Sunday, June 23, 2019

Rejeki itu Tidak Selalu Berupa Uang

Jaman saya masih lebih muda dari sekarang, saya selalu beranggapan bahwa rejeki adalah uang. Maka jika saya berdoa kepada Tuhan tentang rejeki, yang saya harapkan adalah,

"Tuhan, beri saya banyak uang"


Ternyata saya salah.

Selama ini, saya berdoa agar Tuhan memberikan banyak saya rejeki, tapi saya nggak banyak uang juga, terkadang saya sedikit kecewa. Ternyata saya kufur nikmat.

Akhir-akhir ini, setelah melalui banyak curhatan teman, saya seperti tertampar dengan keadaan. Tuhan telah memberi saya rejeki yang banyak sekali.

Lalu, apa saja rejeki itu?


Kesehatan


Kesehatan adalah hal yang pertama dan utama. Saya merasakan betapa saya bersyukur dengan kesehatan saya. Saya masih diberi akal sehat, lebih sehat mental dari sebelum-sebelumnya, saya masih diberikan fisik yang kuat, meski kadang masuk angin. Namun secara keseluruhan, fisik dan mental saya sehat.

Hidup di Jepang, kesehatan dijamin dengan adanya asuransi meski bayar asuransinya kemahalan. Setiap kali kita ke dokter, kita akan mendapatkan potongan 70% dengan adanya asuransi tersebut. Bayangkan saja, ketika om saya datang ke Jepang dan ke rumah sakit, beliau kena charge sekitar 10.000 yen.  Sedangkan saya, untuk keluhan masuk angin yang sama, hanya kena sekitar 500 yen.

Saya juga diberi rejeki dari asuransi untuk merawat gigi saya. Hal yang saya jarang lakukan di Indonesia. Ternyata, sikat gigi sering-sering itu tidak cukup. Banyak perawatan gigi yang semakin bertambah umur, semakin diperlukan. Contohnya saja, gigi bungsu. Saya tidak perlu repot-repot mencabut gigi bungsu karena di sini, dokter memberikan perawatan dan tips bagaimana cara supaya gigi bungsu tidak menabrak gigi yang lain.

Dengan adanya perawatan gigi, setiap puasa, saya jadi lebih pede. Karena rupanya, bau mulut saat puasa bukan hanya berasal dari lambung kita, melainkan juga dari sela-sela gigi kita. Rajin mengunjungi dokter gigi untuk melakukan pembersihan kotoran di sela-sela gigi adalah salah satu cara menghilangkan bau mulut.

sumber

Kesehatan juga termasuk akal sehat dan mental yang kuat. Saya harus mulai mengakui bahwa tahun-tahun sebelumnya, saya terkena serangan anxiety attack, depresi, dan hubungan percintaan yang tidak sehat. Rejeki yang Tuhan beri pada saya tahun ini adalah, saya berhasil untuk keluar dari sakit mental tersebut.

Itu adalah sedikit dari rejeki kesehatan yang Tuhan beri.

Pekerjaan


Apa yang tidak lebih baik dari sebuah pekerjaan impian? Terlebih lagi, combo impian. Saya bermimpi untuk pergi ke Jepang, saya pernah bercita-cita menjadi guru TK, saya pernah berkeinginan menjadi guru bahasa Inggris. Lalu Tuhan mengabulkannya menjadi guru bahasa Inggris di TK di Jepang. The best!!

Percintaan


Punya pasangan yang sangat mendukung cita-cita, karir dan polah saya yang seperti anak-anak ini adalah rejeki yang sangat luar biasa.



Keluarga


Punya keluarga yang bahagia dan mendukung setiap langkah kita meski sering ditekan untuk segera menikah, adalah rejeki yang Tuhan berikan untuk kita. Bayangkan saja, tidak banyak orang tua yang ikhlas melepas anak gadisnya pergi sejauh-jauhnya dari rumah. Saya bersyukur Tuhan beri saya rejeki dilahirkan dan dibesarkan orang tua saya. Meski dulu kami pernah kekurangan.

