Saturday, August 4, 2018

I Fall in the Autumn (15)

Aku mencoba mengaktifkan telepon gengamku dan menghubungkannya dengan koneksi internet di kamarku. Kulihat Satria berusaha menghubungiku sebajak 102 kali. Aku menghela nafas panjang dan mulai meneleponnya. Seperti biasa, dia memarahiku karena tidak segera menghubunginya begitu sampai di Jepang. Dia baru reda ketika aku menceritakan semuanya. Dia bilang bahwa ayah dan ibu sangat mengkhawatirkanku. Aku memintanya untuk menghubungkan ke ayah dan ibu karena orang tuaku tidak mempunyai smartphone bahkan telepon genggam.

Ya, aku dan Satria masih seperti biasanya. Tidak ada yang berubah diantara kami. Hanya saja, Satria kini sudah bekerja di salah satu perusahaan yang sedang sukses-suksesnya. Menjadi seorang CEO muda yang luar biasa. Aku sangat bangga dengannya. Sedangkan teman-temanku yang lain, mereka sebagian sudah ada yang menikah, bekerja dan ada yang sepertiku masih mengejar mimpi untuk bisa bersekolah tinggi. Bahkan, Burhan temanku itu sudah menikah, meski bukan dengan Kayla. Setidaknya, Satria belum menikah, sehingga ketika kita bertemu dengan teman-teman yang lain dan mereka menanyakan kapan kita akan menikah, kita selalu menjawab bahwa kita akan menikah bersama, atau kita sedang pacaran, meskipun tidak sama sekali. Semua itu karena kekesalan kami tentang banyaknya teman-teman yang mulai berceramah mengenai pernikahan. Tapi memang, bagiku hingga saat ini, tidak ada satu orang lelakipun yang melebihi kedekatanku dengan Satria.

"Em, nanti kirimin foto yang bagus ya. Di pakai itu kamera dariku, jangan cuma dipajang" kata dia suatu waktu

"Brisik, iya nangi kukirim foto kalender" jawabku menanggapinya.

Atau kadang dia menggodaku tentang Naoki.

"Cie...chance mu untuk bertemu Naoki besar banget tuh disana. Terus aku dilupain pasti kalau kamu jalan bareng Naoki"

Aku hanya bisa menjawab, "Bodo amat". Karena memang, meski sudah kulupakan tentang Naoki, namun masih ada sisa rasa yang tidak bisa hilang begit saja.

Akhir pekan ini, aku putuskan untuk berkeliling di sekitar tempat tinggalku yang baru. Sekedar mengambil gambar yang diminta Satria, atau menghubungi ibu Satria untuk menghubungkannya dengan orang tuaku.

Senin pagi, aku memutuskan untuk datang lebih awal ke kampus. Belum ada siapapun di ruang siswa. Belum ada satu menit aku duduk di meja kerja baruku ini, datanglah Pak Rafi yang terkejut akan keberadaanku.

"Oh! Selamat pagi, ini pasti Mbak Emi, yang mau exchange satu tahun disini ya?" sapanya ramah dengan logat jawa yang masih sangat kental.

"Iya, bapak Pak Rafi ya? Mohon bantuannya pak. Dan selamat juga atas kelahiran putra?..."

"Putri mbak" potongnya,

"Iya selamat atas kelahiran putrinya pak, semoga sehat dan sholehah" kataku.

"Terima kasih mbak Emi. Mohon maaf hari Jumat seharusnya saya yang menjemput mbak Emi tapi istri saya kontraksi jam 1 pagi itu, sudah panik saya. untungnya Raju-san baik hati jadi mau gantikan saya dia." Kelakar Pak Rafi.

Pak Rafi menuju meja kerjanya dengan segera dan menghidupkan komputernya. Dia berkata bahwa dia harus mencetak artikel ilmiahnya untuk segera diserahkan kepada Aoyama sensei, karena hari ini beliau masih akan mengurus keluarganya.

"Disini yang sudah berkeluarga tinggalnya agak jauh dari kampus, mbak karena biar dekat dengan TK dan SD. Karena anak-anak kan tidak boleh diantar orang tua ya kalau SD itu. Jadi biar dekat. Nah yang single kebanyakan tinggal di dormitory kampus. Yang tinggak di dekat kampus hanya 2 orang. Mas Jan dan mbak Rania."

"Ada berapa orang Indonesia disini pak?"

"Disini ada 5 pasang yang sudah berkeluarga. Pak Teguh dari Jogja, pak Asep dan Pak Norman dari Bandung, Bu Astuti dari Kalimantan dan saya. Yang single itu ya itu, mbak Rania, mas Jan, mas Rian, mas Ian, mas Sony, mbak Sissy, Mbak Rahma, Mbak Cinta, Mbak Fitri, sama mbak Rere. Sedikit dibandingkan dengan kota lain, mbak."

"Itu tadi siapa pak, Mas Jan, mas Ian, mas Rian, namanya mirip semua" tanyaku keheranan.

"Wah iya mbak, namanya Rian semua, tapi satu panggilannya tetap Rian, satu Ian katanya nama kecil, dan satu Jan pake J mbak, ejaan orang Eropa katanya, karena dia kuliah di Jerman sebelum ke Jepang." kelakar Pak Rafi.

"Wow, keren ya pak"

"Mas Jan memang berprestasi mbak. Sering ikut kompetisi lomba science dimana-mana. Oh iya sudah ketemu mas Jan? Tinggalnya satu apato dengan Mbak Emi"

" Belum pak, di kamar nomor berapa ya?"

"Nomor 307. Mbak Emi jadinya kamar nomor berapa? Kalau tidak salah Aoshima sensei bilanga da 3 kamar kosong di lantai 4 dan lantai 3"

"Saya 308 pak."

"Wah sampingnya mas Jan banget."

"Tidak ada orang, pak. Kemarin saya bel mau bagikan oleh-oleh, karena kata sensei kalau orang baru di apartement harus membagikan oleh-oleh atau kenang-kenangan tanda perkenalan begitu. tapi kamarnya kosong terus, saya bel 3 kali seharian itu."

"Oh iya dink, mas Jan masih di Jakarta, mbak. Pagi ini pulang. Mungkin nanti siang atau sore aja mbak. orangnya baik banget koq. Nani kalau butuh apa-apa bisa tanya mas Jan. Biar saya sms nanti mbak."

"Makasih banyak, Pak Rafi. Saya senang sekali bisa diterima baik seperti ini." kataku sambil dalam hati kuucap banyak syukur.

Obrolan kami terputus saat Aoyama sensei masuk ke ruangan kami dan berbincang mengenai artikel Pak Rafi lantas beliau mengajakku untuk mengurus semua dokumen berkenaan dengan aktifitas akademikku selama disini nanti.


EmoticonEmoticon