolak bahwa aku merasakan getaran ketika bersamanya.



Seperti saat hujan pertama di musim semi ini. Aku yang masih belum terlalu mengandalkan ramalan cuaca pada aplikasi smartphone, lupa untuk membawa payung. Malam itu, ketika aku pulang dari ruang eksperimen dan berpamitan dengan Pak Rafi, hampir saja aku menerobos dinginnya hujan di awal musim semi. Hingga Adrian memayungiku dari belakang. Dan kita berjalan berdua. Bercerita mengenai kegiatan sehari-hari. Ada keramahan yang tidak pernah muncul sebelumnya dari Adrian. Ada tawa renyah yang hanya satu kali aku rasakan, yaitu ketika dia meminta untuk foto bersamaku tepat di hari terakhir kita bertemu.



Atau ketika aku mengurus aplikasi untuk mengikuti kelas bahasa Jepang. Dia mengantarku ke International Student Center atau yang biasa kita sebut sebagai Ryuugakusei Senta. Dia tiba-tiba saja menarik tubuhku di pelukannya. Sedetik kemudian baru kusadari ada anak jepang yang menaiki sepedanya dengan kecepatan terlalu tinggi dan hampir menabrakku. Aku hanya mengucapkan terima kasih dengan perasaan malu sekaligus kikuk.



Atau ketika setiap malam dia menawariku untuk makan bersama di rumahnya. Dan menjadikan kegiatan memasak bersama adalah salah satu kegiatanku bersamanya setiap malam. Meskipun pada awalnya aku merasa sungkan, namun setelah satu minggu, seolah-olah adalah hal yang biasa. Tentu saja, dimana ada kami, Satria akan selalu hadir menemani makan malam kami melalui video call. Dan dia akan selalu marah karena sudah menghabiskan lebih dari 2 jam waktunya hanya untuk bercerita lepas. Namun kita akan melakukannya lagi besoknya, dan hari-hari seterusnya.

Adrian rupanya penyuka kejutan. Lebih tepatnya, dia yang memberi kejutan. Satu hari setelah aku bercerita mengenai kesulitanku dalam eksperimenku, tiba-tiba paginya dia datang ke laboratoriumku sekedar memberikan minuman coklat yang menjadi favoritku disini seraya menyemangatiku. Melempar senyum kepada Pak Rafi, lalu pergi.  Atau ketika dia menyeretku tiba-tiba di hari minggu. Aku yang masih dengan piyamaku hanya berbalut mantel musim dingin panjang diajaknya ke taman dekat apartemen kami pagi-pagi.

"Lihat Em, Sakuranya mekar. Cantik kan?", katanya sembari aku berkata dalam hati, "Nggak penting banget si".

Kemudian dia membidikkan kameranya. Memotret beberapa bagian dari pohon sakura itu. Aku berdiri sambil melipat tanganku di bawah salah satu pohon sakura yang sudah mekar sekitar 50%. Bunga sakuranya lebih kecil dan warna pink nya lebih tebal daripada bunga sakura yang ditunjukkan Adrian sebelumnya. Tiba-tiba kurasakan Adrian memotret ke arahku. Aku menengok kebelakang, terlambat menyadari bahwa Adrian mengambil fotoku. Ku lepas tanganku seraya berteriak padanya untuk menghentikan aksinya. Tanpa kusadari, kami tertawa lepas sambil berusaha merebut kamera dari tangan Adrian.



Lantas, tiba-tiba dia memegang tangan kiriku. Kami berdiri tepat di bawah kanopi pohon-pohon sakura yang sedang berkompetisi untuk menampilkan setiap keindahannya. Satu helai kelopak sakura jatuh ke sela-sela rambutku. Jantungku seakan berhenti saat Adrian menatapku lekat-lekat. Lidahku kaku untuk berkata, aku hanya menatapnya dengan tubuh bergetar. Kulihat mulut Adrian hendak mengatakan sesuatu, namun enggan. Satu tarikan nafasnya kemudian sebelum akhirnya dia menolehkan matanya ke arah belakangku sembari berkata,

"Bentar ya," sembari melepas tanganku dan berjalan lurus ke depan lalu kembali lagi. Dia menyematkan satu helai Sakura kecil di dekat telinga kiriku. Satu detik dia menatapku sambil tersenyum, lalu mengarahkan kameranya tepat di depanku.

"Cantik", katanya sambil tersenyum.

"Yuk pulang", seraya menarik tanganku ke arah apartemen.



Aku hanya terdiam melihat tingkahnya. Di dalam kamar, aku hanya memandangi sakura yang dia sematkan. Bunganya sudah mulai layu, tapi aku masih bergetar mengingat kejadian tadi. Aku menyadari ada getaran yang sama seperti ketika aku memandang Naoki dulu. Hanya saja kali ini, aku merasakan getaran itu bukan datang dariku sendiri.



