Sunday, September 23, 2018

Flora

Namanya Hana. Kebiasaannya adalah mengirimkan bunga dan coklat kepada teman-teman satu kelasnya di hari ulang tahun mereka. Bunga untuk perempuan, dan coklat untuk laki-laki. Tanpa seorang pun yang mengetahui. Mereka selalu bertanya dan menebak, tapi Hana hanya diam dan tersenyum. Ya, Hana memang jarang dianggap ada oleh teman-teman satu kelasnya.


Kami pertama kali bertemu ketika masuk tahun ajaran baru di SMA. Hana yang juga tinggal satu kampung denganku adalah anak baru di kota ini. Keluarganya baru pindah dari sebuah desa pinggiran di kota sebelah. Tidak ada yang istimewa darinya. Dia tidak tinggi, namun juga tidak pendek. Dia tidak cantik, namun juga tidak bisa dikatakan jelek. Dia tidak pintar, tapi juga bukan merupakan anak dengan nilai terburuk. Dia pun tak punya prestasi ataupun piagam. Sangat biasa dan sederhana. Sesederhana penampilannya yang selalu hanya mengikat rambutnya dengan model ekor kuda dengan karet gelang biasa. 

Kesederhanaannya juga tercermin dari kehidupan ekonomi keluarganya yang tidak kaya, bisa dikategorikan sebagai keluarga yang kekurangan. Namun, status ayahnya yang menjadi PNS membuatnya tidak pernah masuk dalam golongan . siswa yang patut menjadi penerima beasiswa. Kesederhanaannya juga tercermin dari perilakunya yang tak pernah terlihat konsumtif. Setiap hari dia selalu membawa bekal makanan dan minuman sendiri. Mungkin saja, uang jajannya dia pakai untuk membeli bunga dan coklat yang dia berikan untuk teman-teman. Entahlah.

Hana jarang sekali bicara dengan orang lain. Memang jarang yang mengajaknya bicara. Dia bukan anak yang populer lagi pintar. Hanya anak biasa-biasa saja yang kerap kehadirannya luput dari pandangan teman-teman. Wajar saja, karena kebanyakan mereka adalah teman satu SMP atau satu bimbingan belajar yang sudah saling mengenal sebelumnya. Sedangkan Hana, hanya sendiri di kota yang baru. 

Aku tahu dia yang menaruh bunga-bunga di laci anak yang berulang tahun. Tiga bulan yang lalu, ketika hari Tasya ulang tahun, dan hari itu pula aku berniat untuk berangkat lebih pagi untuk mengerjakan PR matematika karena malam sebelumnya aku terlalu capek bermain sepakbola. Aku melihat Hana meletakkan bunga di laci Tasya, lalu kemudian pergi dari kelas tanpa menaruh tasnya terlebih dahulu. Lalu, setelah anak-anak mulai ramai, Hana datang seolah dia baru saja datang di saat kehebohan bunga di laci Tasya. Tentu saja, tidak ada satupun yang menanyakan kepadanya. 

Semenjak itu, aku membuat diagram peta nama anak satu kelas dan menandainya setiap kali bunga atau coklat itu datang. Hanya satu meja yang tidak pernah dapat selama satu tahun masa pengawasanku. Meja yang hanya dia sendiri yang memakainya. Hal ini membuktikan memang dialah yang mengirimkannya. Dan, lagi-lagi tidak ada seorang pun yang peduli. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan dia ulang tahun. Tapi dia hafal semua ulang tahun teman-teman, termasuk aku. Dia memberiku sekotak dark chocolate, entah dari mana dia tahu bahwa itu favoritku. Namun begitulah dia, memperhatikan detail kesukaan kami, tanpa ada satupun yang tahu kesukaan dia. 

Hana, dia selalu tersenyum melihat kami. Ikut sedih apabila ada yang sedang curhat kesedihan di dekatnya meski dia tahu cerita itu bukan untuknya. Dia selalu tertawa jika ada yang melucu, meski itu bukan untuknya. Dia yang sering menyapu kelas seusai jam sekolah. Dia pulang yang sering mengganti air dan bunga di meja guru. Dia pula yang sering menaikkan sepeda-sepeda yang jatuh di parkiran. Tapi tak seorangpun memandangnya, kecuali para guru yang kebetulan lewat. 

