Sunday, July 15, 2018

Diary Ai: 16 Juli 2018 (Grey Zone)

Baiklah, pertandingan Perancis vs Kroasia ini sudah akan mulai babak kedua, dan kedudukan sementara unggul prancis. Maka saya putuskan untuk bercerita tentang pembelajaran apa yang saya dapat selama mengajar di sekolah-sekolah.

Berbeda dengan les-lesan tempat mengajar dulu, kegiatan di tempat kerja saya terhitung sebagai ekstrakurikuler berbayar. Karena kelas ekstrakurikuler kami hanya menerima murid-murid dari sekolah kami dan almamater sekoalh kami saja. Kemudian, orang tua tidak diperbolehkan menemani anak di ruang kelas. Karena nanti akan mengganggu proses belajar anak dan juga perkembangan mental anak.

Ya, di sekolah kami, perkembangan mental anak juga diperhatikan. Karena ternyata, justru banyak orang tua yang tidak menyadari mengenai karakter anak itu sendiri. Beberapa murid kami sangat spesial. Saya tidak mau menilai itu autis, tetapi kami menyebutnya sebagai anak di grey zone. Kami mengategorikan level kepribadian anak dengan label aktif, normal, grey zone dan berkebutuhan khusus. Bukan untuk rasis, tetapi gunanya untuk memudahkan kami, para guru, dalam mengajar dan menangani anak-anak tersebut di dalam kelas. Karena kebanyakan sistem ekstra kurikuler di jepang lebih berdasarkan ke jenjang kelas di sekolah (kelas 1, kelas 2 dst), bukan berdasarkan tingkat kecerdasan atau kemampuan yang dimiliki.

Saya bukan seorang psikolog, tetapi, saya ingin menyampaikan hal-hal yang saya alami dan rasakan. Disini saya benar-benar belajar bahwa karakter anak-anak itu unik, dan dalam perkembangannya, memang jika kita tidak bisa mengendalikan mereka, pertumbuhan mental mereka pun bisa terganggu. Saya tidak menyalahkan orang tuanya, tetapi, terkadang orang tua kurang memahami itu.

Kali ini saya ingin bercerita mengenai beberapa karakter anak yang saat ini sedang saya tangani.

Saya punya satu kelas, isinya 3 orang anak perempuan. kita sebut saya A, B dan C. A ini merupakan anak ketiga, dia pendiam dan selalu terlihat tegang. Dia hanya akan bicara ketika saya tanya saja, dan itu pun hanya menyangkut tentang pelajaran. Sedangkan ketika saya tanya mengenai bagaimana hari ini misalnya, dia tidak akan menjawabnya, padahal saya bertanya dengan bahasa jepang. B adalah seorang anak tunggal. Meskipun dia terlihat pendiam, namun anaknya sangat perhatian. Terlebih dengan C yang kami sebut anak pada kelas grey zone. B ini mempunyai ibu yang sangat ambisius agar B mempunyai prestasi menggungguli teman-teman sekelasnya. Nanti akan saya bahas pada waktu lain.

C ini sangat spesial. C merupakan anak pertama, dan dia punya adik yang saya ajar juga di TK, tetapi di kelas ekstrakurikuler tidak dengan saya. Adiknya normal, sama seperti anak-anak lainnya. Terus terang, saya masih mempunyai kesulitan untuk menghadapi C. Mungkin kalau di Indonesia, dia dikatakan sebagai anak nakal. Pasalnya, dia sering sekali mengoceh sendiri saat kelas berlangsung. Terkadang B dengan sabarnya mengingatkan dia, disamping kadang B tertawa mendengar ocehannya. Sedangkan A selalu tegang dan tidak pernah tersenyum sama sekali meskipun saya kadang juga terbawa tertawa dengan ocehannya C. Sayangnya, orang tua A dan B tidak suka dengan C dan selalu minta agar C dipindahkan. Namun, kita tidak bisa melakukannya karena ibunda C sudah memilih hari tersebut. Hal lain, kami pun tidak yakin C akan dapat diterima oleh anak-anak di kelas lain seperti A dan B menerima C.