Hari libur yang menyenangkan


Ini adalah rejeki yang sangat penting. Tidak ada hari libur yang lebih baik dari libur yang bisa seharian tidur di rumah sambil nonton Netflix. Tidak ada.

Rasa aman


Jangan salah, rasa aman juga merupakan rejeki dari Tuhan. Bagaimana nikmatnya kita tidur dengan nyaman di malam hari, atau pulang dari lab di tengah malam menjelang pagi tanpa gangguan orang jahat atau jin, kita hidup di daerah bukan konflik, itu semua adalah rejeki Tuhan.

Lalu, apa lagi yang harus kita kecewakan dari rejeki Tuhan?

Maka dalam Al Quran, ayat "nikmat Tuhan yang mana kah yang kamu dustakan" mengalami perulangan beberapa kali. Mengapa? Untuk mengingatkan kita bahwa Tuhan telah memberi kita begitu banyak nikmat, rejeki dan kemudahan dalam menjalani hidup.



Lalu, apakah kita masih akan terus kufur nikmat?

Bersyukurlah akan rejeki Tuhan. Bersyukurlah.

Masalah memang akan terus ada. Justru kalau kamu merasa hidupmu tidak bermasalah, maka dirimulah yang sesungguhnya bermasalah. Coba tanya ke temanmu, apakah kamu menyebalkan?




Thursday, June 6, 2019

Oyster dan Barnacle (boys) di Miyajima

Halo readers, sudah lama sekali saya tidak berbagi cerita disini. Maklum saja, Wattpad dan Quora menyita perhatian saya hingga saya terlupa untuk menulis pada tempat yang sudah saya besarkan sendiri.

Duh, jadi ngelantur.

Baik, mari kita kembali ke topik.

Golden Week tahun ini, saya berkesempatan mengunjungi Hiroshima. Salah satu obyek wisata yang saya kunjungi adalah Itsukushima Island, atau yang lebih dikenal sebagai Miyajima.

redmomiji.com/miyajima
Itsukushima Shrine Gate


Salah satu yang terkenal di Miyajima adalah Itsukushima torii atau Shrine Gate yang berlokasi di pinggir pantai. Kita bisa berjalan ke arahnya ketika surut dan harus segera kembali ke daratan ketika pasang.

Kuil ini menjadi salah satu situs yang dilindungi oleh UNESCO, loh.

Untuk sampai di pulau ini, kita harus menaiki kapal ferry dari Hiroshima port. Dalam perjalanan di kapal ferry, saya dikisahkan banyak hal tentang Hiroshima oleh teman saya, Mas Wahyudin dan Mas Ginting.

redmomiji.com/miyajima-ferry
Kapal ferry yang mengangkut kami

Satu hal yang menarik adalah, bahwa Hiroshima tidak selalu tentang momiji manju. Tetapi juga oysters.

Karena gambar oysters saya ditolak,
maka saya upload gambar dari matcha-jp.com

Hiroshima Oysters


Hiroshima rupanya memproduksi 58% dari seluruh total produksi oysters di Jepang. Hal ini sudah berlangsung selama lebih dari 400 tahun lamanya.

Teluk Hiroshima mempunyai arus yang tenang, sehingga sangat cocok digunakan untuk budidaya oysters. Dalam perjalanan saya menuju Miyajima, saya melihat banyak sekali keranda budidaya oyster.

redmomiji.com/oysterfarm
Oyster Farm in Hiroshima Bay

Musim dingin adalah waktu yang tempat untuk memulai pengumpulan kerangka. Oyster muda diikat dengan menggunakan tali kemudian diletakkan di bawah papan-papan seperti di gambar tersebut. Gunanya adalah untuk memancing oyster lain untuk menempel dan berkumpul di sekitar tali.

Contohnya bisa dilihat dalam video ini.

Oyster berkembang dari musim ke musim hingga musim gugur adalah saat yang tepat untuk memanen. Ketika musim panen, papan-papan itu akan dibuka dengan bantuan kapal.

