Saturday, September 22, 2018

The Story I Have to Tell

Apa yang akan kalian lakukan jika mengalami kegagalan dalam kehidupan?

Apa yang akan kalian lakukan jika kalian merasa membuang waktu terlalu lama untuk sebuah hal yang tidak pasti?

Pertanyaan itu begitu menghantuiku selama hampir 6 bulan ini. Hidupku seperti roller coaster yang bergerak naik turun, terkadang berhenti di atas, kemudian tergelincir. Pada kenyataannya aku tidak suka naik roller coaster. 

Ya, aku gagal dalam satu bab kehidupanku. Banyak orang menertawakanku. Banyak orang menyumpahiku dengan hinaan yang mengerikan. Tapi, banyak orang yang menyemangatiku. Banyak orang yang merangkulku untuk selalu stabil secara emosi. Dan aku bersyukur karena itu. 

Aku mengalami power harashment oleh profesorku sendiri. 3 tahun aku berjuang mati2an untuk sekedar lulus. Namun, beliau tak kunjung juga membaca hasil tulisan ilmiahku. Bahkan ketika pertama kali aku harus mengeluarkan seluruh tabunganku untuk perpanjangan semester, kupikir akan memberinya waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugasnya sebagai seorang pembimbing, namun hasilnya nihil.

Setidaknya, aku sudah menulis 4 draft dan 1 disertasi utuh. Begitu mulutku selalu berucap untuk menenangkan hati dan pikiranku dari kebiasaanku menyalahkan diri sendiri. Selama itu aku mendengarkan kata orang yang menyalahkanku. Namun akhirnya aku sadar. Aku tidak salah. Aku sudah menyelesaikan tugasku sebagai seorang siswa.

Yang pertama ada dalam pikiranku adalah keluargaku. Betapa besar dukungan dan harapan yang mereka letakkan padaku. Aku merasa mengecewakan mereka. Aku merasa mempermalukan mereka. Tapi kemudian aku sadar, bahwa mereka masih bangga memilikiku.

Aku hampir tidak bisa bangkit jika Hase tidak ada. Aku hampir bunuh diri, jika sahabat-sahabat Radio PPI Jepang tidak ada. Aku hampir tidak bisa makan, jika bukan dari kiriman keluarga. Aku yang sempat bangga bisa mengirim sedikit uang ke keluarga, berputar lagi menjadi beban. Belum lagi, aku harus membayar uang kuliah. 

Aku masih ingat ketika Pak Dekan yang baik hati menyarankanku untuk bekerja penuh. Aku mati-matian melamar pekerjaan. Datang ke interview-interview. Ditolak. Coba lagi. Interview lagi. Aku sudah tidak menghitung lagi berapa banyak uang yang seharusnya bisa kutabung, tapi kupergunakan untuk berangkat interview. Pada akhirnya aku mendapat pekerjaan di tempat yang sangat dekat dengan rumah. Allah maha baik.

Dan profesor saya, dia malah memintaku untuk menundaku bekerja. Aku bilang padanya bahwa aku tidak punya uang untuk membayar uang kuliah lagi. Dia malah memakiku. Dia menyalahkanku, dia mengatakan bahwa aku tidak punya kemauan untuk lulus. Aku kaget dan menangis seketika. Dia melanjutkannya dengan mengatakan bahwa dia tidak hidup untukku. Kalau aku serius mau lulus, dia akan memberiku uang untuk melanjutkan. Aku marah seketika.

Untuk apa aku lanjutkan? Dia saja, tidak pernah membaca tulisanku. 4 judul aku ajukan, tak satupun yang dia baca. Dia bahkan mengoreksi tulisan junior yang belum butuh publikasi. 

Aku masih ingat ketika aku bersemangat untuk pergi konferensi ke luar negeri. Aku diterima 2 kali dalam konferensi luar negeri. Oral presentation. Suatu kesempatan yang sangat besar yang setiap mahasiswa dambakan. Apa jawaban profesor saya? "jika kamu ngotot pergi, keluarkan nama saya".