Semakin lama, kami menjadi sering jalan bersama. Dan teman-teman disini menjadi sering menanyakan hubungan kami. Namun aku hanya menjawab bahwa kami sudah kenal semenjak SMP, jadi wajarlah jika Adrian terkesan lebih ramah dan terbuka padaku. Mereka menjawab dengan gaya khas jepang, eeeee......



Aku hanya berani bercerita diam-diam dengan Kak Cinta. Karena diantara teman-teman wanita disini, aku merasa lebih nyaman untuk bercerita dengannya. Kak Cinta juga menjadi salah satu dari sedikit orang yang bisa dibilang cukup dekat dengan Adrian. Kak Cinta selalu berbinar-binar jika aku sudah bercerita tentang hal yang kualami dengan Adrian. Dia selalu nampak excited mendengarnya, mungkin justru dia yang paling bersemangat tentang kejadian-kejadian itu dibanding aku sendiri. Tak jarang dia sengaja meninggalkan kami jika kami bertemu Adrian secara kebetulan di kantin, sambil mengedipkan mata manja pada Adrian sembari menepuk pundaknya dan berkata "tanoshinde ne!", yang kemudian kutahu artinya sebagai "selamat bersenang-senang".



Mungkin saja aku jatuh cinta pada Adrian. Aku hampir saja menyombongkan keberadaanku sebagai satu-satunya orang yang dekat dan tahu Adrian. Hingga dia datang. Rania. Aku bertemu dengannya pukul 9 pagi. Ketika aku akan berangkat ke kampus. Seketika aku mengunci rumahku, seketika itu juga pintu rumah Adrian terbuka. Dan dia keluar disana sambil memakai mantelnya. Kulihat ekspresi Adrian sedikit terkejut melihatku, namun dia selalu berhasil menguasai ekapresinya. Dia mengenalkanku padanya.

"Em, ini Rania. Rania, ini Emi."

Rania mengulurkan tangannya, aku menyambutnya dan kami berjabat tangan sambil mengenalkan nama masing-masing. Adrian memintaku untuk pergi duluan karena dia akan mengantar Rania ke apartemennya dulu. Rania tersenyum padaku. Aku kemudian pergi meninggalkan mereka dengan tanda tanya. Sekilas aku melihat rania sebagai gadis yang lemah lembut. Tatapan matanya sayu, namun tidak bisa memudarkan kecantikan. Dia bahkan lebih cantik dari Kak Cinta yang menurutku paling cantik diantara pelajar Indonesia yang ada disini. Tapi, kenapa sepagi itu di rumah Adrian? Selama aku disini, tak pernah sekalipun aku menemukan orang lain masuk ke rumah Adrian selain aku. Pak Rafi sekalipun tidak. Apalagi Kak Cinta. Adrian pun tak pernah tersebut nama Rania selama berbicara denganku. Pikiranku dipenuhi oleh tanda tanya. Rupanya aku masih tidak begitu mengenal Adrian.



"Em, kamu cemburu.", komentar Kak Cinta sembari mengupas jeruk saat aku bercerita tentang kejadian itu di rumahnya malam itu juga.

"Rania anaknya baik koq. Dia cuma emm....apa ya? Misanthropist.", sambungnya.

"Misanthropist? Apa itu kak?", tanyaku yang tidak mengerti istilah baru di telingaku.

"Misanthropist itu semacam anti sosial gitu. Dia jarang kumpul di acara-acara itu. Kadang memang jadi bullian anak-anak, tapi aslinya baik koq. Dia udah punya pacar di Indonesia. Udah tunangan kalo ga salah."

"Beneran, Kak?", tanyaku spontan. Kak Cinta berhenti dari aktivitasnya membersihkan jeruk kupasannya. Kemudian menatapku lekat dengan senyum simpul sembari berjalan kearahku.

"Kamu lagi jatuh cinta", katanya mantab sembari mencolek pipiku dengan telunjuknya, lalu berjalan kearah meja makan lagi.

"Makanya kamu cemburu,", sambungnya sambil tertawa kecil.



Aku hanya terdiam. Benarkah aku cemburu? Apakah aku jatuh cinta pada Adrian?


Musim gugur bukan hanya tentang daun yang berguguran.
Namun juga tentang mekarnya bunga Camelia yang cantik

Sunday, September 16, 2018

Coretan Pagi Ini: Mental Ketika Sakit

Seringkali saya bertanya dalam hati ketika menonton dorama Jepang, mengapa orang yang sakit digambarkan dengan orang-orang yang ceria, yang kreatif, yang menyenangkan? Sedangkan di Indonesia, film dan sinetron kita menyajikan orang yang sakit dengan keadaan lemah lesu, sungguh sakit sekali hingga tidak bisa apa2.