Namun, rupanya budidaya ini bukannya tanpa halangan. Makanan yang digunakan untuk memancing oyster muda untuk berkumpul pada tempat yang sudah disediakan, bukan hanya dimakan oleh oyster, tetapi juga barnacle.


Oh, bukan Barnacle boy yang ini.

Barnacle boys di Miyajima


Barnacles merupakan makanan pokok bagi burung-burung yang ada di pantai, sehingga masih ada dalam rantai makanan. Hanya saja, kehadirannya ibaratkan rumput liar pada tanaman, tidak diinginkan oleh peternak oyster.

redmomiji.com/miyajima-barnacles
Barnacle boys yang melekat pada gerbang kuil Miyajima


Akibatnya, produksi oyster dapat terganggu. Di samping itu, orang Jepang tidak mengonsumsi barnacles seperti orang Spanyol. Pun juga tidak memanen barnacles.

Sayangnya, waktu saya berkunjung di Miyajima masih kurang lama. Lain kali, saya akan bercerita lebih banyak lagi mengenai Miyajima. Berikut adalah beberapa gambar yang kami ambil dalam perjalanan saya berkeliling Itsukushima Shrine di Miyajima.

Hiroshima Steamed Bun
Ada varian sapi, anago dan oyster

Itsukushima Shrine Gate

Kayu yang digunakan sebagai penyangga toori
Umurnya sudah 1000 tahun

Saya menikmati oyster


Saya kegendutan di depan toori


Sumber:
https://en.wikipedia.org/wiki/Itsukushima_Shrine
http://visithiroshima.net/world_heritage/itsukushima/miyajima.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Barnacle
https://scialert.net/fulltextmobile/?doi=rjes.2007.324.330
https://www.hiroshima-navi.or.jp/en/special/burari/201803_01/
http://www.kunihiro-jp.com/eg/about/index.html

Friday, May 10, 2019

Selayang Pandang Kurashiki, Okayama

Setelah berjanji pada teman-teman sejak 2013, baru di tahun 2019 ini saya berkesempatan untuk mengunjungi Okayama. Salah satu obyek wisata yang saya kunjungi adalah Kurashiki.

Kurashiki


Kurashiki adalah salah satu kota di perfektur Okayama yang terkenal dengan keindahan alam dan nuansa Jepang pada zaman dahulu kala. Kota ini sendiri mempunyai arti sebagai kota gudang. Karena sejarahnya, kota ini merupakan gudang beras di Jepang. Ada banyak sekali obyek wisata yang dapat kita kunjungi di Kurashiki. 

1. Bikan Historical Area

Daerah Bikan menjadi pusat perhatian di Kurashiki karena hampir seluruh bangunan yang ada bercat putih. 

Bikan District


Di sini juga mengalir sungai Kurashiki yang pada kedua sisi sungainya ditanami pohon willow. 

Kurashiki River

Beberapa museum terkenal seperti Ohara Museum of ArtMuseum of FolkcraftToy Museum, dan Archaeological Museum. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu untuk mengunjunginya satu per satu.


Ada satu toko yang saya kunjungi, yaitu toko yang menjual aksesoris yang terbuat dari bagian tanaman asli. Bagian tanaman tersebut diawetkan dengan menggunakan bahan kimia semacam lilin selama kurang lebih satu tahun. Lalu dibuat sebagai ornamen untuk aksesoris pada gelang, kalung dan anting.



Saya juga berkesempatan untuk mencoba jajanan yang ada di daerah ini, yaitu handmade sweet potato soft-cream. Terbuat dari ubi ungu khas Okinawa, dengan krim yang terasa sekali susunya. Dibuat oleh pasangan kakek dan nenek yang masih bersemangat.


2. Ivy Square

Ivy Square adalah sebuah tempat wisata yang hampir seluruh bangunannya dikelilingi oleh tanaman merambat.