Pada awalnya saya bingung untuk mengatasi C ini. Bahkan bos saya dua-duanya juga angkat tangan. Kami sudah berusaha berbagai cara, mulai dari mendekatinya, memberikan order dalam bahasa jepang, hingga di temani disampingnya, namun tetap saja dia tidak bisa dikendalikan. Hingga suatu waktu, kami mengundang mantan guru TK nya dan kami akhirnya mendapatkan tips dari dia bagaimana cara mengatasinya. Namun ternyata, tips itu hanya bertahan satu hari, karena minggu depannya tips nya tidak mempan. Apesnya, minggu tersebut tepat dengan kunjungan orang tua. Marahlah si ayah C, dan dengan wajah emmerah antara marah dan malu, dia keluar kelas sambil membungkuk sedalam-dalamnya. Minggu depannya, ibunya bilang bahwa C dimarahi oleh ayahnya habis-habisan.

C ini sebenarnya sangat cerdas. Dalam menerima pelajaran bahasa Inggris, ingatannya cukup kuat. Betapa tidak, dia tidak pernah benar-benar memperhatikan saya ketika mengajar, namun di minggu depannya ketika saya paksa dia untuk menjawab, dia bisa mengatakannya, meski dengan gurauan. Itu adalah salah satu bukti bahwa dia mendengar apa yang saya katakan. Hanya saja, memang dia tidak mampu untuk mengendalikan dirinya sendiri.

Minggu lalu, entah karena saya memang sedang PMS atau saya yang sudah capek menghadapi dia, dan kebetulan juga bos saya dua-duanya sedang repot menghadapi orang tua siswa, akhirnya saya ikat dia dengan pita bajunya ke kursi sebagai hukuman karena dia bermain pita baju saat kelas berlangsung. kemudian saya menyuruh dia untuk berjanji agar tidak mengulanginya lagi baru saya mau lepaskan ikatannya. Saya ingin dia belajar mengendalikan dirinya sendiri. Akhirnya, di setiap dia bergerak memainkan ikatan bajunya, saya pelototi dia, dan cara itu berhasil. Dia menjadi diam dan tidak mengoceh seperti biasanya.

Kemudian, tibalah saat kami bermain PCC game, dimana saya berikan kartu kata kerja bergambar kepada anak-anak, dan mereka menyebutkan bahasa inggrisnya. Ketika giliran dia, saya benar-benar paksa dia untuk menjawab. Saya sampai memegang tangannya, menunjuk gambar per gambar. Saya tidak berharap dia akan mengatakan dalam bahasa inggris, tetappi saya tetap bilang padanya untuk mengatakan dalam bahasa inggris. Di luar dugaan, dia mengerti dan dia menyebutkan. B juga memberikan semangat dengan memegang tangan satunya.

"C..ganbare!!!" kata B

C sempat mendengus berkali-kali, tetapi saya tetap paksa dia seperti ibu saya dulu memaksa saya untuk belajar. And it works. Dan dia itu tahu padahal selama ini dia tidak pernah mengucapkannya, bahkan tidak pernah benar-benar memperhatikannya. Disitu saya sadar, bahwa C ini mendengar meski dia tidak bisa fokus. Dan dia mengingatnya dengan baik. Hanya itu, dia belum bisa mengontrol dirinya sendiri.

Kemudian, saya jadi ingat jaman saya kecil. Dulu susah sekali belajar. Kadang sering bicara sendiri berimajinasi persis seperti C. Saya masih ingat saat TK besar, saya mewarnai bagian tubuh gambar orang dengan warna coklat ketika semua anak mewarnainya dengan warna kuning. Hingga bu guru menegur saya, saya jawab dengan enteng, karena kulit saya coklat. Lalu saya dimarahi. Tapi saya tidak mau menggantinya. Saya jadi mikir, jangan-jangan saya waktu kecil juga masuk di ranah grey zone.

Iya, pasti saya waktu kecil ada di ranah grey zone, tapi ibu saya galak sekali, sehingga saya bisa survive hingga saat ini. Bayangkan apabila ibu saya tidak pernah memarahi saya, atau mengajari saya dengan paksa, mungkin saya saat ini masih di rumah dengan segala imajinasi saya. Saya kalau ingat waktu kecil dulu suka ngeri. Bisa hafal butir-butir pancasila lengkap. Bisa mengingat dengan jelas detail gambar. Yah sayang sekali, kemampuan itu sekarang hilang begitu saja seiring pertumbuhan usia saya. Tapi saya sadari, saya memang cukup aneh saat saya kecil dulu.

Well sepertinya pertandingan bolanya sudah selesai. Saya mau siap-siap tidur dulu. Saya lanjutkan kapan-kapan ceritanya

Neither Queen nor Princess. I'm just a Luminous Angel. Too much, huh?? Nah! That's my name, Luminous Angel or let say in my language, Diana Hapsari :)


EmoticonEmoticon