Thursday, October 18, 2018

I Fall in the Autumn (21)

"Bulan lalu aku ketemu Naoki di bandara, dia baru saja landing dari Jakarta."

Aku meletakkan sendok dan garpuku sesaat setelah mendengar namanya. Seketika pula ingatan tentang dia menjalar lagi dalam pikiranku. Kukunyah pelan tempe goreng yang terlanjur kumakan ini dengan sedikit kehilangan selera. Entah mengapa aku tak begitu ingin mendengar namanya. Aku melihat sekilas Adrian sedang memilah daging dan duri ikan goreng yang dipesannya.

"Oh, dimana dia sekarang?", tanyaku seadanya, hanya karena aku tak ingin membuat Adrian menyadari keengganan hatiku.

"Dia kerja di sebuah research center di kota Tsukuba mulai bulan kemarin. Kadang kita masih sering ketemu, kok, di beberapa acara kalau aku pas ke Tokyo.", jawab Adrian ringan.

"Oh...", jawabku begitu saja.

Kulihat Adrian mulai menyadari keenggananku dari caraku mengaduk-aduk makananku. Sesaat aku menatapnya sedikit tajam, dan dia seolah menyadari arti tatapanku, lantas Adrian memejamkan mata sejenak menyadari ketidak-tepatan arah pembicaraan ini.

"Em, maaf...aku ga bermaksud membuatmu tersinggung. Hanya saja, kupikir kamu sudah...",

"Gapapa koq, Adrian. Aku udah terima itu. Cuma memang kadang ada perasaan tidak enak jika mendengar namanya.", jawabku singkat sambil kupaksakan tersenyum.

Adrian beberapa kali mengalihkan pembicaraan, namun tetap saja, nama Naoki masih terngiang. Hingga kami pulang dan kembali ke kamar masing-masing, aku masih terbayang tentang kenangan itu. Ingatan tentang Naoki bahkan telah berhasil menghancurkan ingatanku tentang hari ini bersama Adrian. Dan ini membuatku menjadi ingin tahu seperti apa dia sekarang. Aku mulai membuka akun sosial mediaku, hanya untuk mencari tahu seperti apa dia sekarang. Bahkan panggilan masuk dari Satria yang penasaran tentang kepergianku bersama Adrian hari ini pun tak kuangkat. Aku terus mencari tahu mengenai akun sosial medianya. Setelah hampir dua jam aku mencari, akhirnya kutemukan salah satu akun Instagramnya, dan aku mulai tak sabar untuk melihat-lihat sekilas foto-foto yang tertampil disana. Kunikmati wajahnya, tulisannya, dan kegiatan-kegiatannya hingga tanpa terasa aku tertidur.

Keesokan paginya, aku dibangunkan oleh telepon dari Pak Rafi yang memberiku kabar bahwa kita akan mengikuti seminar regional di Tokyo, dan Aoyama sensei meminta untuk mengajakku serta. Dan tanggal seminar itu adalah 8 Mei dan aku diminta untuk menyajikan poster tentang penelitian yang sedang aku jalani saat ini di sini. Pak Rafi mengatakan bahwa sensei datang ke ruangan namun mendapati aku tidak di tempat. Aku pun mengutuk diriku sendiri yang terlambat bangun hanya karena memuaskan rasa penasaranku terhadap Naoki. Rasa penasaran? Tidak, mungkin juga rasa rindu.

Tak kudengar aktivitas Adrian di sebelah. Mungkin dia sudah menuju ke kampus. Kulihat waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Aku pun bergegas mandi dan bersiap ke kampus. Sesampainya di kampus, segera kutemui Aoyama sensei untuk mendengar penjelasan mengenai seminar lebih lanjut dan meminta maaf atas keterlambatanku datang ke kampus hari ini. Syukurlah sensei tidak memarahiku. Namun setelah ini, aku harus bergegas untuk membuat desain poster yang akan kubawa ke Tokyo. Dan ini adalah kali pertamaku menyajikan presentasi poster dalam bahasa asing. Tiba-tiba, muncul rasa ketidak-percayaan diriku. Kulirik pak Rafi sesampainya di ruanganku, beliaupun sibuk dengan presentasinya sendiri karena beliau bukan hanya menyajikan presentasi poster, namun juga presentasi oral.

Dalam kebingungan yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata ini, tiba-tiba saja Adrian muncul, menyapa pak Rafi kemudian berjalan ke arah mejaku. Adrian memberiku makan siang dan sekotak minuman coklat Van Houten.

"Tadi bangun kesiangan? Pasti belum sarapan dan ga sempet masak bento (nasi bekal) kan?", katanya sambil meletakkan bekal makan siang di atas mejaku. Aku hanya mengangguk perlahan.

"Makasih ya... mmm...", kataku mulai ragu untuk meminta bantuan Adrian mengenai posterku.

"Kenapa Em?", tanyanya lembut disusul batuk berdehem pak Rafi tanda menggoda kami.

"Enggak, anu...boleh minta bantuan untuk bikin presentasi poster buat seminar?"

"Oooh...itu, boleh, nanti malam ya abis kita makan malam"

"Ooh, mas Jan sering makan malam sama mbak Emi to, jadi kapan reresmiannya?", goda pak Rafi pada kami tiba-tiba.

"Wah ya jelas donk pak. Namanya juga tetanggaan kamarnya. Kan pak Rafi to yang milihin apato buat Emi di samping kamar saya", kelakar Adrian disusul dengan godaan pak Rafi yang lain.

Aku hanya bisa tersenyum tanpa ikut membalas ataupun menyangkal godaan pak Rafi. Sekilas aku memandang Adrian agak lama. Tiba-tiba saja jantungku berdetak kencang seperti dipukul sesuatu. Adrian seolah menyadari jika aku memandanginya, lalu dia melempar senyum kearahku. Entah kenapa, aku justru ingin menangis. Dadaku terasa sesak, namun aku hanya bisa menarik nafas panjang. Entah perasaan apa itu, aku tak bisa mengenalinya.





Neither Queen nor Princess. I'm just a Luminous Angel. Too much, huh?? Nah! That's my name, Luminous Angel or let say in my language, Diana Hapsari :)


EmoticonEmoticon