Ivy Square


Dalam sejarahnya, Kurashiki pernah menjadi kota bayangan dari kota sebelah, yaitu Kojima. Kojima adalah kota yang terkenal dengan denimnya. Jepang pada saat itu berambisi untuk menjadikan Kojima sebagai koita penghasil denim terbaik. Oleh karena itu, Jepang melakukan penanaman tanaman kapas secara masif, dan kota yang terpilih untuk ditanami adalah kurashiki.

Bangunan pada Ivy Square ini merupakan bangunan bekas tempat pengolahan kapas dan produksi benang untuk pembuatan denim.


Terdapat 4 museum terkenal di kawasan Ivy Square, yaitu Kurabo MuseumKojima Denim MuseumMomotaro Karakuri MuseumPiggybank Museum. Sayang pula, saya belum berkesempatan untuk mengunjunginya satu per satu.

3. Mitsui Outlet Park


Bagi pecinta barang bermerk, dapat pula mengunjungi Mitsui Outlet Park. Tempat ini adalah surga bagi Anda yang suka berbelanja.

Image result for mitsui outlet park kurashiki


Rasanya kurang puas bermain di Kurashiki selama setengah hari saja. Lain kali, saya akan kembali lagi dan menjelajah Kurashiki lebih dalam lagi.


Wednesday, March 20, 2019

Busana Formal Wanita di Jepang

Dua hari kemarin, saya berkesempatan untuk menghadiri upacara kelulusan siswa di sekolah-sekolah tempat saya mengajar. Biasanya saya menghadiri sebuah upacara sebagai peserta, kali ini saya berperan sebagai seseorang yang bekerja di balik layar. Ya, saya seorang guru.

Rupanya, sebagai salah seorang yang bekerja di balik layar, pakaian formal yang digunakan sungguh berbeda dengan orang yang berperan sebagai peserta upacara. Meski sama-sama menggunakan setelan jas, namun ada kode warna yang berbeda yang saya pelajari kali ini.

Sebagai peserta, kita boleh menggunakan pakaian formal dengan dalaman atau luaran warna cerah, seperti gambar di bawah ini. 


Meskipun berwarna hitam, namun dalaman yang dipakai boleh berwarna cerah. Dan juga, korsase bunganya pun pasti akan berwarna cerah.

Namun, bagi yang dibelakang layar, tidak seperti itu. Kami diharuskan memakai pakaian serba hitam. Dalaman pun berwarna hitam. Sama halnya dengan pakaian formal serba hitam ketika menghadiri upacara pemakaman. 

Berikut adalah gambaran pakaian formal yang dipakai oleh kami, para guru.


Aksen berwarna tidak boleh ada dalam baju dan rok, juga sepatu. Aksen berwarna pastel biasanya digunakan pada korsase bunga, dan juga pita rambut. Sedangkan aksen putih digunakan pada anting dan kalung.

Sayangnya, atas ketidak tahuan saya, di hari pertama, saya salah kostum. Saya menggunakan celana panjang, dan dalaman baju warna putih. Tidaklah salah secara definisi pakaian formal secara umum. Hanya saja, itu bukan gaya formal wanita jepang ketika menghadiri sebuah upacara resmi.

Gaya busana saya kemarin, seperti ini.
Satu pelajaran budaya yang saya pelajari di tahun ke 8 saya tinggal di negara ini. Sungguh, tidak habis saya belajar meski sudah lama menetap disini.

Tuesday, March 19, 2019

The power of emak-emak complain

Halo readers, sudah lama sekali saya tidak menulis di blog. Karena saya lebih sering menjawabi pertanyaan konyol di Quora. Ah, andai saya bisa lebih banyak menulis di blog sendiri. Tapi, tayangan di Quora lebih cepat naik daripada blog sendiri.

Ya sudahlah.

Kali ini, saya ingin menumpahkan sedikit uneg-uneg saya mengenai satu wali murid yang begitu menyebalkan. Mohon maaf jika saya terkesan terlalu kasar atau menjelek-jelekan. Tetapi, saya tidak akan mengatakan siapa yang dimaksud.

Ibu-ibu, pernahkan kalian mengelukkan komplain kepada guru yang mengajar anakmu? Dimana komplainnya menghinakan anak lain atau orang tua dari teman sekelas anakmu?