Kita coba lihat drama Jepang dari mulai One Little of Tears, bahkan hingga ke Good Doctor pun, orang-orang yang sakit digambarkan sangat ceria. Pertama, saya pikir itu hanya sebuah ilusi penggambaran orang jepang yang tidak mau imej lemah. Namun setelah saya makan bareng Ryouichi-kun minggu lalu, ternyata pikiran saya salah.

Ryouichi-kun, dia masih Nenchu (TK besar). Dia adalah sprinter, pelari andalan kelas Persik. Awalnya kami berbincang pada saat makan, bagaimana Ryo-kun mengkhawatirkan Yuma-kun (anak dari seorang pemain bola profesional Liga Jepang) dari kelas Mawar,  dan juga Haruma-kun (murid favorit saya yang nampak seperti anak nakal tapi ternyata sopan sekali) dari kelas Lili. Yuma dan Haruma adalah sprinter yang sangat cepat, saingan berat Ryo yang juga pelari tercepat di kelasnya.

Tidak nampak sama sekali di mata saya setiap harinya bahwa Ryo itu sakit. Sampai kemudian di tengah makan, ibunya datang ke kelas. Dan hari itu saya baru tahu bahwa setiap hari, ibunya harus datang ke kelas. Maklum saja, kami guru bahasa Inggris selalu dioper dari satu kelas ke kelas lain setiap minggunya dan daris ekolahs atu ke sekolah lain, jadi kesempatan untuk berada dalam satu kelas itu hanya satu kali selama satu semester ini.

Saya pikir, ibunya datang karena Ryo ketinggalan sesuatu. namun ketika beliau berlutut dan membuka baju Ryo, kemudian mengeluarkan alat suntik, dan menyintikkan cairan ke perut Ryo, di depan mata saya, saya terbelalak kaget. Saya tanya dengan hati2 ke ibunya Ryo sakit apa, tapi karena bahasa Jepang saya yang masih bego ini, apalagi untuk kata kesehatan, saya kurang paham. Namun yang saya tangkap, ibunya bilang bahwa penyakitnya sudah ada sejak Ryo lahir, dan dia harus disuntik insulin setiap hari.

Saya kemudian melihat Ryo, tidak ada sama sekali tampang orang sakit. Ryo ceria, dan penuh energi setiap kali bermain setelah jam makan siang. Setiap pelajaran bahasa Inggris pun dia selalu ceria dan tidak pernah murung, apalagi ngambek. Ryo ini anak baik.

Lalu saya tanya, Ryo, jika besar kamu nanti mau jadi apa? Dia bilang, ingin jadi pelari andalan Jepang. Saya menahan air mata, kemudian saya bilang, semangat ya. Dia mengangguk dan menghabiskan makanan di mulutnya.

Saya tanya lagi,

"Ryo ga sakit?"

Ryo bilang, "Sakit, sensei, tapi sudah terbiasa."

"Kenapa Ryo terlihat senang? Kan Ryo sakit?"

"Byoki ha byoki de (saya masih kurang bisa memahami kalimat ini), tapi Ryo juga ingin bermain dengan teman-teman. Karena itu Ryo ganbaru. Mama bilang Ryo bisa jadi sprinter yang hebat."

Dari situ saya menyimpulkan bahwa anak-anak memang ditanamkan untuk menjadi kuat meskipun dalam keadaan sakit. Mental kuat seperti itu yang saya sedang butuhkan. Mental kuat yang seperti orang jepang, yang masih bersemangat meskipun dalam keterbatasan.

Yayoi Kusama, beliau punya phobia dengan motif polkadot, namun beliau berhasil membuat ketakutan itu menjadi sebuah karya.

Saya, yang cuma kena Power Harrasment oleh mantan sensei saya ini sudah dendam ga ketulungan. Melihat Ryo ini, saya malu dengan diri saya sendiri. Saya harus bisa bermental kuat seperti Ryo. Saya harus bisa menemukan jalan sukses saya setelah ini.

Terima kasih, Ryo, sudah mengajarkan sensei apa itu yang namanya mental kuat. Sensei mendoakan Ryo menjadi sprinter andalan jepang suatu saat nanti.

Saturday, September 15, 2018

The Secret of Nasi Goreng: a science of rice and spices

A lot of people knows what is Nasi Goreng or fried rice, and world vote it as the second most delicious food according to CNN after Rendang, which comes from Indonesia. And that is one of Indonesian pride on culinary. But when the first time I came to Japan on 2011, I was so surprised, JAPAN HAS IT'S OWN NASI GORENG!!! Then, when I came to Chinese restaurants, I saw nasi goreng everywhere!! And, there are lots of Malays who claimed that Nasi Goreng is also originally from Malaysia. So, here, I am trying to tell you anything about the secret of Nasi Goreng.

