Wednesday, October 3, 2018

Diary Ai: Karena Kamu Temanku

Minggu lalu, saya ada presentasi. Oleh karena itu, saya berangkat ke sekolahan siang hari. Chikako sensei hari ini tidak masuk, oleh karena itu, saya mau tidak mau harus mengurus anak-anak sendiri. Dan hari kamis, kelas saya cukup besar, ada 11 orang di tiap kelas. Dan benarlah di kelas pertama saya mendapati 2 anak menangis. Terlepas dari itu, kelas pertama berjalan dengan lancar.


Kelas kedua, saya harus berhadapan dengan seorang anak yang pergerakannya sedikit lambat dari yang lain, dan dua orang anak dari kelas paling kecil. Hari itu, saya iseng bertanya kepada Hima chan, salah satu murid saya, apakah dia duka dengan Oushin kun, murid lainnya. Hima chan bilang bahwa dia sangat menyukai Oushin karena mereka selalu bermain bersama. Kemudian saya bertanya balik ke Oushin tentang Hima chan. Oushin bilang, dia juga menyukai Hima chan. Kemudian saya bertanya pada Anna chan, siapa teman yang paling disukainya. Kemudian, Anna chan menjawab bahwa dia menyukai Kiho chan. Lantas, tiba-tiba saja Kiho chan bilang bahwa dia tidak menyukai Anna. Lalu, raut muka Anna menjadi sedih. Kemudian saya harus menenangkan mereka berdua. Duh, sungguh saya tidak akan bertanya lagi seperti itu.

Namun, hal ini menggelitik saya. Saat kelas berakhir, saya iseng lagi bertanya pada Anna, apakah dia masih mau bermain dengan Kiho setelah ini. Anna bilang, masih. Saya bertanya, kenapa? Anna bilang, "Karena Kiho chan itu temanku."

Di hari yang sama pula, aku mendapati anak-anak kelas 2 SD, Soushi kun dan Renta kun yang menangis. Perkaranya adalah bahwa Soushi itu anak yang masih mempunyai masalah dengan kegelisahannya menghadapi tekanan. Sedikit saja saya beri dia tekanan, seperti "Soushi, ini warna apa?", dan dia tidak bisa menjawab, maka dia akan menangis segera. Hari itu, kelas agak ramai, karena saya bilang minggu depan akan ada test untuk Opposite Cards, yang biasa kita sebut dengan Nakayoshi Square (nama yang tertera dalam progress chart). Ketika saya bilang siapa yang ingin mencoba tes, saya sengaja tidak menyebut nama Soushi, melainkan Sho dan Renta yang memang ingin mencoba, meskipun mereka masih belum sempurna dalam menyebutkan nama-nama kartunya.

Soushi terlihat stress. Dia gelisah dan sedikit menangis. Melihat Soushi memegang kepalanya sambil bergumam gelisah, Renta bertanya "kamu gapapa?". Tapi tanggapan Soushi, dia malah marah dengan Renta. Saya bilang ke Renta, untuk minta maaf kepada Soushi, karena Soushi memalingkan muka dari Renta. Sho kemudian protes ke saya, bahwa Renta hanya bertanya "kamu gapapa?" (daijyoubu?). Saya bilang ke Sho bahwa tidak apa2. Karena saya tau, Renta adalah anak yang ceria, sedangkan Soushi gampang menangis. Renta pun menurut. Dia berkali-kali minta maaf dan berusaha membuat Soushi tertawa. Namun hati Soushi masih keras. Hingga Renta menangis. Dan mulai bertanya,

"Salah Renta apa? Kenapa sensei selalu menyuruh Renta minta maaf ke Soushi, padahal Renta tidak pernah melakukan salah?"

Kupeluk Renta seketika dan meminta maaf. Kujelaskan pada Renta bahwa Renta tidak ada salah. Hanya saja, Soushi yang masih kurang sabar dalam menghadapi tekanan, membuatku harus mengorbankan Renta untuk meminta maaf, agar Soushi bisa tenang. Renta bilang memaafkanku. Lalu, dengan nada sedikit marah, aku berkata pada Soushi, bahwa dia yang seharusnya meminta maaf kepada Renta karena selalu menyalahkan Renta untuk hal apapun, meski dia tahu bahwa Renta tidak berbuat salah.

Alih-alih meminta maaf, Soushi makin marah pada Renta dan tidak mau meminta maaf. Lantas saya bilang, jika tidak meminta maaf, kalian tidak akan diijinkan pulang. Lalu, Soushi minta ijin bertanya, dia bertanya, jika dia tidak minta maaf ke Renta, apakah Renta masih mau main dengannya? Di luar dugaan, Renta berkata "Iya, masih mau bermain." Aku memuji sikap Renta, lalu bertanya kenapa. Renta, dengan badannya yang lebih kecil dari Soushi itu tersenyum lalu berkata "karena kamu temanku".

Tapi dasar Soushi anak keras kepala, dia masih saja tidak mau meminta maaf. Namun, aku memuji sikap Renta. Terkadang, kita tidak tahu bahwa sikap kita yang kita anggap biasa bisa menyakiti orang lain. Terkadang, ucapan kita yang biasa, bisa membuat orang tertekan. Aku belajar dari ini, bahwa keadaan psikologis setiap orang berbeda. Benarlah bila Rosulullah memperingatkan kita untuk menjaga lisan kita. Karena kita tak pernah tahu, keadaan psikologis lawan bicara kita.

menjaga lisan
sumber dari sini


Namun, jika terpaksanya kita telah menyakiti, dan orang itu marah kepada kita, apa yang harus kita lakukan? Sama seperti yang dilakukan Renta, tetap kita harus menganggap orang itu teman kita. Karena kita mengerti, keadaan dia seperti apa. Karena kita yang sedang dalam kondisi psikologis baik, maka kita lah yang harus mengalah untuk tetap menjaga silaturahimi dengan yang lain. Sungguh, Renta telah menyadarkan saya akan pentingnya saling memaafkan, dan menjaga perasaan. Terima kasih Renta, sensei belajar sesuatu dari Renta. Semoga besok, Soushi dan Renta sudah baikan.

Neither Queen nor Princess. I'm just a Luminous Angel. Too much, huh?? Nah! That's my name, Luminous Angel or let say in my language, Diana Hapsari :)

2 comments

Seru banget yah mengamati anak2. Kadang kita malah jadi belajar dari mereka

IYa mbak Indi, anak2 itu masih pure banget jiwanya


EmoticonEmoticon