Sungguh, di mata saya itu adalah perbuatan yang biadab.

Mulutmu, ibu, mohon dijaga.

Setiap anak yang lahir adalah berkah bagi orang tuanya. Seperti apa pun keadaan anak. Apakah itu istimewa, atau butuh perhatian lebih. Apakah itu normal, atau berkebutuhan khusus.

Satu ibu yang menjadi wali murid saya, sungguh membuat hati saya kesal. Dia memaksa kami untuk mengeluarkan satu murid spesial (terlalu aktif) dari kelas anaknya. Hanya karena dia tidak suka dengan anak itu.

Bisa dibayangkan, bagaimana kami harus menjelaskan kepada si anak aktif tersebut? Dan bagaimana hancurnya perasaan ibu dari si anak tersebut?

Bukan dia saja, bahkan dia juga memaksa kami untuk tidak menerima murid baru di kelas anaknya, hanya karena anak tersebut terlambat masuk ke tahun ajaran.

Apa salahnya? Toh juga kemampuan dia setara dengan anaknya.

Bisa dibayangkan, betapa kagetnya sang ibu ketika dijelaskan yang sebenarnya.

Kemudian, dia juga memaksa untuk tidak menerima anak lainnya, hanya karena dia tidak suka dengan profesi ibu anak tersebut yang "cuma" sebagai pemasak di kantin.

Bisa dibayangkan betapa hancurnya si ibu?

Ya. Kami memilih untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
Biar saja para ibu lain mengetahui bagaimana mulut kejam dari ibu tersebut. Padahal anak dari ibu itu juga tidak lebih baik dari anak-anak yang ditolaknya, koq.

Sungguh, kejam sekali mulut si ibu.

Untung saja, kami memilih untuk kehilangan 3 anak dari ibu tersebut, daripada kami kehilangan banyak anak hanya karena menerima permintaan aneh dari si ibu.

Wahai para ibu, dari hati yang paling dalam, mohon untuk tidak berlaku seperti itu. Cobalah berfikir, bagaimana jika kamu yang diperlakukan seperti itu? Pasti marah bukan? Pasti kesal bukan?

Saya sendiri adalah korban. Dulu, ketika saya TK, pun banyak ibu yang tidak menyukai saya, karena saya istimewa. Saya terlalu aktif dan terlalu aneh untuk anak-anak seusia saya yang lain. Saya paham sekali bagaimana sakit hati ibu saya menghadapinya.

Tolonglah, para ibu. Jaga mulutmu.

Wednesday, February 27, 2019

Perbedaan antara Orang Osaka dengan Orang Tokyo

Kebetulan ada pertanyaan menarik di Quora. Jadi sambil saya jawab di sana, saya juga tulis disini sebagai catatan penginat untuk saya sendiri. Karena mungkin, suatu saat saya bosan dengan Quora dan menghapus akun saya dari sana, maka saya masih bisa menyimpan arsip jawaban-jawaban saya.

Berikut ini adalah perbedaan antara orang Osaka dengan orang Tokyo. Dimana kita tahu bahwa Osaka dan Tokyo terpisah jauh. Seperti Surabaya dan Jakarta.

Jawaban saya akan merujuk pada karakteristik keduanya.

Orang Tokyo



  • Sibuk
  • Sopan
  • Dingin
  • Formal
  • Following rules
  • Suka memendam perasaan
  • Cuek (tidak terpengaruh dengan personal orang lain)
  • Sering tampak stress (masalah pekerjaan)
  • Tidak suka tawar menawar ketika berbelanja

Shibuya Crossing di Tokyo
sumber


Tokyo, sama seperti ibukota sebuah negara pada umumnya, adalah tempat dimana banyak sekali orang dari segaja penjuru Jepang berkumpul dan pindah dengan alasan pekerjaan. Sehingga, orang Tokyo terlihat cenderung lebih tidak peduli dengan urusan orang lain.