The Secret of 

Nasi Goreng (Fried Rice)


1. The Origin of Nasi Goreng

According to Wikipedia, the origin of Nasi Goreng came from Indonesia. It was spread out around the world by Indonesian immigrant into Malaysia, Sri Lanka, Suriname, and Netherlands.

However, Nasi Goreng was apparently not 100% original from Indonesia. Hold on, I have my theory to talk about that. So, it had been modified from chaofan, a Chinese style fried rice. Chaofan itself begun from Southern China, where in history, people from Southern China traveled to Indonesia back then approximately on 10th century. I believe that chaofan was introduced to Indonesian indigenous, since our staple food is rice as well. Since then, perhaps, Nasi Goreng begins with Indonesian original taste.

Chaofan aka Chinese Nasi Goreng
source: https://www.whats4eats.com


Wait a sec, apparently, it's not only chaofan which influenced Nasi Goreng. Since Indonesia at that time was gaining influences not only from China, but also from Middle Eastern. So that the cuisine. Pilaf is one of rice dish which was allegedly giving influence in Nasi Goreng as well.

Pilaf aka Middle Eastern style Nasi Goreng
source: http://www.thinkrice.com

2. The Difference between Nasi Goreng, Chaofan, Pilaf and other Fried Rice Variants

Since Nasi Goreng is a kind of mix between chaofan and pilaf, and of course a taste of Indonesian, it has a unique flavor and can be distinguished from other fried rice variants. Here, let's talk about the difference between Nasi Goreng, Chaofan and Pilaf.

a. Rice


Despite rice as the main ingredient for fried rice, however, there is a big difference between the actual rice they use from each area. As I learned from my past studies that there are many different kinds of rice, or what we call as paddy or Oryza sativa variance in agriculture. It has to be distinguished between common rice (Oryza sativa) with African rice (Oryza glaberrima), which is a different species. And most of fried rice use Oryza sativa varieties.

Japanese Rice, Oryza sativa subsp. japonica
source: https://www.smartkitchen.com


China and East Asia (Japan and Korea) where japonica rice variety grows largely, known scientifically as Oryza sativa subsp. japonica (subsp. refers to sub species). Japonica rice characteristics are round and thick, and also sticky when it gets cooked. Middle Eastern uses the other variance, which is aromatica rice, the longer grains, thinner and less sticky compare to Japonica ones. One of the varieties is Basmati Rice. That would make pilaf has different texture than chaofan.

Basmati Rice, Oryza sativa subsp. aromatica
source: https://freshpatna.com


On the other hand, since Indonesia is located between japonica and aromatica, there is another variety which is largely grown, Oryza sativa subsp. indica.  The texture is somewhere in the middle of japonica and aromatica rice. It makes Nasi Goreng is just fine and perfect texture among the other. Rice character is apparently became a distinguish factor to differentiate between fried rice around the world.

Indica Rice, Oryza sativa subsp. indica
source: https://www.alibaba.com

b. Spices / Ingredients


Chaofan uses soy sauce, garlic and sesame oil as a basic ingredients. Some styles may add scallion, ginger, chili pepper, vegetables and meat in. The characteristic of chaofan is the garlic taste on it. While pilaf uses cooked onion, garlic, cumin, cardamon, and some featured spices. Beside that, the rice had been cooked with broth, previously. Pilaf is more spicy (stronger taste) compare to both Nasi Goreng and chaofan.

Horwever, Nasi Goreng uses sweet soy sauce (kecap), mixture of shallot, garlic, salt, pepper, tomato, chilli pepper, and some styles may add shrimp paste. Completely a different ingredients which make an authentic taste of Indonesia.


Conclusion


The combination between rice and spices makes a big different between each country style. It is not only about food, but also about culture, and agriculture.  It is a basic instinct that people on an area knows better what suitable for what they have. Japonica rice would not work perfectly with pilaf style, as well as Basmati rice with chaofan. It could be works, but is it as authentic as the original recipe? It's a human judgement 😄

The conclusion is Nasi Goreng is delicious, as well as other fried rice styles. Rather than debating where fried rice dishes came from, I believe where there is rice, there is fried rice, whatever in chaofan style, pilaf style, or just Nasi Goreng.



Friday, September 14, 2018

Renungan Pagi Ini: Spotlight

Baru saja kemarin saya menyelesaikan buku Ubur-Ubur Lembur nya Raditya Dika. Di beberapa bab terakhir, tulisan bang Radit berhasil menggelitik saya. Terlebih di bagian dimana dia berkomunikasi dengan Imam, anak kecil yang bertanya tentang bagaimana cara menjadi artis padanya.

Bang Radit bilang, bahwa susah jadi artis, karena jika dia sudah tidak mendapatkan spotlight, atau sorotan, maka dia akan melakukan segala cara termasuk settingan, untuk mendapatkan kembali sorotan tersebut.