Mengeluarkan nama dia dari tulisanku, sama saja dengan membunuhku, karena aku juga tidak akan bisa lulus tanpa nama dia tercantum dalam tulisanku. Itu hanya sebagian kecil cerita mengenai hal2 yang kualami bersama beliau. 

Terkadang aku iri dengan teman-teman yang lain. Profesornya sangat murah hati. Sangat membantu. Bahkan menganggap sebagai anak. Tapi profesor saya? Saya lulus S2 saja, jangankan hadiah, ucapan selamat saja hanya lewat email. Tidak ada selebrasi. Aku rasa, jika kalian sedang dimarahi profesor, bersyukurlah, karena beliau menyayangimu.

Jika kalian bertanya, apa rencanaku kedepan?
Aku akan keluar dari universitas yang sekarang. Aku akan fokuskan diri untuk bekerja dan mengumpulkan uang. Saat umurku 32 tahun, aku akan kuliah S3 lagi mengambil jurusan fisiologi tanaman atau pemuliaan tanaman yang kuidamkan.Mungkin kalian pikir aku gila. Namun, aku memang bercita-cita menjadi seorang peneliti. Itulah mengapa aku marah ketika profesor itu mengataiku seperti itu. Jika aku tidak ingin lulus, sudah sejak tahun pertama aku keluar. Bahkan, aku tidak akan mengambil resiko besar melanjutkan studi dengan beliau.

Oh iya, aku sudah membawa kasus ini ke universitas. Profesorku sudah diganti kepada Pak Dekan yang baik hati. Aku tak ingin mengecewakan beliau, namun, aku juga tak ingin mengorbankan masa depanku. Aku yakin, jika aku gagal pada bagian ini, aku punya kesuksesan di bagian lain. 

Kegagalan bukanlah sesuatu yang buruk. Tak perlu malu untuk mengakuinya. Terkadang, kegagalan akan membawa kita menjadi lebih bijak. Mengambil kesimpulan bahwa kita tidak cocok disini. 

Pada akhirnya, aku berani untuk menulis ini. Dengan ini, aku sudah melepaskan semua beban yang ada di pikiranku. Aku sudah siap untuk memfokuskan segala pikiranku untuk masa depan yang lebih baik. Untuk menjadi seorang pengajar yang baik. Untuk menjadi istri yang hebat. Untuk menjadi ibu yang luar biasa. Demi semua orang yang mendukungku. Keluargaku, sahabat2 Radio PPI Jepang, sahabat2 Butuh Piknik, sahabat2 Pennywise, sahabat2 SDM I4, dan semua yang telah membantu menstabilkan emosi dan mentalku. 

Aku menulis ini sambil mendengarkan lagu Good Doctor versi Jepang yang dimainkan oleh Yamazaki Kento, artis favoritku. Aku menangis. Meresapi tulisan yang kubuat sendiri. Mungkin karena aku usai menonton episode terakhirnya. Masih terbayang dialog Minato Shindo pada salah satu pasiennya. 

"Aku bukan berasal dari kalangan orang biasa. Orang-orang bilang aku todak akan pernah bisa menjadi dokter. Tapi aku punya banyak orang yang mendukungku, makanya aku berusaha keras dan tidak menyerah untuk menjadi dokter, dan sekarang, aku disini."

Mungkin sama seperti itu. Ketika banyak orang yang menertawakanku, ternyata lebih banyak orang yang mendukungku. Dan itu adalah hartaku yang paling berharga. 

Terima kasih semuanya. Mungkin sekarang aku masih di titik minus. Tapi aku yakinkan, aku akan membuat kalian bangga padaku yang bisa bangkit. Kalian semangatku. Akan selalu ada kemudahan setelah kesukaran. Karena itu adalah janji Allah.



Neither Queen nor Princess. I'm just a Luminous Angel. Too much, huh?? Nah! That's my name, Luminous Angel or let say in my language, Diana Hapsari :)


EmoticonEmoticon