Tokyo (Kanto) mempunyai dialek yang dipakai sebagai standar bahasa Jepang yang dipelajari oleh orang asing. Biasanya, dialek Tokyo (Kanto) ini juga merupakan dialek formal bahasa Jepang.

Orang Osaka


  • Ramah
  • Pragmatis
  • Independen
  • Suka menawar ketika berbelanja
  • Ekspresif terhadap perasaannya

Tsutenkaku, Osaka
sumber


Orang Osaka lebih cenderung easygoing. Mungkin karena Osaka dulunya adalah kota perdagangan, sehingga banyak sekali interaksi dengan dunia luar (negara lain). Terbukti dengan pendapat orang Jepang yang mengatakan bahwa Osaka lebih ramah terhadap orang asing dibandingkan dengan Tokyo, yang meskipun saat ini banyak orang asing yang tinggal di Tokyo.

Sebagaimana orang Jawa yang meski pergi ke Antartika pun masih bisa dikenali sebagai orang Jawa karena bahasanya, dialek Osaka (Kansai) pun demikian. Dialek Osaka (Kansai) itu lebih tebal dari dialek daerah lainnya, sehingga mudah untuk dikenali. 

Orang Osaka, menurut saya pribadi cenderung lebih jorok. Jika kita pergi ke Osaka, lalu kemudian pergi ke Tokyo, akan terasa bedanya. Bau pesing, puntung rokok, dan tumpahan bir akan terlihat banyak di Osaka. 

Saya lebih menyukai Tokyo meskipun lebih ramai dan sibuk. Karena kota di Tokyo sangat terawat dan bersih. Gelandangan di Tokyo lebih sedikit. Namun, di Osaka, terutama di Shin Imamiya, kita bisa melihat tiap malam, banyak gelandangan yang tidur di area depan stasiun. Dan jumlahnya itu sangat banyak, seperti orang satu kampung.

Berikut adalah sedikit ulasan dari saya mengenai perbedaan orang Osaka dengan Tokyo. Semoga sedikit membantu

Monday, January 21, 2019

Pengalaman Tervonis Influenza A

Selama bertahun-tahun tinggal di Jepang, saya selalu lolos dari vonis influenza A. Meskipun di tahun 2015 pernah mengalami demam tinggi, namun rupanya hanya common cold, atau flu biasa alias masuk angin disertai turunnya sistem imun dan infeksi tenggorokan yang menyebabkan demam.

Selama ini pula saya selalu menghindari vaksinasi. Bukan karena anti vaksin, tetapi karena vaksin itu mahal, saya masih misqueen, dan takut dengan jarum, suntik. Tetapi saya lolos juga dari vonis si A.

Akhir tahun 2018, saya diharuskan untuk imunisasi. Karena saya kerja di sekolah-sekolah yang memang berpotensi terhadap penyebaran influenza. Minggu kedua bulan November, saya divaksin.

Ternyata tidak sesakit yang saya kira saat disuntik, tetapi setelah disuntik saya justru mengalami demam sedikit dan bekas suntikan pegal seolah-olah saya baru dipukul Steve Roger. Selama 4 hari saya mengeluh rasa sakit. Kata teman, itu reaksi normal orang baru divaksin.

Saya sempat lega karena biasanya di bulan Desember adalah waktu untuk terbaring lemah karena common cold. Tetapi saya sehat wal afiat sepanjang Desember.

Hari terakhir di rumah, saya tidur bersama nenek saya, yang kebetulan sedang sakit. Dan saya mulai terasa tertular. Beruntung saya pulang ke Jepang mendapatkan kelas bisnis, jadi saya bisa tidur dan istirahat dengan nyaman.

Sempat demam dua hari, namun kemudian sehat lagi. Tetapi, kabar mengenai influenza outbreak sudah merajalela. Apalagi, Gifu merupakan kota dengan outbreak tertinggi di Jepang. Dan salah satu sekolah tempat saya bekerja mengalami outbreak yang parah.