Jangankan artis atau entertainer, kita manusia biasa saja juga butuh sorotan. Bahkan petani di sawah pun butuh untuk menjadi sorotan diantara petani-petani lainnya. Dan kita, secara tidak sadar berlomba-lomba untuk mendapatkan sorotan dalam kehidupan.

Bagaimana tidak? rasanya menyenangkan sekali mendapatkan sorotan. Suara kita lebih didengar oleh orang banyak. Banyak keistimewaan yang bisa kita dapatkan dengan dikenalnya kita oleh banyak orang. Misalkan saja, kita mengantri SIM. Jika kita bukan orang yang dikenal baik setidaknya oleh satu orang pegawai kantor pelayanan SIM, pastilah kita tidak akan mendapat kemudahan. Atau contoh lain, jika kita bukan orang yang terkenal, mana ada orang mau menengok blog kita. Iya. Sumpah. Kecuali kita berusaha untuk menulis sesuatu yang bisa menjadi sorotan. Tulisan kontroversi misalnya, atau bahkan tulisan bermanfaat sekalipun. Secara tidak sadar, kita sudah berusaha untuk mendapatkan sorotan.

Hidup memang tidak lepas dari kompetisi. Dan apapun menjadi sah dilakukan oleh orang untuk mendapatkan sorotan, dan nantinya akan diklaim sebagai jalan hidupnya. Saya pun demikian.

spotlight
Spotlight
Source: dhgate.com

Beberapa tahun lalu, meski hanya skala kecil, tidak seperti Tasya, artis cilik kita, saya pun sempat mendapatkan sorotan karena berhasil kuliah ke luar negeri. Lebih tersorot lagi di skala amat sangat lokal, ketika saya menjadi penyiar Radio PPI Jepang. Lantas, sorotan itu meredup. Lantas apa? Saya mulai tidak dikenal oleh orang. Lalu yang saya lakukan?

Ya mencari sorotan lain. Pindah. Nge-blog lagi, mencoba nge-vlog namun gagal, kemudian mencoba menulis novel. Itu semua secara tidak sadar, saya pun mencari spotlight. Tak sedikit orang yang kena dampak meredupnya sorotan dengan tidak sadar terkena Post Power Syndrome. Sebuah tingkah laku dimana manusia akan merasa masih berada pada spotlight padahal sudah sangat meredup. Biasanya, orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang berlaku arogan. Saya pribadi, tidak ingin hal itu terjadi di diri saya.

Lantas bagaimana caranya kita menghindari hal seperti itu?
Saya menyadari adanya potensi post power syndrome yang dapat saya alami. Oleh karena itu, seperti yang saya bilang diatas, mencari sorotan lain. Mungkin karena saya menyadari bahwa saya bukan orang yang haus akan sorotan, namun masih perlu untuk disorot, oleh karena itu, saya mencoba mencari sorotan melakui dunia tulisan. Saya pikir, dunia tulisan tidak akan pernah mati untuk menuangkan ide dan pikiran. Dunia tulisan juga tidak terbatas oleh usia. Tidak seperti dunia visual atau audio.

Pada intinya adalah bahwa sudah kodratnya manusia hidup dari panggung ke panggung. Yang membedakan adalah, seberapa serakah manusia dalam mencari sorotan panggung? Dan bagaimana dia memperlakukan panggung itu dengan penuh kebermanfaatan, atau hanya sekedar pamer keakuan semata.

Saturday, September 1, 2018

Want You More

"Jadi, mau datang ke reuni, Rhe?", tanya sahabatku, Bunga di telepon.

Aku menghela nafas sejenak sebelum mengutarakan alasanku,

"Bunga, aku malas ke reuni akbar. Tau nggak? teman-teman semua udah menikah. Aku? E buset, pacar aja kagak ada. Bisa jadi bulan-bulanan, cemoohan, dijodohin sama sisaan cowok yang belum menikah, itu pun kalau ada. Ujung-ujungnya, nanti ketemu berondong lagi. Terus, nanti aku bakalan ketemu sama Widi, Aji, Hari, mantan-mantanku itu, belum lagi yang mantan-mantan gebetan, dan melihat mereka datang bawa keluarga masing-masing sedangkan aku masih jomblo? Mau taruh dimana mukaku?", aku kembali menghela nafas, disusul suara tawa mak lampir khas Bunga.

"Ayolah, temani aku, lagian juga belum tanggal kamu balik ke Zaragoza kan?", bujuk Bunga masih belum menyerah.

"Aduh, Bung, kamu berangkat sama Mas Angga, hellow...kita bertiga satu sekolah"

"Tapi dia kan pasti ngumpul sama temen angkatannya..."

" Dan kamu juga kumpul sama temen satu kelasmu di IPS, aku sendirian, dan sekelas IPA 1 semua udah pada nikah kecuali gue, Bung", segera kupotong rengekan Bunga.

