Saturday, June 23, 2018

Lelakiku

Tujuh belas tahun yang lalu, jika aku ditanya tentang bagaimana kriteria lelaki idaman, aku pasti akan menjawabnya yang berkulit putih, tampan,  tinggi, smart, pintar, baik hati dan juga akhlaknya, dan humoris. Selama perjalanan hidup, hampir tidak pernah kutemui lelaki dengan seemua kriteria tersebut. Ada banyak, namun tidak ada yang mempir ke dalam hidup saya. Yang mampir kebanyakan mempunyai sebagian dari kriteria tersebut. 


Lima belas tahun kemudian, dipertemukanlah saya dengan seorang lelaki yang sama sekali tidak pernah terbayangkan untuk bahkan mendekat padanya sekalipun. Bagaimana tidak? Wajahnya hampir setiap tahun menghiasi berita kampus dengan berbagai prestasinya. Hampir setiap orang mengenal wajahnya, sedangkan saya yang saat itu mulai tidak percaya tentang relationship sudah tidak mau berurusan dengan laki-laki, dilirik orang pun tidak. 

Seingin-inginnya orang, ketika Tuhan berkehendak, maka takdir membelokkan semua rencana yang sudah tersusun indah. Takdir menyatukan kita pada tempat yang baru. Kami menjadi kawan dekat dan sering berbagi kisah. Sejauh yang aku tahu, dia adalah orang yang mendeklarasikan dirinya sebagai temanku saat dia menemukanku menangis di bawah tangga saat itu. Padahal kita baru 2 kali ngobrol. Kemudian dia menepati janjinya hingga sekarang. Dalam keadaan apapun diriku, ketika bersenang-senang dengan beasiswa, ketika bersusah payah mengais-ngais yen, dan ketika berlelah-lelah bekerja seperti sekarang, dia adalah satu-satunya teman yang membuatku nyaman untuk sekedar buang angin di depannya.

Tuhan maha baik. Itu yang aku percaya sedari dulu. Bagaimana tidak, lima belas tahun memimpikan dan mendoakan ada orang yang diinginkan, lalu booom semacam ladang gandum yang berubah menjadi koko krunch, muncullah dia yang entah dari mana datangnya. Berkulit sangat putih seperti sapi putih yang baru lahir, wajahnya tampan dengan lesung pipit mengalahkan Afgan, orangnya cerdas luar biasa, pintar dan berprestasi hingga tingkat dunia, baik hati, akhlaknya baik dan sopan, menyenangkan, dan sering bercanda tanpa menyakiti atau merendahkan. Tuhan maha baik. Hanya itu yang bisa aku ungkapkan, karena aku tak tahu lagi kalimat seperti apa yang harus aku katakan mengenai rasa syukurku yang meluap-luap.

Dia tidak romantis, dan tidak akan pernah tiba-tiba memberimu hadiah atau kejutan kecil. Coklat pun tidak. Bahkan dia melarang mengonsumsi coklat kebanyakan. Tapi tiba-tiba dia akan memberimu banyak sekali makanan sehat, vitamin, dan sebagainya. Memaksa saya memakan banyak sayur yang saya tidak suka. 

Kapan kita travelling lagi?


Dia menyemangatiku tanpa meninggikan dirinya atau merendahkanku. Dia tidak pernah protes jika aku kebanyakan ngegame. Karena dia juga gamer. Dia tak pernah protes jika aku kebanyakan nyanyi saat bersamanya. Meski suaraku sumbang dan cempreng. Dia hanya marah jika aku tak bisa berkata tidak untuk sesuatu yang aku tidak mau lakukan. Dan dia satu2nya orang yang bisa berhenti membuatku marah-marah dan cemburu. 

Jika saat ini kita masih berjalan dari dan ke rumah masing-masing, maka sebentar lagi kita akan berjalan dengan rumah kita bersama. Sebentar lagi. Amin.

Neither Queen nor Princess. I'm just a Luminous Angel. Too much, huh?? Nah! That's my name, Luminous Angel or let say in my language, Diana Hapsari :)

2 comments


EmoticonEmoticon