Sabtu pagi, saya bertemu dengan sensei saya untuk membahas rencana saya kedepan, karena saya memutuskan untuk memperpanjang kontrak kerja dan masih akan berstatus working visa hingga tahun 2020. Sensei saya mengatakan bahwa beliau mungkin kena influenza. Waduh, pikir saya, saat itu, memang merasa tidak enak badan. Tidak demam, melainkan hidung meler dan batuk.

Pulang dari kampus, saya ke Malera. Kali ini bukan untuk shopping, melainkan untuk mengurus kartu kredit. Pulang dari Malera, di tengah perjalanan, saya merasa terengah-engah. Padahal baru makan banyak. Sampai di rumah, mendadak badan saya demam tinggi. Saya ukur dengan termometer suhu badan, mencapai 37 derajat malam hari itu. Namun, masih saya dipaksakan untuk mengikuti rapat I4.

Akibatnya, keesokan harinya, suhu badan saya naik hingga 40 derajat di pagi hari. Saya hanya tidur saja sepagian. Siangnya, suhu saya fluktuatif antara 37 - 39 derajat. Kemudian saya putuskan untuk ke rumah sakit besoknya.

Setelah mendapat ijin dari boss, pergilah saya ke rumah sakit. Dokter menanyakan saya mulai dari kapan terasa demam, apa saja yang di rasakan. Lalu dokter meminta saya untuk cek influenza.

Cek Influenza


Influenza test kit


Pertama, hidung kita dimasukkan alat yang nampak seperti cotton bud panjang. Rasanya seperti apa? Luar biasa sakit. Karena alat itu akan masuk jauh ke dalam hidung dan diputar-putar selama hampir 30 detik. Mata kanan saya sampai kedutan dan hingga saat ini belum berhenti, loh.

Uji Influenza


Kemudian, suster menyiapkan reagent dan memasukkan cotton bud yang sudah terdapat contoh ingus kita ke dalam reagent. Setelah mendapat ekstrak contoh ingus, suster memasukkan alat yang nampah seperti kertas pH ke dalam ekstrak ingus bercampur reagent. Ditunggu 10 menit, lalu keluar hasilnya.

Dan taraaaaaa......dokter dengan enteng mengatakan bahwa saya terkena influenza A. Saya kaget. Tapi kan sudah vaksin influenza, dok. Protes saya. Namun rupanya, vaksin saja tidak cukup untuk mencegah influenza tidak menyerang. Namun, vaksin membantu sistem imun kita untuk sedikit kebal terhadap virus influenza A. Sehingga, demamnya bisa lebih turun.

Akhirnya saya pulang dengan 3 macam obat di tangan. Obat anti-virus bernama Zofuru-ze, obat penurun panas bernama Karona-ru yang diminum hanya ketika demamnya diatas 38 derajat celcius, dan obat radang tenggorokan bernama Transemint.


bungkus obat anti-virus



Hari ini sudah hari kedua sejak saya divonis influenza A, dan sudah hari ke 4 sejak pertama kali demam. Kata teman saya yang pernah mengalami influenza, hari ke 4 dan ke 5 adalah hari rawan penularan virus. Oleh karena itu, pasien influenza biasanya dilarang bertemu dengan orang selama minimal 5 hari.

Karena harus diisolasi, saya terpaksa ambil cuti kerja seminggu. Bukannya senang, namun saya bingung mau ngapain dirumah seminggu tanpa kegiatan? 3 hari ini di rumah hanya makan-tidur-buang air-mandi-makan begitu seterusnya. Punggung dan pantat saya sampai pegal.

Akhir kata, hari ini demam saya sudah sedikit turun, diangka 37 derajat. Semoga semakin membaik dan dimatikan semua virus dalam tubuh saya. Amin.

Untuk readers, jaga kesehatan ya. Jangan lupa untuk selalu makan makanan yang bergizi, cuci tangan dan berkumur setelah pulang dari luar, dan jangan menyentuh bagian wajah secara langsung dengan tangan ketika di luar rumah.

Semoga readers terhindar dari jahanamnya virus influenza A.

penampakan virus A