"Yaudah terserah, nanti pokoknya kalau mau datang kabarin aja, Mas Angga bakal nyetir soalnya ya. Da neek...", kemudian terputus sambungan telepon Bunga.

Aku mendengus kesal sambil menatap layar laptopku. Reuni, huh?

Aku sebenarnya sangat malas datang ke reuni. Apalagi di awal kepala tiga. Ketika semua teman, bahkan mantan dan mantannya mantan sudah berumah tangga, hanya aku dan segelintir teman saja yang masih betah melajang. Entah alasan mereka apa untuk melajang, tetapi untuk aku, memang aku tidak seberuntung teman lain dalam urusan percintaan. Lebih karena ketidak percaya dirianku yang menghalangiku untuk menikah. Berkali-kali aku menggagalkan rencana pernikahanku sendiri karena aku yang terlalu tidak percaya diri berkomitmen, tetapi disisi lain juga aku adalah seorang perfectionist akut yang tidak bisa menerima apabila ada hal yang tidak kusukai dari pasanganku.

Dibandingkan dengan reuni, aku lebih menyukai datang ke acara konferensi. Bertemu orang baru adalah kegiatan favoritku. Dari situ, berkenalan dengan orang baru dan membuka lembaran baru adalah caraku melupakan masa lalu. Meski sebenarnya aku tidak akan bisa lepas dari masa lalu, namun setidaknya, cukup untuk membuat kehidupan sosialku menjadi lebih baik. 

"Rhea, Rhea.."

"Rhea!!", suara Denny, rekan kantorku memanggil, menyadarkan lamunanku, "Are you okay?"

"Uhm..fine..sorry, I just.."

"It's okay, take your time. I just want to give you this." kata Denny sambil menyerahkan dokumen yang harus kupelajari untuk bahan presentasi bulan depan.

"Thanks..", jawabku dibalas dengan senyuman oleh Denny dan segera dia menutup pintu ruang kerjaku.

Sepulang kantor, kunyalakan kembali laptopku dan kubuka undangan elektronik tentang reuni. Aku lihat sudah banyak teman-teman seangkatan yang bersedia datang. Kulihat Bunga pun sudah mengkonfirmasi kedatangannya. Jujur aku semakin malas untuk datang. Namun kulihat akun dia menyatakan datang. Dia. Bukan, bukan salah satu dari mantanku. justru kami tidak saling mengenal satu sama lain dulu.

Akhir-akhir ini pikiranku tergelitik olehnya. Dia yang hanya selalu kulihat punggungnya lewat sela-sela jendela kelas ketika pagi. Dia yang sangat misterius karena di jaman serba sosial media seperti ini, dia hanya punya satu saja. Itu pun sangat jarang aktif. Saking penasarannya, aku sampai bergadang malam-malam hanya untuk mengetahui informasi tentangnya. Namun nihil. Akhirnya kuputuskan untuk bertanya kepada Ian, sahabatku yang kebetulan satu kelas dengannya. 

Ian hanya kertawa. "Kamu, sama dia?", dan meninggalkan tanda tanya besar. Memangnya kenapa? Dia belum menikah, dan aku juga belum. 

Namanya Reynald. Sepanjang kami SMA, aku hanya mengenalnya sebagai pacar dari teman satu SMP denganku. Berpapasan pun kami tak pernah saling bertegur sapa. Wajahnya pun sudah samar. Terang saja karena aku tidak menemukan satu pun foto tentang dia dimanapun. Yang kuingat hanyalah bayangan punggungnya. Iya, memang hanya punggungnya. karena dulu, aku hanya ingat sering sekali berjalan di belakangnya. Sehingga hanya terlihat punggung dan sedikit wajahnya dari belakang ketika dia menengok ke samping. 

"Hentikan aku sebelum aku melakukan hal bodoh, Ian!!"

"Hal bodoh macam apa, Rhe?"

"Jatuh cinta padanya mungkin?"

Ian hanya tertawa mendengar pengakuanku.

"Ayolah Rhea, aku tahu dia itu bukan tipemu."

"I know. I knew it very well."

"Apa yang membuatmu sepenasaran ini, Rhea?"

"Entahlah, mungkin karena dia jomblo dan aku jomblo. Dan tren pernikahan saat ini adalah menikah dengan teman-teman sekolah. Jadi, kalau ada kesempatan, kenapa enggak?" jawabku mengasal.

"Come on, girl! Ini bukan Rhea yang kukenal. And by the way, he has a girlfriend, neng"

"Iya maksudnya dia belum menikah gitu", kataku meralat asal-asalan.

"Dia suka judi dari dulu. Seriously, tapi semoga sudah sadar."

"Dude, reputasi aku di telinganya lebih buruk dari reputasi dia di telingaku."

"Ya, terus udah tau gitu kamu masih maksain mau pdkt?"