Hingga suatu hari di bulan maret tanggal 15, saat dimana hampir semua laki-laki merayakan ulang tahun pujaan sekolah, Aira, yang juga merupakan teman sekelas kami, seperti biasa, satu batang bunga mawar pink kesukaan Aira sudah ada di laci mejanya pagi-pagi. Aira membawa kue ulang tahun dan merayakannya dengan teman-teman satu kelas seusai jam pelajaran. Kulihat Hana duduk dibelakang seperti biasanya, dengan sketch book nya yang tak pernah luput dari tangannya. Aku tahu dia mengabadikan moment ini dengan gambarnya yang sebenarnya tidak terlalu artistik. Tapi dia tak peduli dengan bagus tidaknya gambarnya. Kulihat dia selalu menikmati kesenangannya sendiri. 

Setelah pesta kecil itu berakhir, seperti biasa, Hana diam-diam membersihkan semuanya. Lantas pulang. Entah kenapa saat itu aku ingin sekali mengikutinya kemana dia pergi. Dia selalu jalan kaki, meski ada angkot yang lewat di jalan depan kompleks tempat tinggal kami. Namun aku ikuti pelan-pelan dengan sepeda motor. Kulihat dia mampir ke toko kue. Kuikuti lagi dia pelan-pelan. Tepat di dekat taman kota dia duduk di salah satu gasebo yang agak tersembunyi oleh pohon perdu. Diam-diam aku ikuti dia dan aku bersembunyi di belakang perdu supaya dia tidak menyadari kehadiranku. Kuliat dari sela-sela perdu, dia mengeluarkan kue yang dibelinya tadi. Sepotong kue krim dengan taburan meses coklat yang kutahu harganya sangat murah. Lantas dikeluarkannya lilin putih biasa dan dinyalakannya. 

Aku terkejut melihat apa yang terjadi. Dia memetik beberapa bunga rumput di bawah dan merangkainya dengan tali dari batang rumput kecil itu. Didendangkannya lirih lagu selamat ulang tahun, ditiupnya lilin putih besar itu. Tuhan, dia merayakan sendiri ulang tahunnya. Tanpa sadar mataku menjadi panas melihat apa yang terjadi. Sementara seorang gadis cantik merayakan ulang tahunnya dengan hampir semua orang di sekolah, di hari yang bersamaan itu pula, selama 3 tahun ini dia merayakan sendiri ulang tahunnya dengan cara sesederhana ini. Tidak ada kado, bahkan tidak ada bunga dan coklat, seperti apa yang dia berikan pada teman-temannya. Aku tak tahan dengan hal ini, kuputuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan, dadaku sesak, hingga tanpa kurasa air mataku menetes.

Setelah peristiwa itu, aku bertekad pada diriku sendiri untuk lebih bisa bersikap ramah dengan Hana. Mungkin dia kesepian dan ingin punya teman. Namun dia memang tak pandai untuk mengungkapkannya pada teman-teman. Suatu hari, ada sebuah kecelakaan beruntun akibat anak-anak kelas satu yang sedang bermain bola. Bola terbang ke arah Dito yang sedang mengendarai sepeda. Dito pun secara naluri memalingkan sepedanya menghindari bola itu. Namun sungguh sial, Dito menabrak kerumunan siswa termasuk aku hingga kami terjatuh dan terluka. Tak hanya itu, ban sepeda Dito pun tanpa sengaja menggerus kaki kanan Hana. Hana sempat berteriak kencang, namun perhatian orang-orang tertuju padaku dan beberapa siswi yang terluka. Kami dibawa ke UKS dengan segera, sedangkan kulihat Hana dengan mimik kesakitan berjalan tertatih menuju ruang UKS. Aku sempat berteriak menyebut namanya.

