Monday, June 4, 2018

Apa yang harus dilakukan ketika di-bully?

Halo readers, barusan kebetulan banget habis mendengarkan ceramah dari Prof. Quraish Shihab disini, dan temanya adalah tentang apa yang kita harus lakukan menurut Islam ketika kita di-bully dan difitnah. Malam sebelumnya, kebetulan pula saya baru menerima telepon dari salah seorang kawan yang baru saja bercerita bahwa dia habis difitnah. Jauh sebelum itu, saya sendiri pun sempat menjadi korban bullying dan fitnah pada komunitas yang sama dengan kawan saya tersebut.

Ulasan dari Prof. Quraish Shihab ini sungguh sangat menyejukkan. Untuk itu, saya ingin merangkum apa yang telah disampaikan beliau, dengan menambahkan tips yang saya pernah lakukan ketika saya berusaha melawan banyaknya bullying dan fitnah yang menimpa diri saya. Nabi saw saja sering difitnah, apalagi Jokowi? Apalagi cuma seonggok saya?? Yuk kita simak tips bagaimana seharusnya kita menghadapi fitnah.

Sumber: http://liputanislam.com/kajian-islam/tafsir/fitnah-dalam-al-quran-2/


Tips melawan bullying dan fitnah

1. Berusaha menghindar dari tempat fitnah

Yang dapat kita lakukan pertama kali adalah dengan menghindari tempat-tempat datangnya fitnah. Dalam pemahaman saya, dan yang pernah saya lakukan, saat itu adalah bukan hanya menghindari tempat-tempat dimana fitnah itu berasal, tetapi juga menghindari si penyebar fitnah (yang kebetulan pada saat itu mereka tergabung dalam satu genk/kelompok).

Diharapkan, dengan kita menghindari tempat-tempat yang bisa menimbulkan fitnah dan kesalah pahaman ini, kita bisa lebih mengontrol emosi terlebih dahulu akan datangnya fitnah. Sehingga, jika ada fitnah dan kesalah pahaman, tidak akan serta merta orang menilai bahwa fitnah itu benar hanya karena kita termakan emosi.

2. Menjaga perilaku dan mencoba memahami perspektif orang lain

Kemudian, tentunya dengan adanya fitnah, hal ini merupakan juga peringatan bagi kita untuk menjaga perilaku. Mungkin, ada orang yang tidak suka dengan apa yang kita lakukan, baik atau buruk. Karena yang namanya manusia, apapun yang kita lakukan, entah itu baik atau buruk, pasti akan selalu saja ada orang yang mencari-cari kesalahan kita untuk sekedar mengatakan bahwa kita itu buruk. Sehingga, masa seperti ini, akan menjadi masa yang lebih tepat bila digunakan untuk memahami perspektif dari orang-orang yang menyebar fitnah tersebut, kenapa mereka sampai berfikiran seperti itu.

3. Berusaha menjelaskan secara obyektif dan argumentatif

Jika fitnah itu telah tersebar luas ketika kita sudah menjauhi tempat dan si penyebar fitnah itu, maka yang harus kita lakukan adalah menjelaskannya. Bagaimana kita menjelaskan duduk perkaranya? Jelaskanlah fitnah dan kesalah pahaman tersebut secara obyektif dan dengan argumentasi yang baik bahwa fitnah tersebut adalah tidak benar.

Selain itu, kita harus telusuri argumentasi orang tersebut. Apakah fitnah itu bersumber karena karya kita, tulisan kita, atau hanya karena sensitivitas tanpa alasan semata. Kebanyakan fitnah itu bersumber dari sensitivitas manusia semata yang menunjukkan betapa kotornya hati si penyebar fitnah tersebut.

Pengalaman saya, saya paling malas untuk menjelaskan kepada orang-orang. Saya hanya akan menjelaskan detail duduk perkaranya hanya kepada orang yang berani bertanya kepada saya secara langsung. Karena bagi saya, orang yang bertanya kepada saya mengenai sebuah kebenaran adalah orang yang betul-betul peduli kepada saya. Dan orang-orang yang seperti itu, saya anggap sebagai saudara saya, dan orang-orang seperti itu di mata saya adalah orang-orang yang baik hatinya.

4. Buktikanlah bahwa fitnah itu tidak benar

Kemudian, yang kita harus lakukan adalah membuktikan ketidakbenaran fitnah tersebut melalui sikap-sikap keseharian kita. Yakinlah bahwa dengan menunjukkan sikap kita yang apa adanya kita secara jujur dan bertentangan dari  fitnah itu, maka lama-kelamaan fitnah tersebut justru akan menjadi bumerang bagi si penyebar fitnah.

Dan bagi kita yang apabila kita mendapatkan informasi sebuah berita yang belum tentu kebenarannya, atau mendapati fitnah, yang harus kita lakukan adalah jangan terpancing dengan hal-hal tersebut. Jangan menanggapi fitnah dengan menyebarkannya, apalagi dengan menambahkannya.

Dan kepada orang yang memfitnah dan mem-bully kita, harus kita tanamkan ke diri kita, bahwa kita hidup bukan dari uang mereka. Kita hidup bukan dari hasil jerih payah dan keringat mereka. Kita sakit, mereka tidak pernah ada. Kita senang, mereka pun tidak pernah ada. Maka, sejatinya, orang-orang seperti itu bukanlah kawan kita, bahkan sejatinya pun kita dengan mereka tidak saling mengenal. Tapi jangan anggap mereka musuh kita. Doakanlah agar mereka suatu saat menyadari bahwa yang mereka lakukan itu salah. Dan doakanlah agar suatu saat mereka mengerti bagaimana rasanya berada di posisi kita.

Sebuah reminder untuk kita dalam konteks hubungan antar manusia, untuk selalu menjaga kebaikan diantara manusia satu dengan yang lainnya. Semoga kita senantiasa terhindar dari fitnah, dan semoga kita bukan termasuk orang yang suka membuat fitnah atau menyebarkan fitnah. Amin.


Neither Queen nor Princess. I'm just a Luminous Angel. Too much, huh?? Nah! That's my name, Luminous Angel or let say in my language, Diana Hapsari :)


EmoticonEmoticon