"Nggak pdkt juga sih, cuma nyari kesempatan.", jawabku lemas, serasa tidak percaya diri dengan niatku sendiri.

"Udahlah, dulu kamu terkenal ngedeketin cowok duluan, terus ditolak kan? Masak mau ngulangin kebodohan yang sama?"

Aku terdiam mendengar ucapan Ian. Ian benar. Memang seharusnya aku tidak bertingkah seperti ini. Apalagi setelah imej yang kubangun bertahun-tahun ini mengenai asmara. Tentu saja, bukan aku yang mengejar mantan-mantanku duluan. Masak aku harus kembali ke imej lama? Harga diri apa kabar?

"Udah kamu nyari bule lagi sana.", kata Ian mencairkan diamku.

"Tapi dia itu ada daya tarik tersendiri. Semacam buah terlarang. Yang aku inginkan tapi semacam tidak boleh. Aku tau kita sama-sama tidak cocok untuk satu sama lain. Tapi aku nggak tahu kenapa aku nggak bisa menolak rasa penasaran ini? Semakin aku tahu bahwa ini tu ga bagus, semakin aku pengen banget deket sama dia"

"Kamu cuma penasaran. Karena dia nggak ada sosmed aja."

"Aris, mantan gebetanku, ingat? Dia lebih nggak ada sosmed, tapi aku nggak penasaran dengannya.", sanggahku diikuti helaan nafas panjang Ian.

"Emang, kalau ketemu dia, kamu mau apa?", tanya Ian yang kemudian membuatku menerawang jauh.

"Misal kita ketemu ya, Ian, di reuni misalkan. Semua orang membawa pasangan masing-masing, kemudian aku menyingkir karena merasa asing. Lalu dia datang mendekat, menanyakan kabar. Dan kita akan terdiam sejenak, lalu kemudian kita spontan berkata, kenapa kita tidak berdua saja? Terus kita mulai dekat, mulai saling jatuh cinta dan seterusnya seterusnya"

Ian menertawakanku seperti puas sekali rasanya. Aku cuma mendengus kesal. 

" Nggak usah mimpi. Udah sana cari bule. Aku mau jemput istri dulu.", kata Ian sembari menutup video call kami.

Aku kemudian membuka halaman akunnya. Terpampang dengan penuh ketidak-jelasan dalam profilnya. Sejenak kupandangi foto profilnya yang juga tersamarkan wajahnya sebelum ganti display profilnya dengan laman milikku sendiri. Segera ingin aku tutup peramban dan kembali ke file presentasi. Namun niatku urung setelah melihat ada notifikasi pesan pribadi. Kubuka dan kubaca pelan-pelan pesan tersebut.

Bulan depan katanya pulang? Datang reuni bareng yuk

Masih dengan menatap layar, aku meraih telepon gengamku, dan segera kutelepon Bunga.

"Halo, Bunga? Iya aku datang reuni. tapi aku ga ikut sama kamu. Udah ya.."

"Eh..Rhea..kamu datang sama siapa? Cepet banget berubah pikirannya", tanya Bunga di seberang dengan keheranan.

"mmm....perhaps, it's miracle. Dah ya..byeee neeek", segera kututup telepon meski kutahu Bunga masih terkejut. Aku hanya tersenyum dan semakin tersenyum, sebelum aku membalas pesan itu dengan satu kata, yuk.


Saturday, August 25, 2018

I Fall in the Autumn 17

I Fall in the Autumn (Part 17)


"Emi?", katanya dengan sikat gigi yang masih menempel di mulutnya.

"A..Adrian???", pekikku dengan suara yang hampir parau karena masih tidak percaya dengan sosok yang ku lihat.

Adrian, bertahun-tahun ini tidak pernah mendengar kabar apapun tentangnya. Sosial media pun dia tidak punya. Alamat email pun aku tidak tahu. Setelah pamit untuk melanjutkan kuliah di Eropa, sudah terputus komunikasi kita. Tiba-tiba, dia ada di depan mata. Aku memang tidak begitu dekat dengan Adrian, bahkan merasa takut. Namun, ketika kami kelas 3 SMA dan dia duduk di sebelah Satria, kami menjadi sedikit lebih dekat.

"A..aku harus telepon Satria dulu", kataku salah tingkah.

"Masuk dulu sini, teleponnya di dalam aja", katanya mempersilakan aku masuk.

Saking gugupnya aku langsung masuk, dan keluar lagi mengambil tas kertas berisi mi instan yang kujatuhkan tadi.