"Hana, itu Hana kegerus kakinya, tolongin donk papah dia"

Namun tak seorang pun yang menolongnya. Di ruang UKS, seperti biasa cewek-cewek menggerumuniku dan beberapa cewek yang terluka mulai menunjukkan kemanjaannya. Luka di kaki dan tanganku sudah selesai diberi obat merah, dan aku sudah bersiap kembali ke kelas. Hana baru masuk dan segera duduk di pojok. Dibukanya sepatunya perlahan dengan wajah yang menahan sakit. Cewek-cewek hanya sekilas lalu melihat kedatangan Hana dan mereka bergegas kembali ke kelas karena pelajaran sudah hampir dimulai. Aku sengaja menahan diriku untuk tidak kembali dulu. Kuawasi pergerakan Hana yang sedang mengelus telapak kakinya. 

"Nangis aja jangan ditahan. Sakit kan? Ga ada siapa-siapa koq disini"

Hana melihatku dengan tatapan nanar kesakitan, matanya mulai memerah, namun dia masih berusaha untuk menahan tangisnya. Kuambil air panas di termos dan kutambahkan sedikit air keran di baskom. 

"Basuh pakai ini, aku keluar dulu, kalau malu mau nangis didepan orang. "

Aku keluar dari pintu UKS, namun aku tidak benar-benar pergi. Aku berdiri di pintu, untuk memastikan keadaannya. Kudengar isak tangisnya dan jeritannya yang tertahan. Tuhan, aku tahu itu pasti sakit.

Hana baru kembali dari UKS setelah jam istirahat kedua. Matanya sembab. Tapi tak ada yang peduli. Pulang sekolah, aku beranikan diri untuk mengantarnya pulang. Awalnya dia menolakku. namun aku memaksa karena tahu kondisi kakinya. Dia pun akhirnya menurut. Sepanjang perjalanan kami jarang sekali mengobrol. Sangat canggung. Memang hari inilah kami pertama kalinya kami benar-bernar berbicara satu sama lain setelah 3 tahun kami satu kelas. 

"Besok aku jemput ya jam setengah 7" kataku setelah menurunkan dia di depan rumahnya.

"Ma,makasih ya Arya. " aku tersenyum dan pamit pulang.

Setelah hari itu, kami menjadi sering berbincang. Seperti tekadku setelah menyaksikannya merayakan ulang tahun waktu itu. Aku akan berusaha menjadi lebih ramah dan menjadi temannya. Suatu hari, aku tanpa sengaja ketika aku di warung yang ada di sebelah rumah Hana, aku melihat lagi sesuatu yang menyesakkan dadaku. 

"Bu, dansa itu kayak apa ya? Di pesta prom nanti ada sesi dansa." tanya Hana pada ibunya.

Lantas ibunya mengajaknya berdansa, namun aku tahu itu bukan dansa yang bagus. Namun Hana dan ibunya tertawa riang, dan Hana pun mengikuti gerakan ibunya dengan seksama. Lagi-lagi dadaku terasa sesak. Hana oh Hana...mengapa kamu begitu lugu? Setelah pesta prom di bulan Juli, aku tak pernah lagi bertemu Hana. Kudengar dari orang tuanya, Hana kuliah di Perancis. Mendapat beasiswa untuk kuliah di jurusan design. Aku hanya bisa berdecak kagum. Tak menyangka, orang sebiasa itu tiba-tiba kuliah di Perancis, disaat teman-teman lainnya berjuang untuk kuliah di universitas lokal. Namun rupanya, kabar itu lagi-lagi hanya aku yang tahu. 

10 tahun berlalu. Aku tak pernah bertemu dengan Hana. Terakhir kudengar, Hana bekerja di luar negeri, namun bukan Perancis. 2 tahun lalu, dia memboyong orang tuanya untuk tinggal bersamanya di luar negeri. Sayang aku tak sempat bertemu dengannya karena aku harus sidang tesis S2. Dia hanya mengirim pesan dan oleh-oleh dark chocolate dari Belgia yang dititipkannya lewat ibuku. Rumah Hana pun sudah ditempati orang lain. Aku sendiri sekarang kerja di sebuah kampus swasta terkenal di Jakarta. Dan entah mengapa, aku teringat memori tentang Hana. 

"drrrrtttt" smartphoneku bergetar. Kulihat Dito temanku SMA yang menelepon.

"Halo, Dito?"

"Arya, gimana soal penggalangan dana untuk reuni SMA bulan depan? Udah ada berapa yang masuk?"