Di dalam rumah Adrian yang begitu rapih untuk ukuran laki-laki ini, aku masih merasa gugup. Baru sekali ini aku mengunjungi tempatnya, padahal kita satu sekolah semenjak SMP. Adrian mempersilakanku duduk di meja yang dia sebut namanya kotatsu atau meja penghangat untuk musim dingin. Dan kami mulai mengobrol tentang banyak hal. Bukan mengobrol, lebih tepatnya tanya jawab. Adrian bertanya, aku menjawab. Bagaimana aku sampai di Jepang, program apa, hingga berapa lama, di lab mana. Semua ditanyakan. Sampai akhirnya dia berkata,

"Em, gantian kamu tanya apa gitu, ini kayak interogasi banget. Udah lama ga ketemu loh, kita", aku merasakan nadanya yang mulai cair, maka aku pun memberanikan diri untuk bertanya tentang dirinya.

Rupanya Adrian melanjutkan kuliah S3 di Jepang. Luar biasa, pikirku. Setelah lulus S1 dari Jerman, dia melanjutkan kuliah S2 di Inggris selama 1 tahun, dan sekarang kuliah S3 di Jepang. Sedangkan aku, baru saja masuk menjadi research student. Tapi, Adrian memang sangat pintar semenjak sekolah dulu. Minggu lalu, dia baru saja pulang ke Jakarta untuk peluncuran program aplikasi baru buatannya untuk perusahaan kecilnya. Aku tak kuasa menahan tatapan kagum padanya. Entah mengapa hari ini aku melihat sisi lain dari Adrian yang lebih hangat dan bersahabat, dibandingkan dengan Adrian yang cool dan penuh tatapan dingin.

"Jadi mau telepon Satria?", tanyanya membuyarkan lamunanku.

Lalu kami menelepon Satria selama satu jam. Satria sangat kaget hingga berteriak ketika wajah kami berdua muncul di layar ponselnya. Dia bilang bahwa dia iri karena bisa berkumpul kembali setelah lulus SMA. Kami menelpon sekitar satu jam, dan selama itu pula aku berada di tempat Adrian. Setelah puas menelepon Satria, Adrian mengajakku untuk berkeliling dan berbelanja. Dia bilang dia ingin menunjukkan tempat-tempat yang setidaknya aku akan pergi kesana jika membutuhkan sesuatu.

Aku kembali ke kamarku sebentar untuk mengambil tas. Lalu kami pergi keliling menggunakan sepeda. Sepanjang jalan itu, kami bercerita tentang banyak hal. Dan ini adalah kali pertama untuk kami saling bercerita satu sama lain. Adrian menunjukkanku banyak hal. Mulai dari supermarket, toko obat, toko kelontong, hingga ke taman di dekat kampus tempat dimana dia selalu merenung mencari inspirasi. Aku menertawakannya ketika dia membawaku ke taman itu. Namun, taman itu memang sangat asri. Adrian bilang, ketika musim semi, sakura di bagian selatan taman mekar dengan indah. Namun jika musim gugur, pohon maple dan ginko di sekeliling taman ini adalah yang terindah dari tempat terdekat lainnya.

"Nanti pas musim gugur, kamu jadi modelku em. Kamu lihat tadi kameraku di atas meja kan? Ku beli mahal tuh, sayang kalau ga ada modelnya,", katanya berkelakar.

"Eh, aku ga cantik, jangan aku donk, yang lain aja,", sanggahku.

"Ya, nanti dari belakang motonya", ujarnya singkat disusul pukulan tasku ke badannya yang membuat dia tertawa keras. Untuk sejenak, aku tertegun melihat Adrian yang tertawa lepas seperti itu. Aku tersenyum melihat dia tertawa.

"Em, kamu tu kalau senyum manis tau.", ucapnya tiba-tiba dengan tatapan mata tajam, yang membuat jantungku berhenti sementara. Karena tidak pernah ada orang lain selain Satria, Deni, Lian dan Edo yang mengatakan seperti itu padaku sebelumnya.

"Kamu mau merayuku biar jadi modelmu secara gratis begitu?", sanggahku disambut dengan tertawanya lagi.

Kami pulang menjelang maghrib, sekitar pukul 7 malam. Aku masih takjub mendapati bahwa hari masih terang ketika mendekati pukul 7 malam. Sebelum masuk ke kamar masing-masing, aku melihat Adrian sempat menatapku lama. Aku sempat salah tingkah sejenak. Namun segera kutepis rasa ini. Aku takut hanya rasa gr saja. Mungkin juga karena dai sudah lama tidak bertemu dengan teman SMA. Dan aku pun juga merasakan hal yang sama. Begitu senangnya bertemu dengan teman lama di tempat yang sangat baru dan jauh ini. Namun, tak bisa kutolak, bahwa aku merasa benar-benar senang hari ini. Seperti tidak pernah kurasakan sebelumnya.

musim gugur bertahun-tahun yang lalu


Monday, August 20, 2018

21082018

apa yang kusuka darinya?
adalah matanya yang bersinar
yang kulihat kasih sayang ketika memandangku

rindu ini merisak ketenangan malam
hampir sesak karena teringat dikau
senyum dan tatapanmu membekas dalam ingatan

hei!
aku rindu