"Oh iya Dit, gue mampir ya, sekarang juga gue ke rumah lo"

"Ok bos! Ditunggu ya"

Aku pun bergegas memacu mobilku ke rumah Dito yang juga berlokasi di Jakarta. Sesampainya di rumah Dito, rupanya dia hendak mengantarkan istrinya ke arisan. Aku lantas menunggu. Kulihat ada sebuah katalog di meja. Kuambil dan kubaca. Sebuah katalog pameran lukisan dari Jepang dari artist bernama Flora. Kuamati satu per satu lukisannya. Aku merasa sangat familiar dengan lukisannya. Seperti sesuatu yang terasa bahwa aku pun ada dilukisan itu. 

"Sorry Ar, gimana gimana?" Suara Dito membuyarkan konsentrasiku.

" Oh Dit, bentar, ini katalog apa ya?"

Dito melihat sebentar dan berkata "Oh, itu bahan buat bini gue wawancara bulan dua minggu lagi."

"Oh iya bini lo kan wartawan Vogue Indonesia ya. Emang ini artist mana?"

"Dia artis luar negeri, ga tau Eropa apa Amerika gitu. Karyanya udah terkenal banget dan dihargai muahaaaal banget. Nah doi mau ngadain pameran di JEC 2 minggu lagi. Minggu lalu doi habis pameran di Jepang, itu katalognya."

"Boleh gue pinjem nggak? Fotokopi doank."

" Ya boleh aja si, tapi buata apaan? Tumben lo tertarik sama lukisan."

Aku tidak menjawabnya dan melanjutkan obrolan soal reuni. Sesampainya di rumah aku lihat lagi katalognya. Aku tertarik pada beberapa lukisan yang tertampil dalam katalog. Sesuatu yang mengingatkanku kepada masa mudaku. Kuputuskan untuk datang ke tempat pameran itu.

"Eh Arya, jadi datang juga lo? Bunga buat siapa tu?" sapa Dito yang terkejut dengan kedatanganku.

"Bini lo mana?"

"Tuh di booth, lagi wawancara sama artist nya "

"Gue ke sana ya"

"Ngapain Ar?? "

Tak kupedulikan pertanyaan Dito, aku terus melangkah menuju tempat wawancara. Kumasuki dengan perasaan yang bercampur aduk antara yakin dan tidak yakin. Aku melihat istri Dito selesai berfoto dan berpamitan dengan seorang wanita cantik berkelas. Dengan pakaian dan aksesoris bermerk serta high heels tinggi namun riasan wajah yang sangat tipis. Sangat cantik. Kudatangi dia dengan ragu. Dia menoleh ke arahku. Kami berpandangan sebentar dan aku merasa seperti ingin berbalik badan dan pergi.

"Sorry sir, you have no rights to come to this place..." belum selesai staff pamerannya menegurku, sang artist yang bernama Flora itu menyuruh untuk membiarkanku.

"Happy birthday, Hana" kataku sambil menyerahkan bucket bunga carnation yang aku taksir menjadi kesukaannya.

"Arya??"

"Oh aku lega, aku pikir akan salah orang." Kataku menetralisir rasa gugupku yang luar biasa.

"Darimana kamu tahu bahwa hari ini ulang tahunku?"

"Sejak di sudut taman kota suatu hari, ada seorang gadis yang merayakan sendiri ulang tahunnya sepulang sekolah, dimana pagi hari sebelumnya dia mengirimkan bunga pada gadis lain yang juga berulang tahun pada hari itu. "

" Aa..."...kulihat dia speechless dan bingung ingin mengatakan apa.

" Selamat ya Hana, kamu tumbuh menjadi bunga yang sangat indah"

Hana tersenyum dan kulihat matanya mulai memerah. Hana yang sekarang rupanya masih Hana yang seperti dulu, yang mudah tersentuh perasaannya. Kami bertukar nomor dan berjanji untuk makan siang bersama keesokan harinya.



Neither Queen nor Princess. I'm just a Luminous Angel. Too much, huh?? Nah! That's my name, Luminous Angel or let say in my language, Diana Hapsari :)


EmoticonEmoticon